FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pertemuan keluarga yang kaku


__ADS_3

Tak berontak, kecuali ekspresi yang bermain di wajah gadis itu.


“Aku bukan Alice. Beraninya kau melakukan ini padaku?”


“Kamu memang bukan kak Alice. Kamu Eldrey, putri Dempster yang angkuh, sombong dan impulsif.”


Tiba-tiba Eldrey mengangkat tangannya hendak menampar Kevin. Spontan saja sang pemuda menahan cepat tangan itu sebelum sempat dilayangkan ke wajah menawannya.


“Nah, aku benarkan?” Terlihat napas Eldrey perlahan mulai naik turun. “Apa yang harus kulakukan? Ini salahmu Eldrey. Kupikir, sekarang aku benar-benar menyukaimu.”


“Omong kosong!” gadis itu mencoba menarik lengannya namun masih tertahan di genggaman sang pemuda.


“Jika kamu tidak menyukai Henry maka tolak dia dengan tegas.”


“Kau pikir aku tidak pernah melakukan itu? Sebegitu takutnya kau kalau teman polosmu terluka sampai melakukan ini padaku?” seringai Eldrey.


“Sepertinya penjelasanku masih sulit di mengerti.” Salah satu tangan Kevin yang bebas pun menarik pinggang Eldrey, membuat sang gadis terdorong maju ke arahnya.


Sungguh, jarak wajah mereka terlalu dekat. Sekarang Kevin benar-benar bisa menatap mata kucing Eldrey dengan posisi yang dipisahkan ketinggian sebesar 7 cm.


“Bahkan walaupun kamu sedang marah, tapi kamu tetap terlihat cantik,” pujinya.


“Persetan dengan ocehanmu.”


Kevin tersenyum. “Aku memang menyukaimu.”


Bukannya senang, Eldrey justru jengkel akan pengakuan itu.


“Lepaskan aku,” sambil menarik lengannya yang masih dipegang dan mundur ke belakang.


“Aku tidak akan memintamu untuk berpacaran denganku.”


Dan kegagalan usahanya membuat Eldrey kembali memandang Kevin. “Kuhitung sampai tiga, kau akan menyesal jika masih belum melepaskan tanganku.”


“Dan aku akan menciummu kembali saat itu.”


Guratan emosi Eldrey jelas terpampang di wajah namun tak berpengaruh apa pun pada Kevin.


“Aku serius Kevin,” tekan Eldrey dengan suara yang terdengar dingin.


“Kamu mungkin ahli dalam kekerasan, tapi tidak untuk hal seperti ini. Apa kamu ingin aku mengajarimu?”


Tangan Eldrey yang bebas satu lagi pun tiba-tiba langsung mencekik leher sang pemuda, tapi hanya dibalas tawa pelan di bibirnya.


“Mungkin karena tanganmu sedang terluka, jadi cengkeramannya tidak begitu kuat,” ucap Kevin dengan nada santai. Ia pun mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Eldrey.


“Silakan lakukan apa pun dengan Henry. Tapi, kupastikan kalau kamu akan menjadi milikku nantinya,” bisiknya.


Sentuhan lembut napas Kevin yang menyapu lehernya, tak menampilkan rona wajah gugupnya seperti perempuan kebanyakan.


Eldrey benar-benar kesal sampai akhirnya sang pemuda melepas tangannya dari gadis itu.


“Aku pergi,” ucap Kevin tanpa mengacuhkan sorot mata tajam Eldrey yang masih mengikutinya.


Dalam perjalanan menjauhi kamar Eldrey, langkah Kevin dihiasi ekspresi senyumnya yang tertutup sebelah tangannya.


“Aroma mawar ya,” gumamnya.


Dua hari kemudian, sebuah mobil memasuki kediaman Dempster sambil diiringi beberapa motor.


Sang penghuni yang paling dihormati, turun dengan diikuti supir juga pengawalnya.


“Selamat datang Tuan,” sapa Rondolf bersikap sopan.


“Rondolf.”


Pria itu terus masuk dan menemui salah satu sosok yang memang dirindukannya.


“Anna.”


“Selamat datang Betrand.”


Akan tetapi, walau hatinya jelas merindukan wanita itu tapi tampaknya ekspresi Presdir Betrand terlalu angkuh untuk menampilkannya.


Ia hanya mengangguk tanpa tersenyum. Tentu saja Bu Anna merasa canggung akan respons mantan suaminya.


“Bagaimana keadaan Eldrey?”


“Dia, sekarang sudah mau makan walau hanya bisa ditemui Rondolf, Tuan Charlie dan Bibi.”


Mendengarnya, sang tuan rumah berlalu menuju kamar putrinya di bangunan utama kiri. Padahal ia sudah mengetahui semuanya dari Charlie, tapi bertanya pada Anna tampaknya menjadi keharusan bagi pria sombong itu.


Dia yang sudah sampai di depan kamar sambil diikuti mantan istrinya mulai mengetuk pintu.


“Eldrey? Ayah akan masuk,” ucapnya.


Begitu pintu dibuka, pemandangan di mana sang gadis membaca buku sambil duduk di sofa menatapnya terpampang di hadapannya.


Langkah Presdir Betrand pun mendekati putrinya.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang kau lihat Ayah.”


Perlahan hening. Keduanya sama-sama diam sekarang. Entah kenapa, rasanya situasi cukup menekan mengingat Presdir Betrand sebenarnya sudah mengetahui perasaan putrinya.


Segala ocehan yang dilontarkan Eldrey tentang masa lalu mereka dari rekaman bawahannya, membuat Presdir Betrand cukup canggung melontarkan kalimat penuh kehangatan untuk putrinya.


Tapi, dirinya jelas ingin memperbaiki semuanya dari awal lagi. Presdir Betrand duduk di sebelah Eldrey tanpa diacuhkan putrinya.


Mulai menggenggam tangannya dengan sikap yang tak pernah ia tampilkan.


“Maafkan aku,” tukas Presdir Betrand tiba-tiba.

__ADS_1


Sejurus kalimat itu tertuang di suasana canggung keduanya. Eldrey melirik sang ayah lewat sudut matanya.


“Maafkan Ayah untuk semua yang menimpamu. Terlepas dari apa yang terjadi di masa lalu, ayah benar-benar menyayangimu. Tak ada yang bisa menggantikanmu, karena bagaimanapun kamu dan Evan adalah anak-anakku yang sangat berharga,” ucapnya tulus sambil mengecup lembut punggung tangan putrinya.


“Aku masih membencimu.”


“Ayah mengerti itu. Ayah tahu jika memaafkan dan melupakan semuanya sulit bagimu. Tapi, Ayah hanya ingin kamu tahu kalau semuanya sangat menyayangimu. Kami semua benar-benar ingin kamu bahagia. Tidak masalah jika kamu tak ingin membuka hatimu. Tapi biarkan kami selalu di sisimu untuk mendampingimu dan mengkhawatirkanmu.”


Bahkan walau itu bukan nada suara lembut dari seorang pria yang memikul banyak beban di pundaknya. Tapi itu adalah kata penuh ketulusan dari seorang ayah untuk putrinya.


Eldrey hanya bisa menatapnya. Memandang lekat sosok rupa terakhir yang diharapkan meraih tangannya dahulu kala.


Gurat angkuh seorang kepala keluarga Dempster seakan sirna begitu ia mengalirkan air mata secara tiba-tiba.


Dan putri cantiknya, masih tak bersuara kecuali diam memandangnya. Diiringi bisikan-bisikan pelan di perasaan untuk luluh pada orang di hadapan. Namun, keangkuhan dan keras kepala masih berdiri tegak di dasar hatinya.


“Aku masih membencimu,” gumam pelan Eldrey dengan suara yang entah kenapa bergetar iramanya.


Sang ayah pun meraih kepala putrinya untuk memeluk dirinya.


Hangat, perlakuan lembut Presdir Betrand membuat Eldrey menyandarkan kepala ke dada bidang ayahnya.


Dan mereka tetap di posisi itu dalam waktu yang cukup lama sambil dihiasi air mata penontonnya. Terisak-isak, di dekat pintu sambil memegang dadanya.


Di balik perasaan yang campur aduk keadaannya, Bu Anna benar-benar tak punya keberanian mendekati mereka. Kecuali berdiri di kejauhan melihat itu semua sambil dipenuhi harap dan angan untuk bisa bersama seperti sedia kala.


Dia benar-benar menyayangi mereka, mantan suami sekaligus putri tercintanya.


Malam harinya, terlihat suasana makan malam di kediaman Dempster cukup tegang. Walau keluarga inti dihiasi dua bawahan Betrand yang sudah seperti keluarga, tapi itu tak menampilkan kecanggungan mereka.


“Aku dan Anna berencana melaksanakan pernikahan sebulan lagi. Bagaimana menurut kalian?” tanya Presdir Betrand memecah suasana.


“Mm ... bukan ide yang buruk. Aku setuju saja Bos,” timpal Charlie.


“Kami akan menyiapkan semuanya,”, sambung Sekretaris Roma.


Berbeda dengan Evan dan Eldrey. Sang putra hanya diam menatap sosok ayahnya, dan sang putri sibuk mengunyah makanan di depannya.


“Bagaimana menurut kalian berdua? Evan, Eldrey.”


Evan tersentak, sementara Eldrey menoleh sekilas lalu kembali melanjutkan makan.


“Apa pun keputusan ibu dan a—” kalimatnya tertahan sebentar. “Dan ayah, aku setuju saja,” balas pemuda itu.


Sekarang, tatapan pun ditujukan mereka pada putri Dempster yang seperti tak acuh suasana.


“Eldrey?”


Perlahan, gadis itu menghentikan makannya namun garpu yang masih menusuk sajian itu dipandang lekatnya.


“Terserah saja. Lagi pula ada keluarga Gates yang harus diberi tahu.”


Mereka sama-sama kaget karena nama keluarga itu tersembur tiba-tiba saat makan. Seakan ada ingatan tersendiri yang terlukiskan begitu keluarga Gates ditorehkan di sana.


“Besok, kita akan ke sana. Bagaimana menurutmu Anna?” tanya Presdir Betrand.


“Aku sudah selesai,” sahut Eldrey tiba-tiba beranjak dari posisinya meninggalkan mereka.


Dalam perjalanan menuju kamar, langkahnya terhenti sambil menatap kolam renang di bawah jembatan penghubung empat rumah.


“Aku sangat senang karena kamu bersedia makan bersama El,” sela sebuah suara tiba-tiba. Sang gadis melirik sosok itu lewat sudut matanya. “Aku harap, kita bisa terus seperti ini ke depannya.”


Mendengar itu, Eldrey mengabaikan sang kakak sambil berlalu begitu saja.


Esok harinya, saat yang dinanti namun penuh arti menyesakkan jelas dirasakan Bu Anna.


Bagaimana tidak, dirinya takkan pernah bisa melupakan sosok keluarga yang terus menekannya sampai hubungan pernikahannya hancur.


Dengan balutan pakaian mewah yang sudah disiapkan pelayan, dia terlihat indah di mata. Namun, itu tetap tak bisa menghentikan perasaan campur aduk dominan gugup untuk menemui keluarga suaminya.


Merasa ini keputusan yang salah, namun dirinya tak bisa membohongi perasaan kalau hatinya menginginkan kembali keutuhan rumah tangganya.


Dan Evan, sudah berdiri dengan setelan gagahnya di bibir tangga rumah utama. Apa pun yang terjadi, ia harus melindungi ibunya dari keluarga Gates, setidaknya itulah penampakan di air mukanya.


“Evan?”


“Ibu?” kaget sang pemuda. Dirinya pun tersenyum, “Ibu sangat cantik, pakaian itu cocok untukmu,” puji putranya.


“Terima kasih Nak. Kamu juga tampak gagah dengan setelan itu,” sambil menyentuh lembut pipi Evan.


“Sudah siap?”


Sebuah suara maskulin dari pemimpin keluarga mengagetkan mereka. Presdir Betrand tertegun menatap Bu Anna lalu mengalihkan pandangan.


“Mana Eldrey?” lanjutnya.


“Sepertinya dia masih di kamar. Aku akan memanggilnya,” Charlie yang juga di sana beranjak pergi.


Tapi baru beberapa langkah menaiki tangga dirinya terdiam melihat kedatangan putri Dempster.


Dress biru sedikit di atas lutut tanpa lengan menghiasi tubuhnya sambil dibalut trench coat hitam.


Terlebih bunyi dari stiletto heels yang membalut indah kakinya benar-benar berirama suaranya begitu menyatu dengan tangga.


“Ayo Charlie. Kau supirku,” perintah Eldrey tanpa peduli suasana sekelilingnya.


Pria itu hanya memasang tampang enggan lalu menatap tuan rumah.


“Bos.”


Presdir Betrand mengangguk sekilas. Mereka pun keluar dari rumah itu memasuki mobil masing-masing sambil diiringi beberapa pengawal yang juga pergi bersama.


“Kau cantik Nona.”

__ADS_1


Eldrey hanya melirik tangan kiri ayahnya. “Aku tak butuh pujian orang tua sepertimu.”


Charlie tertawa. “Baguslah! Aku suka nadamu! Sepertinya kau yang dulu sudah kembali ya.”


“Tutup mulutmu dan fokus saja.”


“Aku penasaran bagaimana respons mereka nantinya. Kudengar mereka sangat kaget saat Bos akan mengadakan pertemuan keluarga secara tiba-tiba.”


Eldrey tak menanggapi kecuali memandang lukisan alam terhampar di luar jendela mobil.


Hampir memakan waktu 20 menit keluarga Dempster pun tiba di kediaman mewah keluarga Gates.


Debaran jantung Bu Anna jelas tidak baik-baik saja. Tangannya gemetar dan berkeringat. Rasanya seperti memasuki sarang singa, namun Presdir Betrand yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya.


“Semua akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkan.


Evan terdiam mendengar itu. Mengingat ia satu mobil dengan orang tuanya. Begitu pula Reynald sang supir hanya memilih untuk tak bersuara seperti bayangan hidup dengan sorot mata ke depan.


Suara pintu mobil yang ditutup oleh Eldrey setelah ia turun membuat sang gadis terlihat dingin. Tak ada guratan keramahan tertoreh di wajahnya kecuali tatapan menusuk.


Dirinya menoleh ke arah mobil Presdir Betrand sambil terus melirik mereka yang baru saja keluar.


“Ayo,” ajak Presdir Betrand pada orang-orang yang datang bersamanya.


Begitu memasuki kediaman itu, kedatangan rombongan Dempster disambut baik oleh para pelayan. Tentu saja sosok yang menyandang nama Gates di rumah itu belum terlihat batang tubuhnya.


Bu Anna tiba-tiba menggenggam tangan putranya, dan itu bisa dilihat Eldrey yang berdiri di belakang mereka.


Langkah sepatu pantofel bersahutan menghampiri mereka. Sesosok pria tua, Di usia 60 an hampir mendekati 70 an sekarang berdiri di hadapan semua.


“Selamat datang anakku,” sapanya ramah yang dibalas pelukan Betrand. Akan tetapi, saat berhadapan dengan sosok wanita yang pernah menyandang status menantunya cuma ditatap tenang Tuan Gates.


Seakan hening berhias tekanan ketegangan mulai menari di sekitar mereka.


“Bagaimana kabarmu Anna?” tanyanya yang membuat wanita itu terperanjat dan gugup.


Orang-orang bisa melihat kondisinya itu karena Bu Anna sedikit menunduk enggan menatap mantan ayah mertuanya.


“A-aku baik-baik saja. Bagaimana kabar A—” kalimatnya tertahan tiba-tiba. “Bagaimana kabar anda Tuan?”


Pandangan semuanya tak berhenti menyorot Bu Anna yang menyapa Tuan Gates seperti itu.


“Aku baik. Tak kusangka kamu akan datang ke sini. Benar juga, karena Betrand mengatakan ingin mengadakan pertemuan, bagaimana jika kita ke ruang keluarga? Yang lainnya sedang ada di sana.”


“Baiklah. Ayo,” setuju Betrand.


Orang-orang itu pun mengikuti langkah Tuan Gates menuju ruangan yang disebutkan.


Di sana, rupanya Nyonya Camila, menantu, cucu dan Bill sudah duduk di sofa dengan pakaian menawannya masing-masing.


Tiba-tiba Nyonya Camila berdiri dihiasi pandangan tak percaya pada sosok yang muncul di hadapannya.


“Kau!”


“Ibu!” cegat Bill menenangkannya.


Dan mata Eldrey yang bertemu dengan Lily, menyiratkan senyum miring begitu menatapnya. Seketika sang gadis yang merupakan sepupunya mengepal erat tangan diiringi emosi terpendam di sana.


“Bagaimana kabar Ibu?” sapa Betrand mengalihkan perhatian wanita itu.


“Betrand, apa-apaan ini?!”


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku ingin mengadakan pertemuan keluarga,” sahutnya sambil duduk di sofa yang cukup berjarak dari mereka. “Ayo Anna,” dengan sorotan seakan menyuruh wanita itu duduk di sampingnya.


Sementara Evan, dirinya tak bisa berkutik seperti tak dianggap dalam keluarga itu. Tapi, tekad ingin melindungi ibunya masih tertera jelas di wajahnya.


Sesekali Charlie melirik Eldrey yang masih berdiri menatap sang penyandang nama Gates. Seperti tak ada keinginan untuk duduk melihat posisinya yang melipat tangan.


Tapi, begitu pandangannya menoleh pada Lily, ternyata gadis itu menatap lekat Evan yang merupakan kakak sepupunya dan Eldrey menyadari itu.


“Pertemuan keluarga? Tapi wanita ini bukan bagian dari keluarga,” tegas Ibunya tanpa basa-basi.


“Tapi sebentar lagi Anna akan menjadi bagian dari keluarga karena aku akan menikahinya.”


“Apa!” Bill dan Nyonya Camila menjawab kaget kalimat Betrand secara bersamaan.


“Karena kita keluarga, jadi aku ingin memperkenalkan Anna sekaligus mengundang kalian di pernikahanku nantinya. Tenang saja, itu bukan acara mewah dan hanya akan dihadiri keluarga.”


Guratan penuh emosi tertulis jelas di muka Ibunya. Jika bukan karena sorot mata Gates, sudah pasti Nyonya Camila akan mencaci putra dan Anna sambil merendahkan wanita pedagang roti itu. Bagaimana bisa dia kembali ke dalam kehidupan putranya? Dirinya sungguh tak bisa menerimanya.


“Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kukatakan. Aku datang kemari hanya untuk itu.”


“Betrand.”


“Ya?” Pria itu menoleh pada kakaknya.


“Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku menanyakan satu hal?”


“Silakan.”


“Kenapa kau kembali menikahi Anna? Kita sama-sama tahu seperti apa hubungan kalian,” tanya Bill padanya.


Terlihat Presdir Betrand terdiam sejenak sebelum menjawab itu semua.


“Jawabannya mudah saja. Karena aku ingin keluargaku kembali utuh seperti semula. Hanya itu. Kalau begitu, sekarang kami akan pergi. Jaga diri kalian, sampai bertemu lagi di hari pernikahan,” ujarnya sambil berdiri dari duduknya.


Tak ada suasana kehangatan dalam pertemuan keluarga itu. Kecuali dihiasi emosi masing-masing dengan masalah tersendiri yang tertahan di badan.


Sekarang, keluarga Betrand dan pengikutnya benar-benar pergi dari sana.


Sungguh pertemuan keluarga yang kaku di antara mereka. Dengan Eldrey yang tersenyum begitu ia memasuki mobilnya.


“Apa yang lucu?”

__ADS_1


“Dengarlah,” gadis itu menyodorkan sesuatu pada Charlie.


“Ini!”


__ADS_2