FORGIVE ME

FORGIVE ME
Sang pemuda


__ADS_3

“Kami pulang,” sahut Steven dengan santainya membuka pintu kamar Kevin. Dirinya dan Henry, tadinya menapaki jalanan untuk melepaskan suntuk.


Bagaimanapun tontonan dari drama cinta Dean cukup membebani mereka, sehingga pergi dan memberi waktu bagi sang pemilik Vila menjadi pilihan keduanya


“Oh ya, aku tak melihat Kak Dean dan Eldrey di bawah,” ujar Henry.


“Eldrey di kamarnya, dan kakakku mungkin masih di balkon,” jelas Kevin dengan santainya. Terlihat ia sedang rebahan di ranjang sambil memainkan ponselnya.


“Oh ya! Makanan tadi bagaimana?!” pekik Steven tiba-tiba.


“Sudah kuurus.”


“Wah, temanku memang sangat pengertian.”


“Sialan!” jengkel Kevin lalu melempar bantal di sebelahnya ke kepala Henry yang berkelakar.


“Sialan! Sakit nih!”


“Diam atau kutendang!” ancam Kevin.


“Cih, iya-iya,” temannya itu pun memanyunkan bibirnya. Steven justru tertawa menatap interaksi mereka.


Dan kembali lagi di tempat Alice yang sudah tidak menangis, namun masih ditatap tenang oleh Evan.


“Kak. Terima kasih karena sudah mendengarkan semua curhatanku.”


Putra Dempster hanya mengangguk sambil memamerkan senyum padanya. Walau tak jelas juga apa yang dipikirkannya.


“Ayo kita kembali. Dean pasti mencemaskanmu.”


“Mm,” angguknya. Jujur Alice merasa senang, karena sudah diberi saran oleh Evan untuk menjalani hubungannya.


Yaitu lebih terbuka dan mengakui semuanya di depan teman-temannya. Walau sebenarnya hatinya juga agak ragu untuk meminta maaf pada Erin atas apa yang terjadi, tapi kalimat Evan lagi-lagi membantunya.


Bahwa bagaimanapun keadaannya, Erin tetaplah temannya dan saling pengertian sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan.


Mengingat, ini adalah cinta dalam garis pertemanan.


“Rams?” sapa Alice saat dirinya dan Evan, secara kebetulan bertemu dengan pemuda itu di halaman Vila ketika mereka kembali. “Kamu mau ke mana?” karena ia membuka pintu mobilnya.


Ramses tak menjawabnya dan memilih memasuki mobil tak mempedulikan mereka. Membuat Alice terdiam sambil perlahan menggigit bibir bawahnya karena sesak di dada akibat diabaikan.

__ADS_1


Mesin mobil pun dihidupkan sampai akhirnya Ramses pergi dari sana meninggalkan keduanya tanpa kata.


Dan itu semua, ditatap Dean dari balkon di lantai dua.


“Dia pasti butuh waktu untuk sendiri. Jangan cemas,” ucap Evan menenangkannya sambil menyentuh bahu Alice. Gadis itu hanya tersenyum lalu menunduk lagi. “Ayo masuk,” ajaknya.


“Dean,” sapa Alice saat matanya bertemu pemuda yang menapaki tangga itu.


“Kalau begitu, Kakak ke kamar dulu,” pamit Evan sambil menyentuh kepala Alice sekilas. Dirinya melewati Dean yang sudah sampai di bibir tangga.


“Bagaimana jika kita bicara di kamarku?” ajak Dean.


Alice tersenyum sekilas lalu menggangguk dan mengikuti langkahnya.


Sementara Evan, dirinya mengetuk pintu kamar yang di datanginya.


“Oh, halo Senior. Menginap di kamar ini juga?”


Evan mengernyitkan wajahnya. “Ini bukan kamar Eldrey?”


“Kamar Eldrey yang paling ujung,” jelas Kevin sambil bangkit dari rebahannya.


“Ah, terima kasih informasinya. Sampai jumpa,” Evan tersenyum pada mereka.


Sontak saja kalimatnya mengundang tatapan horor dari kedua temannya.


“Kau belok?!” Henry menatap tak percaya.


“Sialan! Aku bercanda bodoh!” sergahnya sambil memukul bahu temannya.


“Tapi asli pun tidak masalah. Jadi bisa kusebarkan ke seluruh anak-anak kampus kan,” kelakar Kevin.


“Kau benar-benar teman laknat.”


“Terima kasih,” balas putra kedua Kendal dengan santainya. Tampangnya benar-benar menyebalkan bagi mata orang-orang yang jengkel padanya.


Dan di kamar yang berbeda, “maafkan aku,” ucap Dean tiba-tiba. “Aku tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini.”


Alice yang duduk di sebelahnya, menatap lekat sang pemuda sambil menghadap ke arahnya. Mencoba mengumpulkan semua pemikiran dan akhirnya sampai pada jawaban sambil meraih tangan Dean.


“Seharusnya aku yang meminta maaf. Gara-gara aku, semuanya jadi seperti ini. Padahal kamu pacar temanku, seharusnya aku tak pernah memendam perasaan padamu, Yan.”

__ADS_1


“Apa yang kamu katakan Lis? Akulah yang mendekatimu pertama kali. Andai saja dari awal aku tak pernah menerima Erin dan menembakmu duluan, maka semuanya takkan jadi seperti ini. Aku bodoh karena tak menyadari kita saling mencintai waktu itu. Tapi kuharap semua yang terjadi tak sampai menghancurkan hubungan kita.”


Alice terdiam dan tak menjawabnya. Memilih menunduk sambil tangan melepaskan genggaman dari Dean.


“Alice.”


“Jika hubungan ini tetap dipertahankan, apa yang akan terjadi? Kamu memiliki tunangan, Yan. Bahkan papamu tidak menyukai diriku.”


“Walau papaku menentang kita, tapi aku masih menyukaimu dan akan berusaha sekuat tenaga untuk menggenggammu. Jadi kumohon, Lis. Ayo kita saling berjuang dan apa pun yang terjadi jangan lepaskan tanganku. Aku mohon,” pintanya sambil menggenggam erat tangan pujaan hati di depannya.


Cukup lama bagi Alice menjawabnya. Sampai akhirnya dirinya mengangguk pelan yang dibalas pelukan oleh Dean.


“Aku benar-benar mencintaimu. Tak peduli siapa pun yang mengganggu, bagiku hanya kamu yang kuinginkan. Pertunanganku tidak akan pernah terjadi, karena di hatiku cuma ada kamu.”


Pernyataan Dean itu, perlahan namun pasti menghangatkan perasaan Alice untuk mengibarkan senyum meronanya. Merasa sangat bahagia, bahwa kenyataan mereka saling mencintai, takkan bisa terpisahkan lagi bahkan bila badai datang menghadang.


Tapi, memang semua takkan semudah yang terucapkan.


“Kakak, aku sudah menemukannya,” ucap seseorang secara tiba-tiba di dalam mobilnya.


Di lokasi yang bisa dikatakan lumayan jauh dari Vila Dean, laki-laki itu terlihat sedang memegang sebuah foto gadis muda dengan senyum indah tercetak di bibir manisnya.


“Dia benar-benar cantik, Kak. Tapi, bagaimana bisa dia setega itu padamu? Dan terlebih parahnya lagi, ternyata dia kenalan dari temanku. Namanya Vincent.”


“Apa Kakak tahu? Temanku itu, sepertinya cukup menyukai gadis itu. Aku jadi bingung harus bagaimana. Eldrey Brendania Dempster. Di balik ekspresi sombongnya, tersimpan sikap kejam yang cuma aku dan Kakak mengetahuinya.”


“Aku jadi penasaran apa yang harus kulakukan untuk menjebak dirinya. Mengingat di sekelilingnya, begitu banyak orang yang tampak seperti ksatrianya.”


“Dia benar-benar cantik, sampai-sampai aku tak tahan lagi untuk cepat-cepat menyiksanya.”


Selesai mengatakan itu, sang pemuda tertawa pelan. Dan di detik-detik selanjutnya tawa itu mengeras sambil tangannya bergerak untuk menyisir rambut ke belakang telinga.


“Eldrey, kamu sudah menghancurkan hidup keluargaku. Bukankah tidak adil jika kamu tidak merasakan itu juga? Tapi tenang saja, apa pun yang terjadi aku pasti akan mendapatkanmu.”


“Karena kamu, adalah monster yang sudah membunuh kedua orang tuaku serta kakak semata wayangku. Jadi aku pasti akan membalasmu,” dan dirinya pun perlahan memainkan ponsel di mana di sana terdapat foto Eldrey yang tersenyum tipis.


Entah bagaimana caranya pemuda itu bisa mendapatkan foto Eldrey. Mengingat sang putri Dempster, tak pernah menyimpan fotonya sama sekali di ponsel pribadi ataupun di ponsel keluarganya sendiri dan orang lain.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2