
“K-kamu tega mendorongku? Cuma demi gadis rendahan itu?!” tanya Diana terisak. “Kamu tunanganku, tapi kamu malah berciuman dengan gadis tak tahu malu itu?!”
“Apa!” pekik Erin dan Ramses bersamaan.
“Kalian, berciuman?” suara Erin terdengar bergetar. “Kalian, berdua?”
“Rin, ini tidak seperti yang dikatakannya, Rin. Aku bisa jelaskan,” panik Alice mencoba menghampirinya. Akan tetapi temannya itu mundur dua langkah.
“Jelaskan apa? Dean dingin padanya, tapi berciuman denganmu, apa itu berarti kalian berpacaran?!” nada suaranya langsung meledak-ledak.
“Tidak Rin, bukan be—”
“Ya!” potong Dean tiba-tiba. “Kami memang berpacaran. Kami saling menyukai namun semuanya selalu mengganggu hubungan kami. Semuanya ....”
Terbungkam.
Tak ada satu pun yang berbicara setelah mendengar pernyataan Dean. Tapi, kristal bening telah berjatuhan di pipi dua gadis muda yang mendengarnya.
“PLAK!”
“Erin!” teriak Dean.
Bahkan orang-orang hanya bisa diam menonton apa yang sudah dilakukannya. Menampar Alice untuk kedua kalinya setelah Diana.
“Apa yang kamu laku—”
“Apa?! Apa kamu juga akan mendorongku seperti dia?!” tantang Erin pada Dean. Matanya membulat sempurna, basah dan terlihat sangat terluka.
Batin Dean serasa ditusuk oleh ekspresi dari mantan pacar sekaligus temannya itu.
“Jadi kalian saling menyukai? Dan kamu bilang semuanya selalu mengganggu? Dan apa itu berarti aku juga termasuk?!”
“Rin, maksudku bukan begitu,” jelas Dean sambil mencoba memegang bahunya.
“Jangan sentuh aku!” teriaknya keras. “Jadi, apa selama ini kalian membohongiku? Kalian temanku tapi menipuku?! Selama ini kalian pikir perasaanku itu apa? Mainan?! Aku suka sama kamu Yan! Kamu berpacaran denganku tapi hatimu untuk Alice?! Itu maksudmu?!”
“Rin, semua itu—”
“Apa?!” dirinya memotong perkataan Alice. Bahkan sorot matanya menajam. “Kamu, kamu temanku Lis. Kamu yang mendukungku untuk berusaha mendapatkan Dean, tapi sekarang apa?! Kamu menusukku dari belakang! Jadi karena ini Dean memutuskan hubungannya denganku? Karena kamu?! Teman sekaligus perusak hubunganku!”
“Erin!” bentak Dean karena tak terima akan perkataannya.
Gadis itu terkesiap. Seumur-umur ia mengenal Dean, selama mereka berhubungan tak pernah sekalipun dirinya dibentak. Tapi sekarang, hatinya jelas-jelas terluka.
“Bajingan. Kamu bajingan Yan. Kamu dan Alice benar-benar bajingan!” teriaknya sambil memukul-mukul dada Dean. “Kalian, kalian menyakiti perasaanku! Aku bersumpah semoga kalian tidak akan pernah bahagia!”
Lalu ia pun mendorong pemuda itu dan lari dari sana.
“Erin!” Ramses yang kaget pun langsung menatap Dean dengan emosi. “Kau membuatku kecewa,” selesai mengatakan itu, ia kejar gadis yang sudah pergi. Bahkan sempat menabrak bahu Dean sekilas sehingga sang pemuda mundur beberapa langkah.
“Dean, kamu baik-baik saj— agh!”
“Alice!” pekik kagetnya sambil membantunya. “Diana apa yang kamu lakukan?!” marah Dean karena calon tunangannya itu mendorong Alice secara tiba-tiba hingga terjatuh.
“Kenapa?! Asal kamu tahu saja, Dean! Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan jalang itu! Karena kupastikan kalau kita akan tetap bertunangan! Dan kau, aku takkan pernah memaafkanmu! Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini padaku!” murkanya sambil menunjuk muka Alice.
Dan akhirnya, Diana pun juga pergi dari sana. Langkah kakinya begitu diselimuti emosi sampai-sampai menutup pintu mobilnya dengan sangat kasar.
__ADS_1
“Brengsek! Dasar brengsek! Awas kalian! Akan kubalas kalian! Dasar gadis keparat! Aaah!” teriaknya histeris sambil memukul-mukul stir kemudi.
Tapi di dalam Vila suasana mulai terasa berbeda.
“Alice, kamu baik-baik—”
Tiba-tiba gadis itu menepis pelan tangan Dean. Menggeleng pelan, bahkan sorot matanya tak mampu menatap sekelilingnya.
“Aku ingin sendiri.”
“Tapi Li—”
“Jangan sentuh aku!” hardiknya pada Dean. “Aku ingin sendiri, tolong,” pintanya dengan tatapan sendu.
Dengan perlahan, Dean pun melepaskan tangannya dari Alice. Membiarkan langkah gadis itu menjauh darinya. Rasanya sesak dan ia tak ingin membiarkannya. Tapi, tatapan memohon yang dilontarkan sungguh menyiksanya.
Dan Evan yang dari tadi menonton itu semua, menghampiri Eldrey sekarang.
“Kakak akan susul Alice. Tidak apa-apa kan?” tanyanya pada adiknya.
Akan tetapi, hanya senyum tipis yang dipamerkan Eldrey entah apa maksudnya. “Kejarlah. Lagi pula, bukankah dia seorang perempuan?” nada suaranya terkesan meledek.
Evan terdiam sesaat. “Kakak tidak akan lama,” itulah balasan putra Dempster sambil menyentuh sekilas lengan adiknya.
Eldrey tak menanggapinya, bahkan melirik kepergiannya pun tidak. Matanya, hanya terarah pada minuman kaleng yang tadi dipukul oleh Diana. Dihampirinya dan diambilnya.
“Sial!” umpat Dean frustrasi.
Dirinya, ditatap dengan ekspresi berbeda oleh empat orang yang masih di sana.
Steven dan Henry, dengan tampang tak percaya akan tontonannya barusan. Sementara Kevin yang terlihat kecewa pada ulah kakaknya.
Laki-laki yang ada di sana pun menatapnya.
“Aku, hanya tidak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini.”
Tapi tiba-tiba Eldrey malah tertawa pelan. Menyiratkan keanehan untuk mereka yang menontonnya.
“Salah, kau hanya tidak menyangka kalau kalian akan ketahuan secepat ini bukan? Lagi pula, dari awal kan sudah kukatakan. Kalau cinta dalam pertemanan itu hal yang sangat menyusahkan. Dan sekarang kalian harus membayar harganya.”
Eldrey pun mengalihkan diri menuju bibir tangga di mana Steven dan Henry berdiam di sana.
“Benar juga. Kemejaku basah, jadi aku akan pinjam punyamu Dean,” lirihnya kemudian berlalu meninggalkan mereka semua.
“Hah ...” helaan napas pelan Kevin yang jengah. Dan itu pun dilihat Dean dengan pandangan yang tak jelas artinya. “Luar biasa,” gumamnya sambil melangkah pergi dari sana.
Sementara Steven dan Henry pun juga memilih untuk mengikuti pijakan rekan seperjuangannya.
Sekarang, hanya tersisa Dean seorang. Masih berdiri diam di posisinya merasakan perasaan yang berkecamuk di dada. Ingin menyalahkan keadaan juga tak ada gunanya.
Dari awal, sikapnya yang tidak konsisten memang sudah membukakan jalan untuk membuat masalah. Andai dulu dia tak pernah menerima ajakan Erin untuk berpacaran, mungkin saja semuanya takkan jadi seperti ini.
Tetapi, di hamparan pijakan yang menuju jalanan, seorang gadis berlari dengan ekspresi menyedihkan.
Rasanya menyakitkan. Sepanjang tubuhnya bergerak, sekeras itu pula kenyataan menghantam kesadarannya. Pengkhianatan dari teman serta mantan pacar yang sangat dicintainya.
Dia sangat-sangat tersiksa.
__ADS_1
“Erin!” panggil Ramses yang berusaha mengejarnya.
Sampai akhirnya, gadis itu berhasil di hentikan karena langkahnya yang sudah melambat. Muka sendu menghiasi wajah cantiknya, mengundang iba untuk mata-mata yang menatapnya.
“Kenapa?” kata pertama yang terlontar di bibirnya.
Ramses terdiam.
“Kenapa mereka setega ini? Aku salah apa sampai dipermainkan seperti ini?” tanyanya.
Tapi, pemuda itu tak kunjung bersuara. Kecuali membuang pandangan yang tampak merasa bersalah.
“Apa kamu sudah tahu semua ini?”
Masih tak bersuara, perlahan Ramses hanya melepaskan tangannya dari lengan Erin sambil memamerkan rupa iba.
“Jadi kamu sudah tahu?!”
“Maafkan aku.” Hanya itu yang bisa dilontarkan Ramses.
Sungguh ia benar-benar merasa bersalah pada Erin. Mengetahui kenyataan kalau Dean tak pernah mencintainya, namun hanya memilih diam saja. Bagaimanapun dirinya baru mengetahui itu semua setelah Dean mengakuinya saat malam mereka di Club.
Pernyataan yang membuatnya emosi dan agak merenggangkan hubungan pertemanan mereka sampai sekarang.
“Tega kamu, Rams. Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun?! Padahal aku temanmu. Apa karena cinta kamu jadi buta sampai melindungi Alice seperti itu?!”
“Rin, bukan begitu. Aku juga baru tahu dari Dean beberapa bulan yang lalu.”
“Selama itu?!” Ramses terkesiap. “Dan kamu tidak mengatakan apa pun?! Aku tersiksa Rams, aku terluka. Aku mencintai Dean namun kalian permainkan perasaanku dengan kebohongan! Kenapa? Apa karena aku miskin jadi kalian gunakan sebagai tontonan? Atau—” dirinya makin terisak. “Kalian juga jadikan aku sebagai barang taruhan?”
“Erin!” Ramses benar-benar tak habis pikir dengan apa yang diucapkan temannya itu. Sampai akhirnya tangannya menarik gadis di hadapan ke dalam pelukan.
Hanya itu yang bisa dilakukannya sebagai seorang teman.
“Maafkan aku. Andai aku mengatakannya lebih cepat, mungkin semuanya takkan menjadi seperti ini. Maafkan aku, Rin. Tapi aku bisa apa? Aku juga kecewa, karena sahabatku sendiri juga mencintai orang yang kusuka. Dan aku sangat marah, Rin. Karena tak bisa mendapatkan hatinya, bahkan jika aku sudah berusaha. Aku juga sangat-sangat terluka.”
Begitulah lirihan kata dari mereka yang sama-sama patah hati. Walau salah satunya tidak meneteskan air mata, tapi rasa yang dimilikinya juga tidak bisa disebut lemah.
Hanya saja, Ramses menyadari realita. Bahwa dirinya yang selalu berusaha, cuma dipandang sebelah mata oleh Alice sebagai temannya.
Padahal dirinya benar-benar sangat menyukainya.
Mungkin, kalimat Eldrey untuk Dean dan Alice dulu ada benarnya.
Cinta dalam pertemanan itu hal yang sangat menyusahkan. Karena jika sampai patah hati, ikatan yang ada selama ini bisa jadi taruhannya. Mendatangkan kecanggungan dan berakhir dalam kerenggangan.
Itulah yang dihadapi anak-anak muda ini. Rasa suka di antara mereka, sekarang berbalik menjadi pisau untuk memecahkan ikatan semuanya.
Garis pertemanan yang dulu terjalin dengan sangat erat. Namun sekarang, justru berada di tepi jurang karena sebuah istilah cinta, melanda tanpa iba dalam mengobrak-abrik kehidupan mereka.
__ADS_1