FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tak punya uang


__ADS_3

Akhirnya, dengan skill yang sungguh keterlaluan miliknya, Eldrey pun merusak pintu geser bagian belakang rumah kosong itu.


Tentu saja semua ia lakukan dengan mengabaikan CCTV di sekitarnya.


Mereka berhasil masuk ke dalam, dan anak kembar yang berjalan di belakang terus saja terpana.


Seolah berada di dalam istana.


“Ini, rumah siapa?”


“Rumah keluargaku. Tenang saja, hanya ada kita di sini,” sahut Eldrey sambil merebahkan tubuhnya di sofa yang berselimutkan kain putih.


Dan anak-anak yang mendengar itu pun tersenyum semringah karenanya.


“A-apa aku boleh menyusuri semua ruangannya?”


“Silakan. Dan pilih saja kamar mana yang ingin kalian tempati, tapi jangan hidupkan semua lampunya,” Eldrey pun bangkit dari sana lalu berjalan menuju salah satu pintu dan menutupnya.


Sungguh ini menyakitkan. Lukanya berbisik untuk menyiksanya, tapi di satu sisi lelah juga menghantuinya.


Ia pun memiringkan tubuhnya, berhadapan dengan salah satu foto yang terpajang di sana. Sebuah gambaran bahagia milik keluarga Azof.


Ya, itu rumah orang tua Paul serta Patricia dulunya. Kediaman mereka yang dilelangkan saat hutang mendera.


Dan akhirnya setelah kematian Patricia, semua dikembalikan pada mereka. Aset-aset itu memeluk keluarganya namun penuh air mata.


Suami-istri Azof yang depresi karena kehilangan putrinya pun memilih menjual rumahnya.


Tapi sungguh tak disangka, sang pembeli adalah Rondolf yang merupakan kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan Presdir Betrand.


Dia membelinya, namun rumah ini dibiarkan terbengkalai begitu saja.


Bahkan tak pernah di datangi lagi olehnya. Semua bisa terlihat dari debu di sekitar serta perabot-perabot yang ditutupi kain putih hampir seluruhnya.


Karena itulah Eldrey memilih ke sini. Sebab ia yakin dirinya tidak akan ketahuan mengingat power supply CCTV di rumah ini telah rusak dan Rondolf mengabaikannya begitu saja.


Walau ada label dijual di depan gerbang, nyatanya nomor yang tertera adalah nomor telepon mati.


Sungguh tak niat diri Rondolf dalam mengurus penjualannya.


Dan sangat disayangkan, padahal hunian ini berada di lokasi yang cukup strategis. Di mana jalan raya tak begitu jauh di depan sana.


Esoknya, pencarian masih dilakukan. Rudan sampai begadang memeriksa CCTV jalanan, bahkan akhir-akhir ini kerjanya hanya menghabiskan waktu untuk mengintai area perkotaan lainnya.


Karena jika melihat tipe Eldrey, orang-orang meyakini kalau gadis itu akan pergi ke tempat yang jauh dari keramaian agar bisa tidur dengan tenang.


Sungguh semua benar-benar di luar dugaan. Karena faktanya, gadis itu masih berada di kota tempat tinggalnya.


Hanya saja, hunian ini cukup berjarak dan terpinggirkan, sehingga berat kemungkinan orang-orang dari keluarganya akan melewati jalanan di sekitarnya.

__ADS_1


Putri Dempster benar-benar sudah memperhitungkan semuanya.


Di kediaman yang berbeda, terlihat Nyonya Julia sibuk bersiap-siap.


Lipstik yang cukup ranum pun menghiasi bibirnya, dan dandanan rapi serta menawan menyelimuti tubuhnya.


Hari ini, ia akan pergi dengan Kevin. Sebuah perintah dari Kendal, untuk membelikan hadiah bagi Diana yang sebentar lagi akan berulang tahun.


Jujur mental serta sikap ayah dari Kevin dan Dean itu patut diacungi jempol. Mengingat anaknya telah banyak melakukan ulah yang menyakiti hati Diana, namun dirinya masih saja gigih menjodohkan mereka.


Mau tidak mau Dean yang sudah mengukuhkan janji dengan Alice terpaksa terpukul mundur sekarang.


Apalagi, Tuan Kendal mengancam putranya akan melakukan apa pun untuk menyakiti keluarga pujaan hatinya.


Salah satu contohnya dengan berencana menggusur warung ayam goreng yang menjadi sumber kehidupan Bu Ann serta Alice selama ini.


Pilihan apa yang ia punya? Nyatanya, Dean hanya anak orang kaya dengan fasilitas memadai namun kosong isi sakunya.


Dia tidak sehebat itu untuk bisa membahagiakan Alice sekarang. Karena bagaimanapun finansial masih bergantung pada orang tuanya.


“Bagaimana? Apa sudah ada informasi?” tanya Presdir Betrand saat memasuki mobilnya di halaman rumahnya.


“Maaf Tuan. Tapi, semua sedang bekerja keras sekarang. Maaf karena ini memakan waktu yang cukup lama,” sahut Reynald yang merupakan supirnya.


Pria itu tidak menjawabnya. Walau jelas-jelas ekspresinya menyiratkan kecewa, tapi ia juga tak bisa menyalahkan para bawahannya.


Nyatanya, yang sedang menghilang ini putrinya.


Lagi pula, terlepas dari kondisi yang di deritanya, ia tetaplah seorang gadis pintar.


Hanya saja, sosoknya benar-benar sulit bertanggung jawab pada diri sendiri atau merencanakan masa depan bagi hidupnya.


Sungguh putri Dempster benar-benar menimbulkan cemas untuk orang-orang sekitarnya.


“Kak? Kita akan makan apa? Aku lihat di lemari ada makanan kaleng namun sudah kadaluarsa,” sahut Lea begitu Eldrey mendatanginya.


Gadis itu hanya duduk di kursi makan sambil memijat kepalanya.


“Kak? Kakak baik-baik saja?” tanya Leon menghampirinya.


“Ya aku baik-baik saja. Kalian tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku akan beli makanan.”


“Beli makanan? Kakak pergi sendiri?”


“Ya.”


Raut wajah Lea pun berubah panik. “Tapi Kakak kan masih sakit. Biar kami temani sekaligus jaga-jaga.”


“Tidak perlu. Jika bersama, aku hanya akan kesusahan. Lagi pula ini tidak akan lama, jadi kalian di sini saja,” dan ia pun benar-benar pergi dari sana lewat pintu belakang.

__ADS_1


Dirinya tak berbasa basi dalam berbicara, seolah tidak peduli jika ada orang yang akan tersinggung karenanya.


Dan langkah kakinya pun melewati jalanan sambil memakai baju milik Paul yang masih ada di rumah.


Walau tak banyak jumlahnya, tapi itu cukup membantunya untuk berdandan seperti laki-laki.


Mengingat tubuh kurusnya itu tidak begitu terlihat sebagai perempuan jika memakai jacket oversize.


“Selamat datang, Nona,” sapa salah satu pegawai toko yang menyambut gadis itu. Eldrey hanya mengangguk pelan lalu melepas masker penutup wajahnya. “Ada yang bisa dibantu?” tanyanya dengan sangat ramah dan tak lupa mencetakkan senyum hangat di bibirnya.


Tanpa berbasa basi, Eldrey menarik kalung di lehernya dan memberikan pada sosok di depannya.


“Aku ingin menjualnya.”


“Baik, tolong tunggu sebentar,” angguknya sopan dan meninggalkan putri Dempster sejenak.


Gadis itu tak punya pilihan selain menjual perhiasan yang masih melekat di badannya.


Karena bagaimanapun juga, ia tak punya uang sama sekali sekarang.


Pintu toko perhiasan itu kembali terbuka dan membuat gadis itu melirik ke belakang.


“Lho, Eldrey?”


Tersentak. Gadis itu bagai disambar petir sekarang.


Perlahan rasa aneh di dada yang mendera tergantikan dengan senyum tipis di bibirnya.


“Bibi? Aku tak menyangka kita akan bertemu di sini. Bagaimana kabarmu?” ia pun mendekati wanita itu tanpa ragu.


“Baik. Kabar Bibi baik. Bagaimana denganmu? Sudah lama kita tidak bertemu,” sapa Nyonya Julia ramah sambil menyentuh lengan putri Dempster.


Dan Eldrey pun melirik sekilas ke arah pegangan namun masih belum melepaskan senyuman.


“Kabarku juga baik. Jujur, kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini. Apa mungkin Bibi ingin membeli cincin tunangan untuk Dean?”


Wanita itu pun terkesiap. Sungguh ia tak menyangka jika gadis di depannya akan bertanya blak-blakan begitu.


“Tidak, Nak. Bibi ke sini untuk membeli kado ulang tahun Diana. Oh ya, bagaimana kalau setelah ini kita makan ber—”


“Permisi, Nona,” sela pegawai yang tadi melayani Eldrey.


Gadis itu pun menghampirinya dan mengabaikan keberadaan Nyonya Julia begitu saja. Tanpa di duga, ia dekatkan wajahnya ke arah telinga dia yang berseragam cantik di depannya.


“Aku tidak jadi menjualnya sekarang. Tapi setelah wanita di belakangku pergi, aku akan kembali lagi. Berpura-puralah tidak tahu, dan aku akan berikan setengah uang perhiasan ini sebagai biaya tutup mulutmu,” bisiknya lalu mengambil kalung itu kembali tanpa terlihat Nyonya Julia.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2