
PERINGATAN! Part mengandung kekerasan.
Suara tembakan memekakan telinga. Tapi itu takkan terdengar keluar, karena rumah tersebut kedap suara.
Eldrey menyeringai, ia berhasil menembuskan peluru di kaki kiri rekan pria itu. Dirinya pun berputar seketika dan mendaratkan tendangan di kepala.
Rekan orang itu tersungkur sambil merintih kesakitan akibat serangan tak terduga Eldrey.
“Apa kalian tahu? Saat merasa tidak akan menang, aku akan menyerang kalian habis-habisan,” gumam Eldrey mengarahkan pistol ke pria satu lagi yang patah hidungnya. Ia pun menembak kedua kakinya sehingga dirinya makin tak berdaya.
Eldrey mendekatinya. “Ini tanganmu yang memelukku kan? Ah! Aku kan sudah mematahkan salah satunya.”
“Kumohon, ampuni aku ...” pintanya tersedu-sedu. Eldrey menyentuh tangannya yang sudah patah itu. Tanpa aba-aba lengannya langsung diputar sehingga sendinya bermasalah. “Aagh!!!” jeritnya kesakitan.
“Selanjutnya kakimu.”
“A-a-ampun! Aku mohon! Ampuni aku! T-tolong ampuni aku!” teriaknya beruraian air mata.
Pandangan Eldrey teralihkan karena rekan pria itu mulai bangkit dari posisinya secara perlahan.
“Tenang saja. Aku cuma akan mematahkan kedua kakimu. Bukankah kau harusnya senang? Tangan kirimu baik-baik saja,” ucap Eldrey semringah.
“Dasar keparat gi-” suaranya tertahan. Karena Eldrey tiba-tiba mengarahkan pistol ke mulutnya.
Perlahan, senyum lebar membelah mulutnya. “Apa?” tanyanya lalu mengarahkan pistol ke arah rekan pria itu dan menembak kakinya yang sudah menerima serangan peluru sebelumnya.
Erangan penuh kesakitan berteriak menghiasi rumah, orang itu menyentuh lututnya yang ditembak tanpa ampun.
“Baiklah. Sekarang, aku harus mematahkan yang mana?” ucapnya santai sambil berdiri.
Sosoknya itu, begitu angkuh jika dilihat dari bawah oleh pria yang gemetar di hadapannya.
“Benar juga. Aku punya ide,” lirih Eldrey menyentuh dagunya seperti berpikir sejenak. “Bukankah para gadis manis sebentar lagi akan kemari? Jadi, permainan apa yang harus kusiapkan?”
Gadis itu memeriksa saku pria itu, “apa kau tak punya pistol?”
“Ka-kami, bukan penjahat seperti itu,” ucapnya terisak.
“Keparat apa yang disiapkan mereka untuk bermain denganku?” tekan Eldrey dengan suara dinginnya.
Gadis itu berdiri lalu berjalan memeriksa apa saja yang ada di dalam rumah. Tak banyak, kecuali senjata tajam dan tumpul bertumpukan di dekat pintu kamar.
“Mm?” matanya teralihkan begitu menyadari baju kaosnya tergeletak di lantai. “Hah!” hela napasnya kasar. “Ayah pasti akan mengirimku ke rumah sakit jiwa jika tahu aku berulah. Jadi, apa aku harus kerja dengan bersih? Charlie juga tak di sini. Dasar sialan!” jengkelnya.
“Kau punya ponselkan?”
“Pu-punya,” ucap pelan salah satunya.
“Bisa jawab yang keras? Peluruku masih ada untuk menembak keluar isi kepalamu.”
“A-ada!”
“Buat pengakuan! Katakan kalau Lily dan Naomi memerintahkan kalian untuk memperkosa dan membunuh Eldrey Brendania Dempster,” jelas Eldrey sambil mencari ponsel yang dikatakan ada itu.
“I-itu!”
“Akan kubawa kalian ke rumah sakit. Tenang saja, jika patuh hidup kalian aman. Begini-begini aku orang kaya,” gerutu Eldrey memainkan ponsel dan akan menghidupkan rekaman.
“Hei kau! Jangan mengerang saja! Ayo ikut berperan!” perintah Eldrey pada rekan pria yang masih merintih kesakitan.
“Berbincanglah kalau semua ini rencana Naomi dan Lily. Kalian boleh menambahkan apa pun. Maka hidup kalian akan tenteram. Jika tidak, akan kupotong kalian sebagai makanan binatang. Kau tahukan aku akan menyiksamu sebelum membunuhmu?” ancam Eldrey sambil berekspresi mengerikan.
Ia bahkan memiringkan wajah menyeringai itu, membuat pesona cantiknya tertutupi keangkeran sikapnya.
Seperti yang diperintahkan, Eldrey pun merekam perbincangan pesakitan dua orang itu. Dan seperti yang diharapkan, mobil Naomi sudah tiba. Sepertinya mereka sudah tidak sabar melihat hasil kerja keras kedua orang suruhannya.
Begitu membuka pintu, tak ada suara apa pun.
“Kenapa hening begini?!” tukas Naomi bingung. Keduanya lalu melangkah masuk ke dalam menuju kamar bercahaya temaram.
“Kejutan,” gumam Eldrey tepat di belakang mereka.
“Kau!” spontan Lily berbalik.
“Aagh!” pekik Naomi karena perutnya dipukul pakai pistol.
“Kau!” Lily refleks maju dan lututnya ditendang Eldrey. “Aagh!!”
“Pecundang,” oceh Eldrey sambil mengarahkan pistol ke kepalanya. Tanpa ampun, pistol itu diayunkan memukul kepala Lily.
Ia mengerang kesakitan. Dirinya sampai berguling-guling karena tak pernah menerima serangan seperti itu.
Mentalnya terlalu lemah jika dibandingkan dengan Eldrey yang seperti petarung jalanan.
Naomi yang sudah bisa mengendalikan diri, memegang kaki Eldrey sehingga membuatnya mengangkat tangan dan mengarahkan siku menghantam punggung gadis itu.
Bahkan kakinya ikut menendang perut Naomi, sehingga ia terbalik ke belakang tak sadarkan diri.
“Kau!” geram Lily.
Eldrey tersenyum tipis. “Bahkan setelah kalian berempat, masih tak bisa melumpuhkanku. Menyedihkan.”
Eldrey berjalan mendekati Lily yang sudah berdiri. Tampak sepupunya memasang kuda-kuda hendak menyerangnya. Dirinya pun menodongkan pistol untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
“Kau pikir senjata mainan itu bisa menggertakku?!”
Lily membeku, sebuah suara tembakan tiba-tiba memecah suasana. Peluru dilayangkan melewati bawah telinganya. Begitu akurat tak melukainya dan hanya merontokkan rambutnya yang tergerai di sana.
Eldrey menyeringai. “Walau begini, aku ahli dalam pertarungan jarak dekat,” lagi-lagi ia berputar dan mengeluarkan tendangan yang menghantam pipi Lily. Gadis itu terjatuh membentur meja.
Spontan ia ambil pisau yang ada di sana dan hendak menyerang Eldrey. Sepertinya, emosi sudah terlanjur menguasainya sampai melupakan rasa sakit akibat serangan Eldrey.
“Berhenti membuang-buang waktuku!” hardik Eldrey memainkan kakinya menyerang tangan Lily. Pisau pun terlempar entah ke mana.
Gadis itu mengangkat kakinya tinggi dan menghantam turun ke bahu Lily sehingga ia jatuh tak berdaya. Sepertinya, Eldrey sangat ahli dalam memainkan kakinya.
Ia pun menginjak kepala Lily sekilas. “Kau tahu? Kalau di luar kita harus memakai hukum rimba.” Sebuah lilin mengalihkan perhatiannya, dengan korek api yang juga ada di sana diambilnya keduanya.
Lilin pun dinyalakan lalu diarahkan pada Lily. “Bagaimana menurutmu Lily? Ini saat-saat yang menyenangkan bukan?” ucap Eldrey duduk di atas tubuh Lily membuatnya tak bisa bergerak.
“Mau apa kau!” berontak Lily. Tapi, Eldrey malah membakar rambut Lily secara perlahan. “Aagh!!!” teriaknya karena panasnya api hampir mengenai kulit kepalanya. Rambutnya rusak akibat kegilaan Eldrey itu.
Eldrey makin tersenyum senang. “Aku menyukainya. Rintihan itu,” lalu cairan lilin pun diteteskan ke pipi Lily membuatnya semakin menjerit kencang.
“Kau tahu? Ini belum seberapa. Dulu, cairannya diteteskan ke kelopak mataku. Kau bisa bayangkan betapa sakitnya itu? Untung saja aku tidak buta,” Eldrey masih belum menghentikan aktivitasnya.
Dirinya terdiam sejenak. Membiarkan teriakan Lily memecah suasana. Walau gadis itu meronta, tapi tubuh Eldrey yang duduk di punggungnya dan menginjak lengannya membuat sepupunya tak berdaya.
Eldrey berdiri, ia pun menendang perut Lily sehingga wanita itu makin merintih kesakitan. Sungguh, di balik rasa sakitnya, ingin sekali dirinya membunuh gadis gila itu.
“Aku sudah memperingatkanmu. Jadi, aku akan menyiksamu. Maka jangan mati dulu sampai aku puas,” gumam Eldrey. “Tapi, aku punya penawaran lain untukmu. Hari ini aku akan memaafkanmu, karena itu larilah dari sini. Akan kubuat namamu bersih dalam kejahatan ini, tapi kau harus menumbalkan Naomi, bukan ide yang buruk kan?”
“A-apa maksudmu keparat!”
“Mari berdamai Lily. Bagaimanapun kau sepupuku.” Eldrey lalu mengeluarkan ponsel pria yang disiksanya dan memutar rekaman.
Lily tersentak, mendengar namanya disebut di sana. Bahkan rekaman telepon saat ia memerintahkan orang itu juga ada.
“Pesuruh yang licik ya,”seringai Eldrey. “Pilihanmu hanya menurutiku. Jika kau menolak, bukan hanya rekaman ini yang tersebar, tapi juga rekaman di rumah Naomi saat kalian menyerangku. Kau tidak sebodoh itu sampai tak memperkirakan ada cctv di sanakan?”
Wajah Lily semakin menegang.
“Seharusnya kau mengindahkan ancamanku. Apa harus kumulai dengan fakta aborsimu?”
Gadis di depannya menggertakkan gigi. Rasa sakit dari serangan Eldrey seakan lenyap akibat kebencian yang terlalu tinggi.
“Pulanglah Lily. Jika kau menyetujui pilihanku, maka lakukan. Akan keberi waktu tiga hari. Jika aku tak mendengar berita apa pun tentang kejahatan Naomi, maka akan kuseret kalian berdua ke tanah. Menumbalkannya, bukan hal yang buruk kan?”
Eldrey meraih baju kaosnya dan melangkah pergi dari sana. Sebelum pergi, ia pun membakar gorden rumah sehingga apinya dengan cepat melahapnya.
“Jika kau ingin mati maka terbakarlah di sini! Walau aku lebih senang kau hidup Lily!” teriak Eldrey. Ia pun keluar dari rumah sambil menyentuh keningnya. Sakit dan ada darah kering di sana.
Luka akibat hantaman balok yang dipukulkan Naomi sebelumnya. Sungguh, rasanya ia sangat kelelahan.
Dirinya keluarga dari gang, dalam keadaan begitu lusuh. Menyeberangi jalanan sepi dan memasuki kawasan area jalan raya yang dilalui kendaraan.
Eldrey bertopang pada pembatas jalan. Diraihnya ponsel di saku. Mencoba menghubungi Reynald untuk menjemputnya.
Akan tetapi, sepertinya kesialan memang berpihak padanya. Tangan yang mulai kehilangan tenaga itu tak sengaja menjatuhkan ponsel ke selokan di sebelah pembatas jalan. Eldrey hanya bisa memandangnya dengan tatapan kosong.
“Sial,” gumamnya menjatuhkan baju kaos di tangan.
Seketika dirinya terduduk dan menyandarkan tubuh menatap jalan yang dilalui beberapa kendaraan. Tak terlihat ada yang berniat berhenti untuk membantunya. Padahal dirinya yang seperti gelandangan muda sudah sangat mencolok wajahnya.
Rasanya pandangan mulai buram. Jika ia pingsan dan ditolong orang jahat, maka sudah jelas keberuntungan Eldrey akan berakhir.
Tapi, tampaknya secercah cahaya berhenti tepat di hadapannya. Sebuah mobil sedan hitam yang tak asing. Seorang pemuda turun secara terburu-buru dan menghampirinya.
“Eldrey?!” sambil memegang lengan gadis itu.
Eldrey tersenyum. “Bagus sekali. Aku lelah, Ke-vin,” matanya tertutup dengan suara tak lagi terdengar.
Spontan Kevin menggendongnya ke dalam mobil. Pikirannya kalut, terlebih dirinya bingung kenapa gadis itu ada di sana.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Kevin pun menghentikan laju mobilnya. Ia tersadar kalau kendaraannya baru saja melewati rumah singgah milik keluarganya. Tanpa pikir panjang, mobil diputar arah memasuki kediaman tak berpenghuni itu.
Segera ditekannya pasword sehingga pintu rumah terbuka. Buru-buru digendongnya Eldrey dan ditidurkan di sofa.
Semua berlalu secara cepat, Kevin segera mengambil obat dan alkohol untuk membersihkan luka Eldrey.
Rasanya ingin membawa gadis itu ke rumah sakit, tapi ia kembali teringat kejadian penyerangan sebelumnya.
Diantar pulang, dirinya enggan bertemu Charlie. Dua kali mendapati Eldrey dalam keadaan seperti ini jelas bukan hal baik bagi Kevin.
Bisa-bisa ia dikuliti hidup-hidup terlebih gadis itu juga pingsan.
Setelah selesai mengobati luka di kening Eldrey, ditatapnya gadis itu dari atas ke bawah. Memastikan apakah ada luka lainnya.
Sepanjang mata memandang, sang gadis tampak lusuh. Tapi, pesona tubuh seksinya memang menggoda. Kevin mendecih dan mengalihkan pandangan. Dirinya terdiam melihat jejak luka di telapak kiri Eldrey.
Seperti bekas sayatan, untuk seorang gadis ini cukup miris.
Segera ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Dia harus menenangkan otaknya, agar tak menjadi buaya tiba-tiba. Bagaimanapun dirinya laki-laki.
Begitu kembali, dirinya tertegun dengan Eldrey yang sudah sadar dan menatap dinginnya.
“Aku tak tahu ini kesialan atau keberuntungan.” Eldrey tiba-tiba menodongkan pistol ke arahnya. “Bisa kau belikan aku baju? Dan obat penenang sekalian.”
__ADS_1
Kevin terdiam.
“Ah! Sekalian dalaman dan makanan,” lanjut Eldrey membuat wajah Kevin mengeruh mendengarnya.
“Tunggu apa lagi?!” perintah Eldrey. Seakan dirinya lupa siapa yang sudah menolongnya.
“Ya Tuhan! Kenapa nasibku selalu begini jika bertemu dengannya? Seharusnya aku tak membantunya!” gerutu Kevin saat mengendarai mobil membeli kebutuhan yang diminta itu.
Begitu sampai di toko, tanpa peduli sekelilingnya, Kevin segera mengambil pakaian santai untuk Eldrey. Bahkan dirinya juga membeli dalaman perempuan yang cukup memalukan jika dibeli seorang pemuda.
Tapi, rasa malu seolah gugur karena jengkel pada Eldrey. Sudah ditolong, sempat-sempatnya menyuruh belanja ini itu. Lebih baik dia pingsan saja, gerutu batin Kevin.
Setibanya kembali, “obat penenang tidak ada. Cuma bisa dibeli kalau ada resep dokter. Banyak orang yang bunuh diri, maka susah membelikannya,” ketus Kevin menyodorkan belanjaan pada Eldrey.
“Ya sudah. Aku menumpang mandi ya,” ucap Eldrey sambil tersenyum tipis.
Cukup lama ia mandi, tapi Kevin tak peduli lagi. Dirinya memilih bermain game. Walau rumah itu tak berpenghuni, tapi seminggu sekali pembantu kediamannya pasti datang untuk membersihkannya.
Mungkin karena rumah itu terletak di area pinggiran jalan raya jadi tak begitu sering dikunjungi. Keluarga Kendal lebih suka menghabiskan hari libur di villa yang asri.
“Kevin, terima kasih untuk semuanya,” ucap Eldrey yang muncul tiba-tiba. Rambutnya masih basah, dengan dahi lebam mulai membengkak.
“Apa yang terjadi padamu?”
Eldrey hanya tersenyum tanpa menjawab dan duduk di hadapannya.
“Kenapa keadaanmu selalu menyedihkan saat kita bertemu?” lanjut Kevin.
“Aku juga bertanya-tanya,” Eldrey menyeringai.
Kevin pun bangkit dan pergi ke kamar. Dirinya kembali sambil membawakan handuk. “Keringkan rambutmu. Jika kau sakit tiba-tiba, aku bisa tambah repot.”
Eldrey pun tersenyum remeh saat menerimanya. “Apa yang kau lihat?”
“Mana pengawalmu?”
“Kami terpisah.”
“Aku tak mengerti dengan jalan hidupmu.”
“Urus saja urusanmu,” ledek Eldrey. Kevin mendecih. “Kau tak perlu begitu, aku akan pergi sebentar lagi.” Gadis itu bangkit dan melempar handuk ke arah Kevin.
“Hei!”
Eldrey lalu menarik kalung di leher dan memberikannya pada pemuda itu.
“Aku tidak bawa dompet. Ini ganti rugiku, kau bisa jual atau kutransfer uangmu nanti.”
“Kamu tidak perlu menggantinya. Uangku juga banyak.”
“Terserah.”
“Hei! Sudah kubilang tidak butuh!” ucap Kevin menarik lengan Eldrey saat gadis itu hendak pergi.
“Ah!” gadis itu jatuh terduduk ke sofa sambil memegang kepalanya. Ia mendadak pusing akibat tarikan yang tiba-tiba.
“Maaf-maaf! Kamu baik-baik saja?” Kevin tampak panik dan menyentuh bahunya.
Eldrey melirik sinis Kevin. “Apa kau tidak bisa lebih lembut? Begini-begini aku juga perempuan,” jengkel Eldrey dengan tampang menyebalkan.
Kevin terdiam. Ditatapnya gadis arogan itu. “Maafkan aku.”
Eldrey hanya meliriknya sekilas. “Sudahlah.”
“Kamu masih marah?”
Eldrey menoleh, “omong kosong apa itu? Menurutmu?”
“Tidak.”
“Cih! Kau memang sama menyebalkan seperti pacarmu.”
“Pacar? Siapa?” Eldrey tersenyum sinis. Akhirnya, Kevin tertunduk karena menyadari maksudnya. “Kak Alice pacar kak Dean.”
“Oh, lagi pula mereka memang cocok.”
“Bagaimana denganku?”
“Karena bukan kau yang bersamanya, itu berarti kau tak cocok.”
Raut wajah Kevin berubah mendengarnya. “Siapa pun yang bersamanya ya,” lirihnya dengan nada aneh.
Eldrey cuma diam menatapnya. Mata yang saling beradu menyiratkan sesuatu.
“Apa itu juga berlaku untukmu?” sambung Kevin.
“Maksudmu?”
Kevin memandang lekat wajahnya. Memang tak bisa dibohongi, kalau Eldrey sangat cantik di matanya. Dirinya pun menyentuh ujung rambut Eldrey yang basah.
“Aku cuma bertanya, apa kalimatmu juga berlaku untukmu?”
Mata mereka yang saling bertemu pun terasa dekat jaraknya.
__ADS_1
Dan ternyata ....