FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kunjungan keluarga


__ADS_3

Esok harinya ....


Eldrey merebahkan dirinya di ranjang yang tenang. Ia memandang langit-langit kamar yang kaku tak menggairahkan hati.


Ekspresinya kosong, seperti orang tak ada keinginan untuk hidup. Tak jelas apa yang ia pikirkan, hanya saja ekspresinya benar-benar tampak menyedihkan.


“Aku bosan,” lirihnya pelan. Semua yang ada di kamar tak mampu menutupi kebosanannya, tidak pula dengan kemewahan di rumah itu membantu menguranginya.


Ia melirik ke sekelilingnya, menyadari kalau ponselnya tak ada dan entah ke mana. Ia pun bangun, rasa sakit di bagian yang ditusuk pisau masih terasa, namun ekspresinya tak mengkhawatirkan.


Eldrey pun memegang perutnya, lalu beralih mengangkat tangannya. Sebuah seringai dingin pun mengembang di bibir, menatap jari tangan yang sempat berlumuran bola mata musuh yang hancur. Kenikmatan akan sensasi itu membuatnya gemetaran, seolah membangkitkan sesuatu yang mulai tertidur di dirinya.


Suara langkah menghampiri pintu, pelan namun disadari gadis itu.


“Nona?” panggil seseorang lalu membuka pintu.


Wanita paruh baya pun memasuki kamar, membawa minuman dan cemilan yang menggiurkan mata. Wanita itu tersenyum, menaruhnya di dekat ranjang gadis itu.


“Nona, silakan dimakan,” sahut bibi pembantu.


Gadis itu tak menjawab ataupun mengangguk, ia menatap wanita itu tak berkedip membuat yang ditatap gelagapan.


“Nona? Ada apa?”


“Apa Roma di rumah?”


“Tidak nona, tuan Roma sedang pergi.”


“Charlie?”


“Tuan Charlie sedang bersama kepala pelayan di bawah. Ada apa nona?”


“Katakan padanya, kalau aku ingin keluar.”


“Tapi nona!”


“Aku ingin keluar,” tukas Eldrey agak menekan.


Bibi pembantu itu mengangguk lalu pergi meninggalkannya. Eldrey mengalihkan tatapannya menatap langit-langit kamar.


“Apa?! Sepertinya kau benar-benar tak sadar situasimu ya!” gerutu Charlie saat memasuki kamar. “Aku ini sibuk, ada segudang pekerjaan yang belum terselesaikan!”


“Bukannya bawahanmu yang mengerjakannya?”


“Apa? Perkataanmu sungguh melukai hatiku!”


“Aku bosan,” sahut Eldrey tak peduli.


“Dan aku sibuk!”


“Pilihlah bawahanmu untukku.”


“Apa kau tak mendengarkanku? Memangnya kau mau ke mana?”


Eldrey tak menjawab, salah satu masalah yang membuat ia benar-benar menyebalkan adalah diam mengabaikan pertanyaan. Dia benar-benar gadis yang sangat menyebalkan.

__ADS_1


“Hah ... Baiklah, ayo kita pergi,” ujar Charlie jengkel. Mukanya benar-benar kesal dengan gadis yang merepotkan itu. Tapi ia tetap menurutinya, karena dia putri bosnya.


“Anda mau ke mana?” tanya Rondolf menatap Charlie yang sedang menggendong Eldrey.


“Kami pergi sebentar,” jelas Charlie.


“Baiklah, berhati-hatilah dalam perjalanan kalian,” ucap Rondolf saat keduanya keluar dari rumah.


“Apa kamu tak tahu kalau menggendongmu itu sangat melelahkan? Kenapa kamu tidur di rumah itu?!” gerutu Charlie di dalam mobil.


“Jika lelah itu bukan urusanku, tanyakan pada bosmu kenapa membeli rumah aneh seperti itu.”


“Tanyakan? Bukankah jawabannya sudah jelas?! Selera presdir aneh, sama sepertimu,” sindir Charlie.


Eldrey hanya tersenyum tipis, membuat Charlie semakin jengkel menatapnya. “Jadi kau mau ke mana?!” lanjutnya.


“Raelvena,” balas Eldrey, Charlie pun terbungkam mendengarnya.


“Apa yang kau inginkan?!”


“Tak ada, fokus saja pada tugasmu,” Eldrey mengalihkan pandangan ke samping, menatap gambaran nyata yang dilewati mobil mereka.


Sebuah mobil pun berhenti tak jauh dari toko roti yang diincar. Pelanggan baru saja datang ke toko itu untuk membeli roti yang mereka suka. Dua pasang mata menatap ke dalam dinding kaca transparan yang terang ke luar. Aktivitas mereka bisa dilihat mata telanjang orang yang ingin melihatnya.


Senyuman dan canda tawa dari dua karyawan toko yang ramah menghibur suasana. Membuat para pelanggan puas berbelanja di sana.


Sesekali sorot mata orang yang tadi mengendarai mobil terparkir tak jauh dari toko itu melirik pada orang di sampingnya. Merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu saat menatap adegan di dalam toko. Ia tak bersuara, hanya saja melihat ekspresi gadis yang ia temani itu memang menjadi hiburan tersendiri baginya.


“Ayo kita pergi,” perintah gadis itu.


“Maksudmu?”


“Wanita pemilik toko masih belum terlihat.”


“Apa kau pikir aku ingin melihatnya?”


“Mungkin, karena jika tidak kau tak mungkin memintaku mengantarmu ke sana,” ujar Charlie.


Eldrey memasang wajah datar, tak peduli dengan ocehan pria itu. “Ayo ke rumah Gates.”


“Apa! Apa kau gila?!”


“Ya.”


“Kau membuatku tak bisa berkata-kata, apa yang kau rencanakan?”


“Entahlah,” jawab Eldrey singkat.


“Karena ini kau memintaku menemanimu?!”


“Apa yang kau bicarakan? Itu memang tugasmu.”


“Kau benar-benar memanfaatkan bawahanmu,” Charlie terkekeh.


“Bagus jika kalian sadar akan itu,” senyum sumringah pun terpancar dari bibir Eldrey.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya sampai di depan gerbang keluarga Gates, membuat mobil terparkir di halaman rumah besar yang bergaya modern itu.


“Entah kenapa aku selalu merinding jika ke sini,” pungkas Charlie. Ia pun menemani Eldrey memasuki rumah tersebut sambil duduk di atas kursi roda. Sebuah bingkisan berupa makanan yang disukai tua bangka di rumah itu menjadi oleh-oleh di pangkuan Eldrey.


“Eldrey?! Selamat datang sayang!” Sambutan hangat dilemparkan pada mereka oleh menantu keluarga Gates. Membuat reuni keluarga kecil itu jadi berwarna.


“Tunggu di sini, bibi akan panggilkan nenek dan yang lain.”


“Ya,” balas Eldrey singkat. Senyum ramah tercetak jelas di wajah Eldrey.


“Apa ini? Apa tak ada makanan atau minuman yang mereka tawarkan?!” sindir Charlie.


“Yah, mungkin sedang disiapkan. Aku tak tahu jika kau lupa dengan pelayanan buruk mereka.”


“Jangan memuji, pelayanan keluarga ini sangat kotor,” gerutu Charlie.


Langkah yang bisa didengar dari high heel yang menghiasi kaki tua bos besar di rumah itu mengundang tawa di hati Charlie.


Bagaimana tidak, nenek tua itu seharusnya memakai tongkat, bukan hiasan kaki yang tingginya seperti cangkir kopi.


Apa yang dipikirkannya? Kaki keriput itu seharusnya ditutupi, bukan dipamerkan dengan hiasan mencolok berwarna hijau itu.


Berbeda dengan Eldrey, senyum ramah yang sudah ia tempelkan dengan sempurna di wajahnya berbanding terbalik dengan hatinya. Umpatan demi umpatan karena jijik dengan perilaku neneknya yang menolak tua itu membuatnya jengkel.


Akan lebih baik jika wanita tua itu terbaring di ranjang, menghabiskan masa tuanya agar cepat mati.


Bukankah ini aneh? Kenapa gadis itu begitu tak menyukai neneknya? Padahal ikatan darah mereka tak diragukan bukanlah suatu kebohongan.


“Sayang! Kamu sudah keluar rumah sakit? Nenek benar-benar merindukanmu!” wanita itu memeluknya erat. Membuat Eldrey kesusahan menjaga bingkisan di tangan agar tak rusak oleh badan gemuk wanita tua itu.


“Iya nenek, karena itulah aku datang kemari. Maaf jika ini tiba-tiba.”


“Apa yang kamu katakan? Kamu bisa datang ke sini kapan saja!” Wanita itu menepuk pelan pipi cucunya karena senang.


“Nenek, ini aku bawa sesuatu untukmu,” Eldrey menyodorkan bingkisan di pangkuannya. Membuat orang yang menerimanya tersenyum senang.


“Apa ini?”


“Kusarankan nenek membukanya di kamar.”


“Baiklah, jika itu maumu.”


“Mana bibi? Bukannya tadi memanggil nenek?”


“Ah, iya. Ke mana dia?” wanita itu menoleh mencari keberadaan menantunya.


“Mungkin bibi sedang ada urusan?”


“Mungkin saja.”


“Oh ya nenek, apa aku boleh minta sesuatu?” tanya Eldrey tiba-tiba.


Wanita itu agak kaget dengan permintaan mendadak itu, tapi ia tetap mengangguk menyetujuinya.


“Maaf nenek, tapi apa aku boleh minta minum? Kami sudah haus dari tadi nenek,” pinta Eldrey memelas yang membungkam wanita tua itu.

__ADS_1


__ADS_2