FORGIVE ME

FORGIVE ME
Lirihan sedih Eldrey


__ADS_3

Eldrey. Berbalik dari posisinya lalu menyusuri jalanan kembali ke kamarnya. Memakai sneakers dan melempar dompet ke arah balkon begitu selesai mengambil uang di dalamnya.


Berjalan terburu-terburu melewati perapian, memasuki sebuah ruangan untuk melakukan sesuatu, lalu pergi diam-diam dari sana sambil melewati jendela.


Entah apa yang dipikirkannya. Berjalan ke arah pagar tinggi rumahnya, memanjat pohon dan melompat ke bawah tanpa peduli keadaannya.


Bahkan rasa sakit di kaki akibat tingginya jarak yang ia lompati tak berarti apa-apa. Suasana hatinya terlalu buruk jika harus memikirkan sakit fisik di badannya.


Keuntungan baginya, melewati itu semua setelah mematikan cctv.


Akan tetapi, beberapa saat kemudian semua benar-benar terbungkam. Tak adanya Eldrey di kamar, membuat suasana tenang presdir Betrand berubah.


“Ke mana dia?”


“I-itu,” penjaga gerbang dan pengawal lainnya gugup karena tekanan pimpinan mereka.


“Ma-maaf Tuan. Ternyata, cctv kita tadi mati.”


Spontan wajah dingin kepala keluarga Dempster membungkam suasana. Alice tak percaya, kalau niatnya dan Ramses untuk menemui Eldrey justru dihadapkan pada kondisi seperti ini.


Presdir Betrand pun menatap orang-orang sekitarnya. “Kenapa tak ada satu pun yang tahu kalau dia pergi?! Bukankah di sini ada banyak pengawal? Pelayan? Bukankah dia juga minum obat tidur?! Aku tak mungkin kan mendirikan penjara untuk mengawasi putriku! Sekarang cepat cari dia!” kesalnya akhirnya.


Alice dan Ramses sama-sama terdiam mendengar amarah presdir Betrand. Sungguh mereka tak menyangka kalau akan menemui situasi seperti ini di kediaman Eldrey.


“O-obat tidur? Sebenarnya Eldrey kenapa?” Alice pun mengeluarkan suara akhirnya, membuat presdir Betrand melirik dingin lewat sudut matanya.


Bising. Eldrey mendongak menatap langit. Sebelum akhirnya memasuki kereta api untuk membawanya entah ke mana.


Dalam keramaian, dirinya duduk di pinggiran memandang hamparan penampakan di luar kereta. Menyandarkan kepala, dengan rasa di dada yang tenang namun aneh sensasinya.


Waktu terus bergulir, menuju langit sore mendung sebagai penghias daratan.


Tak diketahuinya keberadaan Eldrey, sampai-sampai membuat presdir Betrand mengerahkan para bawahan mencarinya.


Bahkan Rudan sang anak buah yang ingin meneruskan hari liburnya untuk bersenang-senang dalam waktu lama, kembali bekerja memeriksa cctv kota untuk mencari tahu di mana keberadaan gadis itu sekarang.


Esoknya, masih tak ada informasi kecuali jejaknya memasuki kereta api. Turun di stasiun terdekat, bercampur dengan keramaian lalu lenyap dari pandangan setelah menjauh dari stasiun. Walau diperkirakan, dirinya masih berkeliaran di dalam kota.


Bahkan kabar hilangnya Eldrey sudah sampai ke telinga ibu dan kakaknya. Tak hanya mereka, Henry dan Kevin juga sama-sama tahu karena dihubungi Emily untuk memastikan keberadaannya, mengingat keduanya sempat berhubungan dengan gadis itu sebelumnya.


Dua hari, gadis itu lenyap tanpa kabar tanpa jejak. Suatu kejengkelan, karena ia ahli menghindari sorotan kamera cctv.


Sekarang di bawah awan mendung, mobil keluarga Kendal menyusuri jalanan menuju kota pinggiran yang jauh jaraknya. Tuan Kendal, Nyonya Julia dan Kevin, sedang dalam perjalanan ke rumah orang tua Tuan Kendal di mana ayahnya sedang sakit.


Tentu saja segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan terpaksa dihentikan mengingat Tuan Kendal adalah anak yang berbakti pada orang tuanya.


Perjalanan memakan waktu seharian memakai mobil, mengingat daerah pinggiran yang mereka datangi sangat jauh.


Sekitar pukul 17.49, mobil pun tiba di kawasan pinggiran kota bernuansa pemandangan hijau dingin. Merupakan kota yang menjadi destinasi wisata olahraga musim dingin terbaik di dunia.


Itulah tempat kelahiran Tuan Kendal dan lokasi kediaman orang tuanya.


Kevin terlena, menatap keindahan di sana. Bahkan jika awan gelap hendak menyelimuti langit, tapi pemandangan matahari menuju peristirahatan di ujung sana begitu luar biasa pesonanya.


“Ma, Pa, aku ke sana dulu ya,” izin Kevin sambil menunjuk area perbukitan dekat tempat tinggal nenek dan kakeknya.


“Ya. Hati-hati saja agar kamu tidak tersesat.”


“Mm,” jawaban Kevin pada Tuan Kendal. Dirinya segera menyusuri jalanan menuju tempat yang ingin di datanginya.


Hamparan rumput asri, dan pohon-pohon indahnya benar-benar mencuci mata. Semakin Kevin melangkah untuk menikmati, dirinya pun menemui berapa orang yang juga ingin menatap pesona matahari tenggelam sebentar lagi.


Tak peduli awan mendung di atas kepala, selama kepuasan mata terjamin semua akan baik-baik saja.


Kevin pun berdiri di bawah salah satu pohon magnolia, menatap hamparan kejutan di depan mata. Ada tebing, namun di sambut area perbukitan serta jalanan dan rumah-rumah warga di bawahnya.


Nikmat mana lagi yang perlu diragukan? Tempat kelahiran Tuan Kendal benar-benar memiliki pesona luar biasa.


Bahkan jika suasana cukup dingin, mata Kevin masih tak terlepas dari pesona terpancar di depannya.


Kurang dari setengah jam lagi, sosok matahari senja akan tenggelam di tempat penyambutan malam.


Dirinya tersenyum, karena benar-benar menyukai itu semua. Sampai akhirnya menoleh ke samping di mana ada beberapa suara orang-orang yang juga melakukan hal sama.

__ADS_1


“Eldrey?”


Sang gadis dengan nama tergumam di bibirnya, menatap datar pemandangan tersaji dalam jarak tak begitu jauh darinya.


Tatapan mata lurusnya, begitu cantik jika di pandang dari samping. Rupa menawannya, begitu menggoda jika di hadapkan di mata penglihatnya.


Eldrey, sepertinya tak menyadari keberadaan pemuda yang sudah mengetahui fakta kehilangan dirinya di dalam keluarga presdir Betrand.


Penantian saat itu, dilalui Eldrey dengan tenang. Orang-orang sudah pergi dari sana, karena tak ingin kedinginan terlalu lama. Sampai akhirnya matahari yang telah tertelan pesona malam dikejutkan oleh sebuah suara laki-laki menyapa namanya yang tak asing kedengarannya.


“Eldrey?”


Gadis itu menoleh ke samping, dan menatap kaget sosok yang berdiri tegak sejarak dua meter darinya.


“Kevin?”


“Kamu,” sang pemuda tak lagi melanjutkan ucapannya.


Eldrey pun mengalihkan tatapannya, menatap kembali pesona ujung sana yang menjadi jejak penghabisan sinar matahari tadinya.


“Tak kusangka kita akan bertemu di sini.”


“Benar. Terlebih keluargamu sangat gempar karena kamu kabur entah ke mana.”


Eldrey tersenyum, meliriknya lewat sudut matanya.


“Apa mungkin mereka mencariku ke tempatmu?”


“Tidak. Tapi pelayanmu menghubungiku. Apa kamu tidak sadar kalau orang-orang sangat mencemaskanmu? Kak Alice bahkan merasa sangat bersalah karena kamu kabur di hari dia datang ke tempatmu.”


“Alice ya.”


“Sial! Aku tidak bawa ponsel. Aku akan kembali untuk mengambil ponsel dan memberi tahu keluargamu,” keluh Kevin tiba-tiba.


Pemuda itu hendak berbalik, tapi suara sang gadis tiba-tiba menghentikannya.


“Kevin.”


“Apa? Apa kamu ingin memintaku untuk tidak melakukannya? Maaf Eldrey, tapi aku tak ingin terlibat dengan keluargamu. Terlebih manusia bernama Charlie itu sangat menjengkelkan,” ocehnya.


“Kevin.”


Pemuda itu akhirnya menatapnya dengan benar. “Apa?”


“Di saat kamu memberi tahu mereka, maka akan menjadi saat terakhir bagiku untuk membuka mata.”


Kevin terkesiap mendengar kalimat Eldrey. Nada suara lembut, ekspresi yang tenang, desiran angin pun menyapa rambut layaknya helaian benang sutra untuk memancarkan pesonanya.


“Apa maksudmu?”


“Apakah aku sudah salah?” gumam Eldrey.


Kevin pun berjalan mendekatinya. Akan tetapi, gadis itu juga mundur teratur sesuai pijakan laki-laki itu.


“Aku serius Eldrey, apa yang ingin kamu lakukan?”


“Aku wanita.”


“Berhenti Eldrey, kamu bisa jatuh ke bawah!” pekik Kevin karena menyadari di samping mereka tebing.


Gadis itu berhenti dan menginjak tepi tebing. “Kemarilah Kevin, sebelum kamu sampai maka kupastikan aku sudah melompat ke bawah.”


Pemuda itu terdiam. Ditatap cemasnya gadis yang nekat perilakunya. Sungguh, ia ingin menarik Eldrey dari sana agar tidak berbuat gila.


“Kenapa kamu melakukan ini?”


“Apa yang sudah kulakukan? Aku hanya ingin hidup dengan tenang.”


“Hidup dengan tenang? Ayolah Eldrey, ini bukan hanya tentang dirimu! Apa kamu tidak memikirkan sedikit pun bagaimana perasaan ayahmu? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ibu dan kakakmu? Apa kamu tidak memikirkan perasaan kak Alice? Dia sangat mengkhawatirkanmu! Bagaimana bisa kamu bersikap seperti itu?!”


“Alice?”


Kevin terdiam setelah selesai mengoceh panjang lebar. Napasnya memburu karena sikap tak acuh Eldrey yang sangat merepotkan.

__ADS_1


“Alice ya. Apa aku sudah salah?”


“Tentu saja!” tegas Kevin.


Gadis itu tersenyum. “Alice gadis miskin.”


“Apa kamu harus menghinanya seperti itu?”


“Tapi kami sama-sama perempuan.”


“Apa yang ingin kamu katakan?” Kevin mengernyitkan dahi bingung.


“Dia hanya gadis miskin dan aku gadis kaya, kenapa kami justru sangat berbeda?”


“Eldrey, kamu bukan gadis bodoh yang akan membahas hal konyol seperti itukan?”


“Dia hanya gadis miskin, kenapa dia bisa tertawa bahagia?”


Kevin terdiam.


“Aku gadis kaya, kenapa aku tidak bisa seperti dirinya?”


“Eldrey.” 


“Dia gadis miskin namun memiliki segalanya. Dia memiliki ibu yang setiap hari makan bersamanya. Dia memiliki teman yang tertawa di dekatnya. Dia gadis miskin namun kebahagiaan selalu mengiringinya.”


Kevin terdiam. Sungguh dirinya terbungkam akan lirihan Eldrey yang berekspresi tenang.


“Dia sudah memiliki semuanya, lalu kenapa? Yang aku punya hanya ayah kaya. Ibu dan kakak sekedar nama bukan raga. Pelayan patuh di bawah harta. Lalu kenapa? Kenapa dia yang ada di sisi mereka?”


Kevin tak menyangka kalau gadis itu akan mengatakan itu semua. “Eldrey.”


“Dia tertawa bersama ibu dan kakakku. Mereka bahagia di toko itu. Aku hanya bisa melihatnya. Dari kejauhan, terdiam di dalam mobil sambil menatap itu semua.”


“Dia diberi kalung oleh ayahku. Hadiah untukku namun dipakai di lehernya. Dia diselamatkan ayahku, dengan mengorbankan nyawa. Dia melindungi gadis itu bahkan jika hidupnya harus dalam bahaya.”


“Dia memiliki teman-teman yang tertawa bersamanya. Dia memiliki mereka, bahkan jika ada rasa di dalamnya, bahkan jika mereka harus saling terluka namun masih tetap mencintainya.”


“Dia memiliki itu semua. Lalu kenapa? Yang aku miliki hanya status tanpa makna. Aku orang kaya namun aku tak bisa merasakan apa-apa. Dia menangis namun ada yang menenangkannya. Dia memiliki siapa pun di sisinya. Dia yang tak punya ayah, memiliki Betrand dan Ramses untuk menghapus air matanya.”


“Dia memiliki siapa pun di sisinya. Ya, dia punya itu semua.”


Eldrey tertawa. Perlahan semua itu tertelan lenyap digantikan senyum di bibirnya. Di tatapnya langit-langit, dengan ekspresi tak biasa.


“Dia menangisi pesakitannya, namun memiliki ayahku untuk menenangkannya. Semakin aku melihatnya semakin aku membencinya. Semakin aku melihat kalian bahagia semakin aku tak bisa menghentikan hasratku untuk membunuh itu semua.”


Napas memburu, dari kalimat panjang lebar menyedihkan yang dilontarkan Eldrey di hadapannya. Sungguh Kevin tak bisa berkata-kata, rasanya aneh dan menyesakkan. Mulutnya terasa berat untuk mengeluarkan suara.


“Aku sudah mencoba memahami semuanya. Seandainya aku menangis, akankah kalian juga melakukan hal yang sama? Otakku tak bisa berpikir dengan benar. Aku bisa mengingat teriakan mereka yang sudah kusiksa, tapi kenapa? Kenapa ingatan teriakanku masih belum mau memudar?“


“Kenapa ingatan penyiksaan di tubuhku masih terdengar? Kenapa? Kenapa kalian tidak menenangkanku di saat aku terluka? Aku juga wanita, apakah jika aku menangis kalian juga akan melakukan hal yang sama?”


Hening. Tak ada lagi suara, kecuali tatapan mereka yang saling bertemu dan melukiskan suasana. Mulut sedikit terbuka, dengan mata masih memandang sedih padanya benar-benar melukiskan ekspresi Kevin di rupa.


“Bukankah aku juga wanita? Kenapa kalian memperlakukanku dengan sangat berbeda?” lirih Eldrey akhirnya.


“Eldrey.”


“Kenapa? Aku hanya ingin hidup dengan tenang, tapi kenapa? Kenapa tak ada satu pun yang mengeluarkanku dari sana? Ingatan itu benar-benar ingin memakanku secara perlahan,” tanpa terasa gadis itu tersenyum kecewa.


“Eldrey,” Kevin pun melangkahkan kakinya.


Gadis itu mundur sesuai irama orang di depannya. “Apa aku harus mati agar aku bahagia?”


“Eldrey!” teriak Kevin tiba-tiba.


Gadis itu terkesiap, langkahnya ternyata menginjak tanah terjal. Spontan badannya pun kehilangan keseimbangan di sana.


“Sial!” pekik Kevin berlari ke arahnya.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2