
“Jauhkan tanganmu dariku,” sergah gadis itu saat Kevin menyentuh wajahnya.
Mereka saling bertatapan tapi ekspresi masing-masing melukiskan kisah yang berbeda.
Di mana Eldrey tidak merasakan apa-apa ketika melihat sosoknya.
Dan pemuda itu pun menuruti perkataannya. “Ayo taruhan denganku.”
“Taruhan?” putri Dempster memiringkan kepalanya karena bingung dengan ajakannya. “Untuk apa?”
“Jika kamu menang, maka aku tidak akan mengganggumu lagi.”
“Baiklah. Kenapa tidak? Apa taruhannya?”
“Berpacaranlah denganku selama satu bulan. Jika aku tidak bisa menyentuh hatimu, maka aku akan menghilang dari pandanganmu.”
“Tak masalah.”
“Kalau begitu sekarang kita sepasang kekasih?”
“Ya,” jawab Eldrey dengan santainya. Tiba-tiba Kevin pun menarik pinggangnya tanpa aba-aba. “Mau apa kau?”
“Karena aku pacarmu, aku hanya ingin memelukmu. Kamu, tidak keberatan kan? Hanya sebentar saja.”
“Baiklah.”
Dan mereka pun akhirnya berpelukan. Walau nyatanya akan lebih tepat disebut jika cuma Kevin yang melakukannya.
Sekarang sosoknya yakin, kalau putri Dempster tidak merasakan apa pun padanya. Gadis itu tidak berdebar atau malu melakukan ini dengannya.
Entah usaha seperti apa yang bisa ia berikan untuk mendapatkan hatinya. Karena semuanya pasti sulit mengingat Eldrey bukan tipe yang mudah jatuh cinta hanya karena tindakan romantis di depan matanya.
Tak lama kemudian pemuda Cesar pun pulang. Mengukir senyuman sebelum pergi dan berjanji takkan mengatakan pada siapa pun juga tentang keberadaannya.
Tapi Eldrey hanya diam saja menatap kepergiannya.
Dia lebih memilih tidur lagi dibandingkan berbicara dengan si kembar yang ingin berbincang dengannya.
Bagi putri Dempster, hanya ini kesempatan yang ia punya untuk tidur dengan tenang. Mengingat nanti mungkin saja kesempatan yang sama takkan datang lagi kepadanya.
“Dapat! Aku dapat rekaman dari salah satu gang! Itu area perbelanjaan kawasan Silva De Silent!” teriak Rudan tiba-tiba.
Daniel Bonapart yang sedang berbicara dengan klien lewat telepon pun melotot padanya, sampai akhirnya pemuda itu menutup mulut memakai kedua tangannya.
“Kau! Kenapa kau harus pakai teriak-teriak begitu?! Kau ingin membuatku serangan jantung!” jengkel Daniel setelah panggilan diputus.
“Ya, tidak sengaja.”
“Tidak sengaja, lain kali kau begitu lagi, kupotong gajimu!”
“Heh sialan! Kan bos yang menggajiku, bukan kau bodoh!”
“Apa katamu!”
“Woah! Mau apa kau?! Sedikit saja kau sentuh aku, aku takkan katakan informasi apa pun padamu lagi!” ancam Rudan kepadanya.
“Dasar bocah sialan! Jadi, apa yang kau dapatkan?!”
“Tentu saja informasi dari keberadaan Nona kita.”
“Benarkah?!” Daniel pun mendekatinya.
Ikut menatap pada rekaman CCTV yang diperlihatkan Rudan kepadanya.
“Di mana ini?”
“Kawasan Silva De Silent.”
Daniel Bonapart pun terdiam. Wajahnya berkerut bingung karena sosoknya seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah kenapa, nama kawasan itu terdengar tidak asing olehnya.
Apa dirinya punya kenangan di sana? Otaknya jadi berpikir keras mencoba mengingatnya.
“Hei, kenapa kau diam saja? Kau tak mau melapor pada bos?” sela Rudan.
__ADS_1
“Sialan! Kenapa harus aku yang lapor?! Itu tugasmu brengsek!”
“Eh, iya ya. Itu tugasku,” pemuda itu pun tertawa dan mengeluarkan ponsel dari saku jacket bombernya.
Menghubungi sang atasan, di mana pada panggilan kedua baru teleponnya bisa terhubung.
“Silva De Silent?!” kaget Charlie begitu mendengar keterangan Presdir Betrand yang sudah menyelesaikan panggilannya dengan Rudan.
“Ya.”
“Di sana, bukankah di sana ada rumah Azof yang dibeli Rondolf?”
Presdir Betrand pun tersentak dan seketika menyipitkan mata ke arah bawahannya.
“Apa mungkin Eldrey—”
“Aku akan memeriksanya ke sana,” Charlie pun memotong ucapannya dan langsung pergi meninggalkannya.
Sementara sang pemimpin pun menutup wajahnya frustrasi. Jujur hatinya merasa senang saat mengetahui keberadaan putrinya sudah ditemukan.
Namun sesuatu malah mengganjal hatinya. Merasa aneh saat mengetahui putrinya lagi-lagi memilih pergi dari rumah.
Apakah keputusannya untuk membawa Eldrey kembali ke rumah ada hal yang terbaik? Bahkan jika gadis itu takkan berbicara banyak padanya, nyatanya dia berharap sang putri mencaci atau memukulnya.
Sehingga sosoknya pun tahu kalau dirinya masih ada artinya bagi gadis itu. Bukan sekadar formalitas belaka karena mereka sedarah.
Tapi sebuah fakta, kalau dia dan Eldrey memanglah ayah dan anak yang saling membutuhkan.
Andai waktu bisa diputar kembali, mungkin saja putri Dempster takkan menjadi seperti ini.
Tersenyum mirip dirinya yang dulu, tertawa dan meminta pelukan padanya saat bertemu di depan pintu.
Tapi, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar.
Mengabaikannya dan terlena pada dunianya sendiri.
Karena nyatanya, mereka hanya sekadar terhubung lewat ikatan darah namun kehidupan sebagai keluarga sudah tidak lagi terasa ada.
Sungguh ia menyesal sekarang. Benar-benar menyesal telah mengabaikan putri polosnya yang dulu bergantung kepadanya.
Dan Eldrey yang tersadar dari tidurnya mulai berjalan keluar dari kamarnya. Merasa haus, mengingat gelas di nakas telah kosong isinya.
“Ternyata kau benar-benar di sini.”
Kalimat itu, berhasil menyentak pendengarannya tiba-tiba. Sang gadis menoleh dan terdiam seribu bahasa, saat menyadari kalau suara barusan memang milik kenalannya.
Tampak tamu asing di depan mata, sedang duduk berhadapan dengan dua anak kembar yang menunduk ketakutan.
Terlebih parahnya lagi, ada pistol di tangannya. Seolah-olah kehadiran pria itu seperti mengancam Leon dan Lea yang tidak bersuara.
“Charlie.”
“Bagaimana hari-harimu?”
Pertanyaan itu tak dijawab olehnya. Kecuali putri Dempster mendekatkan pijakannya untuk menghampiri ketiganya.
Berdiri tepat di kiri sofa Charlie yang sedang melirik tajamnya.
“Pulanglah.”
“Kau menyuruhku pulang? Aku? Menurutmu aku kemari untuk apa?! Sudah jelaskan aku datang untuk menjemputmu.”
Eldrey pun memilih menyoroti anak kembar yang masih tak mampu mengangkat kepalanya.
Sepertinya, keduanya benar-benar takut dengan apa yang ada di tangan Charlie.
“Aku takkan pulang.”
“Jangan berulah, Nona.”
“Aku tak ingin melihat mereka lagi.”
“Kalian keluarga.”
__ADS_1
“Aku sudah muak.”
“Lalu aku harus bagaimana?!” hardik Charlie akhirnya. “Kau pikir aku tidak muak jika kau selalu bermasalah?!”
Dan Eldrey pun mengubah ekspresinya. Ia tersenyum hangat, membuat pria itu tak habis pikir menatapnya. Sampai akhirnya guratan tersebut berubah angkuh di depan matanya.
“Kau bisa berpura-pura tidak tahu Charlie. Carikan aku tempat yang takkan bisa ditemukan siapa pun.”
Tapi, hanya tawa yang disemburkan bawahan ayahnya. Seolah nadanya seperti meledek, namun putri Dempster memilih diam mendengarkan.
“Dan kau pikir aku akan menurutimu? Apa kau masih mencari cara untuk bisa tidur dengan tenang.”
“Ya.”
Akan tetapi, tiba-tiba pistol di tangan Charlie terangkat. Diarahkan tepat ke hadapan Eldrey yang membuat kedua anak kembar itu berteriak ketakutan.
“Diam kalian!” bentaknya. “Diam atau kutembak kalian berdua!” ancamnya sambil berjalan mendekati Eldrey.
Dan bibir pistol pun melekat indah di dahi sang putri Dempster yang tak bergerak.
“Charlie.”
“Daripada kau menyuruhku untuk berpura-pura tidak tahu, kenapa tidak kau minta saja aku membunuhmu? Aku bisa membuatmu tidur dengan tenang.”
Sayangnya tak ada respons dari gadis itu. Bahkan jika tatapan saling bertemu dan keseriusan tampak terpancar dari tangan kiri Presdir Betrand, Eldrey terlihat tidak takut dengan ancamannya.
Dia memilih tersenyum kepadanya.
“Apa yang lucu.”
“Tembak aku dengan pistolmu yang lain Charlie. Karena aku takkan mati dengan senjata tak berpeluru ini.”
Charlie terkesiap. Dirinya pun jadi tersadar akan kecerobohannya.
Eldrey Brendania Dempster.
Mereka saling mengenal bukan sekadar beberapa bulan saja. Keduanya sudah saling mengetahui diri masing-masing selama bertahun-tahun lamanya, jadi ia pasti tahu seperti apa kebiasaannya.
Dan pria itu pun akhirnya menurunkan pistol begitu saja. “Pulanglah.” Tapi Eldrey malah menggeleng kepadanya, seolah-olah benar-benar sudah yakin untuk menolaknya. “Kenapa?”
“Aku sakit.”
Dua kata dan dijawabkan dengan nada kecewa membuat Charlie tak habis pikir karenanya.
“Sakit?”
“Dadaku sakit, Charlie. Ini benar-benar menyakitkan untukku. Aku tak sanggup lagi berada di rumah itu. Kebahagian mereka, pertengkaran mereka, aku tak bisa lagi menahannya.”
Terdiam. Pria itu terbungkam oleh pernyataan Eldrey yang mulai berubah nada suaranya.
“Aku sakit Charlie. Bahkan obat-obatan itu tak berpengaruh lagi kepadaku. Aku masih bisa mendengar teriakan mereka ataupun teriakanku saat bangun. Aku masih bisa mendengarnya di kepalaku Charlie, aku masih bisa dan aku tak tahu lagi harus bagaimana!”
“Tak peduli berapa banyak aku melukai tubuhku, tapi itu tak bisa lagi mengurangi rasa sakit di dadaku! Aku sakit Charlie, dan kau tidak akan pernah tahu itu! Aku sakit dan kalian tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya itu! Aku sakit Charlie, aku sakit! Aku benar-benar sakit!” teriak Eldrey sambil mencengkeram kepalanya dan jatuh terduduk tiba-tiba.
“Aku sakit ... aku tak ingin ke sana lagi. Biarkan aku pergi, Charlie. Aku ... benar-benar tidak sanggup lagi berada di sana bersama mereka semua. Tolong biarkan aku pergi Charlie. Aku mohon,” pintanya dengan frustrasinya akhirnya.
Dan Charlie pun tersentak saat gadis itu menatap penuh harap padanya dengan mata yang mulai memerah penglihatannya.
__ADS_1