FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kejujuran dalam air mata


__ADS_3

“Eldrey!” Henry masih berupaya mengejarnya. Langkah yang tak begitu cepat, membuat pemuda itu berhasil menyusulnya.


“Apa lagi?”


“Itu-”


“Suasana hatiku begitu buruk Henry.”


“Maafkan aku. Aku cuma ingin mengantarmu pulang.”


“Eldrey!” teriak Evan ternyata juga ikut mengejarnya diiringi Kevin dan Alice di belakang.


“Dia!” geram Eldrey.


“Urusan kita masih belum selesai!”


“Dasar keras kepala!” gadis itu mundur perlahan, lalu tangannya tiba-tiba ditarik Henry.


“Ayo!” ajaknya.


Mereka berdua lari dari sana dan menyeberangi jalan raya sambil diikuti teriakan Evan untuk berhenti.


Tapi sayang, dua orang itu tetap menjauh dan mulai menghilang dari pandangan.


Napas terengah-engah, menghiasi keduanya. Perlahan Henry melepas pegangan dan menatap sosok yang kelelahan itu.


“Sepertinya mereka sudah tidak mengejar kita.”


“Manusia keras kepala. Apa kalimatku susah dipahami?”


Henry terdiam, walau gemuruh di dada karena lari masih tersisa. Dirinya penasaran apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia paham kalau Eldrey tak ingin bertemu mereka.


“Apa kamu ingin pulang? Aku akan mengantarmu.”


“Baiklah. Mobilmu di mana?”


“Depan kampusmu.”


“Ah! Ya sudah, ayo kita ke sana. Semoga aku tidak bertemu lagi dengan mereka.”


Sekitar beberapa menit menempuh jalan pintas, keduanya kembali lagi ke Oxtello Rako. Henry membukakan pintu mobilnya untuk Eldrey layaknya tuan putri.


Keduanya sama-sama terdiam. Ada guratan perasaan yang berbeda tersirat di wajahnya. Rasa kesal bercampur murka di batin sang gadis. Sedangkan rasa penasaran dan tanda tanya tentang kelanjutan hubungan di hati pemuda sebelahnya.


Pernyataan cintanya masih membutuhkan jawaban. Di antara gugup penuh harap ia juga ingin kejelasan.


Laju mobil memecah jalanan, menemani dua manusia biasa itu sampai ke tujuan.


Kediaman Betrand. Rumah paling megah di kawasan elit itu. Penampakan tiga rumah menjulang menutupi bangunan bergaya Victorian paling belakang.


Mobil terhenti di depan gerbang. Tak ada suara, kecuali debaran jantung Henry yang hanya ia sendiri mengetahui.


Sorot mata lurus Eldrey melirik menolehnya. Menatap lekat pemuda yang jelas tampak gugup di pandangan. Saliva kasar yang ditelan, keringat mulai turun, dia tak sanggup bersuara atau membalas sorotan gadis itu.


“Terima kasih.”


Satu kata, menari di keheningan. Henry perlahan meliriknya. Ekspresi datar Eldrey dan wajah cantiknya memburu perasaan sang pemuda. Ia menunduk tak tahu harus mengatakan apa. Rasanya ingin menangis karena itu bukan kalimat yang ia inginkan.


Henry benar-benar menyukainya.


“Terima kasih Henry. Terima kasih untuk semuanya.”


Gadis itu kembali mengucapkan kalimat sama.


Henry tetap terdiam. Sepertinya gadis itu memang takkan membalas perasaannya.


“Mm,” hanya itu yang mampu ia ucapkan.


Eldrey terdiam sejenak. Sorot matanya masih belum meninggalkan Henry. Ia pun mengedarkan pandangan sekilas sampai akhirnya menatap kembali netra Henry yang tampak enggan memandangnya.


“Maafkan aku tak bisa membalas perasaanmu.”


Seketika, hatinya seperti dihujani jarum. Kata-kata itu sontak mengundang air mata Henry untuk lolos mengalir.


Eldrey kaget, tak menyangka pemuda itu akan menangis tiba-tiba. Rasanya aneh, melihat seorang laki-laki menangis di depannya.


“Henry?”


“Ma-maaf!” ia menghapus kasar air mata. Menolehkan wajah ke arah lain agar tak bisa ditatap Eldrey. Sekalipun menyakitkan namun ini juga memalukan. Cengeng dan bodoh, gadis itu pasti mengiranya begitu.


“Aku heran kenapa kamu selalu minta maaf saat di dekatku. Kamu hanya mencoba jujur, jadi apa yang salah dengan itu?” Eldrey menyandarkan tubuhnya.


Masih tak ada jawaban dari Henry. Entah kenapa air matanya tak sepaham dengan keinginannya untuk segera berhenti. Ini, benar-benar memalukan.


“Kamu pemuda yang baik Henry,” lanjut Eldrey.


“Ma-maafkan aku,” Henry masih enggan memalingkan wajahnya.


Eldrey tersenyum. “Ini pertama kalinya lelaki selain ayah dan saudaraku menangis di depanku. Kudengar, air mata laki-laki lebih jujur dari perempuan. Mungkin itu memang benar.”

__ADS_1


Henry terdiam menunduk. “A-apakah aku tidak bisa?”


Eldrey melirik Henry lewat sudut matanya. “Aku tidak pantas untukmu.”


“Apa karena aku terlalu buruk?”


Eldrey tertawa pelan. “Sepertinya tangisan mengacaukan pendengaranmu.”


“A-aku, benar-benar menyukaimu.”


Eldrey memiringkan wajahnya bersandar ke kaca jendela. “Memang butuh waktu untuk menghapus perasaan. Tapi kamu pasti bisa melakukannya.”


Entah seperti apa perasaan Henry sekarang. Apa pun yang ia dengar hanya rasa sakit untuk hatinya. Di balik suara lembut Eldrey mengandung penolakan untuk dirinya.


Gadis itu benar-benar tidak menyukainya.


“Maafkan aku.”


Ekspresi Eldrey berubah mendengar permintaan maaf itu. Ditariknya lengan Henry dengan raut muka masam.


“Berhenti minta maaf. Aku benci kalimat itu. Tak ada yang akan berubah jika kau meminta maaf. Bahkan perasaanmu tetap terluka karena kata maaf itu. Kau membuatku terdengar mengerikan.”


Henry terbelalak dengan ucapan Eldrey. Namun gadis itu masih melanjutkan kalimatnya.


“Aku menghargai kebaikanmu. Tapi perasaan adalah hal yang berbeda.” Gadis itu menunduk sekilas. “Aku tak tahu apa yang kau sukai dariku. Tapi tangisan itu benar-benar mengganggu. Jangan temui aku lagi. Anggap semua tak pernah terjadi dan kau tak pernah mengenalku.”


Rasanya benar-benar mengerikan. Untuk seorang pemuda yang jatuh cinta tiba-tiba namun memiliki rasa tulus padanya. Di antara penyesalan, sudut hatinya sungguh tersiksa.


“Mm,” hanya itu yang bisa diucapkan Henry saat Eldrey membuka pintu mobil.


Gadis itu kembali menatapnya. “Maafkan aku Henry. Terima kasih karena sudah menyukaiku.” Sekarang, ia benar-benar pergi meninggalkan pemuda itu.


Seketika Henry langsung menundukkan kepala menyentuh stir mobil. Di balik cengkeraman erat pada kemudi, air matanya kian mengalir. Ini, pertama kali bagi dirinya menangis karena seorang perempuan yang disukai.


Dia yang belum lama ditemui, sosok baru dikenal namun menjejakkan bayangan untuk disambut perasaannya. Apa yang terjadi padanya? Rasa ini begitu jelas di pikiran Henry tapi tak diterima sang pujaan hati.


Kenapa sosok itu mampu membuatnya seperti ini? Pikiran Henry terlalu campur aduk untuk memahami semuanya.


Dirinya benar-benar menyukai gadis itu apa adanya.


“Nona?” sapa Rondolf saat Eldrey memasuki rumah. Gadis itu hanya menatapnya sambil berlalu. “Nona,” panggil Rondolf lagi.


“Ada apa?”


“Sepertinya di depan bukan mobil orang kita.”


“Ya. Itu mobil temanku.”


Eldrey segera pergi meninggalkannya. Begitu sampai di kamar, ditatapnya ponsel pemberian Henry. Pemuda yang menangis akan ulahnya.


Senyum tipis tersungging di bibir, entah apa yang ia pikirkan sampai akhirnya bersandar diam di tepi ranjang.


Di sebuah toko, seorang wanita menyusun roti dagangannya. Langkah pasti dari pemuda yang merupakan anaknya, mengagetkan dirinya.


“Evan, kamu sudah pulang?”


Laki-laki yang ditanya terdiam. Pandangan tak lepas dari rupa ibunya. Mata sembab, perwakilan entah sudah berapa lama wanita itu menangis walau ditutupi dengan kacamata yang jarang dipakainya.


“Ibu.”


“Ya?” jawabnya mengukir senyum.


“Aku tak tahu lagi harus bagaimana.”


Bu Anna tersentak. “Apa maksudmu Nak?”


“Aku tak tahan melihat Ibu seperti ini. Mata sembab yang sering kulihat. Tangisan yang sering kudengar, perlakuan kasar yang sering diterima, hatiku benar-benar tersiksa melihatnya Bu!”


Raelianna Jin terbungkam. Tubuhnya bergetar, terlebih sorot mata putranya yang menatap memendam emosi di sana.


“Ayo kita ke rumah ayah.”


“Tidak sayang, jangan!”


“Kenapa?! Kita perlu mendengar apa yang diinginkan Eldrey! Setidaknya hanya itu yang tersisa agar Ibu tidak menderita lagi merindukannya.”


Mata Bu Anna memerah mendengar ucapannya. “Delapan tahun Ibu. Delapan tahun ibu merindukan mereka bahkan jika kalian tidak bisa bersama. Bukan hanya Ibu, tapi aku juga merindukan mereka. Aku juga merindukan ayah dan adikku!” teriak Evan akhirnya.


Air matanya tumpah. Rasa sesak akan semua yang dihadapi benar-benar mencekik kerinduannya. Seorang anak yang tumbuh dalam masalah keluarga. Dia tak ada bedanya dengan Eldrey, walau kasih sayang nyata bu Anna masih bisa digenggamnya.


“Sampai kapan Ibu menunggu? Kita sama-sama terluka Ibu. Kita juga terluka,” Evan menutup mata dengan punggung tangan. Membiarkan tangisan menyeruak membasahi.


“Ma-maafkan Ibu,” bu Anna terisak.


“Aku hancur Bu. Aku ingin mengetahui perasaannya, tapi dia akan menghilang jika aku menemuinya. Aku tak ingin Eldrey terluka lagi Bu, aku tak bisa membiarkan itu,” tangis yang makin pecah dari Evan membuat bu Anna jatuh terduduk.


Apa yang bisa ia lakukan? Sikap putrinya takkan luluh begitu saja. Dia tidak mungkin dengan mudah memaafkan mereka. Tak ada celah untuk berbicara padanya, selama keluarga Betrand masih membenci dirinya.


Dalam waktu yang bergulir, diselimuti sentuhan lembut angin, tangis mereka menghiasi toko kecil berjuta makna dan kisah terukir di masa lalunya.

__ADS_1


Esoknya, hari libur yang sangat ditunggu-tunggu bagi mereka yang merasakannya. Tapi tidak untuk orang-orang di kediaman presdir Betrand. Beberapa dari mereka masih sibuk bekerja bahkan jika itu di dalam rumah.


Sejak malam sampai sekarang, Charlie tak bisa berhenti menggerutu karena tuntutan para klien gila yang meminta hal konyol menurutnya.


“Aku ingin membunuh mereka,” kesal Charlie sambil memakan sarapan mewah di depannya. Suara lantunan piring dan sendoknya benar-benar senada dengan ekspresinya.


“Pensiun saja,” tukas sekretaris Roma tiba-tiba.


“Bunuh saja,” sambung Eldrey.


“Bisa tidak kalian memberi masukan masuk akal untukku?!”


“Tidak,” ucap sekretaris Roma dan Eldrey hampir bersamaan.


“Bagus sekali, jarang sekali melihat kalian serasi!” sinisnya. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Rupanya seakan menggelap saat melihat sosok yang menghubungi.


“Halo, selamat pagi Tuan,” sapanya ramah berlainan dengan kenyataan di wajah.


“Bagaimana Charlie? Jangan bilang kau tidak bisa memenuhinya,” jawab sebuah suara dari seorang lelaki tua.


“Tapi itu jelas tidak mungkin Tuan. Dia artis terkenal, dan permintaan anda sama saja dengan tindakan kriminal.”


“Kriminal?! Kau yang berbisnis seperti ini bicara soal kriminalitas padaku? Kepalamu dipukul seseorang? Jangan bilang kau sedang mabuk saat ini,” ledek pak tua itu dengan semburan tawa jeleknya menurut Charlie.


“Hah ... kalau begitu beri aku waktu beberapa hari. Lagi pula anda pasti sudah tahu bagaimana kondisi bosku.”


“Oh ya, aku turut berduka untukmu.”


“Bosku baik-baik saja!”


“Ah, ya! Aku akan mengirimkan hadiah untuk kesembuhannya. Titip salamku karena tak bisa menemuinya. Jadilah anak buah yang baik dan benar.”


“Iya Tuan. Terima kasih.” Seketika Charlie langsung memutus panggilan mereka. “Aku harap dia mati karena serangan jantung!” Charlie meminum kopinya sambil ditatap panjang Eldrey dan sekretaris Roma.


Akan tetapi, langkah terburu-buru seseorang yang mendekat mengusik fokus mereka.


“Tuan,” panggilnya pada sekretaris Roma.


“Ada apa?”


“Ada tamu Tuan.”


“Siapa?”


“Keluarga tuan besar.”


Seketika ekspresi mereka yang ada di ruang makan langsung berubah.


“Ayo bersikap tak tahu apa-apa,” sela Eldrey berdiri dari duduknya. Langkahnya pun menyambut kedatangan orang-orang yang memiliki darah kental dengan keluarganya.


“Selamat datang,” sapa Eldrey.


“Sayang!” wanita tua itu memeluknya.


Sang gadis membalas pelukan dengan senyum hangat nan indah. Tak lupa hal itu juga ia pamerkan pada sosok lainnya.


Akan tetapi, beberapa pasang mata yang memendam kutukan untuknya mencoba untuk tetap meramahkan wajah di depan semua.


“Kudengar Betrand dipindahkan. Karena itu kami datang kemari,” lirih Bill.


“Iya. Karena kami bisa memperketat penjagaan bila di rumah.”


“Lalu bagaimana dengan pelakunya?” Eldrey menggeleng. “Masih belum ditemukan?! Jadi apa saja kerja anak buah Betrand? Mencari pelaku penembakan adikku saja tidak becus!” teriaknya emosi.


“Sudah sayang. Jangan teriak-teriak begitu,” istrinya menyentuh dada Bill untuk menenangkannya.


Lain halnya dengan yang lain, kedua orang tua Betrand menatap tajam pada bawahan putranya yang berdiri di belakang Eldrey.


“Ini bukan salah mereka. Karena krisis kami bukan hanya mencari pelaku,” jelas Eldrey.


“Heh! Krisis? Setelah menarik semua saham kalian ditimpal krisis? Sepertinya kamu sangat suka bercanda,” sindir Bill menatap jengkel keponakannya.


“Aku maklum jika Paman berbicara seperti itu. Karena tidak ada yang tahu kondisi internal kami.”


“Tentu saja. Terlebih saat kepimpinan ditangani orang tak ahli.”


“Hentikan. Di mana Betrand?” tanya tuan Gates akhirnya.


“Beliau ada di kamar utama. Saya akan mengantar anda,” sekretaris Roma menuntun mereka.


“Setidaknya jauh lebih baik daripada ditangani orang tak berguna,” sahut Eldrey tiba-tiba yang menghentikan langkah Bill dan istrinya menuju kamar Betrand.


Suasana begitu tegang, terlebih Eldrey membalas tatapan tajam pamannya dengan senyum ramah. Siapa yang tidak kesal, ulah gadis itu seakan menantang sorot mata Bill untuk mengoyak dirinya.


“Ayo Paman. Ayah pasti senang bisa bertemu denganmu.”


Bill pun langsung mengalihkan pandangan menuju kamar yang sudah didatangi terlebih dahulu oleh orang tuanya.


Diiringi langkah Charlie dan Eldrey di belakang mereka. Suasana langsung berubah terlebih tangisan nyonya Camila memecah keadaan kamar.

__ADS_1


 


__ADS_2