FORGIVE ME

FORGIVE ME
Ekspresi tajamnya


__ADS_3

Langkah Eldrey yang sudah cukup menjauh tiba-tiba terputus lagi, karena ada sebuah mobil yang berhenti di hadapannya sebelum ia sempat menyeberang.


“Eldrey!” panggil Kevin yang mengejarnya.


Seseorang pun turun dari mobil mewah itu, di mana perawakannya sudah tidak asing lagi bagi Eldrey.


Kevin pun berhasil mengejar langkah kaki Eldrey dan menyentuh bahunya, “ada apa?” tanyanya.


Tapi tak ada jawaban, kecuali sorot mata Eldrey yang memandang lurus ke depan. Begitu pula Kevin, ikut memandang ke sumber tatapan gadis itu.


Pria yang ditatap sekarang sudah berdiri tepat di hadapan mereka. Kevin meneguk ludah kasar, merasa aneh dengannya.


Seorang pria elegan sebaya papanya, namun memiliki aura menekan yang akan membuat siapa pun tak sanggup mendekatinya.


Seolah ada jurang besar di sekitar orang itu saat Kevin menatapnya. “Eldrey,” sahut pria itu tiba-tiba.


Eldrey hanya diam menatapnya, sorot mata mereka yang saling beradu seperti meninggalkan pesan tersendiri bagi masing-masing.


“Masuklah ke mobil,” perintah presdir Betrand.


Gadis itu tak mengangguk ataupun menjawab, tapi ia langsung melangkah melewati presdir Betrand menuju mobil yang digunakan ayahnya barusan.


Langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam tanpa menoleh pada Kevin yang masih berdiam diri di depan ayahnya. Kevin merasa terbungkam dan tak tahu harus melakukan apa.


Presdir Betrand pun memandang wajah Kevin dengan tenang, membuat yang ditatap hanya bisa menampilkan pupil bergetar.


“Siapa namamu?”


Kevin agak kaget mendengarnya, walau gugup ia pun mengumpulkan keberanian untuk menjawabnya.


“Kevin tuan.”


“Kevin? Putra Kendal?”


“I-iya,” balas Kevin. “Orang ini ayahnya bukan? Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya langsung.” batin Kevin.


“Apa hubunganmu dengan Eldrey?”


“Teman tuan,” jawab Kevin tanpa ragu.


“Begitu?” presdir Betrand masih menatapnya tenang. “Terima kasih sudah menolong putriku.”


“Y-ya, itu bukan apa-apa tuan,” kalimat seperti itu langsung terlontar tanpa ia pikirkan.


“Jadi, apa kamu butuh tumpangan? Supirku bisa mengantarkanmu.”


“Ti-tidak tuan, tidak perlu. Terima kasih,” tolak Kevin hati-hati.


“Baiklah kalau begitu,” sahut presdir Betrand. Ia pun menyunggingkan senyum tipis pada Kevin yang membuatnya langsung bergidik.


Pria itu meninggalkannya dan masuk ke dalam mobil di mana putrinya sudah menunggu. Tak ada yang saling bicara, sampai mereka tiba di rumah.


Presdir Betrand sedikit pun tak menolehkan wajah ke arah putrinya yang hanya menatap punggung ayahnya saat memasuki rumah.


Saat sudah tiba di ruang tamu ....


Langkah Eldrey terhenti, dengan ekspresi tajam tertuju jelas kepadanya. Seolah ekspresi itu adalah pisau yang ingin merobek dirinya.


Gadis itu lalu tersenyum. Tersenyum aneh, karena lebih mirip seringai di wajahnya. Presdir Betrand yang memasang wajah dingin, sekarang berjalan mendekat padanya.


“Deg!” jantung Eldrey tersentak kaget karenanya. Tangan yang diangkat karena dikira akan menamparnya malah menyentuh lembut kepalanya dan mengusapnya.


“Bagaimana perasaanmu?”

__ADS_1


“Apanya?” jawab Eldrey datar.


“Saat bertemu mereka, bukankah kau merindukannya?” presdir Betrand melepaskan sentuhannya.


Eldrey mengangkat wajahnya, menatap sosok sang ayah yang memandang dingin padanya.


“Aku tak merasakan apa-apa.”


“Bahkan di saat kamu hampir menabraknya?” tekan presdir Betrand.


“Jawaban apa yang ayah harapkan?”


Presdir Betrand tak menjawabnya, tapi sorot matanya yang seolah menusuk tubuh Eldrey menyiratkan suatu amarah karena tindakannya.


Para pelayan yang tadinya lewat segera menyingkir, karena takut dengan aura ayah dan anak itu. Seolah akan ada perang dingin, di rumah besar yang disebabkan pemiliknya.


“Aku berharap kamu sudah sembuh, tapi sepertinya itu masih jauh dari kelihatannya,” ucap presdir Betrand. “Reynald, hubungi Terry. Sepertinya aku membutuhkan sesuatu darinya,” perintah presdir Betrand pada bawahannya sambil menatap tajam putrinya.


“Baik tuan,” jawab Reynald, supir sekaligus pengawal presdir Betrand.


Muka masam langsung tertoreh di wajah Eldrey. Napasnya yang tenang langsung memburu mendengarnya. Akan tetapi? Respons dari wajahnya jauh dari apa yang dibayangkan presdir Betrand.


Gadis itu tersenyum, tersenyum sinis tanpa merasa gugup atau bersalah di hadapan ayahnya.


“Aku menantikannya,” lirih Eldrey pergi meninggalkannya.


Mata presdir Betrand pun mengikuti gadis yang berlalu itu tanpa berkedip. Sepertinya Eldrey, sudah melewati batas dalam menguji kesabaran presdir Betrand melalui mantan istrinya.  


Beberapa jam kemudian ....


“Bagaimana?” tanya presdir Betrand pada Rondolf.


“Tuan Charlie ada di sana untuk mengawasinya. Anda tidak perlu cemas tuan, semua pasti baik-baik saja,” jelas Rondolf pada presdir Betrand yang sibuk di ruang kerjanya.


Akan tetapi, pemikiran tentang perilaku putrinya yang tak terkontrol benar-benar membenaninya, sampai-sampai bibi yang mengantarkan minuman tampak cemas.


“Tu-tuan, anda baik-baik saja?” tanya bibi pembantu.


“Ya, aku baik-baik saja,” sahut presdir Betrand tanpa menoleh. Sebuah laporan di depan matanya terasa menyesakkan pikirannya yang tak fokus. Terlebih lagi, bayangan seorang wanita terlintas di kepalanya tanpa permisi.


Membuat bos besar itu semakin gundah. Serpihan-serpihan masa lalu yang sudah berserakan, seolah mencoba berjalan mendekati ingatannya. Membentuk kenangan terbuang agar bisa kembali diputar.


Presdir Betrand menyandarkan tubuhnya, menarik dasi normalnya karena rasa sesak dan gerah yang menemani.


Sementara di kamar Eldrey, tampak seorang wanita yang diperkirakan berusia 40 tahunan duduk berhadapan dengannya di balkon.


Wanita itu tersenyum menatap Eldrey, karena ini bukan pertama kalinya mereka saling bertemu.


“Nona Eldrey, bagaimana keadaanmu?” tanya wanita itu.


Gadis itu hanya menatap datar tanpa bicara, tapi buku yang ada di tangannya sangat menarik perhatian wanita itu. Buku dengan sampul tua yang sudah lama ditulis dan diterbitkan. Buku yang mengisahkan ekspresi diri manusia dalam hidup di lingkungan sosial.


Raut wajah Terry sedikit berubah, lalu menatap gadis muda di depannya dengan senyum yang tetap ia coba untuk ditampilkan.


“Nona, ini sudah ke lima kalinya kita bertemu. Apakah kamu masih ingat kata-kataku di pertemuan terakhir kita?” tanya Terry padanya.


Eldrey yang diam akhirnya tersenyum. Ia pun tiba-tiba mengangkat tangan dan menjulurkannya ke pipi Terry.


Spontan wanita itu langsung kaget dan refleks berdiri yang menimbulkan kegaduhan.


“Ada apa?” tanya Charlie tiba-tiba. Ia juga berada di dalam kamar namun duduk di tempat yang berbeda. Mendengar kegaduhan seperti itu tentu saja ia kaget dan lari terburu-buru.


Pemandangan di matanya cukup membingungkan, di mana Eldrey masih menjulurkan tangannya ke arah wanita yang sudah berdiri dengan ekspresi agak ketakutan.

__ADS_1


Eldrey menarik tangannya lalu mengepalkannya, wajah tersenyum masih terlukis jelas di rupa cantiknya.


“Jadi ini wajah aslimu?” lirih Eldrey tiba-tiba. Tubuh Terry yang tampak jelas gemetaran langsung kelabakan mendengar ucapannya.


“Apa yang dipikirkan Betrand? Mengirim orang sepertimu? Setelah melihat responsmu sekarang aku penasaran apa yang akan kau katakan padanya.” Eldrey pun berdiri dari duduknya.


“Kau takut padaku? Kau? Orang yang menjunjung ideologi tinggi sepertimu takut? Lalu apa yang kau lakukan di sini? Orang sepertimu bersikap ingin memahamiku? Kau? Pasti luar biasa sekali jadi dirimu,” tukas Eldrey menekan dirinya.


“No-nona, I-itu saya ...,” ucap Terry terpotong-potong.


“Kenapa? Kau katakan saja. Bukankah kau di sini karena uang ayahku?” ledek Eldrey.


“Nona,” potong Charlie.


“Keluar dari kamarku,” perintah Eldrey tiba-tiba.


“No-nona, sa-saya di sini tulus untuk membantu anda. Saya yakin kalau terapi ini akan membantu anda. Karena itu nona, anda hanya perlu ...” Terry tak melanjutkan ucapannya. Mulutnya bergetar, dan suaranya seolah tertahan karena apa yang ada di depan matanya.


Ekspresi wajah Eldrey berubah drastis. Ekspresi dingin yang tajam itu tak hanya menutup mulut Terry tapi juga membungkam Charlie.


“Keluar. Aku akan hitung sampai tiga, jika kau tidak enyah, akan kupatahkan lehermu,” tegas Eldrey.


“No-no-na,” Terry terbata-bata.


“Nona!” teriak Charlie kaget dengan ucapannya. “Ini buruk!” batin Charlie saat menyadari kalau gadis itu tak main-main dengan perkataannya.


“Satu ....”


“Keluar!” perintah Charlie pada Terry. Namun wanita yang sudah gemetaran itu bahkan tak sanggup melangkahkan kakinya. Perintah Charlie terasa lewat saja di telinganya.


“Tiga ....”


“Deg!” jantung Charlie dan Terry tersentak kaget mendengar hitungan akhir yang tiba-tiba terucap.


“Kyaaaa!!!” suara teriakan memecah suasana rumah.


“Braaaak!!!” suara pot yang dilempar keras membentur dinding.


Terry menangis gemetaran, tubuhnya jatuh terduduk dilindungi Charlie sebelum pot itu sempat menabrak kepalanya. Eldrey hanya menatap dingin pada mereka berdua.


“Nona! Apa yang kau!”


“Buaagh!” kepala Charlie dipukul dengan pot bunga yang menghiasi balkon itu.


“Aaagh!” erang Charlie tiba-tiba memegang kepalanya.


“Gyaa! Tolong! Tolong! Siapa pun tolong!” pekik Terry histeris.


“No-no-na, apa yang kau,” sahut Charlie terbata-bata sambil mengambil jarak untuk menahan keseimbangannya. Pandangannya terasa nanar dengan pukulan keras dari pot itu. Sementara sang pelaku hanya menatap tajam pada wanita yang menangis ketakutan.


“Braaak!” suara pintu kamar yang dibuka kasar.


“Nona!” teriak orang yang memasuki kamar. Hal itu pun membuyarkan pandangan Terry.


“Awas!” teriak Charlie.


“Buaakkh!” suara pot yang dilempar membentur sesuatu.


Tapi terlambat, sebelum orang-orang itu sampai di balkon, pemandangan mengejutkan sudah menanti kedatangan mereka.


“Aagh ...” erang Terry kesakitan. Pot yang memukul kepala Charlie, sekarang tergeletak di lantai dekat kepala Terry yang bersimbah darah.


 

__ADS_1


 


__ADS_2