FORGIVE ME

FORGIVE ME
Jebakan lagi


__ADS_3

PERINGATAN! Part mengandung kekerasan.


Di salah satu kamar kosong, Henry pun terpaksa mengganti pakaian basahnya dengan baju ganti milik sekretaris Roma.


Untung saja sang CEO itu memiliki baju santai walau terlihat jarang memakainya.


“Sepertinya dia teman baikmu. Sampai membawakan buket bunga melebihi besar tubuh penerimanya.”


Eldrey hanya melirik datar sosok sang ayah yang berbicara.


“Setidaknya dia tahu sopan santun, kalau berkunjung harus membawa buah tangan.”


“Bijak sekali,” ucap presdir Betrand dengan nada yang terasa menyindir.


Tak lama kemudian, Henry pun muncul di hadapan mereka.


“Aku yakin sudah melarangmu menemui putriku.”


“Kenapa?” tanya Eldrey.


“Laki-laki tak ada yang bisa dipercaya.”


“Termasuk dirimu?”


“Aku ayahmu.”


“Kau laki-laki tuan Betrand,” ledek Eldrey.


Henry merasa aneh mendengar perdebatan ayah dan anak itu.


“Kau takkan duduk?” presdir Betrand menawarkan kebaikannya.


“I-iya,” dirinya pun duduk di sofa secara gugup.


“Kenapa kau datang lagi?”


Pemuda yang ditanya cuma bisa tertunduk sambil memainkan kaki dan mata tetap mengarah ke sana.


Terlebih, raganya bisa merasakan tatapan dari kedua orang itu. Kenapa niat baiknya untuk menemui Eldrey malah jadi seperti ini? Batinnya cuma bisa menggerutu.


“Henry?”


“A-aku, cuma ingin menemuimu El,” jawabnya jujur. Sungguh, berbicara di hadapan mereka gugupnya sampai ke tulang-tulang. Rasanya juga memalukan.


“Begitu?” tekan presdir Betrand.


“I-iya Tuan,” masih tak berani menatapnya.


“Baiklah. Kau boleh menemui Eldrey,” pria itu berdiri seketika.


“Ayah?”


“Aku akan beristirahat. Jangan terlalu kelelahan,” sambil mengelus kepala putrinya.


Eldrey terdiam melihat sikap ayahnya. Itu jelas berbeda di banding sebelumnya.


“Apa kau punya masalah dengan ayahku?”


“Eh, tidak! Sama sekali tidak!” sergah Henry.


Gadis itu cuma menatapnya. Beberapa detik kemudian, “mau ke kamarku?”


Entah apa yang merasuki Henry. Mendengar ajakan Eldrey, khayalan aneh mendadak muncul ke pikiran berenang dengan santai.


Bersorak ini kesempatan bagus, jangan sia-siakan, nikmati saja waktu-waktu berdua di dalam kamar, terlebih dia wanita cantik yang menggoda.


“Henry?” panggil Eldrey mengganggu fantasi mulai anehnya.


“I-iya. Ayo,” angguk Henry.


Seandainya ia tahu kalau fantasi itu tak berguna di hadapkan pada gadis seperti Eldrey, mungkin dirinya akan lebih waspada jika berduaan dengannya.


Akan tetapi, tampaknya ia benar-benar menyukai Eldrey sampai lupa kalau mental gadis itu bermasalah.


Bendera perjuangan masih berdiri di setiap langkah mengikuti. Yakin kalau selama berusaha kesempatan pendekatan tetap ada. Resep ibunya, kalau usaha tak ada yang membohongi hasil.


Eldrey menaruh bunga itu di ranjang. Mereka pun duduk di atas karpet yang membuat Henry bingung harus mengatakan apa. Canggung, tentu saja.


“E-Eldrey?” ucap Henry karena gadis itu tak berhenti menatapnya. “Apa ada yang salah denganku?”


“Tidak.”


“Lalu? Kenapa kamu menatapku?”


“Entahlah. Mungkin karena kau tampan.”


“Begitu? Aku me-” tiba-tiba ia tersadar. “Hah? Aku?!” tunjuknya pada diri sendiri.


“Ya. Siapa lagi?”


“I-itu!” Henry langsung menyentuh kedua pipinya yang seakan merona karena dipuji Eldrey. Senyum-senyum tak jelas mengembang di bibirnya.


Eldrey yang memperhatikannya, segera mengalihkan perhatian karena ada panggilan masuk ke ponsel.


“Aku angkat telepon dulu,” meninggalkan Henry ke balkon.


“Ada apa?”


“Ayo bertemu malam ini," jawab suara di seberang.


“Kau ingin berulah lagi?”


“Ayo bertemu di rumah Naomi.”


Eldrey terdiam sejenak. “Kenapa tidak kalian saja yang kemari?”


“Kutunggu kau di sana. Kalau kau masih punya nurani, datanglah!” tekan Lily menutup panggilan.


Eldrey tersenyum tipis. Lalu kembali lagi ke tempat Henry menantinya.


“Eldrey? Ada apa?”


“Tidak, tidak ada apa-apa.”


 


*******


 


“Vin? Apa kamu bisa antar mama ke apartemen Dean?”


“Mm.”

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Kevin segera mengantar nyonya Julia sore itu.


Suasana mobil terasa sunyi karena Kevin tak banyak bicara.


“Kevin.”


“Iya Ma?”


“Apa kamu ada masalah dengan kakakmu?”


“Tidak.”


“Lalu? Sudah beberapa hari ini kamu tidak bertemu dengannya. Apa kamu tidak merindukan kakakmu?”


Kevin tersenyum. “Apa yang Mama bicarakan? Kami cuma tidak bertemu beberapa hari. Lagi pula, jika kak Dean kuliah kami pasti bertemu.”


“Kamu benar,” balas nyonya Julia.


Mereka pun sampai di apartemen Dean. Langkah keduanya disambut hangat Dean saat pintu terbuka.


“Jadi, kenapa Kakak tidak kuliah?” tanya Kevin sambil mengambil minuman di kulkas.


Dean tak menjawab, entah kenapa dia seperti itu.


“Sayang, ini mama bawakan makanan kesukaanmu,” sahut nyonya Julia memindahkannya ke piring.


“Terima kasih Ma.”


“Pertanyaanku masih belum dijawab?” sela Kevin.


“Aku hanya malas,” ia lalu melirik adiknya.


“Begitu? Lalu kenapa ponselmu tak bisa dihubungi? Kak Alice menanyakan kabarmu.”


Dean terdiam. Nyonya Julia tak lagi di sana karena membereskan pakaian ganti Dean yang dibawanya tadi ke kamar.


“Apa yang kamu katakan padanya?”


Kevin tersenyum. “Aku menggodanya.”


Seketika raut wajah Dean berubah mendengar ucapan adiknya.


“Jangan bercanda Kevin. Aku tak suka itu.”


“Aku serius. Aku memang menggodanya. Jika Kakak bisa memberontak, kenapa aku tidak? Aku memang menyukainya.”


Tangan Dean terkepal mendengar ucapan adiknya. “Aku tak ingin mendengar leluconmu lagi.”


“Aku memang menyukai kak Alice.”


“Kevin!”


“Ada apa? Kenapa kamu berteriak begitu Dean?!” timpal nyonya Julia kaget mendengarnya.


“Tidak ada apa-apa Ma. Kakak cuma jengkel karena aku hampir saja menyiramnya,” sambil diiringi tawa. “Apa Mama sudah selesai?”


“Sudah. Nak, jangan lupa dihabiskan ya makanannya. Besok mama akan datang lagi,” nyonya Julia memeluk dan mengecup kening putranya.


“Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai jumpa Kak,” timpal Kevin mengumbar senyum khasnya.


Dean hanya diam melihat sikap adiknya yang tampak ahli berkilah dalam memberi alasan. Sungguh, batinnya bergemuruh, saat mendengar kenyataan kalau Kevin juga menyukai Alice.


Mereka dua bersaudara menyukai gadis yang sama. Apalagi yang lebih buruk dari itu? Dean benar-benar kesal padanya.


“Apa kamu yakin?”


“Bagaimana mungkin aku menolak ajakan sepupuku sendiri? Kita harus kasihan padanya,” jelas Eldrey pada ayahnya.


Presdir Betrand masih belum tahu, kalau putrinya yang menjebak Lily sampai sehancur itu. Hanya Charlie, Rondolf, Reynald, sekretaris Roma dan Emily yang mengetahuinya.


Dan tak ada yang memberi tahu bos besar karena perintah Charlie dan Eldrey.


Segala yang berkaitan dengan keluarga orang tua presdir Betrand, tak disampaikan padanya.


Para bawahan lebih suka membahas itu dengan Eldrey, mengingat mereka sering menjelek-jelekkan keluarga bosnya.


Ya, siapa pun pasti akan benci dengan nyonya Camila ataupun Bill, mengingat mulut kotor mereka.


Dengan diantar Reynald, Eldrey pun tiba di depan gerbang kediaman Naomi.


“Kau pulang saja. Nanti aku akan menghubungimu untuk menjemputku.”


“Tapi Nona!”


“Aku hanya ke rumah teman. Tidak harus selalu dikawalkan? Aku juga butuh privasi. Lagi pula ada pistol di sakuku. Kau menurut saja,” tegas Eldrey.


“Tapi kita juga harus berjaga-jaga.”


“Makanya aku bawa senjata. Jangan melapor pada Charlie dan Roma. Kau tidak ingin mendengar ocehan mereka berdua kan?”


Reynald masih ragu. Bagaimanapun ia tak yakin dengan keselamatan putri bosnya mengingat jebakan yang pernah dipasang pada sepupunya itu.


“Aku masuk dulu.”


“Baik Nona.”


Dengan berat hati, Reynald terpaksa membiarkan gadis itu masuk sendiri ke rumah Naomi. Walau ada beberapa pengawal yang ditunjuk untuk mengawal Eldrey tak jauh dari sana, tapi dirinya lebih senang jika bisa mengikuti gadis itu sampai menemui sepupu dan teman tak jelasnya.


Entah kenapa mereka ingin menemui Eldrey saat ini.


“Sudah datang?” sambut Lily dengan suara dingin.


Eldrey hanya diam menatapnya. Rumah yang tampak sepi, dan tak ada Naomi kecuali Lily di ruang tamu.


Eldrey penasaran jebakan apa yang mungkin dipasang dua gadis kecil itu untuknya.


“Ayo ikut aku.”


Lily melangkah duluan, masuk lebih dalam menuju kamar di lantai satu. Begitu pintu dibuka, Eldrey tak memperlihatkan ekspresi kaget sedikit pun, terlebih pemandangan Naomi di depan mata sangat mengenaskan.


Rambutnya begitu kusut, mata sembab, lengan kanannya diperban, mungkin saja dia pernah melakukan percobaan bunuh diri.


“Apa yang kamu rasakan saat melihatnya?”


“Dia pantas seperti itu,” seringai Eldrey.


“Kamu!” Lily menarik lengannya. “Dasar gadis keparat kau Eldrey!” sambil melayangkan tangan hendak menampar pipinya.


BUAGH!


Eldrey pun jatuh tiba-tiba. Sebuah balok kayu dipukulkan ke keningnya, membuat dirinya tak berdaya dan hilang kesadaran.


“Rasakan keparat!” teriak Naomi sambil mencekiknya.

__ADS_1


“Hentikan! Apa kau lupa rencana kita?!” cegat Lily.


“Kau benar.”


“Kita harus cepat. Dia pasti bawa pengawal.”


Mereka berdua lalu menggendong Eldrey menuju pintu belakang. Ternyata, di luar gerbang sudah ada mobil Naomi. Keduanya pun segera pergi dari rumah itu agar bisa menghindari pengawal Eldrey yang mungkin saja berjaga di depan rumah.


“Tak kusangka kita akan berhasil!” sahut Lily dengan napas terengah-engah.


“Kau benar! Sungguh, aku sudah tak sabar untuk menyiksanya. Kita harus membuatnya membayar lebih dari apa yang kita alami!” geram Naomi berapi-api.


Akhir perjalanan, mereka pun memasuki gang sepi dan berhenti di sebuah rumah kosong. Tampak di sana, ada dua orang pria sudah menanti kedatangannya.


“Cepat turunkan dia!” perintah Lily pada dua pria itu.


Mereka segera membuka pintu belakang mobil, dan salah satunya menggendong Eldrey.


Dia direbahkan di atas ranjang lusuh yang ada di dalam rumah itu.


“Kalian akan kuberi waktu untuk menikmatinya, jadi puas-puaskan saja nafsu kalian,” tukas Naomi tersenyum lebar.


Tak pernah rasanya ia sesenang ini. Begitu pula Lily. Keduanya seperti baru saja mendapatkan hadiah terbaik seumur hidupnya.


Naomi dan Lily segera meninggalkan mereka. Keduanya mengendarai mobil untuk menghabiskan waktu sampai para pria itu selesai menikmati Eldrey.


Sekarang hanya tersisa mereka bertiga. Pria yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun itu menyeringai. Disentuhnya bibir lembut Eldrey, sungguh membangkitkan hasrat untuk menikmati tubuh yang tampak sensual walau tak sadarkan diri.


Perlahan, salah satunya melepas jaket Eldrey. Diiringi bajunya. Pria itu terkekeh dan menciumi baju kaos Eldrey yang beraroma mawar itu.


“Mm ...” gumam Eldrey karena dia mulai sadar.


“Halo sayang?” seringai seorang pria yang menindihnya. Mata Eldrey terbelalak dengan pemandangan di depannya. Ia tersadar kalau baju sudah tak melekat ditubuhnya.


Sekarang, dada membusung yang ditutupi Tank Top melukiskan keadaannya. Napasnya memburu, tersirat jelas emosi terpendam di sana.


“Ayo layani kami cantik,” goda pria yang menindihnya hendak membuka celana jeans Eldrey.


“Ayo, dekap aku sayang,” ucap Eldrey tiba-tiba. Spontan, nafsu mereka membubung tinggi mendengarnya.


Pria penindih itu langsung mendekap Eldrey, tangannya menjalar hendak masuk untuk menyentuh punggung mulus sang gadis.


“Sialan! Aku juga mau!” teriak rekannya yang satu lagi.


Eldrey membalas pelukan. Tapi tiba-tiba, tangannya yang menjelajah badan pria itu melakukan hal tak terduga.


“Aagh!!!” teriak pria yang memeluknya. Dia tersentak dan melepaskan Eldrey dari rangkulan sambil menyentuh telinganya yang ditusuk kasar Eldrey dengan jarinya.


“Apa yang!” teriak salah satunya.


BUAGH!


Eldrey menyerang keras dagu pria perintih dengan telapak tangannya sehingga orang itu jatuh ke belakang.


“Kau!” teriak salah satunya mencengkeram erat bahu Eldrey sehingga gadis itu tertindih olehnya.


“Sialan! Dasar brengsek!” pria yang diserang menyentuh dagu dan telinganya yang sakit.


“Ayo, buat aku lebih bergairah. Jadikan malam ini hanya untuk kita berdua,” seringai Eldrey memburu emosi mereka. Gadis itu bahkan menarik Tank Top di badan sehingga memperlihatkan perut putih mulusnya.


Tentu saja rekan orang itu terbelalak dan tergoda.


“Dasar keparat! Minggir!” hardik pria itu menarik rekannya yang hampir melayangkan tangan menjajah tubuh Eldrey.


“Sialan! Kau menggangguku!”


“Biar kuberi kau hukuman!” bentaknya mengabaikan kejengkelan rekannya yang terganggu.


Eldrey hanya tertawa, kaki kirinya dicengkeram pria yang emosi. Seketika, tendangan pun dilayangkan Eldrey memakai kaki kanannya tepat ke wajah pria itu. Kaki kirinya terlepas, dan ia turun dari ranjang.


“Kau!” teriak salah satu yang dari tadi gagal ingin menyentuhnya.


“Maju! Akan kulayani kau dengan benar!” seringai Eldrey sambil menurunkan Tank Top yang mengekspos perut putih mulusnya.


“Brengsek! Kuhabisi kau!” pekik pria yang wajahnya dihantam.


Spontan Eldrey menunduk dan melayangkan kaki kanannya menyerang kedua kaki pria itu sehingga keseimbangannya runtuh.


Refleks Eldrey bangkit lalu menyerang wajah pria itu dengan lututnya.


“Aaagh!!! Sakit!! Brengsek! Kenapa kau diam saja?!” bentaknya pada rekannya yang melongo melihat aksi Eldrey. Ia pun tersadar dan kelabakan.


Tapi gadis itu tanpa ampun, dengan senyum melebar ia tak memberikan jeda untuk pria pesakitan bangkit menyerang. Diserangnya ulu hati lawan, sehingga napasnya tercekat akibat serangan mendadak itu.


“Hentikan!” teriak salah satunya yang menarik kasar lengan Eldrey.


“Bukankah kau ingin menikmatiku?” goda Eldrey dengan sensualnya. Tentu saja pemuda itu tersentak dibuatnya.


Eldrey langsung menyentuh tangan pria yang dirundung keraguan dan mematahkan jari tengahnya.


“Aaagh! Jariku! Jariku!!!” erangnya kesakitan.


Dengan cepat Eldrey mengepal tangannya dan mengayunkannya menyerang leher pria itu.


“Aa ... aa ... agh,” rasanya ada sengatan menyakitkan di leher akibat serangan sang gadis.


Sementara, pria yang ulu hatinya diserang berhasil bangkit dengan ekspresi geram. Rasa sakit serta kemarahan karena keduanya dipermainkan gadis itu membuncah di wajahnya.


Eldrey hanya tersenyum, dirinya yang duduk santai diranjang langsung berdiri dan melompat ke arah pria itu sambil kaki ditautkan ke lehernya.


Refleks tubuh Eldrey terputar bersamaan dengan leher pria yang terkunci di antara pahanya jatuh ke bawah. Gadis itu bangun tiba-tiba dan memukul hidungnya hingga patah.


Lagi-lagi, erangan berkumandang di sana. Eldrey tersadar kalau rekan pria itu bangkit kembali walau jari tengahnya patah.


Tanpa berlama-lama ia tarik tangan pria di depannya dan patahkan sikunya dengan serangan lututnya.


Dalam keberisikan erangan itu, segera dirinya memungut jaket yang terbuang di lantai dan mengeluarkan sesuatu di sakunya.


“Kejutan ...” sapa Eldrey memperlihatkan apa yang dia punya.


“Kau!” teriak rekan pria itu. Segera ia berlari ke arah Eldrey, bersama dengan gadis itu mengacungkan pistolnya.


Dan mereka ....


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2