
“Eldrey?”
Tatapan putri Dempster teralihkan karena suara Fiona. “Entahlah.” Kakak beradik itu terdiam akan balasannya. “Bisa hentikan mobilnya?”
“Kenapa?”
“Karena aku akan turun di sini.”
“Kamu mau ke mana?” tanya Ramses.
“Entahlah.”
Seketika ingatan tentang apa yang pernah dilirihkan Eldrey mengganggu ingatan laki-laki itu.
“Kalau kamu mau pulang, kami akan mengantarmu.”
“Tidak perlu.”
“Mm ... itu, bagaimana jika kamu ikut kami saja ke pantai?”
“Pantai?”
“Iya. Aku dan Ramses serta sepupuku mau main di pantai. Kapan lagi kan? Ayo ikut bersama kami,” kukuh Fiona.
Entah kenapa, sejak pertama kali bertemu dengan Eldrey, dirinya ingin sekali mendekatinya. Mungkin juga karena merasa tertantang terlebih gadis ini seperti memiliki pembatas. Walau hatinya juga berharap agar Ramses berpasangan dengan putri Dempster.
Cantiknya terlalu, dari keluarga kaya raya, bukan gadis lemah, dan agak sedikit aneh, itulah sosoknya bagi Fiona. Apalagi yang kurang? Tentu saja akan sangat bagus jika Eldrey bisa berpacaran dengan Ramses.
“Ya-ya, mau ya?” bujuknya.
“Baiklah.”
“Eh, serius mau?”
“Ya.”
Seketika senyum pun mengembang di bibir kakak Ramses. Berbeda dengan adiknya, entah apa yang ia pikirkan tapi ekspresinya jelas bukan tanda setuju.
Mereka bertiga akhirnya sampai di kawasan parkiran Hotel dekat pantai.
“Stella sudah pesan kamar untuk kita.”
Akan tetapi tiba-tiba Ramses menarik tangan kakaknya. “Sudah pesan? Jangan bilang kamu akan menginap dengan pacarmu?”
“Jangan gila bodoh! Dia pesan cuma buat istirahat. Mana mungkin aku menginap di sini dengan pacarku? Lagi pula ada kau yang akan mengganggu kisah cintaku,” jengkel Fiona pada ocehan adiknya.
Walau Ramses terkadang cuek dan sering tidak akur dengan kakaknya, tapi sosoknya juga bisa over protektif. Dan bagi Fiona terkadang itu sangat menyebalkan.
Eldrey hanya diam memperhatikan mereka, sampai akhirnya wanita itu menarik tangan putri Dempster. “Ayo Eldrey, kita ke kamar dulu,” ajaknya.
Mereka pun tiba di kamar Hotel yang mana ada Stella dan tunangannya di sana. Beserta tiga orang asing dan dua di antaranya sibuk mempercantik dandanan sepupu Ramses itu dengan gaun pengantin.
“Hai! Kalian datang juga akhirnya,” Stella tampak senang. Bahkan dirinya menebarkan senyum tak henti-hentinya.
“Wah, Kakakku akhirnya akan menikah juga,” goda Fiona berjalan mendekat. “Foto prewedding di pantai? Aku juga ingin.”
“Kalau begitu cepat menikah, jadinya kan kamu juga bisa sepertiku.”
Fiona pun memanyunkan bibirnya. “Tapi aku masih betah begini.”
“Dasar.”
Sementara Ramses, sibuk memperkenalkan Eldrey pada tunangan kakak sepupunya.
“Oh ya, Fio. Bukankah cewek yang bersama Ramses itu yang pernah kita temui di Ertera?”
“Ya, benar.”
“Pacarnya?”
“Maunya begitu.”
“Hah?”
“Aku maunya mereka juga pacaran, tapi sayangnya mereka cuma teman.”
“He ... sayang sekali. Padahal dia cantik.”
“Iya kan? Aku jadi bingung dengan selera adikku,” Fiona pun geleng-geleng kepala. “Oh ya, mana kunci kamarnya? Aku mau ganti baju.”
“Itu di nakas. Kamar sebelah ya.”
“Kanan atau kiri?”
“Kanan,” sambil Stella tertawa akan guyonan adik sepupunya. “Oh ya, kamu bawa baju gantikan?”
“Tentu saja.”
Dan Fiona pun mengajak Eldrey serta Ramses ke kamar sebelah.
“Kenapa aku harus ikut ke sini juga?”
“Jangan cerewet. Nanti kan Stella mau traktir kita makan.”
“Cih, padahal bayar sendiri juga bisa.”
“Jangan mengoceh lagi bodoh. Kamu itu tidak mengerti bagaimana perasaan wanita kalau tidak ada teman untuk berkeliaran.”
“Pacarmu kan ada.”
“Dia masih lama datangnya,” oceh Fiona sambil membongkar isi tasnya. “Oke! Ini dia!” teriaknya semringah dan mendekati Eldrey. “Hei Eldrey, kamu tidak bawa baju ganti kan? Ayo pakai ini,” sodornya.
__ADS_1
Sementara gadis itu hanya diam menatap pakaian di tangan Fiona.
“Kenapa harus ganti baju?”
“Eh.”
“Bukannya kalau di pantai itu mainnya cuma di pinggiran? Kalau berenang ya pakai bikini kan? Aku tidak datang untuk berenang.”
Kakak beradik itu menganga mendengar ocehan gadis di depan mereka.
“Yah, buat seru-seruan saja sih. Lagi pula kan kita sudah di sini, kenapa tidak basah-basahan sekalian? Ayo nikmati Eldrey,” bujuknya. Entah kenapa, ia kukuh sekali untuk mengajak Eldrey bermain.
Ramses heran dan juga penasaran. Tapi ya, putri Dempster terbujuk. Dia mau mengganti dress floral anggunnya dengan pakaian yang diberikan Fiona.
“Kenapa Kakak mengajaknya?” tanya Ramses setelah Eldrey ke kamar mandi.
“Memangnya kenapa? Kita kebetulan bertemu dengannya. Tidak ada salahnya mengajaknya kan?”
“Tapi dia bukan tipe orang yang suka bermain seperti kita.”
“Lho baguskan? Kalau begitu ayo ajak dia menikmatinya. Entah kenapa, saat melihatnya aku merasa dia seperti remaja yang tidak punya teman. Aku kasihan padanya.”
“Cih! Terserahlah,” Ramses pun membalik tubuhnya untuk tidur-tiduran.
Sementara Eldrey, wajahnya masih memperhatikan cermin tanpa mengganti baju. Entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai menatap refleksi dirinya lekat seperti itu.
“Wah Eldrey! Kamu cantik sekali,” puji Fiona sambil memekakan telinga karena volume suaranya. Bahkan Ramses yang hampir terlena dalam tidur jadi terbangun dan jengkel.
Hampir saja. Hampir saja ia marah dan mengeluarkan sumpah serapahnya, tapi pesona si gadis manis membungkam mulutnya tanpa iba.
Hot pants jeans serta atasan tank top putih namun memamerkan sedikit perut rampingnya, ditambah outerwear floral sebagai hiasan begitu manis di tubuhnya.
Seksi dan menarik, itu lebih tepat bagi gadis yang berdiri angkuh di depannya.
“Apa?” tanyanya dingin menatap Ramses.
“Tidak, tidak ada. Hanya saja kamu cocok memakainya,” jelas Ramses sambil mengalihkan perhatian. Sekarang giliran kakaknya yang pergi ganti baju sambil senyum-senyum mendengar lirihan adiknya.
Eldrey pun berjalan menuju jendela memperhatikan pemandangan di luar. Tegak tubuhnya masih saja ditatap diam Ramses yang rebahan. “Maaf,” ucap Ramses tiba-tiba membuat Eldrey menoleh.
“Untuk apa?”
“Untuk kalimatku yang menyebutmu pacarku. Aku tak bermaksud begitu, hanya saja kamu terlihat kesusahan dan dia keras kepala.”
“Memang keras kepala,” timpal Eldrey.
“Apa dia temanmu?”
“Entahlah.”
Ramses pun menghela napas pelan sambil tersenyum. “Tapi sepertinya dia menyukaimu.”
“Entahlah.”
“Kamu cukup cerewet rupanya, Rams.”
“Aku memang cerewet,” sambil berekspresi remeh.
Eldrey hanya diam memperhatikan dirinya sampai pintu kamar mandi terbuka dengan pesona Fiona keluar dari sana. “Baiklah! Ayo!” ajaknya sambil menarik tangan Ramses dan menggandeng Eldrey.
Gadis itu dipinjami sendal Hotel bersama dengan Fiona. Berbeda dengan Ramses yang dandanannya masih sama dari awal ia datang.
Pantai cukup ramai, terlebih siulan dari para pria menghiasi langkah kakak beradik bersama putri Dempster.
“Cih, dasar buaya!” umpat Fiona dalam perjalanan. Mengingat ada pemuda-pemuda tanggung menggoda terang-terangan walau ada Ramses bersamanya.
“Aku mau makan seafood,” sela Ramses tiba-tiba mengacaukan tatapan dua gadis di depan.
“Hei! Kita baru datang dan kamu malah mau makan?”
“Aku lapar.”
“Dasar! Ya sudah! Pergi sana!” Ramses pun benar-benar pergi meninggalkan mereka. “Maaf ya Eldrey. Oh ya, kamu mau makan juga?” Eldrey menggeleng. “Kalau minum?” gadis itu mengangguk. Fiona tertawa pelan, “kalau begitu tunggu sebentar di sini ya? Aku belikan dulu.”
Putri Dempster mengangguk. Dirinya memilih memperhatikan pemandangan yang terhampar. Orang-orang ahli sibuk berselancar, ada yang bermain pasir ataupun voli pantai.”
Bahkan di depan resort tak jauh dari posisi Eldrey berdiri, terdapat ayunan. Gadis itu memilih berjalan ke sana karena bingung mau bagaimana. Duduk di ayunan seperti bocah kecil dan menatap kosong ke depan.
Bosan, tentu saja. Terlebih ia membawa ponsel namun enggan memainkannya. Bahkan saat seorang gadis muda duduk di ayunan sebelahnya ia tak sadar.
Kalau pun tahu, mungkin dirinya tidak peduli juga.
“Hai,” sapa sosok di sebelahnya saat Eldrey menoleh. Ia tak menjawab, dan memilih fokus ke depan kembali. Orang itu tersenyum kecut namun tertawa pelan saat adiknya berteriak ke arahnya.
“Kak! Gantian! Aku juga mau!” rengek adik laki-laki gadis itu. Diperkirakan adiknya berusia 14 tahun, sementara kakaknya mungkin sebaya Eldrey atau lebih tua setahun dua tahun.
“Iih! Katanya kamu mau main pasir! Nanti dulu, aku juga mau istirahat!” keluhnya dan cukup memekakan telinga Eldrey yang cuek.
“Eldrey! Kupikir kamu ke mana, rupanya di sini,” panggil Fiona berjalan mendekatinya. Bahkan Ramses juga ikut bersama kakaknya namun berekspresi tak biasa.
“Erin?”
“Lho, Rams? Kamu di sini?” gadis di sebelah Eldrey terkaget melihat kedatangannya.
“Kamu juga di sini. Dengan siapa?”
“Mm ... keluargaku,” tunjuknya pada sekumpulan orang yang tak jauh dari sana. “Kamu sendiri dengan siapa?”
“Oh, kalau aku dengan kakak dan temanku,” jelasnya sambil memperkenalkan sosok dua wanita yang bersamanya.
“Hai, aku Erin Kak,” sapa gadis itu sambil mengulurkan tangan ke arah Fiona. Dia tampaknya mudah berbaur dengan sekelilingnya.
__ADS_1
“Fiona, kakaknya Ramses,” sambutnya diiringi senyum ramah.
“Aku juga teman Ramses, namamu siapa? Aku Erin,” lalu beralih pada Eldrey yang tadi mengabaikan sapaan.
Gadis yang ditanya hanya menatap tenangnya. “Pacarnya Dean?”
DEG!
Jantung Erin dan Ramses sama-sama tersengat sensasi aneh saat mendengar nama itu.
“Eldrey,” jawab singkatnya sambil meraih tangan Erin.
“Kamu kenal Dean?” tanya Fiona tiba-tiba ke arah putri Dempster.
“Lumayan.”
“Mm ...” kakak Ramses itu tersenyum jahil sambil melirik Erin dan adiknya. “Apa mungkin kamu mantan pacarnya?”
Raut wajah Erin berubah mendengar itu dan semua disadari Ramses.
“Aku temannya,” lalu ia mengangkat tangan seperti meminta sesuatu pada Fiona. “Minuman untukku?” tanyanya tanpa malu yang mengundang tawa sosok di depannya.
Sementara Erin, senyum cerahnya langsung sirna begitu mendengar satu nama yang menyesakkan.
Dean.
Dean Daniello Cesar.
Laki-laki yang merupakan teman dan mantan pacarnya. Sekaligus sosok yang menyakiti hatinya dengan kejam.
Begitulah menurut Erin. Dan hal itu, merenggangkan hubungannya bersama teman-temannya.
“Aku tahu jika hubunganmu dengan Dean tidak baik-baik saja,” timpal Ramses sambil duduk di ayunan yang tadi dipakai Eldrey.
Putri Dempster sedang bermain pasir karena bujukan dan kegigihan Fiona yang memaksanya.
“Apa benar dia cuma teman Dean?” tanya Erin sambil menatap lekat Eldrey. Jujur dirinya masih syok jika mengingat kembali sosok mantannya.
Terlebih, ia selama ini hanya tahu kalau teman-teman cewek Dean hanya dirinya, Alice serta Sarah. Tidak ada Eldrey, karena pemuda itu tak pernah menyebutnya.
Sekarang, entah memakai angin apa Eldrey tak ragu memperkenalkan diri sebagai teman perempuan Dean. Batinnya terisis dan juga cemburu.
“Ya, kupikir dia memang cuma temannya. Dia juga teman Alice dan aku mengenalnya lewat dirinya. Ah, apa kamu ingat cowok bernama Evan yang kamu tabrak saat awal kuliah?”
“Cowok bernama Evan?” beo Erin mengernyitkan wajah bingung.
“Iya, senior cowok yang melarangmu lari sambil menangis dan memberimu sapu tangan.”
“Ah!” pekik gadis itu tiba-tiba dan sontak membuat Fiona, Eldrey serta adiknya yang main pasir menoleh. Erin pun langsung menutup mulutnya dengan tangan.
“Cowok itu kakaknya,” bisik Ramses.
“Benarkah? Apa cewek ini juga kuliah di Xercoln?”
“Tidak. Dia di Oxtello Rako.”
“Oh,” angguknya pelan. Entah kenapa mereka malah jadi membahas Eldrey. “Untunglah kalau dia cuma temannya,” jawabnya kecut.
Ramses tak menjawab. Ia tak tahu harus mengatakan apa, jujur hatinya terasa marah dan kecewa saat tahu Dean ternyata juga menyukai Alice yang selama ini diinginkannya.
Tapi sebagai teman ia juga kasihan pada pemuda itu karena dipaksa bertunangan dengan Diana yang pernah diceritakan Dean.
Lalu bagaimana dengan Erin? Dia pasti lebih kecewa dibanding dirinya kalau sampai tahu ternyata selama berpacaran, Dean tak pernah mencintainya namun menyukai sahabatnya.
Pelik dan sangat menyakitkan kalau sudah membahas tentang rasa di dada.
Eldrey bangkit dari posisinya karena merasa kakinya keram. Tapi, hasil karya seni yang diciptakannya dari pasir benar-benar mengundang takjub, heran sekaligus angker para penonton.
Cetakan boneka chucky dan annabelle dari pasir tampak semringah untuk mereka yang bergidik ngeri. Bagaimana tidak, terlebih badan dan kepala dipisah di depan kaki si boneka pasir.
Sebenarnya apa isi otak Eldrey saat membuatnya? Ramses geleng-geleng kepala sementara Fiona tertawa dan Erin serta adiknya takjub sekaligus takut.
“Sial! Kenapa dia masih belum mengangkatnya?!” jengkel Charlie di dalam mobilnya. Sudah berulang kali ia menghubungi Eldrey, sampai akhirnya di panggilan kesekian dijawab juga.
“Heh! Gila! Kau ke mana sampai mengabaikan panggilanku?”
“Pantai.”
“Apa yang kau lakukan di sana? Seharusnya kau pulang.”
Eldrey mendecih. “Aku diajak Ramses dan kakaknya.”
“Buat apa?”
“Main.”
“Dan kau mau saja?”
“Ya.”
Charlie geleng-geleng kepala. “Nyonya cemas karena kau tidak menjawab panggilannya. Untung bos tidak tahu, kalau tidak aku dan yang lain pasti habis.”
“Bukan urusanku.”
“Sialan!” umpatnya. “Kau pulang jam berapa? Akan kujemput.”
“Belum tahu nanti kuhubungi,” lalu panggilan pun langsung diputus begitu saja.
“Dasar sialan!” jengkel Charlie karena ulah sang putri pembuat cemas. Emosi di dadanya benar-benar sering naik turun kalau sudah berurusan dengan Eldrey.
“Bisa-bisa nyawaku menipis jika terus mengurusinya,” keluhnya.
__ADS_1
Akan tetapi, saat Eldrey akan menyimpan ponsel di sakunya, langkahnya tak sengaja menabrak pinggiran bahu seseorang.
Pria bertato dengan dua rekannya pun menyeringai tipis menatap gadis berwajah tenang namun tampak polos dan menggoda di mata mereka.