
“Keluar dari kamarku!” perintah Eldrey tiba-tiba.
Kevin yang terdiam pun hanya memandang jenuh gadis dingin itu, “baiklah, selamat malam,” lirihnya pelan lalu pergi dari kamar.
“Menyusahkan!” umpat Eldrey. Ia pun memutar kursi rodanya menuju ranjang melepaskan lelah dan kantuk yang tak kunjung datang.
Paginya, Kevin menuruni tangga ditemani pelayan yang mengantarnya menuju ruang makan.
Di sana tampak para anggota keluarga rumah itu, Eldrey, Charlie, sekretaris Roma yang sudah duduk bersama. Juga ada Rondolf dan bibi pembantu yang berdiri melayani mereka.
“Duduklah, kamu juga perlu sarapan bukan?” sindir Charlie.
Tanpa ragu Kevin duduk di depan sekretaris Roma. Menatap makanan yang disajikan di depannya.
“Bibi, bisa tinggalkan kami?” perintah sekretaris Roma.
“Baik tuan,” balas bibi mengangguk sopan.
“Makanlah,” lirih sekretaris Roma pada Kevin.
Dengan perlahan Kevin memegang sendok dan garpu di tangan, mencoba memakan hidangan walau rasa masakan yang lezat tak menyenangkan hati.
“Hari ini kau sudah bisa pulang,” tukas Charlie tiba-tiba. “Mobilmu sudah kami siapkan seperti semula, jadi kau tak perlu cemas.”
“Terima kasih,” jawab singkat Kevin.
“Kami tak butuh terima kasihmu, pastikan saja kau tutup mulut tentang apa yang kau tahu,” potong sekretaris Roma.
“Tenang saja, aku pasti akan menutup mulut dan mata. Kalian bisa pegang kata-kataku.”
“Kau memang harus begitu,” timpal Charlie tersenyum.
Setelah selesai sarapan Kevin pun pulang ke rumahnya dengan mobilnya yang sudah diperbaiki. Tapi, perban yang masih terpasang di kepala karena bekas luka kemarin tak bisa ditutupi. Ia pun sudah merancang alasan yang tepat agar orang tuanya tak curiga.
Sesampainya di kediaman tuan Kendal ….
Kevin memasuki rumah yang tampak sepi, merasa beruntung dengan itu, ia pun segera melangkah cepat menuju kamar. Tapi sepertinya keberuntungan hanya sampai di situ, ia pun berpapasan dengan Dean di tangga.
“Kevin? Kamu! Kenapa dengan kepalamu?!”
Kevin benar-benar kaget dengan keberadaan Dean yang tiba-tiba, “itu, aku jatuh di tangga rumah temanku, makanya kepalaku jadi begini,” tukas Kevin mencoba bersikap wajar.
“Seharusnya kamu hati-hati, sudah bawa ke rumah sakit?”
“Sudah kak.”
“Ya sudah, istirahatlah, nanti kalau ada apa-apa kamu panggil saja aku atau mama.”
“Iya kak, kalau begitu aku ke kamar dulu.”
“Mmm,” Kevin pun mengangguk dan meninggalkannya. Tapi tiba-tiba ….
“Kevin?! Ada apa?!” Dean kaget karena tangannya tiba-tiba ditarik adiknya.
“Pipi kakak, kenapa memar begitu?”
__ADS_1
Dean membuang muka, “tidak apa-apa, aku pergi dulu,” ia melepaskan pegangan tangan adiknya dan pergi meninggalkannya.
“Kakak, apa dia ditampar?” gumam pelan Kevin.
Tapi, memang seperti itulah kenyataannya. Kemarin, pembangkangan Dean berakibat tiga kali tamparan oleh tuan Kendal di tempat yang sama. Karena itulah pipinya tampak memar, tuan Kendal benar-benar tiada ampun dalam menghukum anak-anaknya yang tak bisa diatur.
“Maaf, tapi pasien di kamar ini ke mana?” tanya Ramses yang mencegat seorang suster sedang lewat.
“Oh, pasien di kamar ini sudah keluar kemarin.”
“Keluar?!”
“Iya tuan.”
Ramses pun mengerinyitkan dahinya, suster itu mengangguk lalu pergi meninggalkannya.
“Hah … Ramses pun menghela napas pelan dan pergi entah ke mana.
Di kediaman Eldrey tiba-tiba datanglah sebuah mobil asing yang tak diketahui pemiliknya. Seorang laki-laki pun turun sambil membawa bingkisan buah di tangan.
“Permisi tuan, apa Eldrey nya ada?”
“Ada tuan muda, apa anda ingin bertemu dengan nona?” tanya penjaga itu.
“Iya, saya ingin bertemu dengannya.”
“Kalau begitu tolong tunggu sebentar tuan muda,” tukas penjaga itu menghubungi seseorang.
“Kenapa kamu menghubungi? Padahal kita serumah.”
“Tamu? Siapa?”
“Tunggu sebentar tuan, saya tanya dulu.”
Penjaga itu menoleh ke arah Ramses, “maaf tuan muda, bisa saya tahu siapa nama anda?”
“Ramses.”
“Nama tamunya Ramses tuan,” lanjut si penjaga.
“Ramses?” Charlie merasa tak asing dengan nama itu. “Ah! Biarkan saja dia masuk.”
“Baik tuan,” penjaga itu lalu mematikan panggilan. “Tuan Muda, silakan masuk ke dalam.”
“Baiklah,” Ramses lalu pergi meninggalkan penjaga itu menuju pintu utama untuk memasuki rumah mewah tersebut.
“Ramses ya, bocah yang mengantar nona ke rumah sakit. Jadi, seperti apa wajahnya?” batin Charlie sambil bersandar pada pilar menghadap ke arah pintu masuk.
Tanpak sosok anak muda sedang melangkah pasti memasuki rumah sambil menatap sekelilingnya. Pandangannya pun bertemu dengan pria yang menatap dingin padanya.
“Mmm?” gumam Charlie. Ia pun berjalan menghampiri. “Kamu, bukankah bocah bertampang kusut itu? Jadi kamu yang bernama Ramses?”
“Ah! I-iya tuan, namaku Ramses,” ujarnya berkenalan sopan. Ramses sama kagetnya saat menatap Charlie, sosok pemberi permen asam yang sempat kena tendangan kaleng olehnya.
“Jadi kamu yang mengantar nona ke rumah sakit?”
__ADS_1
“Iya tuan, saya temannya.”
“Dan kamu juga yang buat dia terluka seperti itu?”
“Eh! Tidak! Itu, itu kecelakaan!” Ramses pun kaget mendengar tuduhan yang tiba-tiba itu.
“Ah, maafkan aku,” ucap Ramses tiba-tiba. “Itu, itu semua memang kesalahanku.”
“Dasar bocah! Lalu kau mau apa ke sini?”
“Aku ingin bertemu Eldrey.”
“Kalau tak kuizinkan?”
Ramses terdiam, “tolong izinkan aku bertemu dengannya tuan!” pinta Ramses sambil menyerahkan bingkisan buah yang ia bawa.
“Apa ini? Sogokan untukku?”
“Bukan! Ini untuk Eldrey! Aku hanya ingin minta izin dipertemukan dengannya.”
“Hah! Ya sudahlah! Ikut aku!”
“Baik tuan,” dengan langkah hati-hati Ramses pun mengikuti Charlie dari belakang. Menyusuri ruang menuju tangga utama. Matanya terkagum menatap interior rumah yang elegan itu.
Saat menapaki jembatan terowongan menuju bangunan utama kiri, matanya terfokus pada kolam renang di bawah mereka.
“Jangan terlalu fokus, bisa saja kamu jatuh ke bawah karena menatapnya,” ujar Charlie yang menyadari pandangan Ramses.
“Hah? Maksud anda tuan?” Ramses merasa tak paham dengan gurauan aneh Charlie.
Charlie pun tersenyum, “kita sudah sampai,” lirihnya saat mereka sampai di depan pintu kamar Eldrey. Ia mengetuk pintu itu, “nona, ada tamu untukmu, aku akan masuk ya,” Charlie dengan lancangnya membuka pintu tanpa menunggu persetujuan sang pemilik.
Tampak di ujung ruangan, Eldrey yang sedang duduk di atas meja hias sambil membaca sebuah buku menatap tajam ke arahnya. Ramses bergidik saat melihat keadaan Eldrey benar-benar tampak berbeda dengan yang kemarin.
“Rey?”
“Ramses? Sedang apa kamu di sini?”
“Aku ingin melihat keadaanmu. Karena kamu tidak di rumah sakit makanya aku datang ke sini.”
Bola mata Eldrey pun melirik Charlie, ia memiringkan kepalanya yang membuat Charlie tersenyum. “Kalau begitu aku pergi dulu, jika ada apa-apa kalian bisa panggil siapa pun di sini,” pungkas Charlie lalu beranjak pergi.
Sekarang tersisa mereka berdua. Ramses pun berjalan mendekat dan meletakkan bingkisan di tangannya di atas ranjang depan Eldrey.
“Kenapa kamu sudah keluar dari rumah sakit? Padahal kamu belum sembuh,” ucap Ramses melirik ke arah bekas luka Eldrey yang tertutup baju.
“Aku bosan.”
“Bosan?” Ramses heran mendengarnya, pandangannya pun teralihkan dengan kedua kaki serta salah satu tangan Eldrey yang di perban.
“Itu, kenapa? Padahal kemarin tak seperti itu.”
Eldrey melirik tangannya yang di perban dan tersenyum tipis, “cuma luka karena kecerobohan.”
“Melihatmu seperti itu, membuatku tambah merasa bersalah,” lirih Ramses sambil duduk di atas ranjang. Matanya masih belum lepas dari gadis yang bersikap santai itu.
__ADS_1