
Telah tiba. Kendaraan terhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Tanpa menunggu waktu lama, Alice menggendong sosok terluka di punggungnya. Meninggalkan Lily yang sedang mengucapkan terima kasih pada penyelamat mereka.
Walau sebenarnya, sepasang suami istri itu ingin membantu sampai parkiran, tapi kendaraan di depan mereka menghambat jalan masuk.
Alice tak ingin membuang waktu, biarlah dirinya berusaha keras menggendong temannya yang berada di pinggiran jurang itu.
Berisik berkumandang. Tak peduli menjadi tontonan, Alice berteriak keras meminta bantuan siapa pun untuk segera menangani sosok di gendongan.
Suster segera datang. Bahkan ada Dokter yang ikut membantu membawa brankar. Begitulah kondisi Eldrey yang memang membutuhkan penanganan cepat.
“Anda juga terluka.”
“Aku baik-baik saja. Tapi tolong selamatkan temanku itu! Aku mohon,” ia terisak sambil menggenggam tangan suster di hadapannya.
“Baik. Kami pasti akan mengusahakan yang terbaik.”
Hanya itu balasannya. Alice begitu frustasi. Dia menjadi bahan penarik perhatian, bersamaan dengan datangnya Lily yang berjalan kesusahan.
“Bagaimana?”
“Sedang ditangani Dokter,” di antara isak tangisnya. Mereka berdua benar-benar berantakan dan mengundang tatapan iba.
“Nona, kalian terluka. Lebih baik obati juga luka kalian,” begitulah tutur kata yang dilemparkan seorang wanita tua padanya. Perlahan ia lepaskan sweater rajut di badan. “Pakailah ini,” sodornya pada Alice.
Sekarang, gadis muda itu tersadar. Dirinya hanya mengenakan bra. Tapi ia tak merasa malu, karena ada nyawa yang harus diselamatkan tadinya.
“T-terima kasih,” ucapnya sambil beruraian air mata.
“Anak tadi pasti akan baik-baik saja. Percayalah,” sahutnya sambil memegang lengan Alice. Sosoknya, merupakan penonton yang melihat kejadian barusan. “Dan ini untukmu. Bajumu robek, Nak. Kamu harus menggantinya.”
“Tapi—” Lily masih belum mengambilnya. Merasakan keraguan atas kebaikan wanita tua yang tersodor di depannya.
“Ini jacket cucuku. Dia sedang dirontgen. Tidak akan apa-apa. Kamu jauh lebih membutuhkannya.”
Perlahan, Lily tersenyum. Menerimanya dan memeluk pemberian itu. “Terima kasih.”
“Suster, mana suster? Anak-anak ini terluka,” begitulah sahutan seorang pria yang sedang berjalan dengan istrinya tak sengaja melihat mereka.
“Benar, apa yang terjadi pada kakimu?” panik wanita yang bersama suaminya itu. Menatap tak percaya pada betis dan lutut Lily, siksaan dari Naomi tadinya. Dirinya hanya mengenakan jeans hot pants. Tentu saja kondisinya menjadi tontonan, terlebih baju kaos robek yang digunting tanpa kasihan menemani tubuhnya.
“Kami baik-baik saja.”
“Apanya yang baik-baik saja. Kalian harus diobati,” wanita itu khawatir.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, beberapa orang terhenti dengan tatapan iba. Sampai akhirnya ada salah seorang suster datang membawa mereka untuk diobati.
Dan di sinilah Eldrey. Ditangani dengan sangat intensif. Kehilangan begitu banyak darah, tapi keberuntungan masih memihak dirinya. Transfusi cepat dilakukan, mengingat Rumah Sakit memiliki beberapa kantong darah sesuai golongan miliknya.
Namun tak ada yang tahu bagaimana nasib selanjutnya.
“Sial!” umpat Lily karena tak satu pun panggilannya terangkat. Dirinya hanya mengingat nomor telepon rumah serta milik ibunya. Namun tak satu pun yang bisa dihubunginya.
“Bagaimana?” tanya Alice di sampingnya. Tak ada jawaban, kecuali sodoran ponsel ke arahnya. Milik wanita tua yang memberikan mereka baju. Jujur, keduanya tak punya pilihan selain meminjam kepadanya.
Sosok baik menurut mereka dan juga perhatian.
“Kalau begitu aku akan hubungi temanku,” sahut Alice menekan layar dan memasukkan angka yang diinginkan.
Tiga kali percobaan dan berakhir gagal. Hatinya kecut karena Dean tak mengangkat panggilannya. Pilihan selanjutnya jatuh pada nomor seseorang yang juga diingatnya.
“Halo?”
“Kevin!”
“Kak Alice! Ini nomor siapa?”
“Kevin, aku benar-benar butuh bantuanmu,” Alice mengabaikan pertanyaannya.
“Apa kamu punya nomor telepon keluarga Eldrey? Tolong beri tahu mereka, kalau dia sedang dirawat di Rumah Sakit ST. Hopetears.”
“Apa! Bagaimana bisa?”
“Ceritanya panjang, Vin. Tapi aku mohon tolong beri tahu mereka. Eldrey benar-benar butuh keluarganya sekarang,” sambil menangis sesegukan.
“Baiklah. Aku akan segera menghubungi keluarganya.”
“Terima kasih.”
Panggilan terputus begitu saja. Raut wajah Kevin langsung berubah setelah mendengar kabar barusan. Untung saja ia menyimpan nomor telepon tangan kiri Betrand, jadi tak menyulitkan untuk menghubungi mereka.
“Mau apa kau menghubungiku?”
“Eldrey ada di Rumah Sakit ST. Hopetears.”
“Apa, bagaimana kau—”
“Dia benar-benar butuh keluarganya sekarang. Itu pesan dari Kak Alice untuk kalian.”
__ADS_1
Spontan saja Charlie langsung memutus panggilan. “Ke Rumah Sakit St. Hopetears sekarang!” perintahnya pada bawahan yang sibuk mencari jejak itu.
Sementara Sekretaris Roma, dirinya yang memang sudah pergi duluan untuk mencari keberadaan di jalanan langsung tancap gas begitu mendapat panggilan. Jujur ia sudah berprasangka agar mendatangi Rumah Sakit, namun tak menyangka jika rencananya benar.
Mobil telah sampai dan langsung diparkirkan olehnya.
“Pasien atas nama Eldrey Brendania Dempster, dirawat di sini kan? Di ruangan mana?!” tanyanya terburu-buru pada resepsionis.
“Anda—” Roma langsung menoleh pada sosok di belakangnya.
“Nona Lily?” wajah tangan kanan Presdir Betrand itu langsung berubah tajam saat melihatnya. Di dekatinya, dengan mengabaikan pemberitahuan resepsionis padanya. “Kau juga di sini?”
“Ya. Dan Eldrey juga. Tapi dia—”
Berisik.
Di kediaman Dempster, kabar tentang Eldrey telah sampai ke tangan ayah dan ibunya. Bahkan Evan yang berkeliaran di jalanan dengan motornya langsung pergi menuju pinggiran kota. Rumah Sakit St. Hopetears, itulah tujuannya.
Bukan hanya dirinya, Kevin Daniello Cesar juga melajukan mobilnya untuk pergi ke sana. Cemas memangsa hatinya, bertanya-tanya kenapa sosoknya sering bertemu Eldrey yang terluka. Rumah sakit, lagi-lagi di sana.
Seketika kejadian yang menimpa Eldrey teringat kembali olehnya. Usaha mereka berdua, berlari keras menghindari pengejar bahkan sampai melakukan tindakan kriminal.
Rasanya, itu masih belum lama terjadi. Batinnya bertanya-tanya kenapa aliran jantungnya tidak senormal ini. Detakan yang berteriak memburu, apakah pertanda kalau cinta monyetnya memang sebesar itu untuk putri Dempster?
Dokter telah berhasil menangani Eldrey. Tapi nyatanya, gadis itu tidak baik-baik saja. Kritis menerpanya, entah sampai kapan ia akan melewati masa pelik ini. Terlebih, penusukan yang menimpanya tergolong fatal karena tidak cepat ditangani.
Putri Dempster, saat dibawa ke Rumah Sakit kehilangan lebih dari 40 persen darahnya. Di mana tusukan mengenai ginjal dan menimbulkan pendarahan masif di daerah perutnya.
Dan sekarang, tangisan di ruang tunggu mengundang beberapa mata. Dari Alice sebagai sumbernya. Menutup wajah karena tak sanggup membayangkan nasib temannya. Tak mampu melindunginya, hanya bisa melihat insiden mengerikan di hadapannya.
Perlahan trauma memakan dirinya, rasanya sangat menyakitkan untuk mengingat itu kembali setelah semua. Ia tatap telapak tangannya, jejak di mana sempat bermandikan darah putri Dempster tadinya.
“Alice!” panggil Lily. Terlihat sosoknya bersama lelaki muda yang menatap tajam dirinya.
“D-dia—”
“Bawahan ayahnya.”
Tapi, sekretaris Roma mengabaikan mereka dan melihat dari luar di mana putri Dempster sedang dirawat intensif sekarang.
__ADS_1