FORGIVE ME

FORGIVE ME
Senjata makan tuan


__ADS_3

“Nona,” Rondolf menghampirinya. “Tangan anda.”


“Aku baik-baik saja. Tolong siapkan obat dan perban untukku,” perintah Eldrey menatap tangan kirinya.


Rondolf mengangguk pada Emily sehingga wanita itu meninggalkan mereka dan mengambil barang yang diperlukan Eldrey.


“Apa harus seperti ini?”


Eldrey tak menjawabnya. Kecuali perlahan membuka perban yang lembab dinodai darah itu. Beberapa saat kemudian, tampaklah kondisi tangannya yang sesungguhnya.


Tangan kiri, lagi-lagi tangan itu harus terluka. Walau jejak dari pecahan kaca insiden penyerangan sebelumnya memudar, gadis itu kembali menorehkan luka di sana.


“Jika tidak seperti ini, maka air mataku takkan mau keluar,” ketus Eldrey.


Emily datang lagi dengan kotak P3K. Ia pun tertegun saat menatap sayatan itu, batinnya meringis melihatnya.


“Nona, bukankah lebih baik ini diobati dokter Arlene?” sahut Rondolf.


“Dia datangnya siang, lebih baik aku obati saja sekarang,” sela Eldrey menatap tenang luka di tangan.


Mereka terdiam. Emily dengan hati-hati mengoleskan obat pada sayatan di lengan dan telapak tangan itu, agar Eldrey tak terlalu merasakan sakit.


“Apa semua akan baik-baik saja?”


“Kenapa kau menanyakan itu? Aku sudah mengorbankan tangan dan pipiku,” sindir Eldrey. “Dia memang harus diberi pelajaran, agar tetap meringkuk di lumpur tanpa memandang ke atas,” jelasnya.


Selesai mengobati tangan Eldrey, mereka berdua pun keluar dari kamar. “Baiklah, selanjutnya bagaimana?” gumamnya kembali menyandarkan tubuh ke tepi ranjang.


Akan tetapi, di waktu yang terus bergulir kehebohan justru terjadi. Naomi dan Lily harus menelan pil pahit dari senjata makan tuannya.


Sebuah video dewasa milik Naomi dan salah satu foto tak senonoh Lily justru terposting di salah satu sosial media Naomi.


Ada begitu banyak komentar dan hujatan yang merendahkan mereka berdua. Seketika Naomi yang masih menatap layar ponsel menjatuhkan air mata. Diiringi rasa geram dan amarah menyadari apa yang telah terjadi.


Dan Lily? Ia semakin tak bisa berkata-kata. Memar di muka, raut lusuh menyedihkan, ditambah foto tak senonoh miliknya yang tersebar itu membuatnya tambah geram. Kekesalannya pada Eldrey makin memuncak terlebih gadis itu tak termakan jebakannya.


“Sialan! Sialan! Sialan! Sialan! Manusia keparat! Dasar brengsek!” teriaknya histeris di dalam kamar. Setelah ditampar habis-habisan sebelumnya, dihina dan direndahkan, Lily pun menyimpan dendam pada keluarganya.


Ini benar-benar memalukan. “Apa yang kau lakukan Naomi!” teriak Lily begitu panggilan mereka terhubung.


“I-itu, itu bukan ulahku,” ucapnya terisak.


“Bukan ulahmu?! Padahal itu ada di sosial mediamu!”


“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa pun. Aku takkan mungkin melakukannya. Tidak akan pernah!” balas Naomi ikut berteriak. Rasanya ia benar-benar malu dan terluka.


Postingan videonya dan foto Lily sudah tersebar di kampus mereka. Bahkan benar-benar viral di jagat maya. Terlebih, Naomi dan Lily berasal dari keluarga berada dan punya nama.


Keluarga Gates semakin geram, mulai memerintahkan siapa pun suruhan mereka mencari sosok dalang yang sudah mencoreng nama keluarga. Upaya konferensi pers yang menyatakan kalau itu adalah jebakan untuk menjatuhkan keluarga Lily dan Naomi tidak sepenuhnya diterima.


Nyatanya, video dan foto mereka tetap ada dan orang-orang tak peduli siapa yang salah ataupun korbannya.


Lily membanting ponselnya ke dinding. Dirinya sudah tidak punya muka lagi untuk keluar dari rumah. Tidak sampai publik yakin kalau putri Bill dari keluarga Gates merupakan korban.


Sekarang, ia benar-benar hancur luar dalam. Pintu tiba-tiba terbuka paksa. Tampak wajah pilu Nyonya Amelia menatap sedih putrinya.


“Ibu?”


“Ayo kita ke tempat Eldrey.”


“Apa! Kenapa?!”


“Kita harus minta dia cabut laporan tuntutan itu!” teriak Nyonya Amelia. Lily tersentak kaget mendengar ucapan ibunya.


Mereka berdua pun terburu-buru keluar rumah. Akan tetapi, begitu sampai di pintu langkahnya malah tertahan akibat suara seseorang.


“Mau ke mana lagi kalian! Apa kalian ingin mempermalukan keluarga ini lagi?!” hardik nyonya Camila.


“Ibu! Kami harus ke tempat Eldrey, memintanya membatalkan tuntutan untuk Lily. Bagaimanapun mereka saudara!”


Wajah tua itu makin menampilkan gurat emosi. “Eldrey melakukannya?”

__ADS_1


“Iya! Adik iparku yang memberi tahu, laporan tuntutan Lily sudah masuk ke kantor polisi,” jelas istri Bill sambil beruraian air mata.


“Terserah kalian! Aku tidak peduli lagi! Sekali lagi, sekali lagi anakmu mempermalukan keluarga ini, akan kupastikan untuk menendangnya dalam keluarga ini!” tegas nyonya Camila meninggalkan mereka.


Mendengarnya, membuat ekspresi ibu dan anak itu semakin kesal. Rasanya ingin sekali mengoyak mulut wanita tua yang sok berkuasa itu. Sejak keluarga nyonya Amelia tertimpa kebangkrutan, mereka makin dipandang sebelah mata.


Hanya status istri dan anak dari Bill yang tetap membuat mereka bertahan dan diakui walau tak sepenuhnya dihormati.


Keluarga Gates, benar-benar brengsek di mata nyonya Amelia dan Lily. Mereka pun akhirnya tiba di kediaman presdir Betrand, beriringan dengan langkah Charlie dan Reynald yang juga baru datang.


“Nyonya, Nona,” sapa Charlie melihat kakak ipar bosnya itu.


“Tuan Charlie.”


“Ada apa anda datang ke sini?”


“Aku dan Lily ingin bertemu Eldrey.”


“Maaf Nyonya. Tapi setelah kejadian tadi pagi, Nona tidak ingin ditemui siapa pun," jelas Rondolf yang menyambut mereka.


“Tapi kami punya urusan penting dengannya!”


“Maafkan aku Nyonya.”


“Maaf? Kau tahu siapa kami? Ibuku menantu pertama keluarga Gates! Dan aku cucu keluarga itu! Kau menahan kami untuk bertemu dengan Eldrey?! Bahkan tanpa bertanya padamu pun kami punya hak untuk menemuinya tanpa izin! Kau hanya pelayan, Berani-beraninya kau bersikap kurang ajar!” bentak Lily.


Orang-orang yang merupakan bawahan presdir Betrand itu terdiam. Charlie pun mengeluarkan ponsel dan tampak menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian. “Baiklah, aku sudah memberi tahu Nona. Dia bilang hanya nona Lily yang bisa menemuinya, karena itu saya akan mengawal anda.”


“Apa!”


“Tapi-”


“Maaf Nyonya. Tapi ini keputusan Nona. Jika tidak suka kalian bisa tinggalkan tempat ini,” lirih Charlie mengundang murka keduanya.


“Baiklah. Ibu, aku akan menemuinya,” Lily pun menyentuh lengan ibunya. Sambil dikawal Charlie, ia menapaki jalan ke kamar Eldrey.


Tak peduli berapa kali ia datang ke kediaman presdir Betrand, hatinya tetap sakit melihat gadis brengsek itu tinggal di rumah sebesar ini.


Tampak sosok sang tuan putri kediaman itu duduk di atas sofa sambil memegang selembar kertas.


“Eldrey.”


Gadis itu menatap balik pada sepupunya yang baru datang.


“Mau apa kau ke sini?”


Lily menggigit bibir bawahnya. “A-aku. Aku, aku ingin meminta maaf padamu.”


“Minta maaf?” Eldrey tersenyum. “Setelah apa yang kau lakukan, kau ingin meminta maaf padaku? Jadi, apa kau pikir aku akan memaafkanmu?”


Lily tak berkutik. Rasanya ia benar-benar terpojok. Tapi, tak ada pilihan lagi baginya. Tidak saat ia sudah hancur dan sebentar lagi akan mendekam di penjara jika tak bisa meluluhkan sosok di depan mata.


“Aku mengaku salah,” Lily pun beruraian air mata. “Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Kamu selalu bersikap semena-mena. Nenek dan kakek bahkan memujimu, dan itu selalu kamu!” teriak Lily akhirnya. “Kamu pintar, bahkan ayahmu juga sangat kaya! Kamu juga dikelilingi cowok-cowok tampan! Jadi kenapa itu selalu kamu? Kenapa bukan aku? Padahal aku jauh lebih baik dari gadis gila sepertimu!”


Charlie yang masih berada di dalam kamar, menatap aneh pada sepupu Eldrey itu. Ocehan konyol apa yang baru saja ia lontarkan? Batinnya benar-benar merasa heran.


Tapi lain halnya dengan Eldrey. “Urusannya denganku?”


Sontak, Lily pun terbelalak mendengar kata singkat itu. Ia mengepal erat tangan sambil berekspresi geram. Rasanya, ingin sekali dirinya menyiksa gadis keparat di depan mata.


Eldrey tersenyum sinis. “Mau mengoceh sampai mulutmu berbusa, kau pikir aku peduli?”


“Eldrey!” teriak Lily emosi. “Dasar keparat kau!” ia pun berlari ke arah Eldrey hendak menyerangnya, akan tetapi Charlie berhasil menahannya.


“Apa yang mau kau lakukan Nona?” tekannya mencengkeram erat lengan Lily. Gadis itu merintih kesakitan, tapi raut murka masih tak memudar.


“Lepaskan dia Charlie, bagaimanapun dia masih putri terhormat tuan Bill,” ledek Eldrey.


Charlie akhirnya melepas lengan gadis itu walau sorot mata tajam masih terarah.

__ADS_1


“Aku takkan pernah mengampunimu!” tegas Lily dengan napas terburu-buru.


“Benarkah? Kenapa? Bukankah kau ke sini untuk mengemis maaf dariku?” Eldrey pun menampilkan ekspresi seperti berpikir.


“Mau bersujud di kakiku? Mungkin aku akan cabut tuntutan itu,” ucap Eldrey sambil mengangkat tangan ke depan dan menunjuk kakinya sendiri.


“Kau pikir aku akan melakukan itu? Sampai mati jangan pikir aku akan merendah padamu! Suatu saat akan kupastikan membuatmu membayar mahal atas hinaan ini!”


Seketika Eldrey tertawa pelan. “Membayar mahal?” balasnya dengan nada remeh. “Kau tak perlu menunggu suatu saat. Karena aku, sudah membayar harga yang sangat mahal untuk hinaan ini.”


Lily terbungkam. Napas memburu karena dipenuhi emosi membuat wajahnya memerah. “Kau! Apa maksudmu?!”


“Oh. Apa ini? Kau tidak tahu? Bukankah kau dan Naomi sudah menikmatinya?” Eldrey memainkan ujung rambutnya dengan sombong.


“Kau!” teriak keras Lily. Ia tertahan karena Charlie pasang badan menghentikan langkahnya.


“Luar biasa. Kau menjebakku. Menjebak dengan trik murahan seperti itu. Bukankah harusnya kau bersyukur? Aku sudah membuat jebakan bodohmu menjadi berhasil untuk kau dan Naomi nikmati. Seharusnya kau berterima kasih padaku kan?” seringai Eldrey.


“Kau! Bagaimana bisa?!”


Eldrey kembali tertawa. “Bukankah sudah kubilang aku membayar sangat mahal untuk itu? Setengah tabunganku habis hanya untuk rencana bodohmu.”


Rasanya tubuh Lily tak bisa bertahan lagi. Apa yang ia pikirkan sebelumnya ternyata benar. Eldrey lah yang sudah menjebak dirinya dan Naomi. Tubuhnya tak bisa berhenti gemetar karena merasa sangat marah.


Eldrey kembali melanjutkan. “Kau kira orang-orang akan tunduk pada perintahmu? Saat melihat banyak uang di depan mata, mereka pun menggonggong padaku. Aku sudah membayar orang yang kau bayar untuk memihakku.”


“Kalau begitu jeritan itu, pemerkosaan itu!”


“Apa? Tentu saja tipuan. Bukankah akting kami sangat hebat? Aku sampai mengorbankan kemeja dan darah di lenganku agar semua tampak nyata. Semuanya, penolong dan juga cctv-nya.”


“Dasar brengsek. Dasar brengsek kau Eldrey! Brengsek!” Lily pun memukul-mukul dada bidang Charlie sehingga membuat pria itu jengkel dan menahan kedua tangannya. “Lepaskan aku! Kubilang lepaskan aku!” Gadis itu meronta-meronta.


“Meronta-merontalah terus. Aku sudah berbaik hati berbagi kelicikanku pada orang bodoh sepertimu. Seharusnya kau belajar dari itu. Berterima kasihlah, karena aku hanya menyebarkan satu foto milikmu. Setidaknya video Naomi menjadi pelajaran bagimu!” tekan Eldrey berdiri dan menghampirinya.


“Bisa kau lihat ini?” Eldrey pun mengangkat kertas yang dari tadi ia pegang dan diarahkan ke wajah Lily.


“Ini! Kau! Bagaimana bisa?!”


Eldrey menatap masam pada kebodohan sepupunya. “Lebih baik kau tidak mengoceh macam-macam pada keluargamu tentang aku yang menjebakmu. Karena jika tidak, video striptease dan fakta kau aborsi akan menyeruak ke permukaan. Kau gadis pintarkan Lily? Menurutmu, apa yang akan dilakukan keluarga Gates jika kau mempermalukan mereka lagi?” Eldrey mencengkeram pipi sepupunya.


“Dasar monster!”


Raut wajah Eldrey berubah dingin mendengarnya. Cengkeraman di pipi berubah menjadi cekikan kasar di leher Lily.


“Nona!” cegat Charlie sambil menyentuh lengan Eldrey.


“Karena aku monster seharusnya kau tak berurusan denganku. Lebih baik kau diam dan meringkuk saja di kamarmu. Atau kau takkan bisa melihat sinar pagi lagi.”


“Ah, mungkin aku akan berikan contoh agar kau tak macam-macam lagi. Bisa kita mulai dari Naomi-mu yang tersayang?” bisik Eldrey dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.


Ia melepas kasar cekikan itu sehingga Lily terbatuk keras memegang lehernya.


“Silakan pergi. Dan jangan lupa peringatanku tadi,” ucap Eldrey sambil membukakan pintu.


“Aku pasti akan membunuhmu!” Lily meringis kesakitan.


“Silakan saja. Semoga kau memang berhasil lain kali,” tantang Eldrey sambil menunjuk pintu keluar.


Dengan perasaan berkecamuk di dominasi emosi, Lily keluar kamar tanpa dikawal Charlie.


“Tarik tuntutannya,” perintah Eldrey.


“Apa kau yakin?” Charlie mengernyitkan dahi bingung.


“Tentu saja. Karena kami keluarga?” sambil memiringkan kepala diiringi senyum seringai.


Charlie terdiam sejenak. “Apa kau takkan mengobati pipimu itu?”


“Biarkan saja. Ini akan menjadi tanda, tanda bersalah dari mereka,” lirihnya menyentuh pipi dengan tangan kiri yang diperban.


“Dasar gila,” Charlie pun melenggang keluar kamar dengan diiringi tatapan Eldrey yang tersenyum dingin padanya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2