FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menipu Diana


__ADS_3

“Hah, padahal kita baru mau berbincang-bincang santai, tapi malah diusir,” tukas Charlie yang membuat Eldrey semakin kesal menatapnya.


Sementara sekretaris Roma masih diam menatap lekat gadis yang mengusirnya itu. “Nona, apa anda sadar apa yang sudah anda lakukan?” tanya sekretaris Roma yang tak peduli dengan tatapan kesal Eldrey tersebut.


“Apa kau tuli? Keluar kataku,” Eldrey pun berdiri dari duduknya.


“Iya-iya, kami akan keluar, jadi jangan emosi begitu, kau membuatku takut,” sahut Charlie. “Ayo Roma, sebelum lidah kita dipotong lebih baik kita pergi,” sambungnya.


Sekretaris Roma hanya menatap Eldrey, begitu pula sebaliknya. Akhirnya sekretaris Roma pun berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu diiringi Charlie.


Charlie pun mendadak berhenti dan kembali lagi menemui Eldrey yang menimbulkan penasaran sekretaris Roma. “Nona, kuharap kau tak macam-macam, karena aku mengawasimu,” tukasnya dingin. Ia lalu pergi meninggalkan gadis yang masih berekspresi kesal.


Eldrey menggertakkan giginya, ia memutar bola matanya seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. “Dasar br*ngs*k!” umpatnya.


Sementara di terowongan jembatan gantung, “beritahu presdir, kalau putrinya sudah muak dengan terapi gila itu,” pungkas Charlie yang berjalan menghampiri sekretaris Roma.


“Nona harus tetap melakukannya, bagaimana pun ini demi kebaikannya,” balas sekretaris Roma dengan pandangan tetap ke depan.


“Jika ingin dia membaik, maka lepaskan dia.”


“Lepaskan? Dengan kepribadian yang seperti itu?” sahut sekretaris Roma yang tak setuju dengan perkataan Charlie.


“Kepribadiannya? Tak ada masalah dengan kepribadiannya, kalaupun ada itu karena perlakuan yang dia terima, lagi pula tak ada manusia yang ingin dirantai seperti binatang.”


“Apa anda ingin mengatakan kalau presdir sudah salah?”


“Entahlah,” balas Charlie singkat.


Sekretaris Roma pun menatapnya, “presdir hanya menginginkan yang terbaik untuk nona, hanya itu.”


“Terbaik? Heh! Kalimatmu membuatku tertawa,” ledek Charlie. “Seharusnya bukan gadis itu yang di terapi, tapi ayahnya!”


“Kalimat anda sudah keterlaluan tuan!” sergah sekretaris Roma.


“Mmm? Roma, sepertinya aku mengerti kenapa nona membencimu, satu saran untukmu, jaga bicaramu yang mendewakan tuanmu itu, atau nona akan menandai nasibmu seperti simpanan bosmu itu,” nasehat Charlie yang hanya menimbulkan kerinyit di dahi sekretaris Roma.


*******


Dean yang sedang duduk di dekat jendela kamarnya pun tersentak kaget, saat melihat sebuah mobil putih memasuki halaman kediamannya. Ia merasa pernah melihat mobil itu tapi entah di mana? Ia tak bisa mengingatnya.

__ADS_1


Seseorang pun turun dari mobil itu, jantungnya seolah-olah akan gila saat melihat kedatangan orang yang benar-benar sangat tidak ingin dilihatnya. Diana, dialah orang yang datang dengan mobil putih itu, tentu saja wajah kesal terpampang jelas di muka Dean.


Ia seolah mendapat bunga busuk saat melihat gadis itu memasuki rumahnya. Secepat kilat ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menggosok-gosok kelopak matanya agar memerah, entah dengan maksud apa ia melakukan itu.


Sekitar lima belas menit kemudian pintu kamarnya pun di ketuk, Dean memilih pura-pura tidur karena ia sudah bisa menebak siapa yang datang ke kamarnya.


Perlahan pintu kamarnya terbuka dan terdengar langkah kaki lebih dari satu orang. “Sepertinya Dean lagi tidur Diana, biar bibi bangunkan sebentar,” tukas nyonya Julia mendekati putranya.


“Tidak usah nyonya, tidak apa-apa, sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat,” tukas Diana.


“Loh, tidak apa-apa, lagi pula kamu itukan sudah datang jauh-jauh, Dean pasti sangat senang melihat kedatanganmu,” balas nyonya Julia.


“Aku tidak senang, duh .... Pergi saja kenapa? Gak lihat orang lagi tidur!” gerutu Dean dalam hati.


“Apa tidak apa-apa?” tanya Diana sedikit tidak enak.


“Tidak apa-apa, tenang saja,” nyonya Julia lalu menggoyang-goyangkan tubuh Dean dengan pelan untuk membangunkannya. “Dean, bangun sayang, ada Diana, dia datang untuk melihat keadaanmu sayang,” sahut nyonya Julia lembut.


Dean pun perlahan membuka matanya dan menatap nyonya Julia dengan pandangan sayu, “mama?” panggilnya dengan ekspresi khas bangun tidur tipuannya. “Mataku, uuh .... Aku masih ngantuk ma,” ocehnya pelan.


“Sayang, itu Diana, dia datang buat jenguk kamu,” sahut nyonya Julia sambil menunjuk Diana yang sedang tersenyum manis.


“Dean! Kamu kenapa sayang?! Perutmu masih sakit?” tanya nyonya Julia yang kaget dengan keadaan putranya. Tapi tak ada jawaban dari Dean yang sudah berada dalam kamar mandi.


“Aduh .... Maaf ya Diana, Deannya masih sakit, sepertinya obatnya masih belum terlalu bekerja,” jelas nyonya Julia dengan ekspresi agak canggung.


“Gak apa-apa nyonya, karena itu aku datang buat menjenguknya, aku sangat mencemaskannya,” tukas Diana sambil tersenyum dan meletakkan buah tangan ke atas meja nakas di kamar itu.


Nyonya Julia pun tersenyum, “Diana, gak usah panggil nyonya, panggil bibi saja, kalau kamu memanggil nyonya seperti itu akan terdengar canggung jadinya, lagi pula kita sudah bukan orang asing, bukankah sebentar lagi kita akan jadi keluarga?” sahut nyonya Julia.


“I-iya bibi Julia,” jawabnya sambil tersipu malu.


“Begitukan bagus, ya sudah, bibi tinggal dulu ya, kamu di sini saja, Dean pasti senang lihat kamu,” sahut nyonya Julia sambil memegang bahu gadis tersebut.


“Iya bibi Julia.”


Nyonya Julia pun meninggalkan Diana di dalam kamar Dean, dengan maksud agar mereka semakin akrab. Diana yang di tinggal pun memilih menghampiri sebuah dinding yang penuh dengan pajangan foto Dean bersama teman-temannya.


“Dean, memang tampan,” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Tapi pandangannya berhenti saat menatap sebuah foto di mana hanya ada Dean dan Erin berdua saja. “Siapa gadis ini? Mereka terlihat sangat dekat,” gumamnya sambil menyentuh foto itu. “Apa mungkin pacarnya? Tapi tak ada kabar kalau dia sudah punya pacar."


Ia pun menoleh lagi memperhatikan setiap foto yang ada dan sekali lagi matanya berhenti pada sebuah foto yang mengganggu matanya.


“Gadis ini?” Ia menyentuh sebuah foto di mana hanya ada Dean, Alice dan juga Kevin.


“Siapa gadis ini? Dia selalu ada di setiap foto Dean bersama teman-temannya,” gumam gadis itu.


“Sepertinya Dean memiliki lumayan banyak teman wanita yang dekat dengannya.”


Sementara di saat yang sama dan tempat yang berbeda, Dean, ia hanya berdiri menatap kaca di kamar mandi. “Sialan, apa yang harus aku lakukan?” gerutunya kesal. Terlihat jelas kalau ia sedang mengulur waktu untuk tak menemui Diana.


“Apa aku pura-pura muntah saja di depannya agar dia jijik padaku?” gumamnya. Setelah memastikan rencana yang akan dilakukannya, Dean pun keluar dari kamar mandi dengan tatapan sayu dan tubuh lelahnya.


Ia agak kaget saat melihat Diana yang berdiri di depan kumpulan foto-fotonya itu. “Sedang apa kamu?” tanya Dean tiba-tiba.


“Dean?! A-aku cuma penasaran dengan foto-foto itu,” jelasnya gugup.


“Begitu?” sahut Dean dengan nada agak jengkel.


“I-iya, karena aku penasaran dengan teman-temanmu, makanya aku melihatnya,” jelas gadis itu memberikan alasan.


“Oh,” Dean pun kembali ke tempat tidurnya.


“Aku harap bisa berkenalan dan berteman dengan teman-temanmu,” gumam Diana pelan.


“Kenapa? Merekakan teman-temanku, tidak ada hubungannya denganmu.”


“I-iya kan sebentar lagi kita bertunangan, jadi aku harap kita bisa berbagi kebahagiaan dengan teman-temanmu,” sahut Diana memberikan alasannya. Ia sebenarnya hanya ingin mencari muka agar terlihat baik dan ramah di depan Dean serta teman-temannya.


Dean yang mendengar perkataan Diana pun memperlihatkan ekspresi dingin, jujur ia sangat kesal dengan perkataan Diana, “belum bertunangan saja sudah mencoba memasuki kehidupanku serta teman-temanku, benar-benar gadis mengerikan yang tak tahu batasan,” gerutu Dean dalam hatinya.


“Diana, sepertinya aku harus istirahat dulu, perutku sakit saat aku bangun seperti ini,” oceh Dean yang sudah lupa dengan rencana pura-pura muntahnya.


“Sakit?! Bagaimana jika kita kita ke rumah sakit?!” sahut Diana cemas. Ia mencoba memberikan perhatian terbaiknya pada Dean.


“Tidak perlu, aku hanya ingin tidur, Diana bisakah kamu pulang saja?” pinta Dean.


Diana yang mendengar itu pun terdiam, ia mencoba berpikir positif karena Dean sedang sakit, mungkin saja ia butuh istirahat sekarang, jadi karena itulah ia memintanya pulang. Ia tidak berpikir kalau Dean tidak suka dengannya dan mengusirnya, karena nyatanya ia sudah dibutakan oleh cintanya pada Dean.

__ADS_1


__ADS_2