FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menunggu sepi


__ADS_3

“Eldrey,” Bu Anna gugup melihat tatapan putrinya.


Detik-detik seakan-akan disambut ketegangan. Tak ada lagi tatapan kosong, sorot mata Eldrey beralih pada Alice.


Dirinya tersenyum yang membuat kedua wanita itu bergidik.


“E-Eldrey,” Alice tampak ragu mendekatinya.


“Cantik.”


“A-apa?”


“Kalian cantik,” sahut Eldrey yang membuat keduanya bingung. Evan perlahan mendekat ke sana sambil diiringi bibi Arda.


Gadis itu melangkah lagi menyusuri tepian kolam.


“Hati-hati Nak, kamu bisa jatuh,” khawatir Bu Anna.


Charlie terdiam. Apa yang diperkirakannya benar, Eldrey akhirnya berbicara lagi saat melihat Alice. Setidaknya itu hal yang baik menurutnya.


“Eldrey,” Alice mengikuti langkahnya dari belakang.


“Kenapa kamu datang?” tanya Eldrey dengan tenang. Nadanya terkesan normal membuat beberapa pelayan Betrand terdiam.


“A-aku ingin minta maaf.”


“Begitu?” Eldrey berbalik dan menatap mereka lagi.


Gadis itu menyentuh permukaan air kolam dengan kakinya.


“Eldrey.”


“Aku tidak menyukaimu,” sahutnya sambil menatap datar Alice. Beberapa orang yang mendengar itu tersentak kaget karenanya.


Gadis itu kembali menapaki tepian. Dirinya selangkah menuruni tangga di kolam sehingga air membasahi kakinya sampai betis.


“Eldrey!” pekik Bu Anna cemas. Gadis itu kembali menoleh.


“Aku membencimu,” ucapnya pada Bu Anna.


Bu Anna terdiam. Tak terasa, air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya.


“Aku juga membenci Betrand,” sahut Eldrey melangkah lagi. Kini permukaan air yang menggenangi betisnya ikut membasahi lututnya karena gelombang yang ia ciptakan.


“Ibu,” Evan perlahan mendekati wanita itu dan memegangi bahunya. Napasnya naik-turun, tapi ia tak bersuara, tidak saat menyadari bagaimana kondisi adiknya.


“Aku juga membenci anakmu. Aku juga membenci Camila, aku juga benci Bill, aku benci Amelia, aku benci Gates, aku benci Lily,” sahut Eldrey panjang lebar dari nada seperti suara anak-anak lalu berubah menekan keadaan.


Rasanya, tak ada satu pun yang mampu berbicara mendengar kalimat gadis muda itu. Seakan, seperti memberi tahukan suara hatinya.


“E-Eldrey,” panggil Bu Anna.


“Aku benci Lily, aku benci Gates, aku benci Amelia, aku juga benci Bill, aku juga membenci Camila, aku juga membenci anakmu, aku juga membenci Betrand, dan aku membencimu,” sahut Eldrey mengulanginya.


Langkahnya sekarang terhenti, menatap tenang sosok sedarah dengannya.


Dirinya, perlahan melangkah keluar dari kolam dengan pandangan tak acuh pada sekelilingnya.


“Ma-maafkan Ibu,” lirih Bu Anna terisak-isak. Rasanya, ini lebih menyakitkan dibanding putrinya hanya bungkam tak menanggapinya.


Eldrey terdiam. Memiringkan wajah, menatap sosok yang baru saja melontarkan kata maaf. Beberapa detik berlalu dalam keadaan seperti itu.


Sang gadis pun kembali meluruskan wajahnya.


“Mau kupukul kepalamu?” tanya Eldrey dengan nyamannya.


“Eldrey, kamu!” Evan tak percaya dengan kalimat yang baru saja dilontarkan adiknya.


“Kenapa? Orang itu memberi tahuku, saat meminta maaf maka dia akan memukulku. Lalu kenapa jika aku mengatakan hal yang sama?” tanya Eldrey dengan mudahnya.


Terbungkam, itulah perwakilan dari wajah orang-orang yang mendengarnya.


“E-Eldrey,” napas Bu Anna tak beraturan karenanya. Dirinya terlihat seperti sosok penderita asma, walau gejala tersebut tak ada pada dirinya.


“Orang itu akan menginjakku bila aku terisak, lalu kenapa aku tak bisa melakukan hal yang sama?“


Rasanya terlalu menyakitkan bagi seorang ibu mendengarkan siksa yang pernah diterima anaknya.

__ADS_1


“Tapi dia akan mendengarkanku bila aku menangis. Jadi aku sudah mendengarkanmu,” Eldrey tersenyum tipis.


Tak bisa dihentikan lagi, sesak dan air mata terurai melukiskan diri beberapa orang yang mengasihaninya.


Sedangkan Alice yang mendengar lirihan sahabatnya, tak bergeming dari posisinya. Sendu menggenggam hati saat di hadapkan pada kalimat pilu sang gadis muda.


Eldrey mendongak. Menatap langit cerah di atas kepalanya. Biru berhias awan cirrus yang indahnya.


Bu Anna memegang dadanya. Wajah cantiknya melukiskan kesedihan yang teramat sangat. “M-maafkan Ibu, maafkan ibu. Ibu benar-benar minta maaf, semuanya salah ibu Nak, tapi Ibu mohon maafkan Ibu,” perlahan kakinya tak sanggup lagi menopang beban di badannya.


“Ibu!” pekik Evan saat menyadari wanita itu jatuh terduduk dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wanita mana yang tidak akan menangis jika diingatkan kembali dengan kondisi anaknya? Terlebih, sang buah hati tak sudi membuka tangan untuknya.


“Aku tak bisa memaafkanmu,” ucap Eldrey. “Karena jika aku memaafkanmu, aku akan semakin hancur tak bersisa.”


Evan perlahan mengangkat wajah menatap sosok manis yang sedarah dengannya.


“Begitu? Apakah tidak ada sedikit pun kasih sayang untuk ibu? Apakah kamu tak bisa membuka hatimu untuk kami? Padahal kami ingin membantumu! Padahal kita keluarga! Padahal kita bisa bersatu kalau kamu mau!” teriak Evan.


Sungguh yang lain tak mampu berbicara kecuali menonton konflik keluarga. Ini, benar-benar di luar prediksi mengingat sosok-sosok asing itu merupakan teman Eldrey yang tak dianggapnya.


Eldrey tersenyum. “Membuka hati? Kalau begitu, bisa kau beri tahu aku bagaimana caranya? Mungkin aku bisa melakukannya.”


Evan menggigit bibir bawahnya karena merasa dipermainkan.


“Tak masalah,” lirih Bu Anna. “Bahkan jika kamu tidak bisa memaafkan kami tak masalah, tapi setidaknya biarkan kami tetap di dekatmu, menjagamu dan melindungimu,” dengan mata berkaca-kaca.


Eldrey yang menatap lekat rupa itu, akhirnya menoleh ke tempat lain. Mengedarkan pandangan sekilas sebelum akhirnya kembali bersuara.


“Tidak. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Kau bisa kembali, tapi aku takkan menyambutmu. Akan kubuat hidup kalian seperti di neraka, sampai Betrand harus memilih antara melepaskan kalian atau tetap menahan kalian. Bukankah ini menarik? Dulu kalian yang melepaskannya, sekarang dia yang di posisi kalian, aku benar-benar jadi tidak sabar menantinya,” seringai Eldrey akhirnya.


“Kenapa? Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah Bu Anna ibumu? Bukankah kak Evan kakakmu? Bukankah kalian keluarga? Kenapa kamu bersikap seperti itu?” sela Alice beruraian air mata.


Eldrey belum menanggapinya. Sampai beberapa saat kemudian.


“Kenapa?” Eldrey memiringkan wajahnya. “Kenapa ya?” dia tampak berpikir sejenak. “Benar juga, jika aku tidak salah 10 tahun yang lalu kami keluarga bahagia.”


Orang-orang itu terdiam.


“Aku bisa mengingat masakan Raelianna, perhatian Betrand ataupun tawa Evan,” lanjut Eldrey di depan mereka.


“Aku bisa mengingat sorot mata Gates, atau amarah Camila. Atau kehidupan saat pertama kali memasuki tempat ini. Rumah seperti istana, penuh tawa bahagia bahkan bila Camila selalu mengacaukannya.”


Gadis itu perlahan tersenyum.


“Aku bisa mengingatnya, saat-saat Camila mempermalukan Raelianna di hadapan orang-orang di sekolahku. Berusaha menjadi sosok wali untukku dan Raelianna hanya akan menangis menuju pintu.”


Rasanya, kalimat Eldrey melukiskan sebuah kisah membentuk bayangan yang terputar dalam pemikiran mereka.


Terlebih untuk Bu Anna, sangat menyakitkan baginya jika harus mengingat masa lalu itu lagi.


“Aku bisa mengingatnya, saat Raelianna ditampar Camila dan lari entah ke mana.”


“Aku bisa mengingatnya, saat Evan menyuruhku duduk di taman demi menjemput Raelianna yang meninggalkan kami berdua.”


Ekspresi Eldrey yang tenang seakan mendongeng untuk mereka mulai menajam tatapannya.


“Aku bisa mengingatnya. Mengingat saat bayangan gelap tiba-tiba mendatangiku di taman itu.”


Alice merasa ada yang tidak beres dengan raut wajah Eldrey.


“Aku bisa mengingatnya, tempat kotor yang menjadi tempat tidurku. Dan juga dinginnya rantai yang mengikat leher, kaki dan kedua tanganku.”


Tanpa disangka, Eldrey pun tertawa pelan dalam suasana seperti itu.


“Aku bisa mengingatnya, tawa mereka yang menyiksaku.”


Perlahan, Eldrey menundukkan kepalanya sambil mata melirik air kolam yang bisa dijangkau pandangan.


“Aku bisa mengingatnya ... suara balok yang memukul badanku. Aku mengingatnya, suara patahnya tulang di tubuhku.”


“Tak bisa kulupakan, sakitnya luka bakar di tangan dan kakiku. Tak bisa kuenyahkan panasnya lilin yang menyentuh kelopak mataku. Tak bisa kulenyapkan,” kalimatnya tak lagi dilanjutkan.


Akan tetapi, untaian kata yang dituang dari bibirnya benar-benar mengudara. Menyusup masuk ke telinga dan menggambarkan kisah mengerikan untuk dialami seorang anak manusia.


“Kesia-siaan tangisan dan teriakanku,” sambil tersenyum miring dalam keadaan tertunduk. “Aku hanya anak 9 tahun saat itu, semuanya bisa kuingat di dalam kepalaku.”


Eldrey membalik tubuhnya menatap ke arah kolam renang.

__ADS_1


“Maaf dibayar pukulan di kepalaku. Tangis dibayar pijakan di dadaku, teriakan dibayar tamparan di wajahku. Dan air mataku akhirnya didengar dan ditertawakan tepat di depan diriku.”


Sungguh pilu, lirihan panjang Eldrey sungguh menyayat hati para pendengarnya. Kisah yang tak pernah dibuka bertahun-tahun lamanya, kecuali beberapa orang sudah tahu hanya dengan melihat keadaannya.


Ya, itulah kondisi Eldrey sembilan tahun lalu.


“Tak bisa kulupakan hari-hari itu. Penantian yang panjang bagiku terbayar dengan kedatangan Betrand waktu itu.”


“Mereka membantuku, yang sudah hancur dan tak mati saat itu.”


“Hari-hariku dalam menunggu semakin jadi debu dengan konflik mereka. Para orang dewasa, penuh tangis dan teriakan, amarah tak jelasnya, aku hanya bisa menunggu dengan telinga masih mendengar semua itu.”


Gadis itu mengangkat wajah menyapu pandangan di depan matanya. Ekspresinya pun menyiratkan rasa kecewa.


“Aku melihat semuanya, pertengkaran mereka, kepergian Raelianna, perceraian orang tua, dan sujud tak bergunaku untuk menahan mereka yang takkan mengembalikan itu semua seperti semula. Aku anak tak berguna.”


“Hanya bisa menangis, dan terus menangis, di balik badan hancurku aku hanya bisa menangis. Menanti kedatangan keluargaku dari balik pintu, mendengar amarah Betrand yang sudah melupakan sosokku yang butuh pelukan saat itu.”


“Tak ada yang datang padaku, kecuali pembantu. Mereka yang ada di bawah harta ayahku. Tak satu pun mengerti aku.”


“Aku selalu menunggu, di balik pintu, menangis tak berguna dan hanya dimarahinya.”


“Aku menunggu, di balik teriakanku, dia mengurungku di balik gudang itu, tanpa lampu, tak ada cahaya kecuali ruang berdebu dan sosokku duduk di sudut pintu.”


“Tak ada lagi air mata, tak ada lagi suara, semua milikku sudah hancur waktu itu. Tak ada lagi yang tersisa untukku, tidak sedikit pun kenangan bahagia di masa lalu.”


“Tak sedikit pun, tidak di saat Betrand mendatangiku dengan mata dinginnya. Dia yang selalu marah dan menyebut nama istrinya. Selalu melontarkan kata apa yang salah padanya. Berusaha keras menjadi kaya demi istri dan tekanan orang tuanya.”


“Dan di balik itu aku masih menunggu, sebuah pelukan darinya, senyuman darinya, aku masih menunggu, di balik pintu.”


“Aku masih menunggu, bahkan bila teman-teman mentertawakanku, mencaci maki dan melempariku dengan batu, aku masih menunggu.”


“Aku terus menunggu, dan membunuh mereka karena itu. Tapi aku masih menunggu, bahkan jika psikiater mendatangiku, aku masih menunggu menatap pintu. Menunggu keluargaku yang tak satu pun datang padaku.”


“Aku masih menunggu kosong di balik pintu kamarku, dan didatangi ayahku dengan mata dingin tak berperasaan itu.” Kalimat tak lagi dilanjutkan, Eldrey pun menyentuh permukaan air kolam dengan tangan.


“Dan aku tak lagi menunggu. Tidak di saat kalian menatapku seperti itu. Kenapa kalian melihatku begitu? Kalian yang sudah menyudutkanku. Salahkah aku? Ingin membunuh Betrand yang tak mengakuiku. Kenapa dia mengirimku ke rumah sakit jiwa? Aku tak salah apa pun saat itu.”


Sunyi. Hanya indera pendengaran yang berfungsi, dan kepalan tangan miris akan cerita gadis muda penuh arti. Dia menyuarakan kisah pilu di hidupnya, seperti nyanyian tidur tak berirama untuk orang-orang yang menerima kata-katanya.


“Aku tak salah apa pun dan kalian tetap menyudutkanku. Sekarang jawab aku, bagaimana cerita itu? Adakah yang kalian pahami tentang itu? Bagiku semua tak lebih dari masa lalu.”


Eldrey bangkit dari posisinya dan berjalan dua langkah ke dekat mereka.


“Kau menyuruhku membuka hatiku. Kalian melontarkan kata maaf padaku. Kau menanyakan kenapa aku begitu. Sekarang jawab aku, jika kalian di posisiku apa yang akan kalian lakukan?”


“Bagiku, semua itu karena ulah kalian. Salahkah aku membenci kalian? Kalianlah sumber masalahku. Salahkah aku tak menyukaimu? Kebahagiaanmu membuatku pilu.”


Suara Eldrey mulai parau akibat banyaknya untaian kata yang ia tabur dari bibirnya. Tapi, sorot mata tajam masih menghiasi wajah cantiknya. Tak ada kesedihan, kecuali amarah terpendam di sana.


“Tak peduli berapa banyak waktu berlalu, aku masih tetap berada di sana, dirangkul ingatan keji itu. Tak peduli seberapa banyak kebaikan kalian untukku, rantai menyakitkan itu masih tetap melilit kakiku.”


“Sekarang jawab aku. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku membuka hati dan bersikap baik pada kalian?”


“Di saat kenyataannya aku tak bisa melupakan itu semua setelah melihat wajah kalian!” teriak keras Eldrey akhirnya.


“Semakin aku melihat kalian semakin aku tak bisa melupakan siksaan itu. Kau diselamatkan ayahku dengan mengorbankan nyawanya! Lalu kenapa dia seperti itu padaku?! Kenapa aku yang tersiksa? Aku anaknya tapi kenapa aku yang hancur di sana!”


“Tak peduli berapa banyak waktu berlalu, tak peduli berapa banyak siksa dan tangisan mereka untuk menggantikan masa laluku, tak peduli apa pun itu, aku masih mengingat semuanya!”


Suara Eldrey yang penuh amarah itu memecah keadaan. Akan tetapi, respons orang-orang masih sama. Tak ada yang mampu bersuara kecuali isak tangis bermain di sana.


“Sekarang jawab aku! Bagaimana caraku memaafkan kalian jika kalianlah sumber masalah terbesarku?!”


Bu Anna tak bisa lagi berkata-kata. Air matanya tidak mampu untuk dihentikan, dadanya sangat sesak mendengarkan itu semua. Rasanya menyakitkan, sungguh meremukkan kesadaran di dirinya.


“Jangan diam saja! Jawab aku!” bentak keras Eldrey. “Beraninya kalian mempertanyakan sikapku, di saat kalian sendiri sumber masalahku.”


“Kenapa kalian diam saja? Kalian pikir tangisan itu yang kuharapkan? Aku manusia bukan batu, bahkan binatang juga akan bersikap sepertiku jika kalian melihatnya seperti itu!”


Napas memburu, mengiringi emosi Eldrey yang meledak-ledak. Sungguh pilu, rahang menegasnya terpaksa menanti ketidak pastikan jawaban yang ia tunggu.


“Kubilang jawab aku!” hardik kerasnya.


Dan mereka masih tak mampu berkata-kata. Kisah menyedihkannya bukan sesuatu yang bisa dibantah begitu saja. Dia memang sudah hancur, tapi akankah secercah kata penenang mampu menembus hatinya? Dia yang tak menangis, lebih seperti orang putus asa.


“Dan kalian masih menangis. Sama sepertiku dulu, tak berguna dan tak bisa apa-apa. Menyesakkan, ini benar-benar menyesakkan bagiku.”

__ADS_1


 


__ADS_2