FORGIVE ME

FORGIVE ME
Permulaan kisah Dempster


__ADS_3

Sensasi sejuk menyusup masuk lewat keningnya. Seolah berbisik agar dia yang disentuh membuka mata.


Tapi, lelah juga menerpanya. Diiringi sakit di kepala dan hawa dingin di ujung kaki atau beberapa pinggiran tubuhnya.


Perlahan kelopak mata itu berkedip. Tak beberapa kali, sampai ia berhasil mengumpulkan kesadaran atas apa yang terjadi.


“Apa ada yang sakit?” kalimat pertama yang di dengar putri Dempster setelah ia terjaga.


Ada Kevin di sebelahnya. Rambutnya basah seperti habis mandi. Dan lukisan wajahnya tidak sama lagi dengan saat pertama mereka bertemu tadi.


Tidak kelelahan, atau terengah-engah deru napasnya.


Dan Eldrey, enggan menjawab apa-apa.


“Aku sudah pesan makanan, ayo makan dulu.” Gadis itu pun memperlihatkan tatapan aneh kepadanya. “Tenang saja. Takkan ada yang tahu kalau kamu ada di sini.”


“Aku tidak lapar.”


Kevin mengabaikan ucapannya, dan mencoba membantu gadis itu agar bangkit dari tidurnya.


“Aku akan menyuapimu.”


“Kamu tuli?”


“Badanmu kurus, Eldrey.”


“Heh!”


“Makanlah sedikit demi kesehatanmu.”


Dan mau tidak mau gadis itu terpaksa makan. Karena Kevin tetap saja dengan gigih menyodorkan sendok berisi bubur itu ke depan mulutnya.


Walau cuma empat sendok setidaknya ia memakannya.


“Sekarang pergilah. Dan berpura-puralah tidak tahu. Kamu, bisa melakukannya kan?”


Tapi, entah kenapa putra Kendal itu malah tersenyum. Memamerkan tampang jahil di rupa menawannya.


“Kamu memerintahku?”


“Aku hanya menyuruhmu.”


“Apa bedanya?”


“Pulanglah, Kevin.”


“Jika aku pergi, mungkin kamu akan kabur lagi.”


“Berhentilah ikut campur dalam kehidupanku. Kita bahkan bukan teman, Cesar!”


Sungguh ini pertama kalinya bagi Kevin mendengar nama keluarganya dipanggil dengan lantang. Dan ia cuma memiringkan wajahnya. Memamerkan muka santai untuk diperhatikan lawan bicaranya.


“Kita memang bukan teman.” Dan pemuda itu kembali duduk di tepian ranjang. Tangannya menyentuh ujung rambut putri Dempster dan menariknya dengan lembut. “Tapi, bukan salahku jika aku ingin terlibat denganmu.”


Jujur Eldrey jengah. Tak tahu apa yang ada di otak laki-laki itu sehingga ingin terlibat dengannya. Tapi anehnya dia tidak membenci sosoknya.

__ADS_1


Tubuhnya pun kembali direbahkan memunggungi adik dari Dean. Dirinya hanya ingin tidur dengan tenang.


Namun di luar dugaan, seorang pemuda dengan sebuket forget me not di tangan menatap tak percaya pada wanita di depannya. Akan fakta kalau sang pujaan telah menghilang entah ke mana.


Rasanya ada sensasi aneh di dada, dan Henry pun membuang pandangan secara perlahan.


“Kalau begitu, aku pergi dulu. Apa Bibi tidak keberatan jika bunga ini kuberikan padamu?”


Bu Anna terkesiap. Di balik mata sembab, anggukkan pun lambat laun diberikan. Dan ia menerima bunga yang sebenarnya akan dihadiahkan untuk putrinya.


Katakanlah.


Sebagai seorang wanita, ia yakin kalau pemuda yang baru saja pergi itu memiliki perasaan tulus kepada anaknya.


Tapi ini juga menyakitkan baginya, karena sang putri mungkin saja tak peduli dengan hati yang akan terluka jika berharap padanya.


Gadis itu terlalu muda untuk cinta. Seandainya dia membuka hatinya, akankah dirinya sudi merangkul perasaan Henry yang terarah padanya?


Pencarian masih dilakukan. Para bawahan berkeliaran dan nihil tetap menjadi jawaban untuk Betrand. Hati ingin mengumpat, dan batin mencoba menyalahkan siapa pun juga.


Tetapi, kesadaran masih berpegang teguh pada otaknya. Mencoba yakin kalau putrinya akan baik-baik saja.


“Anna,” panggilnya saat melihat wanita itu menangis di taman belakang.


“B-Betrand.”


“Kamu menangis?”


Dan pertanyaan itu sontak saja membuat Bu Anna mengusap kasar pipinya. Merasa tak enak hati karena hanya bisa melakukan tangisan di hari-harinya.


“Maafkan aku karena tak bisa membantu banyak untuk mencari putri kita.”


“Kenapa kamu minta maaf? Sudah tugasku sebagai ayah untuk melakukan itu semua. Mungkin Eldrey, hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya.”


Tapi, kristal bening malah berjatuhan ke pipi. Sungguh Bu Anna tak tahan dengan kalimat pria di depannya. Mencoba tetap tenang setelah semua yang terjadi.


Padahal ia mengenal Betrand sebagai pribadi yang rapuh sesungguhnya. Merasa sesak di dada, karena tahu akan fakta dari supir mantan suaminya, kalau pria ini mendatangi rumah ibu kandungnya.


Sudah bisa menerka, pembicaraan apa yang telah dilakukan kepala keluarga Dempster pada Nyonya Camila yang sangat membencinya.


Dan Betrand lagi-lagi melakukan itu untuk dirinya. Apakah salah jika sosoknya berharap untuk kembali lagi bersamanya? Hatinya masih mencintai pria ini dan menyayangi anak-anaknya.


Malam terasa panjang. Di bawah langit-langit yang gelap, beberapa pasang mata menatap ke plafon masing-masing kamarnya.


Dua di antaranya mengalirkan tangisan di sudut mata.


Dialah Evan dan Anna yang merasa bersalah di dalam hidupnya.


Dan Betrand yang putus asa untuk menemukan putrinya.


Sementara sang gadis Dempster, hanya memandang kosong lukisan keadaan di depannya.


Begitu pula Nyonya Camila yang tak bisa tidur memikirkan perkataan putranya.


Mereka pun akhirnya dihantui oleh kenangan di masa lalu. Sumber masalah utama dalam kehidupan keluarga Gates serta Dempster.

__ADS_1


Semua dimulai dari kejadian di masa silam di mana Betrand, masih belum menikahi pujaan hatinya.


Jadi, siapakah yang bisa disalahkan? Hidupkah? Atau hati. Atau mungkin takdir yang sudah membuat mereka menjadi seperti ini.


Dan orang-orang itu pun akhirnya tenggelam ke dalam kenangan yang memeluk diri.


 


Dua puluh empat tahun yang lalu ....


“Tunangan?” Betrand muda tak lagi melanjutkan makan malam setelah mendengar perkataan ayahnya.


“Ya.”


“Tapi aku—”


“Nak, tolong jangan membantah. Ini demi nama baik keluarga serta Perusahaan. Ibu mohon, Sayang. Tolong lakukan demi Ibu, Ibu mohon,” pinta Nyonya Camila kepada putranya.


Cukup lama sampai akhirnya laki-laki itu menganggukkan sekilas kepalanya. Dan dirinya, tak lagi melanjutkan makan karena kecut di dada atas permintaan orang tuanya.


Helaan napas jenuh mengiringi sosoknya. Sepanjang yang ia tahu, hatinya tak bisa menerima ini semua.


Esok harinya, laju mobil laki-laki Dempster ini membelah jalanan. Memasuki kawasan kampus yang menjadi tujuan.


Dia seorang mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional. Dan sosoknya cukup populer karena ia sangat tampan.


Tapi dirinya cuma seorang pemuda serampangan. Betrand merupakan tipe yang suka bermain dengan teman-teman.


Sampai akhirnya, cinta melanda otak dan hatinya untuk menyukai seseorang yang jelas-jelas bukan tipenya.


Logika tak lagi memihak dirinya, karena Raelianna Jin berhasil menggetarkan perasaannya.


“Apa kamu tidak mau berpacaran denganku? Aku tampan, kaya dan juga punya segalanya. Kenapa kamu tidak suka padaku?” begitulah pertanyaan yang dilontarkan Betrand pada gadis di depannya.


Baru sesuap nasi, Raelianna sudah menghentikan makannya.


“Karena kamu tampan, kayak dan juga punya segalanya, makanya aku tak bisa menyukaimu.”


Dan kerutan di dahi pun memenuhi wajah laki-laki itu. Padahal mereka sedang di kantin, ditonton banyak mata namun putra Gates masih saja tak peduli.


“Memang apa yang salah dengan itu?”


“Gadis bermodal beasiswa sepertiku, tak punya waktu untuk memikirkanmu. Tidak, bahkan untuk laki-laki mana pun, aku tak punya kesempatan untuk itu. Jadi tolong abaikan aku, Tuan Muda.”


Gadis itu pun beranjak dari duduknya sambil membawa nampan makanannya.


Kegagalan lagi-lagi menghantam Betrand dan menjadi bahan cemooh untuk teman-temannya yang duduk tak jauh darinya.


“Ayolah, Betrand. Dia memang cantik. Tapi apa kamu pikir batu jalanan sepertinya bisa disandingkan dengan mahkota sepertimu? Jangan sia-siakan wajah tampanmu, teman. Kau tidak sebodoh itu kan?”


Tapi, seolah kalimat barusan hanya angin lalu baginya. Ia pergi begitu saja, mengabaikan guyonan rekan-rekannya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2