
Sekarang, Ramses sedang berbincang dengan tuan Harel di ruang kerja ayahnya.
“Jadi begitu,” tanggap pria itu atas penjelasan yang sudah dilontarkan anaknya.
“Mm. Aku minta maaf karena terpaksa mengambil keputusan itu.”
“Tak masalah. Lagi pula selama tidak terjadi apa-apa dan kamu sudah menjaganya sudah lebih dari cukup.”
Ramses mengangguk, tapi sorot matanya menangkap kalau Tuan Harel masih memendam sesuatu di sana. “Pa? Ada apa?”
Tampaknya raut wajah pria itu benar-benar bisa dibaca maknanya. Setelah menghela napas pelan, kalimat yang tak disangka-sangka terucapkan olehnya.
“Apa kamu mau bertunangan dengan putri kolega Papa?” Mengejutkan. Anaknya tak bisa berkata-kata karena terlalu kaget mendengarnya. “Tadi malam rekan Papa menawarkan itu. Katanya putrinya sudah lama menyukaimu. Mungkin kamu kenal, namanya Barbara dia satu kampus denganmu.”
“Barbara?”
“Benar.”
Ramses terdiam. Mencoba mengingat sosok pemilik nama dan akhirnya terlintaslah seorang gadis manis berambut sebahu. Barbara, ya teman seangkatan beda jurusan yang ditemuinya saat seminar.
Dia menyukainya? Tentunya aneh melihat seberapa cuek wanita itu.
“Itu—”
“Apa kamu mau menemuinya?” potong Tuan Harel tiba-tiba. “Cobalah makan bersamanya terlebih dahulu. Dia gadis yang baik dan Papa pikir tak ada salahnya jika kamu memberinya kesempatan. Bagaimana?”
“Baiklah.”
Sejujurnya Tuan Harel agak terkejut dengan respons putranya. Tak menyangka Ramses akan menjawab cepat seperti itu.
“Baiklah. Kalau begitu Papa akan mengabari keluarganya. Sekarang kamu istirahatlah,” sambil menyentuh bahu laki-laki itu sebelum pergi dari sana.
Sekarang Ramses tertegun di posisinya. Pertunangan, tampaknya ia juga akan bernasib sama seperti Dean. Hanya saja dirinya beruntung sang ayah tak terlalu memaksanya.
Akan tetapi, kenapa wajah seorang gadis tiba-tiba terlintas di pikirannya? Decihan kasar pun tersembur dari dalam mulutnya.
“Sial!” umpat Ramses dan pergi dari sana.
Sementara di halaman kediaman keluarga Dempster, Eldrey masih berdiri di dekat mobil. Tak melangkah masuk kecuali menatap lekat pintu utama yang terbuka.
Charlie yang meliriknya perlahan mengembangkan senyum tipis di bibirnya. Dirangkulnya gadis itu dengan maksud menenangkannya.
“Apa kamu gugup?”
Tapi, justru ekspresi angkuh yang dipamerkan putri Dempster sebagai jawaban. “Gugup? Tak ada dalam kamusku.”
Selesai mengatakan itu ia melangkah dengan pasti. Memasuki kediaman mewah yang sudah menjadi saksi dalam lika-liku perjalanan hidup Dempster selama ini.
Seseorang tersentak saat bertemu pandang dengannya. Raut wajahnya aneh terlebih bibir bawah yang digigitnya. Perlahan ia berjalan menghampiri Eldrey dan diam tanpa kata.
Tak tahu kenapa tapi gadis itu hanya tenang memperhatikannya.
Lambat laun tangan laki-laki itu terulur dan menyentuh lengan sang tuan putri yang tidak bersuara.
“Kau menangis?”
Dua kata namun menyentak pendengaran sosok yang ditanya. Sontak saja Evan memeluknya. Terisak di sana tanpa melepaskan rangkulan pada sang adik di depannya.
“A-aku mohon tolong jangan pergi lagi,” begitulah lirihan yang bisa di dengar putri Dempster.
__ADS_1
Kakaknya benar-benar menangis. Tubuhnya bergetar hebat seolah tak ingin melepaskan pelukan. Rasanya tak dapat dilukiskan tapi ini adalah tubuh sosok yang sangat dirindukan.
Sang adik dengan rupa tenangnya tak membalas perlakuan Evan. Walau tak menolak tapi juga tidak memberontak. Mungkin ia memang sedang mencoba membuka hatinya pada saudara sedarah yang sempat meninggalkannya.
“E-Eldrey?” panggilan itu berhasil membuyarkan suasana. Evan melepaskannya dan menoleh ke belakang. Mendapati sang ibu dengan wajah keruh dan air mata tak terbendung.
Raelianna Jin telah hadir dengan ekspresi tak terlukiskan.
“I-ini benar-benar kamu, Nak?”
Sayangnya putri Dempster tidak mengatakan apa-apa. Menatap lekat ibunya tanpa bisa diketahui apa arti tatapannya. Tapi satu hal yang pasti, wanita blasteran itu berlari dan memeluk erat sang putri.
Terisak keras mengundang kehadiran beberapa orang penghuni. Keduanya hampir sama tinggi, tapi Anna menenggelamkan wajahnya pada bahu putrinya.
Sungguh ia tersiksa, membayangkan segala hal yang akan menimpa Eldrey tadinya. Tapi sekarang gadis itu berdiri di hadapannya. Mungkin ia harus bersyukur bisa melihatnya lagi di dekatnya.
“M-maafkan ibu. Ibu akan lakukan apa pun untukmu, tapi Ibu mohon tolong jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan kami, Ibu benar-benar tidak sanggup, Nak. Ibu tidak sanggup jika tidak melihatmu lagi. Ibu mohon tolong maafkan kami. Kami tahu kalau kami sudah sering menyakitimu. Tapi Ibu mohon tolong berikan kesempatan sekali lagi.”
Perlahan wanita itu jatuh terduduk di lantai sambil memegang kaki putrinya.
“Ibu mohon tolong maafkan kami. Maafkan kakakmu, maafkan ayahmu, dan maafkan ibu yang sudah pergi meninggalkanmu. Kami salah karena tak pernah memikirkan perasaanmu. Kami benar-benar jahat karena tidak memperhatikan keadaanmu. Tapi Ibu mohon, tolong berikan kami kesempatan sekali lagi. Untuk menebusnya, untuk memulai semuanya dari awal. Ibu mohon Eldrey, ibu mohon tolong berikan kami kesempata—”
“Ibu!” cegat Evan saat wanita itu mencoba bersujud di hadapan putrinya.
Isak tangis Raelianna begitu memilukan pendengarnya. Tapi entah bisa menyentuh hati putrinya atau tidak, gadis itu hanya diam menatapnya. Tidak mengatakan apa-apa sampai akhirnya pandangannya bertemu dengan Betrand yang merupakan ayahnya.
Saling diam, saling berbagi cerita lewat tatapan. Di mana pria yang secara garis besar sudah membuatnya begini begitu menyedihkan kondisinya.
Tak lagi seperti sebelumnya. Tidak tampak lagi raut angkuh yang menjadi ciri khasnya. Penampakan wajah lelah, kantong mata, bibir pucat dan begitu jauh dari dandanan seorang Presdir melukiskan kondisi Betrand.
Tapi senyuman terpatri di bibirnya. Hangat dan tulus dari seorang ayah yang tampak lega menatap kepulangan putrinya.
“Aku tak tahu jika ayahku ternyata semenyedihkan ini.”
Tapi, entah kenapa tangan Presdir Betrand terulur dan menyentuh pipi putrinya. “Aku memang pria menyedihkan yang tak bisa menjadi ayah membanggakan untuk anak-anaknya.”
“Benar.” Seketika hening menerpa mereka. Sejenak kemudian, “aku tidak bangga memiliki ayah sepertimu.” Tersentak, semua terbungkam. Perlahan sentuhan di pipi Eldrey dilepaskan. Jujur rasanya nyeri di dada saat mendengar kalimat tajam putrinya. Tapi itu mungkin memang benar adanya. “Tapi aku tumbuh dengan melihat punggungmu.”
Rasanya tak dapat dilukiskan. Sungguh Presdir Betrand gemetaran dibuatnya. Bahkan ia merasa tak pantas untuk memeluk putrinya.
“Jadi, apakah kamu akan memaafkanku?”
Gadis itu membuang tatapan ke samping. “Ayo mulai semuanya dari awal.”
Pernyataan tiba-tiba itu pun menyentak semuanya. Tanpa aba-aba Presdir Betrand spontan memeluk putrinya.
Pelukan ketiga, namun inilah yang paling aneh rasanya. Menggetarkan hati seperti ingin meluruhkan air mata. Walau Eldrey tak membalas tapi matanya memanas. Dan ia berharap tak menangis seperti yang dilakukan ayahnya di depannya.
Malam harinya di sinilah putri Dempster. Di kamarnya menjalani istirahat. Semua terasa tak biasa. Perlakuan hangat orang-orang dan perhatian yang tak henti-hentinya diberikan sungguh tidak menyamankan.
Sosoknya masih tak bisa melupakan senyuman Evan, Anna, dan Betrand saat bersamanya. Memang lebih baik mengurung diri di kamar dari pada terlarut pada kebahagiaan yang dipancarkan mereka.
“Masuk,” ucap Eldrey saat pintu kamarnya diketuk. Tampak olehnya, sosok Charlie di sana. Tersenyum sambil mendekatinya.
“Bagaimana?”
“Apanya?”
“Semuanya.”
__ADS_1
Putri Dempster yang rebahan di ranjang perlahan mengangkat tangannya. Seolah mencoba menggapai langit-langit kamar yang jelas-jelas tak bisa dijangkaunya.
“Aneh.”
“Benarkah?”
“Aku tidak nyaman.”
Pria itu tertawa dan bersandar di punggung sofa. “Memang butuh waktu untuk bisa menerimanya.”
“Aku masih tak suka melihat mereka.”
“Tak masalah. Tidak perlu menyukainya tapi berikan mereka kesempatan agar bisa membayar semua kesalahannya.”
“Aku masih tidak terbiasa dengan tingkah mereka.”
“Memang beginilah prosesnya.”
Sekarang tak ada lagi yang berbicara. Eldrey menurunkan tangannya namun perhatiannya masih tertuju pada langit-langit kamar.
“Bagaimana dengan tidurmu? Apa kamu masih sering mendengarnya?”
“Tak sesering dulu, tapi aku masih bisa merasakannya.” Eldrey pun memiringkan tubuhnya menatap ke arah balkon. “Teriakan mereka, teriakan Patricia, raut wajah Paul, dan teriakanku, aku masih bisa mendengarnya.”
Charlie terdiam. Sorot matanya menatap ujung pantofel coklat yang dikenakannya. “Mau ke psikiater?”
Tapi putri Dempster justru tersenyum tipis. “Aku ingin ke makam Paul,” ucapnya tiba-tiba mengabaikan ajakan Charlie.
“Besok aku akan mengantarmu.”
“Aku ingin pergi sendiri.”
“Terdengar buruk.”
“Jangan awasi aku. Aku tak suka ada pengawal mengintaiku.”
“Demi keselamatan, apa salahnya?”
Eldrey terdiam. Posisinya masih sama, melirik ke arah balkon dan rebahan di ranjang. Begitu pula Charlie yang belum mengubah kedudukannya.
“Aku melihatnya.” Sekarang nada bicara Eldrey terdengar dingin. Cukup mengejutkan bawahan ayahnya sampai-sampai pria itu membalik tubuh dan menatap putri Dempster.
“Siapa?”
“Pria itu dan anaknya,” kekehnya dan membuat Charlie mengerutkan dahi.
“Siapa?”
Perlahan, gadis itu bangkit dan menatapnya dengan tatapan yang begitu menusuk tulang. “Tentu saja orang yang telah menculikku.”
Pria itu pun terkesiap mendengarnya. Benar-benar di luar perkiraan. Ekspresi putri Dempster seolah menikmati keadaan. Bukannya ketakutan tapi ia malah tampak senang.
“Aku tak bisa membayangkan, bagaimana kalau diriku bertemu lagi dengannya? Tubuhku begitu gemetaran untuk melakukan hal yang sama pada anaknya.” Bahkan satu tangannya melekat di dagu. Satu jari hampir tergigit giginya. “Aku yakin, dia pasti akan senang jika anaknya kuperlakukan seperti diriku. Aku tak sabar Charlie, aku begitu ingin menculiknya. Dan juga menyiksanya dengan tanganku sendiri.”
__ADS_1