
“Dia, menyukainya?”
“I-iya,” Henry merasa aneh. Kenapa pria tersebut bersikap dan berekspresi seperti itu? Seakan bersalah dan kecewa menyatu di wajah karismatiknya.
“Emily, antarkan dia,” perintah presdir Betrand.
“Baik Tuan. Ayo, silakan ikuti saya,” ajaknya pada Henry. Mereka berdua menapaki jalan ke lantai dua.
Henry terdiam, rasa kagum menyelimutinya saat menatap kediaman raksasa itu, terlebih kolam renang besar di bawah jembatan terowongan yang mereka lewati benar-benar memancarkan keindahan.
Akan tetapi, rasanya ada yang aneh. Sepanjang langkahnya memasuki lantai dua bangunan kiri di mana kamar Eldrey berada, tak satu pun foto keluarga yang terlihat olehnya.
Hanya lukisan, dari pelukis ternama dan hiasan dinding unik bernilai tinggi yang menyambut tatapannya.
Mereka sampai di depan kamar Eldrey. “Nona?” Emily mengetuk pintu. “Ada tamu untuk anda,” ucapnya. Karena tak kunjung mendapat jawaban, perlahan ia membuka pintu. “Silakan masuk.” Henry terdiam menatap pintu yang terbuka. “Itu, jika ada apa-apa tolong panggil saja,” ucapnya.
Henry mengangguk. Dirinya pun perlahan melangkah ke dalam. Ini, pertama kalinya ia masuk ke kamar perempuan.
Sebuah makanan yang masih tampak utuh di atas karpet dekat ranjang menarik perhatiannya. Ditemani buku-buku di sampingnya.
Tak ada sosok Eldrey. Tapi, pintu balkon yang terbuka membuatnya terus melangkah ke sana.
Dan ya, tampaklah sang gadis yang dicari. Tertidur di sofa di balkon sambil memeluk sebuah buku.
Henry tertegun, memandang wajah tenangnya. Begitu indah di mata, wajah pucat, bulu mata panjang, alis rapi, hidung mancung, bibir merah, rahang halus namun bergaris tegas, rambut coklat panjangnya, dengan anting berhias berlian biru kecil melekat indah di telinga.
Henry tersadar, kalau warna bunga yang ia bawa dan berlian di anting itu senada.
Tak disangka, dirinya menatap Eldrey cukup lama. Seakan kebahagiaan menyelimuti hatinya hanya dengan melihat wajahnya. Kenyataan dari seorang pemuda yang jatuh cinta dan lupa kalau sudah ditolak sebelumnya.
“Eldrey?” sapanya saat menyadari gadis itu mulai terjaga.
Mendengar sebuah suara, Eldrey menoleh, tatapannya datar sambil bangkit dari tidurnya.
“Kamu di sini?”
“Ah, i-iya. Aku ingin menemuimu,” Henry pun menyodorkan buket bunga yang ia bawa.
Eldrey tertegun, sampai akhirnya menerima bunga itu.
“Ini, pertama kalinya ada yang memberiku bunga ini.”
Henry terdiam. Kalimatnya, terasa mirip dengan pria yang duduk di kursi roda itu.
Sejenak kemudian, “Eldrey, tadi di bawah aku bertemu dengan pria yang memakai kursi roda, a-apa aku boleh tahu siapa itu?”
“Kursi roda?” Eldrey tampak menerawang. “Mungkin ayahku.”
“Ayahmu sakit apa?”
“Tertembak.”
Henry mengangguk-angguk paham, walau masih ada penasaran. Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka karena ada pelayan yang mengantar minuman.
Emily melirik diam saat akan menaruhnya di meja di balkon itu. Setelah kepergiannya, Henry kembali bertanya.
“Apa kamu suka baca novel?”
“Lumayan.”
“Apa aku boleh pinjam?”
Eldrey menyodorkan padanya. Henry pun membalik lembaran-lembaran kertas novel tersebut. Lalu membaca bab awal dari kisah yang tertuang di sana.
Seorang anak kecil, meringkuk dalam kegelapan kamar. Hanya karena sebuah kesalahan, tapi itu mulai mengubah jalan hidupnya. Setidaknya seperti itulah gambaran awal kisahnya.
“Kamu menyukai kisah-kisah seperti ini?”
“Entahlah,” Eldrey memetik salah satu bunga Forget Me Not dan menjatuhkannya ke bawah balkon.
“Kalau makanan? Kamu suka apa?”
“Ratatouille.”
Henry tersenyum mendengarnya. Ditatapnya tubuh sang gadis. Tapi, matanya lebih tertuju pada tangan kiri yang diperban itu.
“Eldrey, apa yang terjadi pada tanganmu?”
“Cuma terluka karena menghukum seseorang.”
Jawabannya sangat ambigu. “Apa kamu sudah dengar tentang apa yang menimpa Lily dan Naomi?”
“Mereka pantas mendapatkannya,” Eldrey tersenyum tipis.
Rasanya, Henry mulai berpikir kalau ini ada kaitannya dengan Eldrey. Tapi, dirinya enggan bersuara. Masih ada celah di antara mereka yang tak bisa ia tembus.
“Eldrey.” Gadis itu menoleh. “Malam tadi, kamu-”
“Apa?” tanya gadis itu.
Henry memutar bola mata. Tak sanggup menatapnya.
“Katakan. Aku tak suka orang bertele-tele,” tegas Eldrey.
Kalimat yang menghujam, tapi membuat pemuda itu mengangkat wajah memandangnya.
“Semalam, kamu kenapa?”
__ADS_1
Raut datar itu mulai terasa menekan. “Memangnya semalam aku bagaimana?”
Pupil Henry bergetar. Suara gadis itu menari dengan berat. Rasanya, ia baru saja menanyakan hal yang salah.
“Apa kamu gugup Henry?” lanjut Eldrey. Sorot matanya begitu menusuk tulang.
Henry masih tak menjawab.
Gadis itu tersenyum tipis. “Kenapa kamu segugup itu? Ini tidak seperti aku akan membunuhmu,” kalimat Eldrey membuat Henry tersentak.
“Eldrey?” Henry merasa aneh mendengar ucapannya.
“Aku memang seperti ini Henry. Hanya menunggu waktu, sampai ayahku mengirimku lagi ke rumah sakit jiwa.”
“Apa maksudmu?!”
“Apa yang aku bicarakan?” Eldrey tampak berekspresi aneh.
“Eldrey?”
Gadis itu membuang wajah ke arah lain. Memandang lepas, sampai beberapa saat kemudian kembali menatap pemuda yang tak henti-hentinya menyorot rupanya.
“Tolong tinggalkan aku Henry,” gumam pelan Eldrey melangkah pergi dari balkon.
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin sendiri.”
Henry terdiam sejenak. “Aku lelaki bodoh Eldrey,” ia pun mengejar dan menyentuh salah satu tangan gadis itu. “Tapi, aku tidak sebodoh itu sampai tak tahu bagaimana keadaanmu.”
Eldrey hanya membisu menanggapinya. Membiarkan pemuda itu melontarkan apa pun yang ia inginkan.
“Andai aku bisa menjadi orang yang mendengar semua keluh kesahmu,” Henry menunduk dan menggenggam erat tangan itu.
“Kenapa? Kukira kau membenciku.”
“Kenapa aku harus membencimu?”
“Karena apa yang kukatakan padamu. Bukankah kau menangis karena itu?” Eldrey memiringkan wajahnya.
Henry tak bisa berhenti gemetar di hadapannya. Eldrey tahu itu, lewat sentuhan tangan mereka. Gadis itu pun menyentuh pipi Henry, “apa kamu akan menangis lagi?” tanyanya polos.
Seketika, sentuhannya membuat Henry terkejut. Ia memeluknya, begitu spontan mengalahkan akal sehat di dirinya.
“Aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu,” dengan suara bergetar di dekat telinga gadis itu.
Eldrey masih tak bersuara. Tapi ia tahu, kalau debaran jantung Henry tidak baik-baik saja. Perlahan, isak tangis justru mengalir dari laki-laki itu.
“Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar menyukaimu,” gumamnya.
Dirinya pun menenggelamkan wajah sendu di bahu Eldrey. Bahkan jika Henry mengutuk kebodohannya karena menangis di depan gadis yang disukai, tapi perasaannya tidak baik-baik saja.
Dengan tangan kanan masih memegang bunga, Eldrey pun mengangkat tangan kiri terluka itu menyentuh punggung Henry. Diusapnya, sambil melantunkan kalimat yang memang tepat di pikirannya.
“Aku tak menyukaimu. Tidak sedikit pun.”
Lagi, kata-kata tajam itu lagi. Ibarat pisau untuk hatinya yang masih berharap pada gadis dipelukan.
“Kenapa? Apa salahku? Apa aku terlalu buruk? Bodoh?! Cengeng?!” sambil terisak-isak.
“Berapa kali harus kuulangi? Kau-“
“Aku tak bisa,” Henry memotong kalimatnya. “Rasanya begitu menyakitkan El, tapi aku tak bisa menghentikan perasaanku.”
“Memang butuh waktu, tapi kamu pasti bisa melupakanku,” ucap Eldrey dengan dinginnya. Dia bahkan mengusap lembut kepala Henry yang bersandar di bahunya.
Entah karena dirinya memang tak pernah jatuh cinta atau memang perhatian pada Henry, perlakuannya justru membuat Henry semakin tak bisa menghentikan perasaannya yang meluap-luap.
Henry tetap menangis dipelukannya, membuat sang gadis berhenti dengan perlakuan lembut itu. Dirinya hanya diam, dengan tangan masih merangkul namun isak tangis tetap berkumandang di dekat telinga.
Sorot wajah dingin tak berperasaan itu memang terpampang di mukanya.
“Dulu saat aku menangis, tak ada yang memelukku. Aku masih ingat rasanya, itu aneh dan menyesakkan. Sekarang aku memelukmu, kuyakin apa yang kau rasakan berbeda denganku,” lirih Eldrey tiba-tiba.
Henry terbungkam. Dalam keadaan menyedihkan tersebut, pendengarannya masih tetap berfungsi. Jadi, apa maksud ucapan gadis itu? Dirinya seketika melepas pelukan di antara mereka.
Eldrey hanya menatap heran pada sosok terisak di hadapannya. Tangan yang terangkat hendak menghapus air mata sang pemuda, justru tertahan oleh tangan Henry yang menahannya.
“Apa maksudmu?” tanya Henry.
Dadanya bergemuruh dengan perkataan menyedihkan Eldrey. Tapi, sang gadis yang memicunya justru hanya menampilkan ekspresi bingung.
“Henry?”
Pemuda itu menggigit bibir bawah, pikirannya bercampur aduk. Sosok di depan yang mengoyak perasaan, terlihat memberikan tatapan polos padanya.
Sorot mata lurus yang memperlihatkan ketidak tahuan akan rasa sakit ucapannya sendiri.
Henry menarik kepala Eldrey mendekat, membuat kening mereka saling beradu. “Maafkan aku.”
“Henry?”
“Maafkan aku.”
“Kenapa kau-” Eldrey terdiam.
Wajah mereka sangat dekat, tetesan kristal bening yang masih mengalir di depan mata menutup mulutnya. Ia masih tak mengerti kenapa Henry bersikap seperti itu. Arti dari tangisan dan maaf darinya benar-benar tak bisa ia pahami.
__ADS_1
Dirinya masih berpikir, mungkin Henry sangat terluka karena ditolak mentah-mentah lagi olehnya.
Akan tetapi, apa yang melukai perasaan sang pemuda jelas bukan itu saja.
“Maafkan aku, karena sudah egois padamu. Seharusnya aku lebih memahamimu, bukan larut pada perasaanku.”
Eldrey menepis tangan Henry yang menyentuhnya. “Aku tak mengerti. Kenapa kau dan yang lain mengatakan hal yang sama seperti itu? Apa yang kalian lihat dariku?”
“Eldrey.”
“Apa salahku? Kalian meminta maaf padaku. Kenapa kalian membuatku seperti korban begitu? Aku hanya ingin hidup dengan tenang.”
“Eldrey.”
“Aku sudah bersikap patuh. Aku tidak lagi melakukan kekerasan, kenapa kalian minta maaf padaku? Kalian juga membuatku terdengar seperti penjahat. Memang apa yang sudah kulakukan?” ucap Eldrey tak henti-hentinya.
“Eldrey,” Henry menyentuh kedua bahunya.
“Kenapa kalian selalu menangis di depanku?” mata Eldrey memerah dengan napas mulai naik-turun.
“Kenapa saat aku menangis kalian justru tak ada di hadapanku?” Eldrey berbalik menyentuh tangan Henry. Bunga Forget Me Not yang sejak tadi digenggam pun terjatuh.
“Apa salahku? Kenapa? Kenapa kalian bersikap seperti ini padaku?!”suara gadis itu perlahan meninggi. Tampak dirinya mulai kehilangan kendali.
“Jawab aku!” teriak Eldrey.
“Eldrey, apa yang-” pintu tiba-tiba terbuka.
“Nona!” pekik Emily kaget karena mendengar teriakan Eldrey. “Nona! Nona! Apa yang terjadi? Agh!”
Tiba-tiba Eldrey mencengkeram erat lengan Emily. “Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku tidak gila!”
“Apa yang terjadi?!” teriak pelayan lain tiba-tiba. Mereka kaget melihat Emily tampak kesakitan dicengkeram keras Eldrey. “Nona! Nona! Apa yang anda lakukan?!” pekiknya ketika tangan Eldrey mencekik leher pelayannya.
“Eldrey! Hentikan Eldrey! Hentikan!” cegat Henry menahan tangan gadis itu agar melepaskan Emily.
“Lepaskan aku! Beraninya kalian menatapku dengan mata itu!” teriak Eldrey yang menimbulkan kepanikan.
Tapi, kehebohan itu berhasil mendatangkan Charlie dan Reynald ke sana. Spontan Charlie mendekati gadis yang mengamuk itu dan memukul lehernya sehingga pingsan seketika.
“Eldrey! Apa yang-” kalimat Henry tak diacuhkan, karena Charlie sudah terlanjur menggendong Eldrey dan membaringkannya di ranjang.
“Panggil Arlene. Cepat!” perintah Charlie. Pelayan lain terburu-buru menghubungi dokter keluarga Dempster itu. “Apa yang terjadi?” tatapan masam terarah pada orang-orang yang ada di sana.
“I-itu,” Emily gugup lalu menoleh pada Henry.
Wajah Charlie berubah dingin begitu matanya beradu dengannya. Pemuda itu langsung bergidik ngeri dan tak lagi menatapnya.
“Emily! Antar dia keluar. Biar aku yang urus Nona,” perintah Charlie.
Emily mengangguk. Tapi, Henry yang masih kukuh tetap di sana terpaksa angkat kaki karena suasana dan tekanan dari Charlie. Rasa bersalah mencuat ke permukaan, karena dirinya terlibat langsung dengan apa yang terjadi pada Eldrey.
Sesampainya di bawah, justru dirinya disambut tatapan dingin presdir Betrand dan Rondolf.
Henry tak berkutik, tak pula mampu membalas sorot mata mereka berdua. Rasanya seperti akan dikuliti hidup-hidup di sana.
“Ikut aku,” ucap presdir Betrand sambil mengarahkan mata pada Rondolf. Kepala pelayan itu mendorong kursi rodanya menuju ruang keluarga dan diiringi Emily serta Henry.
Keduanya meninggalkan bos besar itu bersama pemuda yang agak takut padanya.
“Jadi, apa yang terjadi?”
Henry perlahan membalas tatapannya. Dengan gugup mulai menceritakan kronologi pertemuan. Rasanya malu, tapi ketakutan juga lebih dominan di sana. Terlebih saat ia mengakui kalau dirinya menyukai Eldrey di hadapan presdir Betrand, debaran jantungnya tidak bisa tenang.
Akan tetapi, respons yang diberikan sang ayah pujaan hati justru jauh dari bayangan.
“Kau menyukai putriku? Kenapa?”
“Hah?” Henry melongo mendengarkan.
“Putriku sudah menolakmu. Dengan tampangmu, kau bisa dapatkan gadis yang lebih baik di luar sana.”
Rasanya jawaban itu sangat aneh baginya. “Kenapa anda bicara seperti itu? Di mataku tak ada yang jauh lebih baik dari Eldrey di luar sana.”
“Kau sudah melihatnya. Mental Eldrey bermasalah. Dia bahkan sudah pernah melakukan tindakan kriminal. Tentu saja kuharap kau tutup mulut atas apa yang kau dengar.”
Henry terdiam. Apa orang ini benar-benar ayahnya? Kalimatnya tak mencerminkan sikap sebagai orang tua.
“Apa karena itu anda mengirimnya ke rumah sakit jiwa?” sorot mata Henry mulai berubah seakan menantangnya.
“Demi kebaikannya. Memang harus dilakukan.”
“Apa-apaan itu? Bagaimana bisa seorang Ayah tega mengirim anaknya ke sana?!”
“Tega? Aku melakukan itu demi dirinya. Seorang anak yang mengarahkan pisau pada orang sekitarnya, apalagi tempat penyembuhan terbaik kalau bukan di sana?”
Sekarang, Henry mulai memahaminya. Dia memang bodoh, tapi sadar kalau lingkungan Eldrey tumbuh bukanlah tempat yang normal.
“Aku mengerti. Sekarang aku mengerti kenapa dia berkata seperti itu. Aku mengerti kenapa dia bersikap seperti itu,” ucapnya dengan nada suara mulai berubah. “Karena kenyataannya, kalianlah yang membuatnya jadi seperti itu.”
__ADS_1