FORGIVE ME

FORGIVE ME
Maafkan aku


__ADS_3

Alice tampak terdiam mendengar permintaan Dean, “pergilah Alice, sepertinya kamu harus menyelesaikan masalahmu dengannya,” ucap Evan.


“Tapi kak!”


“Akan lebih baik seperti itu, untukmu ataupun dia,” Evan melirik Dean dengan dingin.


Alice mengangguk, selesai mendapat izin dari Evan, ia dan Dean pergi dari sana dengan mobil Dean. Evan hanya bisa menatap kepergian mereka dengan celemek Alice di tangan.


Di dalam mobil, mereka berdua tak saling bicara, sampai akhirnya Dean memberanikan diri memulai percakapan. “Maafkan aku.”


Alice meliriknya lewat sudut matanya, “untuk?”


“Semuanya, seharusnya aku menahan papaku mengatakan yang tidak-tidak tentangmu, tapi aku! Aku tak bisa apa-apa,” wajah bersalah terlihat jelas darinya. Sedikit banyak itu mengusik hati Alice, karena bagaimanapun ia tak bisa membohongi perasaannya.


“Tapi papamu benar, aku tidak pantas untukmu, kita terlalu berbeda,” Alice mulai terisak-isak.


“Tapi aku mencintaimu! Kita pasti bisa! Kita sudah sejauh ini Alice!”


“Tapi bagaimana dengan tunanganmu? Bagaimana dengan Erin?! Kita tak bisa menutupinya seperti ini! Aku tidak sanggup lagi Dean! Aku tidak bisa!” air mata pun menetes di sela-sela perkataan Alice.


“Aku yang akan bicara, akan kujelaskan semuanya pada Erin.”


“Jangan!” cegat Alice.


“Kenapa? Dia harus tahu kalau aku tidak pernah mencintainya!”


“Jika kamu melakukan itu, maka persahabatan kami akan berakhir! Aku tak mau itu!”


Dean pun menghentikan laju mobilnya, ia menggenggam tangan Alice untuk menenangkannya, “percayalah padaku, Erin pasti akan mengerti semuanya.”


“Bahkan jika Erin bisa, tapi papamu takkan bisa.”


Dean mengusap lembut air mata Alice yang jatuh ke pipi, “aku akan melakukan apa pun, takkan kubiarkan papa memisahkan kita. Kamu hanya perlu percaya padaku,” jelas Dean. Sentuhan di wajah pun beralih ke kepala, menarik lembut kepala gadis itu untuk jatuh ke pelukannya.


 


 


*******


 


Setelah menyelesaikan masalah di antara mereka, Dean pun mengantarkan Alice kembali ke tempat kerjanya.


Sesampainya di depan toko ...

__ADS_1


“Kalau begitu aku masuk dulu,” ucap Alice.


“Ya.”


Tapi saat Alice akan membuka pintu mobil, lengannya dipegang Dean sehingga gadis itu kaget dan berbalik.


Bibir yang terhubung, Dean pun mengecup pelan Alice sehingga wajah gadis itu langsung merona. “Sampai jumpa,” ucapnya tersenyum pada Alice.


Wajah yang panas dan hati berdebar jelas terpancar dari gadis yang sedang bahagia itu. Dengan terburu-buru Alice langsung turun dari mobil, berlari pelan memasuki toko ditemani ekspresi yang menarik hati Dean.


Ini bukanlah pertama kalinya, tapi saat yang tepat di mana secercah harapan kebersamaan akan tampak, membuat kecupan Dean terasa lebih manis dari biasanya.


Sekarang ia sendiri, dengan meyakinkan hati, Dean pun melajukan mobilnya menuju rumah Erin. Sepanjang perjalanan untaian kalimat pun ia karang agar nantinya bisa disampaikan dengan benar.


Ia tak ingin langkah yang diambil sekarang akan menghancurkan semuanya. Setidaknya satu atau dua buah persiapan akan sedikit membantu dirinya.


Sekitar 10 menit yang diperlukan Dean untuk sampai di rumah Erin memakai mobilnya. Ia pun sampai, di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang cantik. Kumpulan bunga aster pun bermekaran di sana, menimbulkan daya tarik tersendiri untuk mata yang memandang.


“Ting tong!” bel rumah Erin yang dibunyikan.


Dengan penuh harap Dean menunggu Erin menyambutnya, tapi cukup lama ia menanti tanpa jawaban.


“Apakah tak ada orang di rumah?” batin Dean melirik sekeliling rumah. Ia teringat jika ayah dan ibu Erin takkan di rumah karena keduanya sibuk bekerja. Ayahnya bekerja di kantor, sementara ibunya bekerja sebagai seorang guru.


Pintu mobil terbuka, dengan sosok yang sudah akrab bagi dirinya. “Dean!” teriak Erin begitu menutup pintu mobil. Ia berlari menghampiri dan memeluknya. Perlahan-lahan air matanya mengalir di sela-sela pelukannya.


Sepasang mata yang tak jauh dari sana menatap tajam Dean. Dialah Ramses, sang teman yang sudah mengantarkan pacarnya pulang. Dean menatap canggung Ramses mengingat insiden terakhir antara mereka berdua.


“Kamu ke mana saja? Aku sudah menghubungimu berkali-kali,” lirih Erin. Dengan sentuhan lembut, Dean pun menghapus air mata di pipi Erin sambil tersenyum.


“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Dean.


Ramses yang mendengar itu langsung mengatakan apa yang diinginkannya, “Erin, kalau begitu aku pulang dulu,” pamitnya.


Erin melepaskan pelukannya dari Dean. Menatap ke belakang pada Ramses dengan senyum dan mata berkaca-kaca. Ramses pun meninggalkan sepasang kekasih itu tanpa mengatakan apa pun pada Dean.


Sepertinya jurang kosong di antara mereka masih ada dan belum terisi oleh keduanya.


“Dean, ayo masuk dulu,”  ajak Erin padanya. Dengan rasa senang disertai senyum merekah atas sosok Dean yang berada di sisinya, membuat gadis itu merasa semua baik-baik saja. Ya, hanya itu yang tampak di wajahnya, walau hatinya tidak seperti kelihatannya.


Siapakah yang akan baik-baik saja? Saat orang yang dicintai dan menjadi sosok bermakna di statusmu tak bisa dihubungi atau mengatakan apa pun padamu?


Ia lenyap begitu saja. Hilang tanpa kabar, lalu muncul tiba-tiba dan mengajak bicara. Seolah apa yang sudah ia lakukan pudar begitu saja tanpa sisa. Tapi itu sudah cukup bagi Erin. Selama Dean masih menyandang status sebagai pacarnya, itu sudah cukup baginya.


Erin mengajak Dean duduk di ruang tamunya, menyambut kehadirannya dengan sangat menyenangkan.

__ADS_1


“Kamu mau minum apa? Akan aku buatkan,” tanya Erin padanya. Saat gadis itu akan berdiri, Dean menahannya dengan memegang tangannya.


“Tidak perlu, aku hanya ingin bicara denganmu.”


“Bicara apa?”


Dean mengalihkan pandangannya sekilas lalu menarik napas. “Erin, aku ingin putus denganmu,” sejurus kalimat itu keluar tanpa keraguan.


Senyum Erin yang mengembang perlahan-lahan memudar, ia pun menarik tangannya yang di pegang Dean.


“Pu-putus?”


“Ya.”


“K-ka-kamu ingin putus. Putus dariku?” Erin mencoba meyakinkan dirinya dengan apa yang ia dengar.


“Ya.”


Erin terdiam, sorot mata yang menatap Dean dengan rasa masih tidak percaya terlukis jelas di wajahnya. “Kenapa?”


Dean menatapnya dengan rasa bersalah, “maafkan aku.”


“Dean?”


Dean tak menjawabnya, tapi tatapannya sudah mengartikan hal itu dengan jelas. Erin yang merasakan itu, diselimuti oleh sesuatu yang melumpuhkan pikirannya.


“Kamu ingin putus dariku? Kenapa?!” Air mata gadis itu akhirnya tumpah. Pertanyaan dari suara seraknya dengan jelas menandakan keterkejutannya.


“Maafkan aku.”


“Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak mau Yan, aku tidak mau!” gigih Erin.


“Maafkan aku.”


“Aku tidak mau!”


“Erin, maafkan aku. Ini semua memang salahku, tapi kita tak bisa seperti ini.”


“Tidak bisa? Hiks, hiks ... Apa maksudmu tidak bisa? Memangnya kenapa? Apa yang salah?” air mata Erin semakin deras jatuhnya.


“Semuanya, dari awal semua ini sudah salah.”


Erin semakin terisak-isak, hatinya benar-benar tak bisa menerima ini semua. “Kenapa? Apa yang salah? Kita saling suka, apa yang salah dengan itu,” Erin menatapnya dengan sangat menyedihkan.


“Maafkan aku.”

__ADS_1


__ADS_2