
Kevin pun menatap ke bawah, ke arah tangannya yang digenggam gadis tersebut. Ia lalu mengalihkan arah pandangan dan menatap lekat wajah di depannya itu.
“Aku harap kau tidak mengatakan apa pun yang kau lihat pada siapa pun, kau tahu? Charlie sangat tidak suka dengan mereka yang tak mendengarkan,” lirih gadis itu mencengkeram erat genggamannya.
“Kau mengancamku?”
Gadis itu tersenyum, “aku hanya memberi tahu yang terbaik untukmu, aku harap tuan Kendal tidak melihat koran tentang kematian anak muda tanpa kepala, karena mungkin saja dia tak tahu mayat siapa itu nantinya.”
Kevin menatap tajam Eldrey, sekalipun ia mencerna ucapan gadis itu, sudah jelas kalau ia sedang diancam sekarang. Basa-basinya yang tadi cuma sekedar ocehan awal untuk menghangatkan suasana. Inilah inti pembicaraan yang sebenarnya ingin ia sampaikan.
Bagaimanapun juga, Kevin tahu dengan posisinya sekarang. Ia berada dalam situasi yang sulit di mana dirinya mungkin saja dilenyapkan tanpa sisa.
Mengabaikan ancaman Eldrey hanya akan merugikannya, ia juga berada dalam markas musuh sekarang.
Terlebih lagi, tak jelas apa yang dipikirkan gadis itu. Mengingat dirinya sudah membunuh orang tanpa pandang bulu tepat di depan mata Kevin.
Dirinya masih syok dengan itu, tapi situasi mencekam yang dialami Kevin mendorong dirinya untuk cepat menerima situasi.
Gadis di hadapannya benar-benar tak main-main dengan ucapannya. Terlebih lagi mereka adalah orang yang berasal dari keluarga berpengaruh di benua itu.
“Melihat kau diam saja sepertinya kau sudah paham posisimu. Kami tak ingin berurusan dengan Kendal karena akan menarik perhatian nantinya. Kau anak yang pintar, karena itu kau pasti paham bagaimana kelanjutannya tanpa kami ucapkan bukan?” jelas Eldrey santai.
Kevin terdiam, lambat laun ia pun membuka mulutnya. Tetapi ....
“Brak!” pintu kamar dibuka dan tampaklah Charlie di balik pintu itu.
“Ayo turun, mereka sudah menyiapkan makanan,” jelas Charlie lalu mendekati Eldrey dan menggendongnya.
“Ikuti aku!” perintahnya pada Kevin.
Anak itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki mereka menuju ke bawah.
Di lain tempat yang berbeda, tampak seorang gadis sedang berjalan seperti orang yang kehilangan arah.
Matanya merah dan agak sembab, dialah Alice. Gadis yang dimarahi oleh tuan Kendal di depan umum. Gadis yang selalu direndahkan jika bertemu dengan orang itu, gadis yang selalu dihina secara tak langsung di depan matanya sendiri.
Apakah salah dirinya terlahir dari keluarga yang seperti itu? Apakah salah ibunya?
Apa salahnya sampai-sampai ia tak pantas berteman dengan Dean atau menjadi pendampingnya suatu saat nanti?
Apakah suatu kesalahan orang dengan latar belakang seperti dirinya jatuh cinta?
Kenapa hidup rasanya sekejam ini?
__ADS_1
Setidaknya itulah untaian kata yang sempat berlalu di benaknya. Ingatan menyakitkan yang membayangi dirinya. Sebuah kenyataan yang dihadapi dirinya namun sulit diterima benaknya.
Kenapa?
Karena di hati kecilnya Alice, memang sangat mencintai Dean yang merupakan pacar sah sahabatnya.
Gadis itu menapaki jalanan yang ramai, tak jelas ke mana langkah kakinya. Hanya satu hal yang pasti, ia ingin menenangkan dirinya.
“Alice?” panggil seseorang di belakangnya.
Deg!
Detak jantungnya kaget saat menyadari sosok yang memanggilnya.
“Rams?”
“Sedang apa kamu?”
“A-aku!”
Ramses pun langsung mendekat dan menyentuh wajah gadis itu. “Kamu habis menangis?”
“Ti-tidak! Itu aku!” gadis itu gelagapan dan mengalihkan pandangannya sehingga terlepas dari sentuhan Ramses.
“Ada apa?! Kamu kenapa?!” tanyanya sambil memegang bahu Alice.
“Kamu habis dari rumah sakit? Apa ini ada hubungannya dengan Eldrey?!” tebak asal laki-laki itu.
“Tidak! Ini tidak ada hubungannya dengannya!”
“Terus?! Kenapa kamu menangis?!”
“Tidak ada apa-apa!”
“Tidak ada apa-apa?! Aku jadi yakin kalau ini ada hubungannya dengannya Eldrey! Apa kamu dimarahi penjaga Eldrey?!”
“Stop! Ini tak ada hubungannya dengan dia!” bentak Alice mulai tak tahan ditanyai terus olehnya.
Ramses pun terdiam mendengar respon Alice itu. “Maafkan aku Rams, tapi aku harus pulang!” lirih Alice lalu pergi meninggalkannya.
“Tunggu Liz! Tunggu!” cegat Ramses menarik erat tangan gadis itu sehingga membuatnya berhenti paksa dan menoleh lagi ke arah laki-laki tersebut.
“Lepaskan aku! Aku ingin pulang!” ronta Alice tiba-tiba.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih?! Aku hanya ingin mengantarmu pulang!” tukas Ramses sambil melonggarkan pegangan tangannya.
“Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri!” ucap gadis itu agak emosi.
“Kamu kenapa sih? Gak kayak biasanya!” tahan Ramses sambil masih memegang tangannya.
“Aku gak ada apa-apa! Aku bisa pulang sendiri!” sergah gadis itu, tanpa disadari kristal bening pun mengalir dari matanya.
“Lepaskan aku!” sahut Alice emosi, air matanya semakin tak tertahan, alirannya kian deras membuat Ramses kaget menatapnya.
Tak hanya dirinya, tapi orang-orang di sekelilingnya juga menatap heran pada Alice yang tiba-tiba menangis.
“Kamu kenapa?!” Ramses pun kelabakan lalu menarik tangan Alice menjauh dari keramaian itu. Mereka pun memasuki gang yang agak sepi.
“Liz! Kamu kenapa?!” tanya laki-laki itu sambil menatap lekat Alice yang mengusap kasar pipinya untuk menghapus air matanya.
“Liz ....” masih tak ada jawaban kecuali gumaman sedih dari gadis yang menahan beban di hatinya. Ramses yang tak tahan dengan keadaan Alice pun pelan-pelan menyentuh pipinya.
Ia mengusap gumpalan air mata yang meleleh di pipi Alice. Ia benar-benar penasaran, tapi di satu sisi Ramses tak bisa memaksa Alice untuk menceritakannya.
Akhirnya hanya tindakannya yang berbicara.
Ramses pun memeluk Alice untuk menunjukkan sikapnya pada gadis itu. Ia memeluk erat Alice dan menyentuh rambut gadis itu lalu membelainya lembut.
“Tenang saja, aku ada di sini, menangislah ... Aku akan jadi sandaranmu ....” lirih pelan Ramses di dekat telinga gadis itu.
Alice yang mendengarnya pun menumpahkan emosinya dengan membalas pelukan Ramses. Ia menenggelamkan wajah sendunya di dada laki-laki yang memendam rasa untuknya.
Tak ada kata, kecuali suara air matalah yang menemani mereka saat ini. Ramses pun tetap melanjutkan tindakan lembutnya sebagai bukti perhatian pada gadis yang ia sukai itu.
Di ruang makan di tempat yang menjadi tempat peristirahatan mendadak bagi Kevin dan Alice pun tampak keduanya sedang berkumpul di meja makan. Di sana tak hanya ada dirinya, tapi juga ada dua orang bawahan Charlie yang baru datang serta sekretaris Roma yang duduk tepat di hadapan Kevin.
“Dokter Arlene mungkin nanti akan menyusul, kita duluan saja,” jelas Ayumi pada mereka.
“Baiklah, aku lapar! Jadi aku akan makan duluan!” tukas Charlie memainkan sendoknya.
Tapi suasana makan sangatlah tidak enak, terlebih lagi pandangan sekretaris Roma pada sekelilingnya, membuat makanan jadi terasa hambar.
“Bagaimana bisa anda bersikap sesantai ini setelah ada penyerangan pada salah satu anggota keluarga?” tanya Sekretaris Roma.
Charlie pun menatapnya, “ayolah, jangan memperburuk suasana, apa kau tidak ingin kita makan dengan damai?!”
“Lihatlah nona! Ia makan dengan lahap! Bukankah kondisinya yang harus kau tanyakan terlebih dahulu?!” sambungnya.
__ADS_1
Eldrey tak mengacuhkan mereka dan tetap makan dengan lahap, “aku lapar, mari fokus makan. Jangan membuat orang-orang di meja ini kehilangan selera makan karena bisnis kotor kalian,” ledek Eldrey sambil mengunyah pelan makanannya.
Kevin pun memilih mendengarkan ocehan mereka tanpa mengangkat kepalanya. Ia fokus menatap piring yang berisi makanan di depannya. Seolah-olah ia merasa tulangnya membeku dengan tatapan dingin sekretaris Roma yang menembus kulitnya.