FORGIVE ME

FORGIVE ME
Sindiran tak berbatas


__ADS_3

“Kenapa kau mengatakan itu?”


“Apa maksudmu?”


“Tentang penyerangan itu, kau tahu bukan jika itu harus dirahasiakan?” ujar Charlie bernada jengkel.


“Aku merahasiakannya.”


“Kau yakin?”


“Ya, kau juga mendengarnya, kecuali telingamu rusak. Aku tak ingat pernah mengatakan yang sebenarnya pada mereka,” sahut Eldrey sombong.


“Kau membuatku malas untuk berdebat. Maksudku tentang penyeranganmu, tak seharusnya itu keluar dari mulutmu.”


“Kenapa? Wanita itu bertanya, tentu saja kujawab. Setidaknya sekarang mereka bersimpati dan merasa berhutang padaku,” Eldrey pun merebahkan kepalanya.


“Itu yang kau inginkan? Yah, tuan Harel memang orang yang lunak, tak heran jika dia perhatian padamu. Terlebih lagi melihat ekspresi terakhirmu,” sindir Charlie. “Benar juga, dari kemarin ponselmu sangat berisik, sepertinya ini temanmu.”


“Temanku?” Eldrey mengambil ponsel yang disodorkan padanya. Menatap layar dengan ekspresi enggan.


“Mungkin? Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu.”


Eldrey tak menjawab, kecuali mengirimkan pesan pada orang yang dituju. “Antar aku ke Ertera,” pinta Eldrey.


“Apa harus? Sekarang aku sibuk, jadi kau di rumah saja.”


“Kalau begitu pilihkan bawahanmu untukku.”


“Tidak, kau tak boleh keluar tanpa pengawasan,” tegas Charlie.


“Temanku ingin bertemu denganku.”


“Kalau begitu suruh dia ke sini. Aku tak bisa ambil resiko seperti kecorobohan Roma,” tolak Charlie mentah-mentah.


“Tapi aku sudah mengirim pesan akan menemuinya di sana.”


“Nona, lihatlah kondisimu. Bahkan Rondolf ataupun Roma juga tak di sini. Tak ada yang lebih baik selain kau tetap di rumah.”


Eldrey pun menghela napas kasar. Ia menggerakkan kursi rodanya ke kamar. Charlie memilih beranjak dari sana, “Emily!” panggilnya.


“Ya tuan.”


“Aku ada urusan. Awasi nona agar ia tidak ke mana-mana. Pengawasan kuserahkan padamu,” perintahnya.


“Baik tuan,” angguk Emily. Charlie pun meninggalkannya dengan kunci mobil di tangan.


Alice yang membaca pesan dari Eldrey pun langsung terburu-buru meminta ijin pada bu Anna. Ia izin kerja karena ingin menemui sahabat yang sudah beberapa hari tak ada kabarnya.


Dengan wajah penuh harap ia menaiki taxi menuju tempat janjian. Sekitar 18 menit waktu yang perlu ditempuh untuk sampai ke sana. Ertera, atau dikenal sebagai taman bunga. Hamparan bunga poppy serta bunga iris menghiasi semenanjung taman itu.


Alice akhirnya sampai di sana, mencoba mencari sosok yang akan ia temui. Alice memilih menghubungi Eldrey, karena bagaimanapun juga, mencari sosoknya di taman yang luas itu seperti mencari buah di tumpukan batu. Bisa ditemukan, namun memakan waktu.


Akan tetapi panggilannya tak dijawab. Dengan perasaan kecut ia mengulanginya lagi. Tapi hasilnya masih tetap sama. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk datang padanya.


Maafkan aku, tapi aku tak diizinkan pergi karena kondisiku.


Hanya itu isi pesan yang dikirimkan Eldrey padanya. Alice pun buru-buru membalasnya, mencoba memastikan di mana keberadaan gadis itu sekarang. Tapi, Eldrey tak lagi membalasnya. Perasan Alice langsung berubah saat gadis itu juga tak mengangkat panggilannya. Entah apa yang sedang terjadi padanya.


“Eldrey, kamu kenapa? Kenapa tak angkat panggilanku? Apa yang sebenarnya terjadi? ” risaunya. Ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk bertemu dengan sahabatnya itu.

__ADS_1


Sore harinya, sebuah mobil sedan hitam memasuki kediaman presdir Betrand. Seorang gadis pun turun dari sana, melangkah dengan angkuh seolah tak peduli itu rumah siapa.


Seorang pelayan datang menyambutnya, “selamat sore nona.”


Gadis itu tak menjawab, kecuali membalas dengan tatapan merendahkan. “Sepertinya paman tak di rumah, jadi di mana Eldrey? Aku ingin bertemu dengannya.”


“Nona sedang beristirahat di kamarnya.”


“Kalau begitu suruh dia ke sini! Aku ingin bertemu dengannya!” perintah gadis itu, dengan nada meninggi.


Pelayan itu tak menjawab, ia merasa ragu untuk menuruti perkataan nona itu. “Kenapa kau diam saja?! Apa kau tak tahu siapa aku?! Aku ini sepupunya! Aku keponakan bos kalian!” teriaknya. Sampai pelayan lain pun datang karena mendengar teriakan yang tak tahu sopan santun itu.


“Ada apa nona?” tanya Emily.


“Hei! Kau pelayan di sini? Apa-apaan kalian?! Kuperintahkan untuk memanggil Eldrey! Kenapa kau diam saja?! Apa kalian sadar sedang berhadapan dengan siapa?!” bentaknya.


“Selamat siang.”


Mereka menoleh pada arah suara yang memotong pembicaraan. Sesosok anak muda dengan pandangan heran menatap kebisingan itu. Lily, sepupu Eldrey yang dari tadi berteriak-teriak tak jelas langsung terdiam menatapnya. Menutup mulut, lalu bersikap seolah tak ada yang terjadi.


“Selamat datang tuan Kevin,” sambut pelayan bernama Emily itu. “Anda ingin bertemu dengan nona?”


“Iya, apa boleh?”


“Boleh, saya akan mengantarkan anda ke kamarnya.”


“Tidak perlu, aku juga mau ke kamar Eldrey, biar aku saja yang antarkan,” potong Lily.


Kedua pelayan itu menatap Lily dengan ekspresi enggan. “Baiklah nona, nona Eldrey ada di kamarnya yang biasa,” jelas Emily akhirnya mempersilakan.


“Ayo, aku akan mengantarmu.”


“Namaku Lily, aku sepupu Eldrey, siapa namamu?” Lily memperkenalkan dirinya.


“Kevin.”


“Kevin ya, nama yang bagus sekali. Apa kamu teman Eldrey?”


“Mmm.”


“Tak kusangka Eldrey akan punya teman sepertimu, mengingat kepribadiannya itu.” Kevin menoleh pada Lily, merasa heran dengan maksud ucapannya itu. “Kamu tidak tahu? Padahal kalian berteman? Benar-benar tak kusangka,” ucap Lily dengan ekspresi kaget seolah tak percaya sambil menutup mulutnya.


“Apa maksudmu?”


“Eldrey itu suka bermain dengan banyak pria, bahkan sudah tak terhitung berapa banyak teman lelakinya yang tidur bersamanya. Kuharap kamu hati-hati agar tak jatuh dalam jebakannya.”


Kevin benar-benar merasa heran pada perkataan Lily. Bagaimana tidak? Dia sepupunya, bukankah tidak pantas mengatakan itu pada orang asing sepertinya bahkan jika itu benar?


“Oh ya, apa aku boleh minta nomormu? Mungkin saja kita cukup akur untuk berteman,” pinta Lily sambil memegang lengan baju Kevin.


“Maaf, tapi ponselku ketinggalan.”


“Kamu cuma perlu memberi tahu nomormu.”


“Aku tidak ingat, karena itu aku butuh ponsel,” ujar Kevin tanpa menatapnya.


“Ya sudah, nanti akan kutuliskan punyaku untukmu. Jadi kamu bisa langsung menghubungiku,” tukas Lily sambil tersenyum. Sepertinya ia mengucapkan itu dengan sangat percaya diri, seolah yakin kalau Kevin nanti akan menghubunginya.


Mereka berdua pun sampai di depan kamar Eldrey. “Eldrey, ini aku. Aku masuk ya!” ucap Lily langsung membuka pintu. Kevin tak percaya jika gadis itu sangat lancang. Padahal dirinya sendiri juga seperti itu saat memasuki kamar Dean.

__ADS_1


Tampak sosok Eldrey yang sedang duduk di atas meja sambil membaca buku. Ia tak tersenyum saat menatap kedatangan mereka berdua, walaupun dirinya sudah diberi tahu Emily lewat telepon, kalau kedua orang itu sedang menuju ke kamarnya.


“Hei, bagaimana keadaanmu? Aku sangat khawatir karena kamu tiba-tiba pulang kemarin. Bukankah tidak sopan melawan nenek seperti itu? Kamu sudah tahu bukan kalau nenek itu sakit? Apa kamu ingin tambah menyakiti nenek dengan sikapmu itu?” oceh Lily panjang lebar.


Kevin benar-benar merasa aneh dengan perkataan yang dilontarkan gadis itu. Seolah-olah seperti sedang menjatuhkan Eldrey.


Tak ada jawaban, kecuali tatapan datar dari Eldrey pada mereka. Lily tak peduli itu, dan langsung mengambil pena yang tampak olehnya, menyobek sebuah buku tanpa ia ketahui isi ceritanya. Menuliskan sesuatu lalu menghampiri Kevin dan menyodorkannya.


“Ini nomorku, kamu bisa menghubungiku.” Dan gadis itu langsung memasukkannya ke dalam saku jaket Kevin tanpa rasa malu. “Ayo duduk Kevin, seharusnya Eldrey yang menyambutmu, tapi karena kondisinya seperti itu, jadi kamu maklum saja ya.”


“Oh ya, apa-apaan ini? Apa tak ada pelayan yang akan membawakan sesuatu? Bisa-bisanya pelayanan di sini buruk begini,” ocehnya tak henti-hentinya. Ada saja yang keluar dari mulut manisnya, sepertinya air liurnya takkan mengering jika ia mengoceh terus.


Kevin merasa dirinya ada di situasi yang salah. Di mana dirinya seperti sedang dikepung seekor burung cerewet dan seekor macan yang sedang diam mengintai mangsa. Seperti itulah sensasi rasanya sekarang.


“Kamu sepupuku bukan? Jika ingin diperlakukan seperti tamu, bukan di sini tempatnya,” tegur Eldrey akhirnya.


Muka Lily langsung memerah, merasa malu dengan perkataan Eldrey yang seolah menjatuhkannya di depan Kevin. Walaupun ia tersadar jika kalimat itu sama dengan kalimat yang ia ucapkan pada Eldrey saat gadis itu berkunjung ke rumah neneknya.


“Benar juga, mungkin karena sudah lama tidak ke sini aku jadi sedikit canggung. Sudah seharusnya aku menganggap ini seperti rumahku sendiri.” Lily pun menatap Kevin yang sudah duduk di sofa. “Kevin kamu mau minum apa? Seingatku Eldrey punya simpanan di kulkasnya.”


“Terserah saja,” akhirnya Kevin bersuara.


Lily yang tersenyum melangkah menuju sebuah ruangan tanpa pintu di mana kulkas berada. “Wow! Lihat apa yang kutemukan!” Lily membawa minuman yang tak diduga. Dua minuman kaleng dan sebotol wine yang ia goyang-goyangkan. “Kamu meminum ini? Bisa-bisanya kamu menyimpannya di bawah meja,” sindir Lily.


“Kudengar kamu juga sering ke club, apa yang kamu lakukan di sana? Apa ayahmu tahu? Kupikir, sepertinya kamu sudah menikmati dunia malammu terlalu jauh,” sambung Lily. Ia sepertinya tak berniat memberikan orang lain kesempatan berbicara, mengingat hanya suaranya saja yang dari tadi terdengar.


Eldrey merubah sorot matanya, “benar, karena itu club keluargaku. Apa salahnya seorang bos datang memeriksa bisnisnya? Jika mau, aku bisa membuat gadis-gadis sepertimu menari tanpa pakaian di sana. Benar juga, bukankah kau sudah melakukannya? Atau mungkin itu seseorang yang mirip denganmu? Seingatku ada rekamannya di Sextoria ....”


“Tutup mulutmu! Beraninya kamu bicara omong kosong seperti itu!” potong Lily emosi. Mukanya benar-benar memerah karena dipermalukan seperti itu di depan Kevin. “Dasar anak pelac*r!” umpat Lily dengan menurunkan volume suaranya. Ia pun segera keluar kamar Eldrey tanpa peduli lagi sekelilingnya dengan membanting pintu kamar.


“Tap!” Eldrey turun dari meja, langkahnya yang pasti langsung mengambil pisau buah di atas meja.


“Eldrey?”


Gadis itu berjalan menuju pintu dengan pisau di tangannya. Seolah tak peduli dengan keberadaan Kevin di dalam kamarnya.


“Eldrey! Apa yang mau kamu!” Saat menyadari ekspresinya, Kevin langsung berlari memegang bahu gadis itu yang sudah menyentuh gagang pintu.


“Buakh!” Eldrey berbalik dan memukul perutnya.


“Aaakh!” erang Kevin kesakitan. Gadis itu menjatuhkan pisau di tangannya, menarik lengan Kevin dan memegang bagian belakang tubuhnya lalu membanting Kevin dengan keras. “Uugh!” erang Kevin. Eldrey yang berada di atasnya mengambil pisau yang tak jauh di dekatnya. Wajah Kevin langsung pucat pasi saat menyadari apa yang ada di tangan gadis itu.


“Eldrey!” teriak Kevin. Ia memegang tangan gadis itu dengan erat sebelum pisau sempat dihunuskan. Menyerang kakinya yang sedang menahan posisi sehingga keseimbangan Eldrey runtuh.


Posisi pun berbalik di mana Eldrey di bawah dan Kevin di atas seperti sedang menindihnya, sambil menahan erat kedua tangan gadis itu agar tak bergerak lagi. “Apa yang mau kamu lakukan?! Apa kamu gila?!” Kevin masih tak percaya dengan apa yang akan terjadi. Napasnya memburu, merasa kalau gadis itu akan melakukan hal gila jika ia tadi tak bergerak cepat.


“Berisik apa ini?!” pintu dibuka kasar. Tampak wajah Lily yang tadi sudah pergi muncul dengan ekspresi kaget dan mulut menganga. Pemandangan yang menimbulkan kesalah pahaman memerahkan mukanya. “Kalian!”


“Kenapa kau kembali lagi? Apa kau diajarkan mengganggu orang yang sedang sibuk?” ucap Eldrey dingin. Wajah Lily semakin geram, dengan kasar ia banting pintu itu. Merasa terhina melihat pemandangan di mana dirinya mengira Kevin dan Eldrey sedang bermesraan. “Lepaskan aku, kubilangin lepas!”


Kevin pun perlahan melepas pegangannya yang menahan tangan Eldrey, di mana gadis itu memegang bekas luka di perutnya dan menutup matanya memakai salah satu punggung tangan dengan ekspresi tak terduga.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2