FORGIVE ME

FORGIVE ME
Dilema seorang pemuda


__ADS_3

“Obat tidur.”


“Apa!”


Pupil bergetar gadis itu menyiratkan kalau sosoknya masih saja tersiksa. Bahkan tangan kanannya terlihat melilit perut akibat hantaman yang menerpa.


Napasnya semakin tidak beraturan, menatap seakan memohon bantuan.


Kevin mendadak berkeringat dingin karena tekanan dari keadaan sosok yang disukainya.


“Pingsankan aku.”


“Eldrey.”


“Lakukan saja Kevin atau tiduri aku!” hardik putri Dempster tiba-tiba.


Syok pun mendera sang pendengar. “A-apa yang kamu—”


“Dan aku—” Eldrey semakin menundukkan tubuhnya. “Akan membunuh kita berdua,” ucapnya sambil mengetatkan rahang akibat tak sanggup lagi menahannya.


Perlahan ia angkat kepalanya dan menatap Kevin dengan wajah memerah mata hampir berkaca-kaca.


“Pingsankan aku,” pintanya. Bahkan tangannya yang gemetaran dan berhiaskan darah itu mulai menyentuh rupa sosok di sampingnya. “Kevin,” tampak Eldrey bersusah payah mengontrol dirinya.


“Baiklah,” setuju pemuda itu. Jujur saja, tindakan ini jelas-jelas mengusik pikirannya takut kalau seandainya terjadi apa-apa. Bagaimanapun juga, Kevin tak tahu apakah dengan membuat pingsan Eldrey bisa membantu menghentikan efek obat perangsang.


Tapi setidaknya itu lebih baik agar putri Dempster tidak tersiksa lagi.


Tangannya mulai terulur menggeser kuciran rambut Eldrey. Dengan hati-hati ia tatap posisi yang akan dipukulnya.


Dan ya, dalam sekali hentakan ke area sekitar tengkuknya gadis itu pun jatuh pingsan. Untungnya tepat sasaran, karena kalau gadis itu gagal tidak sadarkan diri, pukulan barusan lumayan sakit untuk seorang wanita.


Perlahan ia keluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.


“Halo,” jawab sosok di seberang telepon.


“Di mana?”


“Di luar.”


“Kembali kemari, aku butuh bantuan Cassy.”


“Oh, oke,” jawab singkat Steven dan panggilan pun langsung terputus.


Pemuda itu pun memandang lekat putri Dempster yang masih di dalam bathtub dalam keadaan pingsan. Disentuhnya kedua tangan Eldrey di mana luka jelas menganga.


“Cih!” decih Kevin entah kenapa.


Beberapa saat kemudian Cassy, wanita yang dari tadi bersama Steven pun datang.


“Ada apa?”


“Tolong ganti bajunya.”


“Hah?” kagetnya. Kevin dan Steven sama-sama melirik ke arahnya. “Oh, oke, tolong gendong dia dan dudukkan saja di sini.” Tunjuknya pada tempat duduk sekaligus nakas penyimpanan handuk itu.


Sementara Kevin menggendong putri Dempster, Cassy sibuk mencari pakaian yang bisa ia pinjamkan pada Eldrey.


“Ini muat atau tidak ya,” gumamnya melihat dalaman baru yang memang sengaja ia beli sebelum menginap di Hotel. “Ah, sudahlah yang penting ada.”


Di saat yang bersamaan di kamar mandi, “tangannya,” gumam Steven menatap telapak Eldrey yang masih mengalirkan darah. Terlihat Kevin begitu berhati-hati mengobatinya. “Rasanya tadi tidak begitu.”


“Mungkin dilukai saat sudah di sini.”


“Tapi kenapa kamu malah membuatnya pingsan? Kenapa tidak—”


“Apa?” tanya Kevin tiba-tiba dengan ekspresi tenangnya. “Jangan berpikir aneh-aneh, aku takkan melecehkannya.”


“Maksudku bukan begitu. Lagi pula bukankah kalian pacaran? Jadi menurutku—”  


“Kami sudah putus. Apa pun kondisinya, aku tak boleh merusaknya. Dia benar-benar menjaga kehormatannya.”


Steven terdiam mendengar pernyataan temannya. Begitu pula Cassy yang masih berdiri diam dekat pintu masuk.


“Sudah selesai. Selesai ganti baju panggil saja aku biar kugendong nanti,” Kevin menoleh pada perempuan itu dan keluar kamar mandi bersama dengan Steven.


Saat Cassy mengurus putri Dempster, dua pemuda itu pun berbincang di luar kamar.


“Sekarang katakan padaku apa yang terjadi.”


Akhirnya, Steven pun menceritakan kronologi bagaimana bisa dia bertemu dengan Eldrey. Namun setiap berbicara, dirinya mengernyitkan dahi bingung karena ekspresi temannya agak tidak biasa.

__ADS_1


Tapi satu hal yang pasti, Kevin pasti memendam emosi di sana. Karena tampangnya mendingin melirik ke arah pintu kamar di ujung seberang posisi berdirinya.


Ya, lokasi di mana Steven menghajar Samuel akibat kelakuannya pada Eldrey.


“Selanjutnya apa yang akan kau lakukan?”


“Aku akan bawa dia ke Dokter. Bagaimanapun juga lukanya perlu ditangani dengan serius.”


“Lalu si bajingan itu?”


“Akan kuurus nanti. Bagaimanapun Eldrey lebih penting.”


Pintu kamar pun terbuka dengan sosok Cassy mengintip di celahnya.


“Sudah selesai.”


Kevin pun melewatinya dan menggendong Eldrey untuk pergi dari sana. “Terima kasih,” ucapnya dan berlalu meninggalkan mereka.


“Sepertinya dia benar-benar menyayanginya,” lirih Cassy tiba-tiba sambil sorotan tetap memandangi kepergian Kevin.


“Begitulah.”


“Padahal aku baru pertama kali lihat Kevin seperti itu lho. Kupikir dia akan menidurinya.”


“Dia mencintainya.”


“Lalu?”


Steven pun menghela napas pelan dan tersenyum pada sosok di sebelahnya. “Tentu saja dia takkan berani menyentuhnya.”


“Tapi gadis itu tersiksa, bagaimanapun efek obat perangsang takkan lenyap semudah itu begitu saja.”


“Karena itu dia membuatnya pingsan.” Cassy pun tertawa renyah entah kenapa. “Apa yang lucu?”


“Tidak. Aku hanya takjub kalian bukan laki-laki bajingan.”


Steven yang mendengarnya menatap malas dan memasuki kamar dengan santai.


“Entah kenapa aku tidak merasa tersanjung.”


“Padahal kalian tampan, dan kamu juga sudah berpacaran bertahun-tahun. Apa kamu tidak berniat melakukan itu? Lagi pula siapa pun pasti menginginkannya.”


Langkah Steven pun terhenti dan mengambil minuman di kulkas.


“Kenapa diam saja? Tapi apanya?” penasaran Cassy akibat laki-laki itu tak kunjung mengatakan lanjutannya padahal sudah selesai meneguk minumannya.


Dan Steven pun tersenyum tipis padanya. “Tapi sayangnya, perempuan itu bukan sekadar penghangat ranjang, Cass.”


Wanita itu pun terkesiap mendengar kalimat tak terduga dari teman di depannya.


“Itu—”


“Yah, aku takkan munafik jika diriku kadang melihat hal-hal konyol atau mencium sembarangan pacarku. Tapi yah, hanya itu. Kupikir aku tak perlu merusaknya begitu jauh, karena bagaimanapun juga dia belum tentu jadi milikku. Dan mereka juga bukan sekadar pemuas nafsuku. Kurasa teman-temanku juga memegang prinsip seperti itu. Bukankah kami pemuda yang hebat?” kekehnya.


“Dasar,” cibir Cassy sambil mengukir senyum remeh di bibirnya.


Lalu Kevin yang sedang mengendarai mobilnya, sesekali menoleh pada putri Dempster. Tatapan lagi-lagi terpaku pada wajah pingsan gadis itu.


Mungkin ia khawatir dengan keadaannya. Sampai akhirnya dirinya tiba di tempat tujuan yang diinginkannya.


Di sebuah rumah sakit.


Sambil terus menggendong Eldrey, ia lewati siapa pun yang memandangnya. Sampai di sebuah ruangan milik seorang Dokter yang setahun dua tahun lebih tua dari Sekretaris Roma.


“Lho, Kevin? Kamu—”


“Tolong periksa dia. Tangannya terluka dan dia minum obat perangsang. Sekarang dia pingsan,” jawabnya dan menidurkan Eldrey di brankar.


“Apa!”


“Aku urus administrasinya dulu,” pamit Kevin. “Dan jangan macam-macam dengannya,” tekannya menoleh lagi.


Tentunya sang Dokter agak terperangah mendengar penjelasan sepupu bungsunya. “Tunggu dulu, jelaskan dengan benar. Dia siapa?”


“Dia calonku. Dia minum obat perangsang dan melukai tangannya untuk menahannya. Jadi aku terpaksa memukulnya agar dia pingsan.”


“Kamu memukulnya?! Kamu gila?! Kamu memukul perempuan!”


“Terpaksa! Sudah periksa saja dia,” dan Kevin pun pergi meninggalkan sepupunya.


Sang Dokter mendekati Eldrey dan menatap perban yang membalut kedua telapak tangan gadis itu.

__ADS_1


“Ini,” kagetnya saat mendapati jejak-jejak luka pada lengan kiri putri Dempster. Sontak saja ia tatap gadis itu dan kembali melirik lengannya. Mengingat sosok yang pingsan mengenakan baju kaos berlengan pendek sehingga bekas luka bisa terlihat sepenuhnya.


Dan pria itu pun memanggil suster untuk membantunya.


Beberapa saat kemudian, Kevin merasa dilema. Dia ingin memberitahu keluarga Eldrey, tapi bingung harus bagaimana menjelaskannya. Terlebih ia tak tahu siapa pelaku kurang ajar yang sudah membuat putri Dempster jadi seperti ini.


Walau sudah meminta Steven menanyakan pada pihak Hotel tentang insiden sebelumnya, mereka jelas menutupi kenyataan dengan alasan privasi pelanggan.


Sepertinya sang pelaku orang berpengaruh di sana. Bahkan ancaman dibawa ke jalur hukum tak bisa menggertak mereka.


Sialnya lagi, Steven tak bisa menjelaskan ciri-ciri laki-laki bajingan itu akibat terlalu terburu-buru menghajarnya.


Informasi tersisa hanya pada Eldrey yang pingsan.


“Bagaimana?”


“Dia baik-baik saja. Beruntung lukanya cepat diobati sehingga tak jadi infeksi. Tapi,” sekarang tatapan sang Dokter kian serius. “Lengan kirinya itu, apa kamu sudah tahu?”


“Mm.”


“Dari pada disiksa, lebih terlihat seperti menyakiti diri sendiri. Apa dia sering melakukan percobaan bunuh diri?”


Kevin diam tak menjawab apa pun selain memandangi Eldrey.


“Bahkan obat perangsang? Apa-apaan itu? Kau bilang dia calonmu? Apa jangan-jangan dia meminum itu untu—”


“Dia dijebak,” potong putra Cesar seolah tahu lanjutan kalimat sepupunya. “Dia gadis baik-baik jadi jangan aneh-aneh.”


“Gadis baik-baik ya,” Dokter itu pun kembali melihat lengan Eldrey dan disadari Kevin.


“Dia punya trauma, dia korban penculikan dan anak broken home. Dia putri keluarga Dempster.”


“Tunggu, apa!”


“Kenapa kamu malah teriak? Ini rumah sakit!”


Terlihat sang Dokter sontak menutup mulutnya dengan tangan. “Tidak sengaja. Tapi, dia dari keluarga Dempster? Dan kamu bilang dia calonmu? Kamu bercanda?!”


Kevin pun menatap malas padanya. “Aku serius!”


“Benarkah? Kenapa aku malah tak percaya ya? Kamu yakin dia calonmu? Dia Dempster, apa keluarganya mau menerimamu?”


“Sialan! Tutup mulutmu, Rick!”


“Dasar! Aku ini lebih tua darimu bodoh!”


Tapi, pembicaraan mereka terganggu karena ada panggilan untuk sang Dokter agar menuju ruang IGD.


“Tetap di sini, kurun dua sampai enam jam kalau dia tidak sadar aku akan ambil tindakan,” ucapnya terburu-buru dan pergi meninggalkan Kevin.


Tak ada tanggapan, kecuali pandangannya menyapu wajah gadis di hadapan. Perlahan pemuda itu mengulurkan tangan ke bibir Eldrey.


Di mana jejak darah mengering akibat gigitan di bibir bawah tampak nyata olehnya.


“Sebegitu tersiksanya kamu sampai harus melukai diri sendiri?” gumamnya mulai merapikan pinggiran rambut Eldrey. Tatapan pun menurun menuju lengan kiri.


Bagaimana cara melukiskan kenyataannya? Banyak luka samar di sana juga bekas sayatan memanjang di lengannya. Kevin jadi teringat saat dirinya mendapati luka itu dan membuat Eldrey pingsan untuk pertama kalinya.


Tampaknya putri Dempster kurang memperhatikan nasib lukanya. Begitu sembuh ia tak lagi mengoleskan obat untuk menyamarkannya. Sehingga tak menghilang sepenuhnya dan menjadi tontonan di sana.


Kevin menyentuhnya dan mengusapnya. “Tak bisakah kita bertemu dalam keadaan kamu tersenyum sekali saja?” gumamnya mengangkat tangan Eldrey dan menggenggam lembut lengannya. “Di rumah Kak Alice untuk pertama kalinya, dan di rumah sakit dalam keadaan kamu kabur juga terluka. Kita sering bertemu dengan kondisimu yang tak bisa kusangka-sangka. Aku, seperti ada di saat-saat gentingmu, Eldrey. Apa itu berarti aku selalu ada ketika kamu butuh bantuanku?”


Punggung tangan sang gadis pun dirapatkan ke pipi pemuda itu. Agak dingin sentuhan kulitnya, begitu berlawanan dengan Kevin.


“Kamu terlalu sering tertimpa masalah.” Perlahan ia kecup lembut punggung tangan itu. “Tapi apa dayaku? Aku, benar-benar menginginkanmu putri Dempster.”


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2