FORGIVE ME

FORGIVE ME
Cinta memang gila


__ADS_3

Mulut Eldrey sedikit terbuka dan memamerkan senyum angkuh di bibirnya.


“Aku cari perban dulu. Seingatku di setiap kamar ada,” jelas Kevin mencoba berbalik. Akan tetapi, dirinya tersentak begitu menyadari sesuatu hendak bergerak cepat dari pantulan cermin besar di dinding.


“Wah, refleksmu bagus juga,” Eldrey terkekeh.


Kevin terdiam. Sekarang ia jatuh ke ranjang, dikarenakan menghindari serangan Eldrey yang tiba-tiba dari belakang. Andai dirinya tidak bergerak cepat, bisa dipastikan gelas kaca itu akan membentur kepalanya.


Gadis di depan matanya benar-benar gila dan nekat.


“Apa kamu ingin membunuhku?”


“Tidak. Aku hanya ingin memukul kepalamu,” gelas di tangan kembali terangkat.


“Dan aku tidak suka mendengar itu semua,” Kevin tersenyum padanya.


Sontak saja ekspresi Eldrey berubah. Akan tetapi, lagi-lagi suara ketukan pintu mengganggu mereka. Putri Dempster menoleh dan langsung meninggalkannya.


Tapi, mungkin dia memang lengah kali ini. Tanpa rasa kasihan, Kevin pun memukul tengkuknya sehingga gadis itu jatuh pingsan. Bahkan gelas di tangan lepas membentur lantai dan pecah berserakan.


“Suara apa itu?!” pekik seseorang di balik pintu yang mencoba menggedor-gedor pembatas tersebut. Dan Kevin pun secara terburu-buru membukanya. “Kau, kenapa pintunya di kunci?!” Evan menatap marah padanya. Bahkan, dirinya sampai syok melihat adiknya tergeletak di lantai sambil dihiasi pecahan kaca. “Kau!” dirinya lalu mencengkeram kerah baju Kevin.


“Jangan emosi, Kak,” sela Kevin sambil menepis kasar tangannya. Dihampirinya Eldrey dan digendongnya.


Evan terdiam karena melihat pemandangan yang kian mencengkeram ketenangannya. “Kau! Kau apakan tangannya?!”


“Dia sendiri yang melukainya. Aku tak punya pilihan lain selain membuatnya pingsan,” jelas Kevin tanpa keraguan.


“Apa maksudmu?!”


“Dia menyayat tangannya sendiri. Hanya ini pilihan terbaik agar kita bisa mengobati lukanya,” putra kedua Kendal itu mencari-cari di mana obat luka. Sampai akhirnya ia menemukan kotak P3K kecil di lemari yang berada di dekat jendela.


“Eldrey, melukai dirinya sendiri?” suara Evan terdengar bergetar. Sepertinya ia masih syok dengan apa yang terjadi.


“Dia bahkan hampir memukulku,” jawab Kevin santai dan mulai mengobati luka di lengan kiri putri Dempster. Jujur ini cukup mengerikan. Mengingat kulit putih mulusnya, dinodai bekas sayatan dan sekarang goresan baru memanjang juga merona di sana. Mengalirkan darah yang sudah mengering untuk dilihat penontonnya.


“Tapi Eldrey sebelumnya—” Kevin cuma melirik sekilas putra Dempster. Sesekali, ditatapnya wajah tenang Eldrey yang tak sadarkan diri. “Kenapa ini bisa terjadi?” Evan tampak frustasi dan menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. Dicengkeramnya kepala dengan kedua tangannya. Rasanya sesak, setelah mengetahui apa yang dilakukan adiknya.


Evan lalu tertawa pelan.


“Apa yang lucu?”


Tapi, tetap saja tawa berkumandang. Sejenak kemudian barulah anak pertama Betrand itu bersuara. “Ini salahku. Andai diriku tidak meninggalkan Eldrey dulu, maka dia pasti tidak akan diculik. Ini salahku karena dia sampai seperti ini. Semua ini salahku, semua ini benar-benar salahku,” lirihnya terisak.

__ADS_1


Kevin sudah selesai mengobati dan memperban lengan gadis itu. “Apa aku boleh tahu bagaimana kondisinya dulu?”


Evan terdiam. Pemuda yang bertanya merasa aneh, menerka-nerka apa dirinya baru saja melemparkan granat.


“Mengerikan.”


Satu kata, namun maknanya pasti menyakitkan jika dilihat ekspresinya. Kevin sadar jika kondisi Eldrey dulu mungkin memberikan ingatan kejam pada sosok kakaknya. Perlahan, tangannya terulur menggeser rambut yang menghiasi dahi putri Dempster.


Hatinya berdesir dan senyum tipis pun terukir di bibir. Kevin sadar kalau dirinya memang menyukainya. Bohong jika semua tidak dimulai dari pesona wajah gadis di depannya.


Sejak awal bertemu Eldrey di rumah Alice, dirinya sudah mengakui kalau gadis itu cantik juga misterius. Sampai akhirnya menjadi penasaran karena kelancangannya yang menyiram sang tuan rumah dan Ramses.


Dan di sinilah dirinya. Di titik ini. Terlibat dengannya, bahkan ikut serta dalam aktivitas kriminal putri Dempster. Walau ia tak menyangka, tapi harus diakuinya kalau cinta itu memang gila.


Jadi, bagaimana caranya mendapatkan hati dingin gadis yang bermandikan darah dan tragedi ini?


Batinnya terkadang juga bertanya-tanya, kenapa ia santai saja menghadapi sosok penderita mental disorder seperti Eldrey.  


Mungkin, semua itu karena dirinya memang menyukai gadis tersebut apa adanya.


“Apa yang terjadi?” tanya Alice tiba-tiba masuk ke sana. Bukan hanya dirinya, bahkan Dean juga bersamanya.


“Tidak ada apa-apa. Eldrey hanya terjatuh di kamar mandi dan pingsan,” dusta Kevin yang mengundang tatapan heran Evan.


“Entahlah. Untung saja aku cepat tahu kan?” Kevin pun duduk di sebelah gadis yang terbaring.


“Bagaimana jika dibawa saja ke rumah sakit?”


“Tidak. Tidak perlu. Kupikir akan lebih baik jika Eldrey pulang saja,” tolak Evan pada ajakan Dean.


“Tapi, Eldrey masih pingsan Kak,” sela Alice.


“Saat sadar,” Evan tampak santai membalasnya. “Kalau begitu ayo keluar, biarkan Eldrey istirahat sampai dirinya sadar.”


Alice hanya menggangguk sekilas, walau jujur ia sangat kecewa. Dirinya begitu ingin mendampingi sosok yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sekaligus adiknya.


Terlebih setelah mendengar pernyataan Eldrey waktu itu, membuat hatinya tidak baik-baik saja. Karena selama mereka berkenalan, putri Dempster sudah seperti anak bagi ibunya, dan begitu pula untuk Alice yang sangat menganggapnya berharga. 


Begitulah kedekatan Eldrey dengan Alice dan ibunya. Apa yang tidak di dapatkan gadis itu di dalam keluarganya, justru ia terima dari kehidupan keluarga orang lain.


Kehangatan dan kasih sayang.


Miris. Karena itu semua malah ia temui dalam keluarga miskin Alice. Jadi, apa arti kekayaan yang dimilikinya? Bahkan hal sesederhana seperti kehangatan dan kasih sayang tersebut tak bisa dibeli oleh banyaknya uang ayahnya.

__ADS_1


Jadi, apa arti semua kemewahan yang ada? Walau semua menempel indah di dirinya, namun hatinya mendingin tanpa bisa dihangatkan. Dan kondisi fisik serta mentalnya, membunuh perasaan sang gadis muda.


Walau ia sebenarnya sudah hancur luar dalamnya.


Tapi setidaknya, masih ada pecahan kaca dari hatinya. Memendam sosoknya yang menatap itu semua. Andai bisa disatukan kembali, bahkan bila pemandangan retak telah tercetak sepenuhnya.


Namun di dalam pecahan yang berserakan itu, sebenarnya telah terukir tulisan kecil. Tentang keinginan terdalamnya agar bisa hidup normal seperti orang lainnya.


Mungkin Eldrey Brendania Dempster, benar-benar membutuhkan seseorang untuk membantunya menyatukan kepingan-kepingan yang telah hancur sepenuhnya. Hanya itu.


“Kenapa kamu berbohong?” begitulah pertanyaan yang dilontarkan Evan pada Kevin.


“Eldrey membenci Kak Alice. Lebih baik mereka tidak bersama dalam kondisinya yang seperti ini.”


Benar-benar kalimat yang masuk akal ditorehkan Kevin padanya. “Baiklah kalau begitu. Kamu bisa keluar sekarang, aku yang akan menjaga Eldrey sampai dirinya sadar.”


“Tapi sayangnya aku ingin di sini.”


Seketika kening Evan berkerut bingung. “Kenapa?”


“Apa butuh alasan? Aku hanya ingin di sisinya,” putra kedua Kendal itu pun memamerkan senyum manis pada laki-laki di depannya.


“Tunggu, apa mungkin kamu menyukai adikku?” Bukannya jawaban, justru guratan penuh kehangatan yang dipamerkan Kevin padanya. Spontan saja Evan menghela napas kasar menatapnya. “Cinta monyet,” sindirnya.


“Tak masalah.”


“Aku takkan biarkan adikku bersama denganmu.”


Seketika ekspresi Kevin berubah. “Kenapa?”


“Entahlah. Menurutku akan lebih baik kalau saat ini adikku tidak berhubungan dengan laki-laki mana pun.”


“Jangan lupa kalau aku yang sudah memberi tahu Dempster tentang keberadaan Eldrey saat ia menghilang.”


Evan pun menatap tak percaya karena kalimat pemuda di depannya. “Kamu, apa kamu sekarang sedang membahas balas budi?” tapi Kevin hanya mengangkat sebelah alisnya sebagai tanggapan. “Dan sebagai balasannya kamu menginginkan adikku?”


“Tak masalah bukan? Aku memang menyukainya.”


“Benar-benar gila. Lebih baik sekarang kamu keluar sebelum aku menyeretmu dari sini.”  


 


 

__ADS_1


__ADS_2