FORGIVE ME

FORGIVE ME
Titik temu terakhir


__ADS_3

“B-Bill,” Amelia menatap tak percaya.


“Pengawal! Seret dia keluar dari sini!” perintahnya pada ajudan di rumahnya.


Sungguh sang istri tak menyangka jika dirinya akan diperlakukan seperti itu. “Setelah semua yang aku lakukan untuk keluarga ini, kalian tega mengusirku?”


“Memangnya kenapa? Asal kau tahu saja, pernikahan kalian hanya sebuah kesepakatan untuk menguntungkan dua keluarga. Jika keluargamu sudah jatuh miskin, keuntungan apa lagi yang bisa kau berikan pada kami?!”


Bak disambar petir. Seluruh jiwa dan raga Amelia terguncang mendengar perkataan ibu mertuanya. “Tidak usah menyentuhku!” hardiknya pada pengawal yang mencoba memegang lengannya. “Kalau begitu ingat ini baik-baik! Suatu saat nanti, kalian akan menyesal karena sudah memperlakukanku seperti ini! Camkan itu!” marahnya lalu melangkah pergi dari sana.


Dengan sesak di dada sambil beruraian air mata, istri dari Bill Laynard Smith pun angkat kaki sebagaimana mestinya. Tanpa kendaraan mewah yang selalu mengiringinya.  


Sekarang, teriakan memecah keadaan di tempat penyekapan. Lily, bajunya digunting paksa oleh Naomi sebagai hukuman. Paul memilih berada di luar, walau ingin balas dendam pada Eldrey, tapi pesan terakhir sang kakak mengganggu suasana hatinya.


Kenapa putri Dempster mengatakan itu? Dirinya memang sudah pernah mendengar cerita gadis tersebut dari kakaknya. Teman kecil yang telah dianggap seperti adiknya sendiri. Walau terkadang, rencana untuk berkenalan selalu gagal karena Eldrey sering dibawa pergi oleh pengawal dan ibunya.


Ingin membunuhnya, tapi haruskah ia menjadi bajingan seperti pria-pria bejat yang sudah menodai kakaknya? Dan kenapa Eldrey membunuh mereka? Apa yang harus ia lakukan untuk mengetahui itu semua?


Sampai akhirnya, teriakan keras Alice yang memanggil nama Eldrey menyusup masuk ke telinga.


“Eldrey!” pekik Paul akhirnya sambil berlari ke sana.


Terkesiap.


Dua gadis muda dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Lily Damius Smith, di balik sayatan di badan serta wajah cantiknya, rambutnya digunting secara buruk rupa. Menangis diiringi muka memar sepenuhnya.


Eldrey.


Darah mengalir indah dari sudut bibir robeknya. Bekas pukulan balok karena tak pernah mengeluarkan erangan. Ada sayatan pisau di area dadanya, pertanda Naomi ingin meninggalkan jejak di tubuhnya.


“Kau gila?!” marah Paul sambil mendorongnya.


“Gila?! Kenapa kau marah begini? Bukankah kau ingin balas dendam?! Atau kau, jangan-jangan kau menyukainya?!”


“Bukankah kau bilang ingin menukar mereka dengan aset keluarganya?! Kenapa kau harus menyiksa mereka begini?!”

__ADS_1


“Karena mereka pantas untuk itu! Aku kehilangan kehormatanku karena mereka! Aku di penjara karena mereka! Dan keluargaku juga hancur karena mereka berdua! Asal kau tahu saja, tak ada yang lebih bagus selain kematian untuk menghukumnya!”


Tapi, tawa pecah secara tiba-tiba. Di balik tetesan darah yang mengaliri dagu, tak tersirat pesakitan dari kondisi sumbernya.


Lily yang menangis saat ini, dan Alice dengan suara parau serta muka lebam diiringi mimisan di hidungnya, tetap saja memohon agar semua dihentikan walau terasa terabaikan. Sampai akhirnya, tawa dari bibir putri Dempster pun memelan iramanya.


“Berisik.” Satu kata namun menimbulkan geram untuk yang murka. “Kau pikir, orang-orang akan peduli? Mau kau hancur, mau kau melebur, mau kau tak pernah ada pun tak ada yang peduli. Karena kau, sudah terlupakan Naomi.”


“Keparat!” seketika pisau pun terangkat untuk menyerangnya.


“Naomi!” tahan Paul sambil mencengkeram lengannya.


“Minggir Paul, lepaskan aku!”


“Tidak! Kau tidak bisa membunuhnya!” sambil berusaha merebut pisau di tangannya.


“Brengsek! Aku bilang minggir!” teriak Naomi berusaha keras mencengkeram pisau dengan kuatnya.


Tapi sayang, di balik keras kepala mereka berdua, tanpa disengaja Naomi malah mendorongkan pisau itu tepat ke arah pemuda yang berada di depannya. Menusuk perutnya, dan menatap tak pecaya atas ulahnya barusan.


“M-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud untuk—”


Paul pun menarik pisau yang tertanam di perutnya. Dihiasi dengan teriakan keras Lily dan Alice karena ketakutan melihat itu semua. Sang pemuda, mulai kesusahan bernapas karenanya.


“Sial!” Naomi berteriak frustasi dan mengambil pisau di hadapan laki-laki yang terluka. “Semua ini gara-garamu gadis keparat!”


“Tidak!”


“Eldrey!” pekik Paul di sela-sela pesakitannya.


Terlambat. Naomi yang panik karena tak sengaja menusuk rekannya, gelap mata dan menikam sumber penyebabnya.


Eldrey Brendania Dempster. Seketika merasakan syok akibat hujaman yang dilayangkan tiba-tiba ke perutnya. Menatap tajam Naomi di balik sensasi kejam di seluruh tubuhnya.


“Tidak, tidak, tidak, aku mohon tolong lepaskan aku!” Lily berteriak ketakutan karena tak ingin menjadi korban selanjutnya.

__ADS_1


“Eldrey ... dasar iblis! Dasar monster! Lepaskan Eldrey! Lepaskan dia! Aku mohon tolong lepaskan dia!” Alice histeris melihat tontonan di sebelahnya.


“Diam!” hardik Naomi akhirnya. “Akan kubunuh kalian semua, tapi itu dimulai darimu!” tatap murkanya. Pisau sudah ditarik dan terlihat seringai melebar di bibirnya. “Mati kau, agh—”


Erang Naomi tiba-tiba karena kepalanya dipukul dari belakang. Paul dengan napas tersendat-sendat dan darah terus mengalir dari lukanya, melakukan itu tanpa iba. Sontak saja ia alihkan pandangannya menatap Eldrey yang mulai sayu sorot matanya.


“Sial!” tangannya pun mencoba meraih tali yang mengikat putri Dempster.


“Brengsek! Beraninya kau!”


“Awas!” teriak Alice padanya.


Akan tetapi, mungkin semua memang sudah jalan hidupnya. Paul yang tengah terluka dan lengah, kembali dihujam perut sampingnya. Membuat ia jatuh tersungkur lalu ditindih gadis gila itu tanpa iba.


“Kau bilang kau akan membantuku balas dendam kan?! Kenapa sekarang kau berkhianat?! Kau melepaskanku! Tapi kamu mengelabuiku! Kenapa kau menculiknya jika kau tidak ingin membunuhnya?! Kenapa?! Kenapa?! Jawabku aku kenapa!” begitulah lirihan kata penuh emosinya.


Begitu sadis dan tidak berperasaan. Tanpa peduli lagi siapa yang ada di depannya, hujaman pisau bertubi-tubi dilayangkan ke tubuh Paul yang tak berdaya. Bahkan jika sang pemuda meronta, tapi sensasi sakit telah merantainya.


Perlahan, di balik darah yang bercipratan dan juga mengenai wajahnya, aliran kristal bening membasahi sudut matanya. Paul, menggerakan titik temunya untuk bersatu dengan sudut pandang si dia. Sang putri Dempster, melukiskan tatapan sayu memperhatikan penyiksaan untuknya.


Walau tak bersuara, bahkan jika hanya pandangan yang berbicara, ekspresi di sana melukiskan rasa. Sebuah cerita untuk hati masing-masingnya.


Lily menangis. Menunduk takut dan meronta. Tak sanggup melihat pemandangan mengerikan di depannya.


Alice berteriak. Mengutuk dan menyumpahinya, mengancam agar dibebaskan namun itu tak berarti apa-apa.


Karena kicauan frustasi mereka sudah tenggelam dalam tawa Naomi yang bermekaran di telinga.


“Baiklah. Selanjutnya, siapa?” seringainya menatap tiga sosok yang terikat tali ke atas sana. Tapi, ekspresi puasnya menjadi masam seketika, saat dipertemukan dengan sosok yang sudah ditusuknya.


Eldrey, masih memandangi Paul yang menanti detik-detik meregang nyawa.


“Apa ini?! Padahal aku sudah menusukmu! Kenapa kau tidak mengerang sama sekali?!” murkanya berjalan mendekatinya. Pisau telah tercengkeram erat di genggaman tangannya.


 

__ADS_1


__ADS_2