FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pingsannya Eldrey


__ADS_3

Kevin kaget. Bagaimana tidak? Siapa yang akan mengira jika ada orang di depan pintu? Terlebih sepertinya dia mengenal Eldrey.


“Kakak?” sapa gadis itu pada sosok yang baru masuk toilet.


“A-apa yang sedang kamu lakukan? Dengan laki-laki di sini?”


Eldrey dan Kevin sama-sama terdiam. “Mau bagaimana lagi. Aku juga tidak punya pilihan,” jelas Eldrey sambil memegang lengan Kevin.


“Pacarmu?” tanya Fiona sang kakak Ramses.


“Iya. Aku pacarnya. Dia hampir saja pingsan, jadi aku datang untuk membantunya,” jelas Kevin tiba-tiba.


Tentu saja Eldrey langsung melirik tajam pemuda yang mengoceh sembarangan itu. Entah apa rencananya, gadis tersebut memandang dingin padanya.


“Benarkah?” Fiona tampak kecewa.” Padahal kupikir kamu pacaran dengan Ramses, sepertinya aku sudah salah paham ya.”


“Ramses?” Kevin tersentak dan menoleh pada Eldrey yang tidak menatapnya.


“Iya. Ramses. Apa mungkin kamu mengenalnya? Dia adikku.”


Perlahan perasaan Kevin gundah begitu mengetahui siapa sosok di depannya. Kenapa dia iseng mengatakan kalau dirinya pacar Eldrey? Seandainya Ramses tahu, bukankah ini cukup buruk untuk hubungannya dengan Alice? Batin Kevin menggerutu.


Akan tetapi, Eldrey yang diam tiba-tiba menyentuh kepalanya. Tampak dirinya terlihat pusing.


“Eldrey? Kamu baik-baik saja?” tanya Fiona cemas sambil menyentuh bahunya.


Gadis itu tak bersuara, tapi satu hal yang pasti, pandangannya jelas buram. Tiba-tiba, semuanya gelap begitu saja.


“Eldrey!” pekik Fiona memegang badannya agar tidak jatuh.


“Hei! Kamu benaran pingsan?!” gugup Kevin menepuk pelan pipinya.


Seketika Fiona langsung memandang aneh padanya. “Bukankah kamu pacarnya? Seharusnya kamu panik! Bagaimana bisa kamu mengatakan hal konyol begitu?”


“I-itu!” Kevin jadi semakin bersalah. Semua pemikiran di otaknya campur aduk. Spontan langsung ia gendong Eldrey dengan menepis segala kemungkinan yang ada.


“Hei!”Fiona mengikutinya dari belakang.


Tanpa memedulikan keluarga yang sedang makan malam, dilewatinya jalan samping dan mengundang kegemparan orang-orang sekitar.


“Ada apa itu?” tanya Tuan Kendal menoleh ke arah sosok yang menggendong perempuan sambil membelakangi mereka.


“Pakaiannya,” gumam pelan nyonya Julia.


“Mungkin saja pingsan,” lirih Diana ikut menatap sumber kehebohan.


“Hei! Kamu mau membawanya ke mana?!” teriak Fiona masih mengikuti.


“Tolong bukakan pintunya!” pinta Kevin pada Fiona begitu mereka sampai di depan mobil laki-laki itu.


Terpaksa gadis itu menurut saja, pemuda tersebut segera mendudukan Eldrey di kursi samping pengemudi.


“Hei! Kamu benar-benar pacarnya?”


Kevin menoleh, “apa aku harus menjelaskannya?”


“I-itu.”


Sang pemuda tersenyum. “Aku hanya temannya. Apa kakak mau kuantar juga?”


“Tidak. Tidak perlu, aku bawa mobil.”


“Baiklah. Kalau begitu kami duluan,” Kevin segera masuk ke mobil dan mengendarainya dengan diiringi tatapan Fiona.


Tiba-tiba, ponselnya berdering yang membuat Kevin panik.


“Mama? Halo Ma?” jawabnya begitu panggilan terangkat. 


“Kamu ada di mana Nak?”


“Itu, aku sedang mengantar temanku. Ada apa?”


“Tidak ada apa-apa. Mama cuma kebetulan melihat anak laki-laki yang memakai pakaian sama denganmu di restoran.”


Kevin terbungkam. Sejenak kemudian, “mungkin Mama salah lihat. Mama makan di restoran? Jarang-jarang sekali. Apa ada sesuatu?”


“Itu, ada pertemuan dengan keluarga Tuan Adam.”


“Oh, ya sudah Ma. Aku tutup dulu teleponnya, apa ada lagi yang ingin Mama katakan?”


“Tidak sayang. Hati-hati di jalan.”


“Ya Ma.”


Panggilan terputus. Tampang Kevin yang semula tenang mulai gundah. Diliriknya Eldrey, gadis tak berdaya di sampingnya.


Pikirannya kalut tentang apa yang akan terjadi jika mengantarkan gadis itu dalam keadaan seperti ini. Bukankah hanya akan menjadi masalah baginya?


Mobil pun dihentikan di area pinggir jalan.


“Eldrey! Bangun!” panggilnya sambil memukul pelan pipi gadis itu. Masih tak ada jawaban, kecuali kulit dingin yang dirasakannya. Kevin tersentak begitu menyadarinya.


“Hei! Yang benar saja! Kenapa tubuhmu dingin begini?!” Kevin mulai menggenggam tangannya. Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Ibarat dialiri es, sungguh sang pemuda makin tak karuan.


“Eldrey?” dengan menggoyang bahunya. “Oh Tuhan, jangan buat aku panik Eldrey!” pekiknya mulai memastikan hembusan napasnya.


“Masih ada!” lirihnya keras. “Eldrey, tolong bangun Eldrey! Jangan buat aku gila!” keluhnya makin kelabakan. Dirinya masih saja memukul pelan pipi dan menggoyangkan bahu sang gadis.


“Uugh!” erang pelan Eldrey karena akhirnya tersadar. Cukup lama bagi Kevin untuk membangunkan gadis itu dan tampangnya sekarang terlihat lega. “Kepalaku ....”


“Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit?!” cemas Kevin.


Gadis itu pun menyorot wajah Kevin dengan tatapan sayu. “Aku pusing.”

__ADS_1


Sang pemuda tersentak. “Benar juga, kamu belum makankan? Kamu mau makan di mana? Aku akan mengantarmu.”


“Aku ingin tidur.”


Kevin terdiam. “Apa maksudmu?!”


“Aku hanya ingin tidur, belikan saja aku obat tidur Kevin. Kumohon,” pinta Eldrey dengan tampang menyedihkan. Dia benar-benar terlihat kelelahan.


Kevin ragu-ragu. “Ayo kita ke rumah sakit.”


“Antarkan aku pulang,” sela Eldrey tak menyetujui ucapannya.


“I-itu.” 


“Antarkan saja,” dengan nada jengkel.


“Baiklah.”


Mobil pun dilajukan ke kediaman mewah presdir Betrand. Belasan menit ditempuh dengan kewaspadaan sang pengemudi.


Sampai akhirnya kendaraan tiba, dan banyak mobil sudah terparkir di halaman rumah presdir Betrand.


“Nona?!” penjaga gerbang kaget saat menyadari siapa yang turun dari mobil. “Ya ampun, apa yang terjadi pada Anda?” tanyanya sambil melirik Kevin.


Sang gadis hanya memandang sekilas penjaga gerbang rumahnya dan masuk ke dalam. Langkahnya begitu buruk sampai-sampai ia dibantu Kevin.


“Apa aku akan baik-baik saja?” keluh Kevin.


“Kenapa?”


“Entah kenapa kalau memasuki rumahmu nyawaku seakan menipis.”


“Guyonanmu bagus sekali,” sindir Eldrey. Mereka pun memasuki rumah sambil diberi tatapan aneh yang menyambut kedatangannya.


“Eldrey?!” presdir Betrand bangkit dari duduknya menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi? Kamu dari mana saja?!”


Gadis itu tak menjawab kecuali menyipitkan mata menatap ayahnya.


“Jawab! Apa yang terjadi?” tekan presdir Betrand memegang lengan putrinya.


“Kau ingin tahu ayah?” Eldrey melepaskan rangkulan tangannya pada Kevin yang membantunya.


Presdir Betrand terdiam dan melepaskan lengan putrinya yang dipegang.


“Jika kau mendengarnya, apa kau akan menendangku ke rumah sakit jiwa?”


Jelas ekspresi Presdir Betrand terasa berat tekanannya. “Bagaimana mungkin aku mengirimmu ke sana?” tangannya perlahan menyentuh dahi Eldrey yang lebam.


“Karena kau selalu tidak suka dengan apa yang kulakukan.”


Sepertinya, akan ada tontonan pelik dari kedua orang itu. Daniel Bonapart sang CEO sekaligus bawahan presdir Betrand, menatap dingin Kevin yang terdiam.


“Eldrey. Apa mungkin—” kalimat tak dilanjutkan.


Gadis itu beranjak dari sana hendak meninggalkan mereka. “Benar juga. Dia sudah membantuku. Aku punya banyak hutang padanya, tolong saja bayar bantuannya dengan kekuasaanmu, mudahkan?” jelas Eldrey. Sekarang, gadis itu benar-benar pergi dari sana.


Suasana makin terasa pelik terlebih sekretaris Roma dan Rondolf juga ikut melirik dingin ke arah Kevin.


“Aku mengenalmu. Bukankah kamu yang waktu itu?” tanya presdir Betrand pada Kevin.


“Benar Tuan,” angguk pemuda itu dengan sopan.


“Apa hubunganmu sebenarnya dengan putriku?”


“Kami teman Tuan.”


“Begitu?”


Sedikit pun, Kevin tak mengangkat wajah menatapnya. “Jika tidak keberatan, apa kamu mau ikut denganku?”


Kevin terdiam. Mengangkat wajah dengan benar memandang presdir Betrand. “Baiklah,” angguknya. Mereka pun pergi ke ruang kerja presdir Betrand.


Di kamar, Eldrey merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Tak ada cahaya lampu di sana, kecuali penerangan dari langit malam lewat balkon yang tak seberapa sinarnya.


Disentuhnya dahinya, memastikan jejak yang ditinggalkan Naomi karena memukulnya. Tubuh terlalu lelah, tatapan mata sayu, suasana hati tak ingin melakukan apa-apa itulah yang sedang dialami Eldrey.


Dirinya, seperti kehilangan cahaya untuk merasakan hidup malam ini.


Presdir Betrand terdiam begitu selesai mendengarkan cerita Kevin. Sementara sang pemuda hanya bisa duduk tertunduk di hadapannya. Tekanan pria itu begitu berat bahkan melebihi ayahnya.


“Terima kasih,” ujar presdir Betrand tiba-tiba.


Kevin terkesiap, bohong jika dirinya tak tahu sepak terjang keluarga presdir Betrand. Dari awal ia terlibat tindakan kriminal dengan Eldrey, semua informasi tentang keluarga itu sudah dicari tahunya.


Walau tak semua diketahuinya.


“Maafkan aku.”


Presdir Betrand tetap tenang menatapnya. “Untuk apa?”


“Jika Paman tidak keberatan, apa aku boleh tahu sebenarnya Eldrey sakit apa?”


Berani, itulah sosok Kevin. Bahkan jika gugup merangkulnya, tapi dirinya tak peduli dan lebih memilih rasa ingin tahunya.


“Sosiopat.”


Satu kata namun mengheningkan suasana. Bahkan jika dirinya sudah mengetahui tentang Eldrey saat curi-curi dengar di restoran, tapi ia masih tak menyangka kalau kalimat tersebut keluar dengan mudahnya di bibir pebisnis sukses di hadapannya.


Kevin mengalihkan sorot matanya menyapu lantai di bawahnya.


“Jadi, apa kau akan menertawakannya?” lanjut presdir Betrand.


“Maksud anda?”

__ADS_1


“Putriku yang memiliki penyakit mental seperti itu.”


“Penyakit mental. Apa mungkin Eldrey punya trauma?”


“Entahlah.”


Jawaban presdir Betrand mengundang perasaan heran Kevin. Orang itu begitu tenang, rasanya sangat aneh berhadapan dengannya.


“Sekarang kau pulanglah. Aku benar-benar berterima kasih karena kau sudah membantu putriku,” ujar presdir Betrand bangkit dari duduknya tiba-tiba.


Kevin terdiam. “Kalau begitu saya pamit dulu,” lirihnya undur diri.


Sekarang, hanya sosok sang ayah Eldrey yang terdiam di posisinya mewakilkan keadaan ruang kerja presdir Betrand.


Esok harinya.


“Hah ... hah ... hah ...” suara hela napas di luar kesadaran pemiliknya. “Aagh!” erang Eldrey tiba-tiba.


Dirinya terbangun dari tidurnya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Keringat dingin mengucur di tubuhnya. Ingatan masa lalu yang menghantuinya, masih mengikat lehernya.


Tanpa terasa, kristal bening mengalir lembut di sudut matanya.


Di dalam sebuah mobil, Alice dan Ramses sedang berduaan. Dirinya minta diantarkan pemuda itu untuk pergi ke rumah Eldrey karena bagaimanapun Ramses mengetahui tempat tinggalnya.


Mobil pun akhirnya terhenti di depan sebuah gerbang kediaman mewah. Sungguh Alice tak bisa mengedipkan mata melihatnya.


“A-apa ini benar rumahnya?”


“Ya. Ayo kita turun.”


Keduanya pun keluar dari mobil. Di tangan Alice, terdapat sebuket bunga mawar dan sekotak karaage buatan ibunya.


Dirinya, benar-benar merindukan gadis itu.


“A-apa tak masalah?”


“Kenapa? Bukankah kamu yang mengajak kemari?” tanya Ramses.


“I-itu,” ekspresinya mulai ragu.


“Tenang saja. Tidakkah kamu merindukannya? Bagaimanapun orang-orang di rumahnya cukup baik,” jelas Ramses.


Dengan memberanikan diri, keduanya tetap masuk terlebih tak ada penjaga gerbang di sana.


“Selamat datang,” sapa Emily menyambut mereka. Dirinya terdiam begitu menatap Ramses karena pemuda itu sudah pernah datang ke sana. “Ada yang bisa dibantu?”


“Itu, sudah lama kami tidak bertemu dengan Eldrey. Apa dia ada di rumah?” tanya Ramses.


“Nona ...” Emily ragu-ragu menjawabnya.


“Aku sangat ingin bertemu dengannya,” sambung Alice penuh harap.


“Ada apa?” suara Rondolf tiba-tiba terdengar mendekati mereka.


“Itu, mereka ingin bertemu dengan Nona.”


Rondolf menyapu pandangan pada mereka berdua. Sosok yang ditatap sama-sama memasang ekspresi penasaran.


“Silakan duduk dulu,” angguk Rondolf meninggalkan mereka.


“Silakan Tuan Muda, Nona, tolong tunggu sebentar,” ucap Emily pergi meninggalkan keduanya untuk menyiapkan minuman.


“Rams, apa cuma perasaanku kalau orang tadi cukup aneh?” tanya Alice sambil mata menyapu setiap sudut ruangan.


“Kamu benar. Hanya saja ....”


“Kita bertemu lagi,” sapa seseorang tiba-tiba. Keduanya sama-sama menoleh ke arah sesosok pria bersetelan tanpa jas dan dasi namun pesonanya sungguh luar biasa. Siapa lagi kalau dirinya bukan presdir Betrand sang ayah dari gadis yang ingin ditemui.


“Paman!” Alice sontak langsung bangkit menyadari siapa yang datang. “A-anda baik-baik saja?! Syukurlah,” jelas gadis itu dengan mata berkaca-kaca.


Di belakang presdir Betrand, telah berdiri kokoh Rondolf sang kepala pelayan. Begitu pula Emily sudah tiba untuk menyajikan minuman dan cemilan.


Presdir Betrand terdiam melihat respons Alice. “Aku sangat takut, jika terjadi apa-apa pada anda,” sambil beruraian air mata.


Ramses langsung menyentuh bahu Alice karena mengkhawatirkan dirinya.


“Terima kasih.”


Mereka sama-sama terdiam mendengar kalimat presdir Betrand.


“Terima kasih?”Alice lalu menghapus air matanya.


Presdir Betrand tersenyum. “Karena sudah membantuku dan mengkhawatirkan diriku.”


Alice terkesiap. “Anda salah Paman. Seharusnya aku yang berterima kasih, karena bagaimanapun karena anda menyelamatkan saya makanya anda terluka! Ini semua salah saya,” ucapnya terisak-isak.


Akan tetapi, sebuah adegan tak terduga tiba-tiba terjadi di depan mata. Presdir Betrand, menyentuh kepala Alice dan mengelus lembutnya.


“Itu bukan salahmu. Yang lalu biarlah berlalu. Dan aku minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Eldrey padamu,” sahutnya karena telah mengetahui ulah putrinya di rumah sakit dengan memaki-maki Alice.


“I-itu—”


Dalam suasana yang mungkin terasa haru, sepasang mata dingin menatap mereka dari kejauhan di lantai dua. Mengepal erat tangannya, dengan guratan kebencian di wajah cantiknya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2