
Pistol.
Meski luka yang disebabkan oleh pelurunya berukuran kecil, namun dampaknya sangatlah luar biasa. Bisa begitu fatal saat menyentuh tubuh manusia.
Ada dua kemungkinan di dalamnya, yaitu hidup ataupun mati. Bohong jika dikatakan tak ada yang selamat setelah berkali-kali tertembak, nyatanya satu serangan pada lengan dan kaki sudah bisa menjadi akhir eksekusi untuk mereka yang kurang beruntung nasibnya.
90 persen kematian para korban di dominasi oleh banyaknya darah yang berserakan.
Arteri subklavia di bawah tulang selangka, arteri brakialis di lengan, ataupun satu arteri inguinal bilateral di pangkal paha, beruntung bagi raga Kevin tiga di antaranya tak terkena tembakan.
Sosoknya juga tak kehilangan begitu banyak darah, akan tetapi gagal jantung sempat menjadi teman kondisinya.
Syok serta trauma tiba-tiba dalam merasakan momentum tembakan itulah yang membuatnya pingsan. Dan sekarang kritis menjadi jawaban.
Kalut memenuhi pikiran sang bawahan, ditambah ada beban di pundaknya yang harus ia tuntaskan.
Dan di tengah kemelut itu, langkah kaki terburu-buru milik beberapa orang mendatangi ruang tunggu.
“Bram!”
Panggilan dari suara tak asing bagi Eldrey memecah keadaan. Kaget menerpa para tamu saat mendapati gadis sekaligus teman mereka akhirnya muncul di depan mata.
Belum sempat melontarkan pertanyaan, pelukan hangat ditorehkan. Dari seorang wanita berambut bob yang terisak.
“Ke mana saja kamu selama ini?! Aku merindukanmu, Eldrey. Aku merindukanmu,” Alice sesegukan. Pertemuan keduanya ditatap lekat tiga laki-laki.
Bram sang bawahan putra Cesar, Dean, dan juga Ramses.
Ya, kakak kandung Kevin sekaligus sahabatnya itu.
Tak banyak perubahan pada diri mereka, kecuali dandanan Dean yang cukup santai berlawanan dengan putra tuan Harel. Setelan mahal tanpa jas dengan dasi longgar semakin menambah karisma laki-laki itu.
Hanya saja keadaan tak memungkinkan untuk mengagumi sosoknya mengingat tangisan Alice memenuhi suasana.
“Bram, apa yang terjadi?!” Dean menyela tiba-tiba. Membuyarkan acara melepas rindu Alice pada sahabatnya.
Butuh sejenak waktu bagi tangan kanan Kevin menjawabnya. Perlahan, sorot matanya bergerak melirik putri Dempster. Mengundang penasaran mereka dan juga tanda tanya.
“Kevin tertembak.”
__ADS_1
“Apa! Bagaimana bisa?”
Jawaban mengejutkan Eldrey membuat Ramses bersuara. Tapi lanjutan kalimat gadis itulah yang mengundang sikap tak terduga putra pertama Cesar.
“Dia menghentikan aku. Karena itu—”
“Apa maksudmu?!” Dean tiba-tiba mencengkeram bahunya. Belum sempat menyelesaikan kalimat, guncangan kasar pada dirinya mengagetkan orang-orang sekitar. Terlihat jelas kemarahan terpancar dari kakak Kevin yang murka. “Apa maksudmu?! Jangan bilang kalau kau yang menembak adikku?!”
“Dean!”
Ramses pun menariknya. Membuat putra pertama tuan Kendal melepaskan sentuhan. Akan tetapi sorot mata tajam masih tidak sirna, terlebih saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang Bram mencoba melindungi Eldrey.
“Bram! Apa yang kau lakukan?! Kau itu bawahan adikku!” bentaknya.
Tapi sosok itu masih berdiri kokoh di depan Eldrey. Merentangkan tangan kanan agar tak ada siapa pun yang bisa mendekati gadis itu.
Tidak untuk Alice yang syok menghadapi ketegangan di depan mata.
Hiruk-pikuk di antara mereka pun pecah akan tangisan seseorang. Memanggil nama Kevin sambil dirinya berlarian.
Julia.
Ya, wanita itulah pelakunya.
“Dean! Dean! Di mana adikmu? Apa yang terjadi?! Bram!” tatapannya pun teralihkan. Tanpa ragu mencengkeram kerah laki-laki itu dan melontarkan segala beban di perasaan. “Apa yang terjadi?! Apa yang terjadi pada anak saya?! Kau bilang dia masuk rumah sakit! Katakan pada saya kalau itu bohong, Bram. Katakan pada saya kalau itu semua bohong!”
Belum sempat mendapat jawaban, Kendal sudah menarik dirinya. Mencoba menenangkan sang istri yang mengundang perhatian sekitar.
Pastinya mereka menjadi pusat pandangan akibat kehebohan yang dilakukan. Hanya saja tak ada balasan yang bisa dikatakan seorang Bram kecuali tertunduk sambil memunggungi gadis yang berekspresi tenang.
Dan jangan lupakan tatapan tajam dari Dean. Seakan lupa dengan ikatan pertemanan mereka, dirinya pun menyuarakan kepelikkan. Ulahnya malah membuat suasana semakin tegang.
“Apa salah adikku?” orang-orang terbungkam. “Bertahun-tahun adikku menyukai dirimu. Bertahun-tahun dia terus mencarimu, lalu sekarang apa? Kalian kembali dalam keadaan adikku seperti itu. Di mana letak hati nuranimu, Eldrey? Di mana?! Bisa-bisanya kau menembak adikku! Kau memang iblis karena tak pernah menghargai dirinya yang menyukaimu!”
“Dean!” Alice pun menyelanya. Akan tetapi semua sudah terlambat.
Bunyi tamparan pun mengejutkan setiap pasang mata. Wajah cantik yang tadinya tenang sekarang tertoleh ke kanan. Di mana sensasi sakit juga kebas dihadiahkan Julia untuk dirinya.
Ya, Eldrey lah korban amarah seorang ibu yang merasa kehilangan.
__ADS_1
Di balik air mata yang terus berjatuhan, kalimat dari suara bergetar pun ia lantunkan.
“Katakan kalau itu bohong. Katakan kalau yang dikatakan Dean itu bohong, Eldrey!”
Cengkeraman pada lengan sang gadis tak bisa di hentikan. Bram ingin melerai mereka hanya saja cekalan dari Dean memaksanya untuk tetap terdiam.
Lambat laun pandangan Eldrey merangkak naik ke arah sekitar. Tatapan beragam dan cenderung menghakimi, itulah yang ia dapatkan.
Sampai akhirnya suara seseorang menginterupsi mereka. Mengacaukan tindakan penghakiman keluarga Cesar pada gadis yang masih menutup mulut.
“Apa-apaan ini?!” Presdir Betrand, seketika tangannya menarik lengan sang putri agar berlindung di belakangnya.
Dua keluarga, tidak. Mungkin akan lebih tepat disebut empat keluarga termasuk Dome Bosmova juga dua keponakannya. Dialah yang memberitahu Dempster tentang keberadaan gadis itu. Mengingat ponsel yang diberikan dipasangi pelacak olehnya.
Dan tentu saja pertemuan tak terduga empat keluarga ternama cukup mengejutkan Ramses sebagai salah satunya. Walau keberadaannya tak begitu dianggap di sana.
“Apa-apaan ini? Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sudah dilakukan putrimu? Kenapa dia menembak anakku?! Padahal kita sama-sama tahu seberapa besar rasa suka putraku pada putrimu!” teriak Julia padanya.
Betrand terdiam. Sungguh ia tak menyangka akan pernyataan yang menerobos pendengaran. Bahkan mungkin bukan hanya dirinya, orang-orang yang baru datang pun menatap Eldrey dengan sorot mata tak dapat dilukiskan.
Bertanya-tanya apakah barusan itu sebuah kebenaran atau hanya kebohongan.
Lagi-lagi tatapan seperti penghakiman. Senyum simpul tercipta bersamaan dengan tepisan kasar Eldrey pada sang ayah. Dan jangan lupakan keangkuhan yang dihadirkan rupa cantiknya. Walau sebuah memar tercetak di pipi kiri untuk menyiksanya.
“Memang tak ada yang perlu dijelaskan. Nyatanya dia memang tertembak di tanganku. Silakan bawa ini ke jalur hukum. Kutunggu surat penangkapannya, Cesar.”
Selesai mengatakannya Eldrey pun pergi dari sana. Meninggalkan mereka dengan keterbungkaman di mulut masing-masing. Akan tetapi, pelukan tiba-tiba menghentikan langkah gadis itu.
Diiringi isak tangis oleh seseorang yang ia panggil dengan sebutan ibu.
“Nak, kenapa kamu berbicara begitu? Jelaskan semuanya, Sayang. Jelaskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman.”
Kristal bening menghiasi pipi Raelianna. Sayangnya tak mampu mengusik sudut hati putri kecilnya.
Walau tak kasar, tapi pelukan yang dilepaskan Eldrey menusuk kesadaran ibunya.
“Apa lagi yang perlu dijelaskan? Dia memang tertembak di tanganku. Dan semua karena masa laluku. Masa lalu menyakitkan yang kalian hadiahkan untukku.”
Anna terkesiap. Keterkejutan tak mampu mengusiknya, terlebih untuk menyadari sentuhan Eldrey saat menghapus air mata nyonya rumah keluarga Dempster.
__ADS_1
“Lihat aku,” lirihnya. Tak pelan dan bisa terdengar ke telinga sekitar. “Jangan menjadi pahlawan untukku. Karena aku sudah kehilangan segalanya, saat kalian meninggalkan diriku tepat di tengah keterpurukanku.”