FORGIVE ME

FORGIVE ME
Percobaan bunuh diri


__ADS_3

Charlie pun berusaha sebisanya berenang ke arah Eldrey untuk menyelamatkannya, sementara suasana di sana penuh dengan kebisingan dari tangisan dan perkataan tak jelas dari pelayan yang berdiri menatap keadaan.


Tiba-tiba, Eldrey yang sedang mengambang itu bergerak dan membuka matanya. Spontan hal itu menimbulkan teriakan dari mereka yang melihatnya.


“Nona!” pekik bibi pembantu dan kepala pelayan Rondolf hampir bersamaan.


Sedangkan Charlie pun akhirnya sampai di dekat Eldrey dan memegangnya, “nona! Apa yang terjadi?!” tanyanya sedikit emosi.


Sementara Eldrey hanya menatap dengan pandangan mata sayu, “kenapa kalian begitu berisik? Apa ada sesuatu sampai-sampai kalian harus seheboh itu?” tanyanya dengan tatapan menusuk pada orang-orang yang berisik.


Mereka hanya terdiam mendengarnya, bagaimana bisa mereka tidak heboh dan histeris atas apa yang telah terjadi? Sesaat mereka sempat mengira kalau gadis itu sudah mati, tapi kenyataannya gadis itu sedang menatap mereka dengan raut wajah dinginnya seolah-olah tak ada yang terjadi.


Ia dan Charlie lalu berenang ke tepi ke arah rumah utama bagian kiri, Eldrey pun menggeser pintu kaca pembatas kolam renang luar dan dalam ke atas dan masuk ke dalam rumah lewat sana.


Mereka berdua sudah keluar dari kolam renang, tampak Eldrey yang sedang mengacak-acak rambut dengan satu tangannya dan menyentuh lehernya dengan tangan yang lain.


“Apa yang terjadi?!” tanya Charlie sedikit berteriak padanya. “Kau jatuh dari atas?! Siapa yang mendorongmu?!”


“Mendorongku? Apa maksudmu?” Eldrey balik bertanya. “Tak ada yang mendorongku,” sahutnya membelakangi laki-laki itu dengan maksud meninggalkannya.


“Nona!” teriak bibi pembantu berjalan cepat mendekati mereka, di sampingnya terlihat kepala pelayan Rondolf dan dua orang pelayan yang berjalan bersamanya.


“Nona! Anda baik-baik saja?! Apa yang terjadi?! Siapa yang sudah melakukan ini pada anda?!” tanya bibi pembantu itu bertubi-tubi dengan handuk di tangannya.


“Aku tidak paham maksud kalian, melakukan apa? Memangnya kalian pikir aku kenapa?” tanya Eldrey sambil mengambil handuk di tangan bibi pembantu itu.


“Apa kau lompat sendiri?” tanya Charlie dengan nada suara berat dan dingin.


“Ke kolam renang? Iya, aku lompat sendiri,” tukasnya santai.


“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?” sahutnya sambil menatap tajam gadis itu.


“Ya, aku sadar, lalu?” tanya gadis itu balik menatap Charlie. “Kenapa? Apa kalian pikir aku sedang mencoba bunuh diri?” tanya gadis itu sambil memiringkan kepalanya.


“Kalian sendiri yang menyimpulkannya, kalian heboh sendiri tanpa tahu apa yang terjadi, salah kalian sendiri bukan? Menyimpulkan sembarangan sampai-sampai menimbulkan kehebohan,” tukasnya tanpa rasa bersalah.


Sementara kepala pelayan hanya menatap diam padanya, berbeda dengan Charlie yang menatap kesal padanya.


“Apa kau tidak sadar kehebohan yang sudah kau ciptakan karena percobaan bunuh dirimu yang gila itu?!” sahut Charlie geram.


“Tidak, karena aku tidak bunuh diri,” balasnya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Lalu? Apa ini gertakanmu?”


Semuanya pun terdiam saat mendengar perkataan Charlie ....


“Apa kau tidak sadar apa yang akan dilakukan ayahmu jika dia tahu kalau kau mencoba melakukan ini lagi?” tukasnya dengan nada menekan.


Eldrey pun menatap tajam padanya, “memangnya apa yang akan dia lakukan? Berpura-pura menjadi ayah yang baik? Ah! Tidak, tentu saja dia akan mengurungku dan mengirim orang gila padaku,” bukankah itu yang selalu di lakukannya?” balas Eldrey menantang Charlie.


Charlie masih menatap tajam gadis tersebut, seolah-olah ia menahan sesuatu pada gadis itu.


“Aku lelah, aku sudah kedinginan karena pakaianku basah,” sahutnya sambil melepaskan handuk yang menyelimutinya.


“Nona,” sahut bibi pembantu itu.


Eldrey pun menatapnya, “aku masih waras, jadi aku tidak akan pergi, karena itu jangan menekanku dan membuatku gila, karena kalian sendiri yang tahu apa yang mungkin akan kulakukan,” balas Eldrey sambil membuang handuknya dan meninggalkan mereka.


Charlie dan kepala pelayan Rondolf hanya menatap diam pada setiap langkah gadis itu, berbeda dengan bibi pembantu yang hanya bisa diam dengan air mata mulai membasahi pipinya.


Mereka bingung harus melakukan apa, sekarang sepertinya tidak ada pilihan selain menunggu keputusan dari presdir Betrand untuk putrinya yang keras kepala dan juga berperilaku tak terduga.


Hari sudah menunjukkan pukul 16.00, suara pintu kamar yang diketuk pun membuyarkan lamunan Eldrey yang tiduran santai di sofa pojokan balkonnya. Gadis itu hanya diam tak menjawab, seolah-olah tak mendengar ketukan pintu yang sudah berulang-ulang suaranya.


Gadis itu tidak menjawab atau menoleh sedikit pun padanya, ia lebih memilih menatap langit sore yang cerah menyakitkan mata.


Melihat gadis itu tak mengacuhkannya, laki-laki itu pun memilih duduk di hammock yang berada tak jauh dari sofa itu. “Apa kau tidak ingin pergi?” tanyanya.


“Tidak,” balas Eldrey singkat.


“Kenapa?”


“Karena aku tidak sakit,” jelas Eldrey.


“Lalu?”


“Kenapa aku harus ke sana?!” sahut Eldrey dengan sedikit emosi.


“Kau tidak ingin ke sana? Kalau begitu apa mereka saja yang ke sini?” tanya laki-laki itu sambil menyentuh bunga mawar yang tumbuh menempel di luar dinding kamar tersebut.


Eldrey pun duduk dan menatapnya, “aku tidak gila, jadi sampai kapan aku harus ikut terapi tak berguna itu?! Apa sampai aku benar-benar gila?!” tanya Eldrey dengan penuh penekanan.


Laki-laki itu memetik bunga mawar yang disentuhnya, “benar, kau tidak gila nona, tapi bukankah kau sendiri yang tahu alasan kenapa presdir Betrand sampai mengirimmu ke sana? Jangan bilang kalau kau lupa atas apa yang sudah kau lakukan padanya,” balas laki-laki itu sambil memainkan bunga di tangannya itu.

__ADS_1


Eldrey hanya diam menatapnya, “kenapa? Apa nona sudah ingat atas apa yang sudah nona lakukan?” sambung laki-laki itu sambil tersenyum. “Masih tidak ingin pergi?”


“Tidak, karena aku tidak gila.”


“Kau memang tidak gila, hanya tindakanmu saja yang gila, ayolah nona, ini demi kebaikanmu juga, tak ada salahnya melakukan terapi kejiwaan ini.”


Eldrey pun menggertakkan giginya, “aku tidak mau, paksa aku maka aku akan melakukan lebih dari yang tadi!”


“Jangan membuatku susah, presdir Betrand takkan suka kau bersikap seperti ini! Ini semua demi dirimu, percayalah!”


“Demi diriku? Apanya? Kalian memaksaku pergi! Bukankah itu sama dengan kalian berpikir aku gila?!” teriak Eldrey emosi.


“Tidak ada satu pun orang di sini yang berpikir kau gila, tenanglah nona, percayalah presdir Betrand melakukan ini karena sangat menyayangimu, percayalah,” balasnya menenangkan.


Eldrey pun terdiam, tapi sorot matanya tajam seolah-olah akan melakukan sesuatu pada Charlie. Tiba-tiba ia menghembuskan napas kasar untuk menenangkan dirinya. Suasana tampak menjadi sedikit lebih tenang.


“Kau memang anj*ngnya,” balas Eldrey kasar.


Charlie pun terdiam mendengarnya, “benar, karena dialah yang memberiku hidup dan makan,” sahut laki-laki itu terkekeh untuk memperbaiki suasana.


“Kau bahkan lebih kotor dariku, seharusnya kau juga dikirim ke sana,” tukas Eldrey dengan tatapan dingin yang menusuk.


“Benar, aku lebih kotor dan hina, tapi kita sangatlah berbeda, karena kau aset yang sangat berharga,” jelas Charlie yang menimbulkan murka Eldrey.


“Kalau begitu kurung saja aku, sebelum aku berubah pikiran dan memotong lidahmu,” sahut Eldrey yang menimbulkan senyum di bibir laki-laki itu.


Suasana semakin mencekam antara mereka, di mana keduanya saling memprovokasi karena ingatan masa lalu yang tak terduga.


“Mengurungmu? Aku bukan orang bodoh yang akan melakukan itu,” sahutnya sambil tertawa, “tidak ada gunanya mengurung ular, karena mereka selalu punya celah yang tak terduga.”


“Braakh!”


Tiba-tiba pintu kamar Eldrey pun terbuka, terdengar langkah kaki cepat ke arah balkon itu, “nona?!” teriaknya.


Mereka berdua sama-sama menoleh ke arah sumber suara yang baru saja muncul di hadapan mereka, “loh, Roma? Kamu sudah pulang? Aku pikir kamu akan telat,” tukas laki-laki itu mengucapkan selamat datangnya.


Sekretaris Roma tak mengacuhkannya dan menatap tajam pada gadis yang hanya diam melihat kedatangannya, “apa yang sudah terjadi?” tanya laki-laki itu dengan suara tegasnya.


“Ayolah, tenang dulu, duduklah di sini baru kita berbincang, bukankah begitu nona?” tukas Charlie mencairkan suasana.


“Keluar kalian!” balas Eldrey mulai jengkel. “Aku tidak akan pergi ke sana, jadi silakan kau laporkan pada bosmu semuanya, kita tunggu saja apa yang akan dia lakukan padaku dan semoga kalian senang dengan itu!”

__ADS_1


__ADS_2