
Eldrey pun turun dari mobil. Terlihat Kevin datang menghampirinya.
“Dompet Kak Dean sepertinya ketinggalan,” ucapnya duluan tanpa ditanya. Putri Dempster hanya meliriknya sekilas. Lalu memilih pergi memasuki Vila.
Putra kedua Kendal, sekarang terdiam di dalam mobil seperti menggantikan Eldrey. Di kursi samping sang supir yang di dudukinya, tangannya jatuh ke bawah untuk mengambil sesuatu.
Dompet Dean. Dan juga sebuah ponsel. Ditatap lekatnya layar yang mengkilat itu, alat elektronik keluaran terbaru. Pembelian dari isi sakunya sendiri.
Perlahan, ia putar rekaman yang sedang terlukis di depan mata. Dirinya memang sengaja meninggalkan ponsel itu tadinya.
Mulai terdengar, suara sosok yang tadi duduk di sampingnya. Untaian kata putri Dempster yang entah berbicara dengan siapa. Pemuda itu tertegun mendengar nama Paul, ataupun insiden yang dimaksud dalam rekaman.
Kenapa Eldrey mengatakan itu? Rahasia apa yang sudah dilakukannya dengan orang tersebut? Kevin bertanya-tanya, sampai nama Jack tercetus di dalamnya. Nama yang sempat dilirihkan putri Dempster.
Kevin tersadar akan sesuatu. Siapa sesungguhnya pemilik nama tak asing di ingatan. Dia pernah mendengarnya, saat mengunjungi Sextoria Nightclub. Kalau Jack, merupakan sosok pemilik Club populer itu.
Eldrey berhubungan dengannya? Batinnya bertanya-tanya. Walau Jack nama pasaran, tapi jika dihubungkan dengan ucapan Paul, maka bisa dipastikan itu owner Sextoria Nightclub.
Kevin dibuat jenuh membayangkan seberapa berdarah tangan Eldrey jika benar ini berhubungan dengan kejahatan.
Dia harus mencari tahu, apa yang terjadi dua tahun lalu di Club itu. Karena bagaimanapun juga, perasaannya pada Eldrey membuatnya tak ingin gadis itu terluka.
Putri Dempster harus bahagia terlepas dari apa yang pernah dilakukannya.
Sekarang di lantai dua, di balkon yang sangat besar menghadap ke pantai, terlihat orang-orang sedang ramai. Siapa lagi kalau bukan sosok yang tadi mendatangi Vila keluarga Kendal.
Mereka ingin melakukan pesta barbeque di sana. Arsitektur bangunan yang menarik. Lima kamar tidur dilengkapi kamar mandi, serta kolam renang berukuran sedang di tempat mereka berkumpul.
Ditambah nuansa taman dan satu pohon apel di dalam pot, balkon yang sangat besar sehingga bisa menampung dua puluh orang.
Memang bagus jika melakukan pesta barbeque di sini. Terlebih penyuguhan pemandangan lepas untuk mencuci mata.
Namun, tentu saja suasana agak kurang mendukung untuk beberapa orang.
Alice, dengan muka seperti tertekan.
Erin, sorot matanya seakan cemburu dan tersiksa.
Dean, dihiasi ekspresi bersalahnya.
Serta Diana, masih kesal pada Eldrey ataupun Evan yang sudah membentaknya. Benar-benar geram namun ditutupi senyum ramah di bibirnya. Berniat menjadi bintang utama dan dipuja para teman-teman calon tunangan, namun mereka terlalu sibuk akan masing-masingnya.
“Alice,” panggil Evan sambil menyodorkan jagung bakar padanya. “Dagingnya masih belum matang, kamu makan ini dulu ya?”
Gadis itu tersenyum karenanya, namun ditatap tak suka oleh Dean akibat cemburu pada perhatian Evan.
“Dean, ayo dimakan,” Diana menyodorkan jagung bakar padanya tiba-tiba.
Pemuda itu hanya meliriknya lalu menoleh ke arah Erin dan Ramses yang memanggang makanan.
“Tidak, makan saja,” lalu pergi meninggalkannya.
“Lho, Dean! Tunggu, kamu mau ke mana?!”
Namun panggilan tersebut diabaikan sehingga Diana menjadi tontonan karena suaranya cukup keras.
Tak ada yang ingin mengajaknya bicara, entah kenapa.
“Kenapa pakai piring segala? Makan begini saja,” Steven memperagakan cara memakan daging bakar yang ditusuk itu.
“Cih, ini untuk Eldrey,” jelas Henry.
Ramses pun meliriknya. “Sepertinya kamu sangat perhatian padanya.”
“Eh,” pemuda itu terkesiap karena dikatakan begitu. Raut wajahnya pun berubah kelabakan.
“Oh, apa ini? Sepertinya ada rasa terselubung di sini,” Erin tersenyum jahil melihat respons junior di kampusnya itu.
“Yah, mau ada rasa terselubung pun sepertinya kapalmu sulit berlayar, Hen.”
“Hah? Kenapa?” tanggapnya pada Steven.
“Kamu tidak lupa kan dengan laki-laki tadi? Yang mencegah Eldrey untuk tidak mendekati cowok aneh itu. Bahkan si aneh sempat bilang kalau Eldrey sudah punya pacar,” Steven terkekeh namun hanya ditatap sebal Henry.
“Benarkah? Eldrey sudah punya pacar? Siapa?” Erin terlihat penasaran.
“Tidak tahu. Tapi aku jadi penasaran apa hubungan Eldrey dengan dua laki-laki itu.”
“Dua laki-laki? Siapa yang sedang kalian bicarakan?” sela Ramses.
“Tadi saat keluar dari supermarket, kami sempat bertemu dengan kenalan Eldrey. Aku tidak tahu mereka ada hubungan apa, tapi suasana langsung memburuk begitu cowok aneh itu menyebutkan sesuatu, kalau tidak salah tentang Sextoria Nightclub.”
“Sextoria Nightclub?” Ramses dan Erin mengernyitkan dahi bingung.
“Ya, dan apa kalian tahu apa respons Eldrey?”
“Apa?” tanya Erin dan Ramses bersamaan.
“Eldrey langsung menyentuh wajah cowok aneh itu tapi tangannya malah dicium olehnya!”
“Apa! Benarkah?!” Erin kaget mendengarnya. Sontak saja hal itu menimbulkan perhatian dari Evan, Alice dan Diana yang berdiri tak jauh dari mereka.
__ADS_1
“Benar, tapi suasana langsung berubah gara-gara kehadiran Vincent. Aku jadi penasaran apa hubungan mereka dan siapa pacar Eldrey yang dimaksud cowok aneh itu,” Steven sedikit mendongak membayangkan kembali apa yang terjadi.
“Jangan dibahas lagi. Eldrey pasti belum punya pacar. Orang itu cuma mengada-ada,” Henry tampaknya tak suka membicarakan itu.
Tapi, ekspresi Ramses seperti sedang mengingat sesuatu. Nama itu tak asing. Vincent, entah kenapa dia merasa pernah mendengarnya.
“Ah!” pekiknya teringat sesuatu.
“Rams, kenapa kamu teriak begitu?”
“Ah, tidak-tidak, tidak ada apa-apa,” dirinya lalu tertawa pelan. Bagaimana bisa ia lupa? Kalau Vincent itu ternyata adalah cowok yang ia pukul kemarin karena terlalu keras kepala pada putri Dempster.
Jika Eldrey dibilang sudah punya pacar, tentu saja dirinya yang dimaksud. Bagaimanapun, kemarin ia kan mengaku begitu. Tapi juga tak ada gunanya meluruskan pembicaraan ini, karena Ramses juga malas menceritakannya.
Namun, perhatian mereka teralihkan dengan kedatangan Eldrey.
“Rey.”
“Eldrey!”
Panggil Alice dan Erin secara bersamaan. Mereka saling menoleh, sementara putri Dempster memilih mendekati tempat Ramses dan yang lainnya.
Tentu saja hal itu sontak membuat Alice menggigit bibir bawahnya. Teman yang selalu menjadi tempatnya bercerita, sekarang mengabaikan dirinya tanpa melirik sedikit pun.
Jujur ia sangat cemburu. Takut jika Eldrey akan bersama dengan Erin. Sungguh hati kecilnya tak ingin jika putri Dempster direbut olehnya.
Evan hanya diam memperhatikan itu. Dirinya peka, jika Alice sedang mencoba menjarak dari mereka. Mungkin ada sesuatu antara Alice dan kelompok Ramses, jadi memilih makan di sudut ini.
Karena itulah ia memilih menemani gadis cantik di sebelahnya. Terlebih, sejak Diana memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Dean ekspresi Alice kian berubah.
Tertekan dan tidak bersemangat.
“Ini untukmu Rey, sudah tidak terlalu panas,” Henry menyodorkan piring berisi sate daging dipadukan sayuran beserta jagung bakar.
Gadis itu hanya diam memperhatikan, sampai akhirnya ia menerimanya.
Tentu saja hal tersebut mengundang senyum Henry. Dirinya terlihat puas dan sangat senang.
Eldrey yang memakan makanan di tangan dengan pelan, hanya diperhatikan Evan dengan tatapan lega.
Adiknya, walau tak ingin berbaur dengannya dan Alice, setidaknya bisa menikmati kebersamaan bersama teman-temannya.
Dirinya sudah cukup senang dengan itu walau cuma bisa memandang dari kejauhan.
“Cih! Sok tuan putri!” umpat Diana lalu berbalik. Dirinya tiba-tiba terkesiap karena ternyata di belakangnya ada Kevin.
“Ini tasmu kan? Ponselnya berbunyi,” Kevin memberikannya lalu pergi meninggalkannya. Ikut bergabung dengan tim Erin yang sedang sibuk memanggang.
“Pergi. Gara-gara,” lanjutan disambung Steven dengan gerakan dagu yang diarahkan pada Diana.
“Oh.”
“Tapi, Vin. Apa kak Dean benar-benar bertunangan dengannya?” lanjut temannya itu.
“Entahlah. Lagi pula bukan bertunangan, baru akan bertunangan,” jelasnya sambil mengeja kalimat terakhir.
Tapi jujur hati Erin seketika dihantam lega. Melihat perlakuan Dean pada Diana, dirinya agak senang. Mungkin saja putra Kendal dipaksa bertunangan oleh keluarganya, sehingga Dean pun memilih memutuskan hubungan mereka.
Seolah secercah sinar kembali merona di hati Erin. Berpikir mungkin saja masih ada harapan untuknya bisa bersama dengan Dean nantinya.
“Kak, aku ke dalam dulu ya, mau mengambil minuman,” pamit Alice yang hanya dibalas anggukan oleh Evan.
Anak pertama keluarga Dempster pun akhirnya memilih bergabung dengan Ramses dan yang lainnya.
“Hai senior, ini,” Erin pun menyodorkan satu tusukan daging bakar pada Evan.
“Terima kasih. Tapi kamu bisa memanggilku Evan.”
“Kak Evan?” Erin memamerkan gigi ratanya yang berhias senyuman.
Laki-laki itu tersenyum menanggapinya. Dan dilirik oleh orang-orang sekitarnya.
“Uhuk-uhuk, uhuk! Kupikir ada yang bermekaran,” ocehnya seperti orang kesakitan.
“Dasar!” Erin yang tampak malu pun memukul lengannya.
“Aduh! Sakit!” erang Steven.
“Salahmu karena aneh-aneh begitu,” jengkel Erin.
“Apanya yang aneh? Senior tenaga raksasa.”
“Apa kamu bilang!”
“Ah, tidak-tidak!” pekik Steven lalu kabur karena dikejar Erin. Orang-orang pun tertawa melihat mereka, tapi lain halnya Eldrey.
Entah kenapa, keramaian ini terasa aneh baginya. Seakan penuh senyuman dan kebahagiaan yang menyesakkan sudut hatinya.
Gadis itu pun memilih pergi dari sana.
“Lho, Eldrey!” panggil Ramses. “Kamu mau ke mana?”
__ADS_1
Namun gadis itu tetap mengabaikannya. Langkahnya melewati Diana yang menatap tajam dirinya.
“Jalang!” umpat Diana.
Akan tetapi, Eldrey hanya menoleh sekilas padanya sambil tersenyum. Entah apa maksud guratan di bibir putri Dempster, namun yang pasti Diana merasa aneh saat melihat itu.
Langkah Eldrey yang masih membawa piring makanan pun terhenti di lantai satu. Mengambil minuman di kulkas, namun tatapannya menatap datar pintu keluar belakang.
Ada suara tak biasa berkumandang dari arah sana, membuatnya tanpa ragu menghampirinya.
Eldrey terdiam saat mendapati pemandangan tak terduga, sebuah kewajaran dari mereka yang dimabuk cinta. Langkahnya pun memilih pergi dari sana menuju sofa.
Sampai akhirnya sorot matanya menajam mendapati gadis paling menyebalkan di Vila menuruni tangga.
“Heh! Di sini juga, kamu lihat Dean atau tidak?!” tanyanya tanpa sopan santun.
Putri Dempster hanya diam mengabaikannya dan memilih meminum minuman kaleng di tangan.
“Kamu dengar aku tidak?!” hardik Diana.
Akan tetapi, Eldrey masih tidak mempedulikannya. Tiba-tiba Diana pun memukul minuman itu sehingga jatuh dan isinya berserakan karena sudah sangat geram.
Membuat leher serta kerah baju Eldrey sampai area dada tersiram minuman. Tapi, gadis itu masih saja diam sambil melirik Diana lewat sudut matanya.
“Kau pikir kau siapa?! Hanya karena kau anak orang kaya, kau pikir bisa bersikap seenaknya?! Kau itu cuma jalang rendahan yang sudah merebut milik orang lain! Kau itu tidak lebih dari gadis tidak tahu diri yang sama seperti sepupumu itu! Kau itu murahan Eldrey! Murahan!”
“Ada apa ini?!” suara Dean tiba-tiba membuyarkan suasana.
“Dean!” Diana kaget karena pemuda itu muncul tiba-tiba. Akan tetapi, pandangannya jadi terganggu karena di belakang Dean juga ada Alice. “I-ini—”
“Kenapa kamu membentak Eldrey seperti itu?”
“Tidak, itu— maksudku kami cuma,” Diana mulai panik. Akan tetapi, wajahnya langsung mengernyit bingung menatap sesuatu yang tak terduga. “Dean? Kenapa bibirmu—” ucapnya kaget sambil menyentuh sudut bibir calon tunangannya yang sudah menghampirinya.
“Apa yang kamu lakukan?!” Dean tampak kesal dan langsung menepisnya.
Diana terbelalak melihat perlakuan itu. “Kamu, kenapa ada jejak lipstik di bibirmu?!”
Sontak saja Dean dan Alice terkesiap. Diana langsung menoleh ke arah Alice di mana gadis itu memasang tampang terkejut yang luar biasa. Seketika tangannya menyentuh bibir Alice dan mengusap kasarnya.
“Diana! Apa yang kamu—”
“Lipstik coral,” dirinya memotong kalimat Dean. “Kalian, kalian berciuman?!”
Tapi di atas, tiba-tiba Steven langsung membawa berita heboh. “Hei! Hei! Hei! Di bawah sedang bertengkar!” ucapnya panik.
“Apa?!” teriak Kevin dan Erin bersamaan.
Spontan saja mereka langsung masuk dan menuruni tangga. Tadinya Steven ingin mengambil minuman yang lupa dibawa ke atas, tapi dirinya terkesiap mendengar teriakan Diana sehingga memilih melaporkannya.
“Jawab aku Dean! Apa kalian berciuman?!” mata Diana mulai memerah.
“Tidak, itu—”
“Diam!” hardik Diana pada Alice. “Aku tidak bertanya padamu!”
“Hei, ada apa ini?!” suara Ramses memecah suasana.
Tanpa diduga, mereka turun dan menonton kejadian tak terduga. Dean tersentak dan langsung memegang tangan Diana.
“Hentikan. Ayo kita bicara di tempat lain,” ajak Dean menariknya.
Spontan Diana pun langsung menepisnya. “Kenapa?! Karena kamu tidak ingin kebusukan perempuan ini tersebar?! Perempuan tak tahu diri!”
“PLAK!”
Terdiam. Orang-orang dibuat kaget karena tamparan tak terduga yang dilayangkan Diana ke pipi gadis di sebelah Dean.
“Alice!” pekik Dean, Ramses dan Erin bersamaan.
“Apa yang kamu lakukan?!” Dean pun langsung mendorong bahu Diana.
“Agh!” pekik gadis itu karena terjatuh tiba-tiba.
“Kak Dean!” Kevin pun membantu gadis itu. “Apa yang Kakak lakukan?! Dia perempuan!”
“Tapi dia sudah menampar Alice.”
“Kak—” Kevin tak percaya jika kakaknya baru saja bersikap seperti itu.
Sementara Alice yang ditampar hanya bisa menangis. Rasanya menyakitkan karena ia tak tahu harus melakukan apa.
Begitu pula dengan Diana. Dia yang masih syok sebab telah di dorong Dean, perlahan dirinya pun mulai meneteskan air mata.
__ADS_1