FORGIVE ME

FORGIVE ME
Koma


__ADS_3

Eldrey tak tahu apa yang salah, sampai-sampai dirinya diperlakukan dengan kejam begitu.


Dan mungkin, mati pun menjadi pilihan untuk anak sekecil itu.


“A-apa salahku? Kalian siapa? A-aku tak pernah berbuat jahat pada kalian!” teriaknya.


Tapi, cuma tawa yang disemburkan orang-orang itu.


“Kau ingin tahu? Kau ingin tahu? Tapi aku, takkan memberi tahumu,” ledek laki-laki berkumis itu.


“Jahat. Kalian jahat! Ayahku pasti akan menghabisi kalian! Kalian pasti akan merasakan apa yang aku rasakan! Ayahku pasti akan datang untuk menghukum kalian! Kalian ... akan mengalami apa yang aku rasakan!” Eldrey pun terisak-isak.


Sementara tiga orang yang mendengarnya, salah satunya hanya tertawa pelan.


“Benarkah? Kalau begitu mana ayahmu itu? Dia masih belum datang bukan? Dasar bocah! Kerjanya cuma berisik saja! Tutup mulutmu atau aku akan menghajarmu!”


“Kalian akan celaka. Kalian para orang jahat akan celaka,” lirih Eldrey sesegukan. “Kalian semua akan celaka. Keluarga kalian akan menderita. Kalian semua akan mati, kalian semua pasti mati, kalian semua pasti akan mati!”


Tapi, tiba-tiba tendangan kasar langsung dihujamkan ke perut putri Dempster. Bunyinya begitu keras, dan Eldrey pun menangis kesakitan.


Sayangnya, sang gadis kecil sudah berhasil membangkitkan sesuatu yang tak seharusnya diusiknya.


“Padahal aku sudah berbaik hati untuk tidak menyiksamu! Tapi kau benar-benar tidak tahu diri rupanya, dasar anak kepar*t!” marahnya sambil menghajar wajah putri Dempster. Berulang-ulang, dan membuat beberapa gigi depan sang gadis kecil patah. “Sekarang ayo katakan lagi! Katakan lagi apa yang kau ucapkan barusan!”


“M-maafkan aku.”


Mengerikan. Bukannya merasa iba, dirinya justru menyeringai dengan lebarnya. Dan sebuah pukulan, kembali dihajarkan pada kepala sang gadis kecil yang terluka.


“Maaf? Kau bilang maaf? Mana umpatanmu barusan bocah? Ayo ulang lagi! Ulangi lagi itu semua agar aku bisa menghajarmu!” pukulan selanjutnya lagi-lagi dilayangkan tepat pada jejak sebelumnya.


Rasanya kepala putri Dempster ingin pecah, namun ia hanya bisa memekik dan merintih kesakitan.


Tapi orang di depannya cuma tertawa melihat penyiksaan yang diberikannya pada raga kecil di hadapan.


“Jangan menangis saja!” sambil tertawa. “Ayo maki lagi kami semua! Katakan apa pun yang ingin kau katakan pada kami! Ayo bocah! Cepat katakan! Jangan menangis saja!”


“Maafkan aku,” mohon Eldrey sambil memaksa tubuh untuk bersujud kepadanya. “Maafkan aku, maafkan aku,” begitu sendu lirihannya. Seolah ingin merobek nurani siapa pun karena iba.


Tapi, entah kenapa itu tak berlaku pada tiga monster yang salah satunya tertawa.

__ADS_1


“Maaf? Kalau begitu mari kita lihat. Apa kau masih bisa meminta maaf kepadaku!”dan tangannya pun mengambil sebuah balok yang tak jauh dari sana.


“Hei! Kau mau apa?!” tanya rekannya.


“Apa kalian lupa? Kita disuruh memberi pelajaran pada bocah ini sebagai hukuman untuk orang tuanya. Kalau begitu, bukankah ini cara terbaik? Lihat saja aku, jika kalian mau, kalian juga bisa ikut denganku,” dan seringai pun tercetak di bibirnya.


“Tidak, A-aku mohon jangan. Ayah! Ibu! Tolong aku! Tidak-tidak, tolong aku! Aagh!” teriak keras putri Dempster akhirnya.


Sebuah hantaman dari balok di tangan pun mengenai tepat tulang rusuknya. Berbunyi keras, berulang-ulang menghajar tubuhnya seperti samsak pelakunya.


Teriakan kesakitan bak lolongan itu pun memekik keras di sana. Namun, cuma dibalas tawa oleh pria berkumis tipis sebagai pelakunya. Dia benar-benar orang gila karena menyiksa seorang anak kecil dengan bahagianya.


Entah di mana nurani mereka, kedua rekannya hanya menonton itu semua.


Sampai akhirnya darah dimuntahkan Eldrey dari mulut dan hidungnya karena sakit yang mendera badannya.


Dia hanya bisa menangis tak berdaya.


“Aah ... aku lelah,” ucapnya sambil memantik api rokoknya. Dihembuskan asap ke udara, seolah-olah ia sudah puas merundung seorang anak yang tak bersalah apa-apa.


Tapi, sepertinya dia benar-benar sudah gila. Ide tak masuk akal tercetus di otaknya. Puntung rokok yang terbakar, ia tanamkan ke kaki putri Dempster sehingga dirinya menjerit dengan keras.


Sungguh mereka tak punya hati lagi untuk disebut sebagai seorang manusia.


Bahkan api dari pemantik ikut dinyalakan untuk membakar kaki dan tangannya.


Entah sudah berapa banyak tangisan yang ditumpahkan, entah sudah berapa lama teriakan berhias erangan dilontarkan. Namun kenyataannya, itu tidak melunakkan hati mereka.


Tak ada rasa kasihan untuk mengampuninya. Orang-orang itu seperti pria berdarah dingin, tak terusik perasaannya untuk merasakan iba.


Sampai akhirnya, putri Dempster yang pasrah pun hanya bisa menangis sambil menunggu kedatangan orang tuanya.


Dirinya yang tak berdaya, sudah tak tahu rasa sakit apa mendera tubuhnya. Kecuali sebuah fakta, kalau sosoknya berharap mati mungkin lebih baik untuknya.


Tangisan dan permintaan ampun dari Eldrey, cuma di dengarkan dan ditertawakan oleh mereka.


Sungguh biadap para pelaku yang telah menyiksanya.


Akhirnya, dengan bantuan Daniel Bonapart, pihak Dempster berhasil melacak keberadaan Tuan Putri mereka.

__ADS_1


Diiringi para bawahan Dempster dan Gates, mencoba meringkuk para tersangka dengan mengelilingi area yang kemungkinan akan menjadi tempat berlari.


Sayangnya, semua tak sesuai harapan mereka.


Karena di rumah kosong dalam hutan itu, hanya ada korban kekerasan seorang.


Eldrey Brendania Dempster.


Dengan bentuk tubuh yang tak dapat disebutkan lagi kondisinya, dipeluk oleh Betrand dan sang istri sambil beruraian air mata. Menangis terisak-isak, karena sangat terpukul atas apa yang menimpa anaknya.


Keberadaan pelaku sudah jelas memudar dari sana, seolah-olah mereka tahu kalau orang-orang telah mengetahui langkah mereka.


Sehingga penghapusan jejak secara sempurna, dilakukan agar tak ada satu pun yang tertangkap nantinya. Dan itu semua dibersihkan oleh mereka dengan taring dan kebencian di posisinya.


Walau tak jelas siapa sosoknya, tapi dalang utama jelas-jelas mempunyai masalah dengan Dempster sampai menghakimi putri mereka yang tidak tahu apa-apa.


Sekarang Eldrey, hanya bisa membisu tak sadarkan diri di rumah sakit. Retak dan patahnya tulang rusuk di badan, melukai organ dalamnya.


Memar di sekujur tubuh dan luka bakar yang di deritanya, membuat frustrasi suami istri Dempster akibat rasa bersalah yang mendera perasaan mereka.


Namun faktanya, syok terbesar pasti di derita oleh korban kekerasan.


Walau Eldrey koma, bukan berarti saat sadar dirinya akan baik-baik saja. Mengingat sekarang ia juga harus bertaruh nyawa.


Trauma menyeluruh yang di deritanya telah membuatnya tak sadarkan diri sampai berminggu-minggu lamanya.


Ironis.


Ayahnya memiliki kekayaan yang tak bisa disebutkan jumlahnya, namun menangkap pelaku penculikan saja mereka tidak bisa.


Sebuah bukti nyata, kalau uang takkan mampu melakukan apa pun seenak hatinya.


Bahkan jika kertas berharga itu juga yang dipakai untuk menutupi kejahatan pelaku di satu sisinya, namun untuk Dempster mereka benar-benar tidak bisa apa-apa.


Entah apa yang salah dalam kehidupan mereka, sampai akhirnya seorang gadis kecil pun harus menerima siksaan keji lewat tubuh terawat miliknya.


NOTE : Maaf semuanya, demi kebaikan kondisi otor, terpaksa up nya dilanjutkan hari senin ya. Sekali lagi maaf semuanya :) dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah dukung dan tungguin karyaku sampai ke titik ini. Maaf belum balas semua komennya, dan jaga kesehatan kalian karena sehat itu mahal.


Sampai jumpa lagi di hari senin, 🤗

__ADS_1


 


 


__ADS_2