FORGIVE ME

FORGIVE ME
Sosok di mata mereka


__ADS_3

Alunan suara dari keluarga presdir Betrand mendiamkan beberapa pendengar. Lily menoleh ke belakang, melangkah menghampiri Eldrey.


“Bisa kita bicara? Ada yang ingin kukatakan.”


Eldrey mengerutkan dahi. Sampai akhirnya ia hanya berkedip dan meninggalkan ruangan bersama Lily.


Mereka pun sampai di balkon lantai dua.


“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Eldrey menatap datarnya.


Seketika gadis yang ditanya menggenggam tangan sepupunya.


“Rey. Aku ingin minta maaf atas kesalah pahaman yang terjadi.”


“Begitu? Tapi aku sudah memaafkanmu.”


“Benarkah Rey? Kamu memang sepupuku yang pengertian! Tapi tetap saja aku ingin meminta maaf padamu. Maafkan aku,” Lily lalu memeluknya.


Tak ada balasan dari Eldrey. Kecuali ia diam menerima perlakuan itu.


“Rey.”


“Mm.”


“Sebagai permintaan maafku, apa kamu mau pergi malam ini denganku?”


“Pergi?”


“Iya. Bersama Naomi juga. Kami berdua ingin memperbaiki hubungan dan lebih akrab denganmu. Bagaimana?”


“Tidak terdengar buruk.”


Lily tersenyum. “Kalau begitu nanti aku akan memberi tahumu tempatnya. Kamu siap-siap saja malam ini. Oke?”


“Mm. Ayo ke bawah,” ajak Eldrey begitu pegangan tangan terlepas. Lily mengangguk tersenyum dan berjalan duluan.


Sementara tuan putri di rumah itu, menatap lekat punggung sepupunya. Seakan langkah kakinya berbisik kalau ia memikirkan sesuatu di tampangnya.


Saat mereka hampir sampai di depan pintu kamar Betrand, keluarga Gates justru keluar dari sana.


Nyonya Camila memeluk cucunya. “Nenek pulang dulu sayang. Tolong jaga ayahmu. Nanti kami akan datang lagi,” sambil perlahan melepas pelukan.


“Ya, aku mengerti.”


Tuan Gates pun tersenyum menatap cucunya, tapi berlawanan dengan anak dan menantunya.


Ekspresi yang dipaksakan, dari senyum pahit untuk keponakan yang menjengkelkan. Mereka tampak tak berniat menutupi raut itu, apalagi mengingat ulah Eldrey untuk perusahaan mereka.


“Jika aku sudah menemukan pelakunya, jangan lupa perjanjiannya. Lagi pula Betrand sudah menyetujuinya,” tegas Bill melangkah pergi dan diiringi orang-orang yang bersamanya.


“Kau takkan menemukannya, karena kau tidak gila,” gumam Eldrey yang takkan di dengar mereka. Ia pun melangkah masuk ke kamar ayahnya.


Sorot mata saling beradu, tampak kondisi presdir Betrand sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Terlebih dokter Arlene rutin setiap hari untuk datang ke sana memeriksa keadaannya.


“Bagaimana kondisimu Ayah?”


“Jauh lebih baik.”


Entah kenapa, keheningan justru mulai tercipta di antara keduanya. Walau mata saling melukiskan pertanyaan, namun tak ada yang bersuara. Detik-detik berlalu dalam diam.


“Bagaimana rasanya?” sang ayah memecah keheningan.


“Apanya?”


“Mengambil alih sementara kepemimpinan.”


“Aku hanya pemberi saran. Bawahanmu yang mengambil kepemimpinan.”


“Kamu pasti sudah tahu konsekuensi dari saranmu.”


“Ya. Paman datang kemari, mengeluh saham lagi.”


Presdir Betrand menghela napas pelan. “Apa yang kamu rencanakan? Ini sama saja memutus hubungan dengan para kolega.”


Eldrey tersenyum tipis. “Kolega bisnis tercipta karena saling membutuhkan. Selama raja dengan kuasa terbesar masih berdiri, yang membutuhkan pasti akan tetap datang menjilatnya, bahkan jika itu membunuh nurani dan gengsi.”


Betrand terdiam. Sorot matanya masih belum berubah, rupa angkuh sang putri masih tetap ia pandang.


“Aku hanya belajar darimu. Aku rasa prinsipmu takkan terkikis cuma karena menyelamatkan seorang gadis miskin. Aku akan pergi, selamat beristirahat Ayah,” langkahnya berbalik meninggalkan.


Presdir Betrand mengalihkan pandangan menatap langit-langit kamar. Pembicaraan mereka di dengar Charlie dan sekretaris Roma yang berdiri di dekat pintu, namun tak satu pun bersuara.


Tak satu pun yang bercerita, tentang siapa sebenarnya penyerang tuan rumah mengingat kondisinya.


Di tempat yang berbeda, dalam sebuah kediaman dengan nuansa tropisnya, seorang pemuda masih meringkuk tak bergerak di balik tidurnya.


Bahkan kicauan ayam tetangga takkan terdengar karena jauh dari rumahnya.


Walau matanya terbuka, tapi aura kehidupan seakan malas untuk bersamanya. Mungkin, karena ia terlalu patah hati.


Rasa sukanya seakan patah dua dan terinjak menjadi debu akibat ulah gadis muda yang sudah ditolong.


Tapi, deringan ponsel dari teman tercinta namun berlabel sialan mengganggunya.


“Mm!” jawab Henry begitu ia mengangkat panggilan.

__ADS_1


“Hey bocah! Ayo main basket di lapangan.”


“Aku lelah!”


“Memang apa yang kau lakukan semalam?”


“Aku mau tidur! Bye!” Henry memutus panggilan. Sementara, lawan bicaranya tadi cuma mengernyitkan dahi bingung akan ulahnya.


“Apa yang salah dengan bocah ini?!” gerutu Steven.


Ia pun menghubungi rekan seperjuangannya yang lain. Beberapa saat kemudian, “Halo? Selamat pagi tampan,” dengan nada menggelikan.


“Telingaku jijik mendengarnya. Mau apa?”


“Ayo main basket.”


“Aku lelah.”


“Cih! Sialan! Kenapa jawabanmu sama dengan bocah itu?!”


“Main saja dengan pacarmu! Jangan ganggu aku!” ketus Kevin.


“Diam kau! Jangan beri garam pada luka hatiku!”


“Garam apa? Aku tak mengerti ucapanmu. Playboy sepertimu jangan cerewet, aku ini masih mengantuk!” Kevin pun memutus panggilan.


“Sialan! Kenapa dengan bocah-bocah ini? Menyebalkan!”


Sementara Kevin, ia memilih bangun dari tidurnya. Hari libur adalah saat yang tepat untuk bermalas-malasan.


Sampai akhirnya langkahnya untuk sarapan pagi terhenti begitu mendengar kalimat Dean karena pintu kamar yang tak tertutup rapat.


“Terima kasih sayang. Aku juga merindukanmu,” dengan ukiran senyum yang takkan terlihat adiknya.


“Ya. Malam ini aku akan menjemputmu. Tenang saja, aku sudah pesan tempat spesial untuk kita. Kamu jangan cemas Lis, semua akan baik-baik saja.”


Ekspresi Kevin langsung berubah mendengar nama itu. Sosok gadis yang sebenarnya menjejakkan rupa di hati Kevin. Rasa terpendam yang ia kubur, semakin terjatuh ke dalam lubang dan enggan bangkit terlebih mengetahui kakaknya memiliki hubungan dengannya.


Kevin sudah mengira hal itu. Rasa curiga di antara hubungan mereka, terlebih Dean yang ia pikir memiliki pacar dan tunangan justru mengikat rasa dengan gadis yang disukai Kevin bertahun-tahun.


Tapi, perbedaan mereka cukup jauh. Dean lebih memilih mengumbar rasa dan berjuang, sedangkan Kevin memilih mengubur rasa dan diam. Ia bukan tipe anak pembangkang, tidak untuk melawan sosok ayahnya yang keras kepala.


Dirinya sadar, kalau tuan Kendal takkan menyetujui pilihan dengan level di bawah keluarganya.


Ia pun menjauh dari sana dengan ekspresi dingin di muka.


“Sayang? Kamu mau sarapan? Biar mama siapkan,” sapa nyonya Julia karena ia dan suaminya sudah sarapan tadi.


“Di mana Dean?” tanya tuan Kendal sambil membaca koran di tangan.


“Masih di kamar.” 


“Mm,” angguk Kevin hendak bangkit.


“Biar mama saja. Kamu makanlah,” ucap nyonya Julia menyentuh bahu putranya.


Kevin hanya tersenyum dan memakan sajian itu. Akan tetapi, saat menaiki tangga sosok Dean muncul akhirnya.


“Dean. Mama baru mau memanggilmu.”


“Maaf aku baru turun Ma.”


“Ayo sarapan,” ajak Nyonya Julia sambil merangkul pinggangnya.


Akan tetapi, baru Dean mendudukkan tubuh tuan Kendal malah melempar kata yang tak ingin ia dengar.


“Diana akan kemari, kau jangan ke mana-mana.”


“Kemari? Aku ada urusan malam ini.”


“Urusan? Memang urusanmu sepenting apa di banding tunanganmu?!” tuan Kendal meninggikan suara.


Dean akhirnya menghela napas kasar. “Tunangan? Aku heran kenapa Papa sangat mempedulikan hal itu. Bahkan jika aku tetap bersamanya, dia akan sadar kalau aku tak pernah menyukainya. Hal itu cuma akan memperburuk hubungan Papa dan tuan Adam.”


“Dean! Beraninya kau menggurui papa seperti itu!” hardik tuan Kendal akhirnya.


Tapi, tak terlihat ketakutan di sorot mata putranya. Dean tetap memamerkan tatapan menantang padanya.


“Pa, sudah Pa.” Nyonya Julia mencoba menenangkan suasana. “Dean. Hentikan Nak, tolong dengarkan papamu. Ini demi kebaikanmu juga sayang,” suara lembut nyonya Julia seakan bergetar karena ketegangan itu.


Dean terdiam menatap Mamanya. Ia pun akhirnya berdiri dari duduknya.


“Aku tidak lapar.”


“Mau ke mana kau Dean! Kembali kemari! Dean!” teriak tuan Kendal yang tak diacuhkan putranya. “Berani-beraninya anak itu mengabaikanku!”


“Sudah Pa, hentikan. Aku mohon! Biarkan Dean sendiri,” pinta nyonya Julia dengan mata berkaca-kaca.


Di lain sisi, Kevin hanya diam menatap ketegangan itu. Kekesalan yang ditampilkan tuan Kendal akan pembangkangan putranya, suasana makan yang terasa pahit akan pertengkaran mereka, menghapus nafsu makan Kevin.


“Ma, Pa. Aku kembali ke kamar dulu,” pamit Kevin akhirnya.


“Coba lihat itu. Bagaimana bisa adiknya jauh lebih baik dari kakaknya?!” jengkel tuan Kendal.


Kevin mengabaikan perbandingan itu dan tetap berlalu. Di sorotnya pintu kamar Dean sebelum memasuki kamarnya sendiri.

__ADS_1


Rasanya enggan mengakui, tapi dirinya sesak jika memiliki orang tua dengan prinsip seperti itu. Mengekang kebahagiaan anak demi ambisi, benar-benar menyesakkan.


Mungkin memang benar, tak peduli seindah apa sebuah keluarga di depan mata, tetap takkan ada yang tahu lubang hitam di dalamnya. Entah akan menelan kebahagiaan atau kesedihan demi sebuah keharmonisan tetap bertahan lama.


Kedua kalinya, tamu datang kembali ke kediaman presdir Betrand. Akan tetapi, sosok ini justru dari pria yang takkan pernah di duga kehadirannya.


Sambil membawa buah, ia memasuki kediaman itu dan disambut baik oleh pelayan.


“Selamat datang Tuan.”


Pria itu tersenyum. Terlebih Rondolf juga datang menghampiri. “Selamat datang Tuan,” sapanya.


Sang pria mengangguk dan mengeluarkan kata tanpa sebuah basa-basi.


“Kudengar Betrand sedang sakit dan dirawat di rumahnya. Apa aku diizinkan untuk melihat keadaannya?”  


Setelah berpikir sejenak Rondolf menyetujui dan memandunya ke kamar utama.


Begitu pintu terbuka, sosok yang ingin ditemui tampak terbaring tak berdaya dengan wajah tidur tenangnya. Perlahan ia membuka mata, karena menyadari ada orang yang datang.


“Tinggalkan kami,” perintah presdir Betrand pada Rondolf.


Pria itu meletakkan keranjang buah di atas nakas dan menatap sosok Betrand.


“Aku tak tahu kita sedekat itu sampai anda datang menjengukku.”


Pria itu kembali mengulas senyum. “Bagaimanapun putrimu adalah orang yang sudah menyelamatkan putraku. Aku hanya mengkhawatirkannya,” jelas tuan Harel akhirnya.


“Begitu.”


“Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang terlihat.”


Tuan Harel menatap dada pria yang ditempeli alat-alat penunjang kondisinya. Terlihat perban membalut tubuh presdir Betrand.


“Cepat sembuh Betrand,” ucap tuan Harel akhirnya. “Kalau begitu aku pergi dulu,” pamitnya.


Hanya sebuah pertemuan singkat, dari dua sosok ayah dengan kepribadian yang berbeda.


Langkah tuan Harel terhentikan karena Eldrey menyapanya.


“Paman? Anda menjenguk ayahku?”


“Ya. Bagaimana keadaanmu?”


“Baik.”


Jawaban Eldrey, dibalas senyuman oleh tuan Harel. Ia bukan tipe orang pelit dalam berekspresi seperti itu.


Eldrey terdiam saat pria yang merupakan ayah dari Ramses menyentuh kepalanya dan mengelusnya.


“Jaga dirimu,” ucapnya sebelum akhirnya pergi.


Eldrey masih membisu di posisinya. Pertama kalinya, seseorang mengatakan itu padanya. Terlebih lagi, ucapan itu dari sosok yang seperti ayahnya.


Bahkan beberapa pasang mata tertegun dengan perlakuan lembut tuan Harel untuk sang putri Dempster.


Batin gadis itu selalu merasa aneh saat bertemu Harel Turner. Bahkan di dalam langkahnya, perlakuan orang itu tetap membayangi.


Ironis, sebuah senyum dan sikap tulus seorang ayah, justru ia dapatkan dari ayah orang lain.


Bahkan jika pikirannya bergumam, tapi perlakuan itu memang apa yang diharapkan sudut hati terdalam. Entah disadari atau tidak, Eldrey memang nyaman dengan sosok tuan Harel Turner yang memperhatikannya.


Sore harinya, sebuah pesan dari Lily pun muncul. Berisi tentang tempat pertemuan mereka. Eldrey melempar ponsel itu ke atas ranjang.


Perlahan, seringai mengembang di bibirnya. Sambil berdiri di balkon menikmati hembusan angin untuk kulit.


“Baiklah. Aku juga tidak sabar,” gumamnya.


Di kediaman berbeda, seorang gadis cantik sudah selesai memperhatikan dandanannya. Dress mini ketat one shoulder merah menyala, melekat indah di tubuhnya. Ditutupi jaket denim abu-abu untuk mempercantik lekuk tubuhnya.


“Sayang, kamu cantik sekali. Mau ke mana?”


“Aku ingin bertemu temanku Ma.”


“Baiklah. Jangan pulang terlalu malam ya,” Nyonya Amelia mengecup kepala putrinya.


Lily segera berangkat dengan hati menggebu-gebu. Senyum cantiknya seketika berubah menjadi seringai. Dirinya, Naomi dan Eldrey, sudah berjanji akan bertemu di club malam.


Sebuah tempat di mana Lily dan Naomi sering datang ke sana.


Jam menunjukkan pukul 20.21 dan ia sudah sampai duluan. Dirinya lebih memilih menunggu di ruang VIP lantai dua, karena itu tempat terbaik menurutnya.


Beberapa menit kemudian, Naomi juga sudah datang dan duduk di dekatnya.


“Bagaimana?!” tanya Naomi dengan nada sedikit keras.


“Dia akan datang. Aku sudah bilang akan menunggunya di sini!”


“Obatnya?!”


“Tenang saja!” Lily mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


Keduanya sama-sama tersenyum melihat apa yang ada di tangan Lily.

__ADS_1


 


 


__ADS_2