
“Hentikan kalian berdua,” sela Tuan Harel akhirnya. “Tidak perlu berdebat saat sarapan. Dan Ramses, jika kamu tidak mau dengannya, Papa tidak akan memaksa. Jadi kamu tidak perlu cemas.”
Ramses pun akhirnya menghela napas lega karena pernyataan ayahnya. Benar-benar sosok kepala keluarga yang pengertian. Tak sedikit pun memaksa anak-anaknya untuk melakukan sesuatu demi perusahaan mereka.
Walaupun nyatanya, perjodohan Ramses nanti mungkin saja bisa melebarkan sayap bisnis dan menambahkan keuntungan bagi keluarga. Tapi, memang Tuan Harel namanya. Dia bukan tipe yang akan menggunakan kebahagiaan anaknya untuk itu semua.
Keluarga adalah yang utama baginya.
“Jadi, apa kamu ingin dijodohkan dengan putra Betrand Dempster?”
Pertanyaan ayahnya pun berhasil membuat sang putra tersedak. Sehingga Nyonya Nera pun jadi marah karena kecerobohan anaknya.
“Ramses! Hati-hati Nak! Kamu mau mati muda!”
“Ma! Jangan berlebihan begitu, mana mungkin tersedak bisa membuatnya mati muda?” ledek Fiona.
“Tidak ada yang tidak mungkin, Sayang. Beberapa hari yang lalu Nenek sempat lihat beritanya di televisi. Anak muda meninggal karena tersedak gurita hidup.”
Sontak saja pernyataan nenek tua itu berhasil membuat Fiona memasang muka malas mendengarnya.
“Aduh, terserahlah,” dirinya pun mengangkat bahunya sekilas.
Sementara Ramses, sedang menatap tak percaya pada ayahnya yang tadi bertanya. “Apa mungkin Papa ingin menjodohkanku dengan Eldrey?”
“Jika kamu mau, Papa akan menemui ayahnya untuk melakukan hal itu.”
Ramses pun perlahan menggeleng kepala. “Tidak perlu. Dia sudah seperti adik bagiku. Jadi tidak mungkin bagiku berpasangan dengannya.”
“Kenapa tidak mungkin?” sela Nyonya Nera tiba-tiba. “Kalian tidak sedarah. Dia perempuan dan kamu laki-laki. Dia cantik dan berasal dari keluarga ternama. Tak ada masalahnya kalau kamu memang mau dengannya. Mama juga akan melakukan yang terbaik untuk mendukungmu dengannya.”
Sekarang, pemuda itu benar-benar dibuat terdiam oleh ucapan orang tuanya. Padahal sebelumnya, entah kenapa Ramses merasa kalau ibunya tidak menyukai putri Dempster. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja.
Karena nyatanya, Nyonya Nera sangat menyetujuinya.
“Aku—”
“Apa kamu sudah punya kekasih?” tanya ayahnya tiba-tiba.
Dan sebuah gelengan sebagai jawaban melukiskan diri putranya.
__ADS_1
“Tidak ada? Kalau begitu bersama gadis itu saja. Kalian tampaknya cukup dekat, Mama setuju jika kamu dijodohkan dengannya. Bagaimana menurut Papa? Tak ada salahnya kan? Terlepas dari siapa sosok Dempster, mereka memang pantas dijadikan keluarga.”
Dan ucapan Nyonya Nera, membuat Tuan Harel menatap lekat putranya. Bersamaan dengan yang lain mulai mengikuti arah pandangannya.
“Sepertinya, lebih baik kamu memikirkannya terlebih dahulu. Papa tidak akan memaksamu. Jika kamu punya pilihan lain, maka jangan sungkan untuk memperkenalkannya. Karena bagaimanapun segala sesuatu yang berkaitan dengan perjodohan dan pernikahan itu kamu sendiri yang akan menjalaninya.”
Akhirnya, nuansa sarapan pagi mereka pun berakhir dengan tiadanya jawaban Ramses sebagai balasannya.
Perjodohan.
Itu bukan perkara main-main.
Menyatukan seorang laki-laki dan perempuan, menjalin sebuah ikatan, serta membawa nama keluarga di masing-masing bahu pelakunya.
Ramses tahu benar bagaimana adab dalam menjalani perjodohan yang mungkin saja akan berakhir di titik pernikahan.
Tapi nyatanya, hatinya sedang dihiasi wanita lain.
Alice.
Sosok temannya, dan juga pasangan dari sahabatnya, Dean. Walau sejujurnya ia kecewa tapi dirinya juga sadar diri. Mengambil milik teman tak ada di dalam kamusnya.
Katakanlah. Dia berasal dari keluarga kaya. Ada dinding yang tampak di mata, walau Tuan Harel takkan mempermasalahkan status atau latar belakang seseorang, tapi bagaimana dengan Nyonya Nera?
Ramses tahu bagaimana tipe ibunya. Dia mungkin wanita terbaik dalam hidupnya, tapi ada kemungkinan jika Nyonya Nera bisa saja mencerca gadis pilihannya.
Menyanyikan lagu berupa standar seseorang yang pantas disandingkan dengan putra semata wayangnya. Intinya, wanita itu ingin menantu yang selevel dengan latar belakang Ramses dan keluarganya.
Mungkin, Nyonya Nera agak mirip Tuan Kendal menurutnya. Walau tak separah ayah Dean, tapi bagi Ramses mereka berdua cukup mirip.
Hanya saja, dirinya beruntung karena Tuan Harel sangat pengertian. Ayahnya begitu melengkapi ibunya dalam hal keputusan. Jadi dia memang harus mensyukurinya.
“Apa aku dijodohkan saja?” lirihnya tiba-tiba sambil memandangi pesona halaman dari balkon kamarnya.
Sementara Eldrey sedang berada di Supermarket. Bahan makanan sudah tidak ada, terlebih lagi kemarin habis ia gunakan dengan gagalnya. Jadi mau tidak mau dia pun terpaksa membelinya. Memakai uang Charlie yang ada di tangannya.
Dan sosoknya di depan rak minuman pun membeku sekarang. Merasa gemetaran, atas pemandangan mengejutkan.
Seorang pria yang mungkin seumuran Presdir Betrand. Menggendong anak kecil di tangan. Tampaknya perempuan dan sedang meminum susu dengan sangat menggemaskan.
__ADS_1
“Maaf Nona? Apa kamu baik-baik saja?” tanya pria itu saat melihat Eldrey merasa kesusahan.
Bagaimana tidak, aliran napas putri Dempster begitu memburu iramanya. Dia seperti orang asma, sehingga pria itu mulai panik karenanya.
“Nona, anda baik-baik saja?!” kagetnya lalu memegang bahunya.
“Jangan sentuh aku! Jangan coba-coba menyentuhku!” Eldrey pun menepis kasar tangannya. Sampai akhirnya ia lari tiba-tiba dan membiarkan keranjang bawaannya terjatuh begitu saja.
Tentunya, hal itu berhasil membuat panik sekitar karena Supermarket sangat ramai kondisinya.
Dan pria asing barusan, menjadi terdiam di posisinya karena mencerna apa yang terjadi di depan matanya.
“Pappa,” ejak anak kecil di gendongan.
“Iya Sayang, iya. Papa ambil susu kaleng dulu ya? Setelah itu baru kita pulang ketemu Mama,” balasnya pada anaknya itu. Sekilas sebelum pergi, diliriknya udara kosong di mana Eldrey berdiri tadi.
Sepertinya, sikap putri Dempster berhasil menusuk hatinya untuk terus memikirkannya. Bertanya-tanya apakah mereka saling mengenal sebelumnya.
Sementara Eldrey, dia terlihat frustasi. Matanya memerah seperti orang kesakitan. Mencengkeram erat rambutnya karena sesak di perasaan. Dan juga terisak akibat beban di ingatan.
Benar-benar melambangkan sosok yang tersiksa dan juga ketakutan. Dia pun menjatuhkan dirinya untuk bersandar pada salah satu dinding di dalam gang. Sepi untuk di pandang karena jarang dilewati.
Mungkin dia sangat terluka, mengingat kenangan yang tidak-tidak akhirnya datang kembali.
“Eldrey?” panggil Kevin saat memasuki rumah singgah.
Pintu utama tak dikunci dan membuatnya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Sebab dirinya sudah mengingatkan putri Dempster agar selalu mengunci pintu. Sebagai jaga-jaga untuk perlindungannya.
Tapi apa yang ia dapatkan sekarang benar-benar di luar perkiraan. Tidak adanya sang pacar di rumah menimbulkan kekhawatiran.
Dan tangannya terkepal karena cemas di perasaan. Sepertinya, pilihan terbaik sekarang memang hanya mencarinya.
“Lho? Siapa ini?” suara seseorang pun menghiasi kesendirian Eldrey.
Gadis itu masih di dalam gang yang sepi dan duduk di tepi. Bersandar pada dinding dengan tampang frustasi.
“Perempuan?” kekeh salah satu pendatang sambil menyentuh untaian rambut putri Dempster yang berjatuhan. “Sedang apa kamu di sini? Apa mungkin, kamu ingin melayani kami?”
Dan dua rekannya pun menyeringai mendengar lirihannya.
__ADS_1