
“Kamu kenapa?” tanya Fiona saat melihat adiknya yang kalut.
“Tidak ada apa-apa,” balas Ramses. “Kak, aku pergi dulu. Beri tahukan pada Eldrey kalau aku sudah pulang duluan,” tukas Ramses terburu-buru.
“Hei!” pekik Fiona heran melihat adiknya yang membuka pintu keluar. Sosok tubuhnya pun lenyap di balik pintu. “Kenapa dia?”
Pintu kamar mandi pun terbuka dengan sosok Eldrey yang segar baru siap mandi. Dia melirik ke arah di mana seharusnya Ramses berada. “Ramses sudah pulang, dia menyuruhku memberi tahumu.”
“Begitu,” balas Eldrey sambil mengeringkan rambutnya.
Mereka berdua pun sarapan dengan sandwich buatan Fiona. Selesai sarapan Eldrey pamit untuk pulang ke rumahnya.
Saat Eldrey sudah keluar, di sekitar persimpangan jalan yang ia lalui ada sebuah mobil berhenti di dekatnya. Mobil yang tak asing baginya. Mobil yang selalu dipakai presdir Betrand untuk pergi ke mana-mana.
Seorang pria berperawakan tegas dan rupawan pun turun dari mobil itu. “Eldrey,” panggilnya.
Gadis itu hanya menoleh tenang, saat sang ayah datang menghampirinya. “Ayah kemari untuk menjemputmu,” lirih presdir Betrand membukakan pintu mobil.
Gadis itu masih menatapnya, sejenak mereka sama-sama terdiam, sampai akhirnya gadis itu masuk ke mobil.
*******
Erin menatap orang-orang di sekelilingnya, sudah 15 menit ia menunggu sampai sosok yang dinantikan datang juga menghampiri.
“Erin,” panggil Ramses.
Gadis itu menoleh senyum padanya, tapi ada sesuatu yang beda dari diri Erin. Ramses yang menyadari itu menatap lekat Erin dengan sorot mata iba.
“Kamu sudah menunggu lama?”
“Tidak, aku baru datang,” Erin pun mengalihkan wajahnya.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Ramses. Erin hanya menggeleng padanya.
“Ayo, aku juga belum makan,” ajaknya. Erin mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Ramses menuju mobil. Sepanjang perjalanan, mereka berdua tak saling bicara. 7 menit pun berlalu, sampai akhirnya mereka tiba di Ichirakuminori, tempat yang sering mereka datangi bersama jika berkumpul dengan yang lainnya.
Seperti biasa, meja di lantai dua dengan pemandangan langit terbuka adalah pilihan mereka, selesai memesan makanan keduanya pergi menuju meja yang diinginkan.
Erin memandang langit cerah yang menyambutnya, ekspresinya menyimpan suatu beban yang sudah ditebak oleh Ramses.
“Langitnya cerah, ini benar-benar menyakiti hatiku,” ucap Erin tiba-tiba. Ramses mengikuti sorot mata Erin yang melempar pandangan ke samping. “Apakah ada kabar dari Dean?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Begitu ya, jadi kamu juga tidak tahu.” Erin pun menoleh ke arah Ramses yang tak menatapnya.
“Kalau Alice?”
Ramses masih tak menjawabnya, Erin pun menurunkan pandangan ke meja, “aneh sekali, kenapa mereka sama-sama sulit dihubungi?”
Ramses masih tak menjawab atau pun menatap Erin. “Ini sudah beberapa hari sejak Dean tak menjawab pesan atau mengangkat panggilanku,” suaranya yang mulai serak mengundang tatapan Ramses padanya.
“Kenapa? Kenapa Dean seperti ini? Jika aku ada salah tolong beri tahu, aku pasti akan memperbaikinya, tapi kenapa Dean seperti ini?” mata Erin mulai berkaca-kaca. Ramses merasa tak tega, ia pun menyodorkan sapu tangan pada Erin.
“A-aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi aku takut untuk ke rumahnya,” isak Erin.
Air matanya mulai menetes, sapu tangan yang ia genggam erat itu pun menjadi wakil dari suara hatinya. “Hiks ... Hiks ... Ini menyakitkan, ini benar-benar menyakitkan,” Erin menumpahkan beban hatinya.
Ramses seolah dibungkam dengan perkataan Erin itu. “Bahkan jika dia menyukai Alice!”
Ramses tersentak kaget mendengarnya, “kamu, tahu?”
Erin membulatkan matanya yang basah karena ucapan Ramses, “jadi kamu juga tahu? Hiks ... Hiks ... Jadi selama ini kamu tahu?!”
Ramses memasang tampang bersalah karenanya, ia merasa berada di posisi yang benar-benar salah.
“Bukankah kamu juga menyukai Alice?” Erin menyeka air matanya.
“Tapi aku benar-benar menyukai Dean! Hiks ... Aku benar-benar menyukainya. Bahkan jika dia tak menyukaiku aku tetap berusaha membuatnya menyukaiku. Hiks ... Hiks ... Aku sudah berusaha, aku benar-benar sudah berusaha,” ucap Erin terisak-isak.
“Hiks ... Hiks ... Bahkan jika aku tak bisa memiliki hatinya setidaknya aku sudah berusaha mendapatkan raganya! Hanya itu yang bisa kumiliki, tapi kenapa? Aku salah apa? Kenapa Dean benar-benar tak pernah melihatku? Kenapa harus Alice? Kenapa harus Alice yang selalu ada disorot matanya?!” Erin benar-benar tak bisa lagi menahannya.
Bahkan makanan yang sudah diantarkan pelayan seolah angin lalu bagi mereka yang terlalu sibuk berdua.
“Erin.”
“Aku bukan orang bodoh yang tak tahu apa-apa! Aku tahu jika mereka ada sesuatu! Tapi aku bisa apa?! Aku hanya bisa memiliki raga Dean! Karena itu, biarkan aku tetap memilikinya!” Erin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Tolong biarkan aku memiliki itu,” suaranya terdengar samar karena tertutup tangan.
Ramses benar-benar merasa iba pada Erin, semenjak ia bertengkar di Sextoria Nightclub, Dean dan Ramses sudah tak, saling berhubungan. Memang ada keinginan untuk menghubunginya, tapi rasa sakit dan kecewa Ramses pada Dean masih menyelimutinya.
Di lain tempat tampak Dean sedang mengunjungi rumah Alice. Berulang kali ia mengetuk pintu rumah, tapi masih tak ada jawaban. Sampai akhirnya Dean pun teringat jika Alice pernah mengatakan kalau ia bekerja di toko roti sebelumnya.
Dengan langkah kecewa ia pergi dari sana menuju tempat Alice bekerja yang masih-masih samar ia ingat namanya. Tak butuh waktu lama, sampai akhirnya Ramses tiba di depan sebuah toko roti. Ia tidak turun dari mobil dan hanya menatap ke dalam toko saja lewat jendela kacayang tembus pandang.
Tak lama, keluarlah seorang pemuda dengan celemek di badan. Ia tampak mengangkut bungkusan berisi sampah. Ramses sedikit terbelalak melihatnya, apalagi pintu toko terbuka lagi dengan sosok Alice yang tertawa. Gadis itu mengiringi langkah pemuda itu sambil mengangkut bungkusan kecil.
“Alice,” gumam Dean. Tanpa berpikir panjang ia langsung turun dari mobil, berlari menghampiri Alice yang sedang tertawa bersama Evan. Saat sudah selesai membuang sampah Dean pun tiba di sana sambil menarik tangan Alice.
__ADS_1
“Alice!” sentaknya mengagetkan mereka berdua.
“Dean! Kamu!”
“Aku mau bicara denganmu!”
“Gak!”
“Alice!”
“Aku gak mau! Lebih baik kamu pulang Yan! Jika papamu tahu apa yang dikatakannya?!”
“Aku gak peduli! Aku hanya ingin kita bicara!”
“Dean!” Alice pun menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Dean. Tapi tangan Dean mencengkeram erat tangannya sehingga Alice merasakan sakit.
“Uugh!”
“Hei!” Evan mencengkeram lengan Dean. “Lepaskan dia, Alice kesakitan karenamu.”
“Bukan urusanmu!” Dean pun menarik paksa tangan Alice sehingga gadis itu terpaksa mengikuti langkah kakinya.
“Dean! Lepaskan! Aku bilang lepas!” Alice meronta-ronta.
“Hei!” Evan pun menarik paksa tangan Alice sehingga terlepas dari genggaman Dean.
“Kau!” Dean tampak emosi menatap Evan.
“Bahkan jika kamu ada kepentingan, tidak seharusnya kamu bersikap kasar padanya. Bagaimanapun dia seorang perempuan.”
“Ini bukan urusanmu! Minggir!” Dean menatap dingin Evan.
“Tidak, karena aku tidak bisa membiarkan kamu menyakiti Alice,” Evan balik menantangnya.
“Siapa kau? Ikut campur urusanku dan Alice.”
“Aku temannya.”
“Dan aku kekasihnya!” teriak Dean emosi. Evan sedikit kaget mendengarnya, ia pun melirik Alice.
“Dia hanya temanku,” sahut Alice tiba-tiba sambil menunduk.
“Alice! Kamu kenapa? Hanya karena perkataan papaku kamu begini padaku? Ini tidak adil Alice, kita sudah sejauh ini!” Dean tampak sangat berharap padanya.
“Aku mohon Alice, ayo ikut aku,” lanjut Dean sambil meraih lembut tangan Alice.
__ADS_1