FORGIVE ME

FORGIVE ME
Penyesalan


__ADS_3

“Roma! Ayo kita makan dulu, jangan menatap seperti itu, kamu membuat bocah ini ketakutan!” lirih Charlie sambil menepuk keras punggung Kevin yang duduk di sebelahnya.


Kevin pun tersentak kaget dengan perlakuan tiba-tiba Charlie itu. Hampir saja jantungnya mencoba melompat keluar karena ulah Charlie tersebut.


“Aku tak lapar!” jelas sekretaris Roma tanpa melirik makanan di depannya.


Eldrey pun menatap sekretaris Roma dengan wajah datar andalannya, “bagaimana keadaan di rumah sakit?” pertanyaan itu pun membuat sekretaris Roma menatap gadis itu dan melirik Kevin secara bergantian.


Tatapan sekretaris Roma itu sudah memberikan arti yang jelas bagi Eldrey, tapi keberadaan Kevin bukanlah masalah besar bagi gadis itu.


Ia pun menatap Kevin dengan pandangan misterius, “katakanlah, karena dia akan mati jika macam-macam nantinya,” tegas Eldrey yang membuat Kevin terdiam dan mengangkat wajahnya menoleh pada Eldrey.


Tampak gadis itu sedang memandang Kevin dengan tatapan tajam sambil salah satu tangannya menopang wajahnya.


Sekretaris Roma juga ikut menatap Kevin dengan aura yang sama seperti gadis itu, tatapan seolah-olah keduanya akan mencabik-cabik Kevin jika ia mengeluarkan sepatah kata.


Seperti itulah tekanan yang ia rasakan sekarang. Padahal tujuannya itu baik, hanya ingin membantu Eldrey, tapi niat baiknya malah berbalik menggali kuburan untuknya.


Karena kenyataannya, gadis malang yang sedang ia coba selamatkan ternyata adalah seekor macan. Macan yang sedang menggertak lawan, jika terancam akan langsung membereskan musuh tanpa sisa, setidaknya itulah yang tampak oleh Kevin sekarang.


Ia pun meneguk ludahnya karena masih merasakan tekanan yang menusuk kulitnya, tulangnya seolah kaku dan tak bisa bergerak untuk mengangkat sendok di tangannya.


Sekretaris Roma pun membuka mulutnya, “aku sudah menyelesaikannya, tapi masalah siapa yang menyerang masih dicari tahu yang lain,” jelasnya. Pernyataan sekretaris Roma tidak ada bedanya dengan Charlie sebelumnya.


“Mereka pasti luar biasa sampai-sampai kita kesusahan melacak identitasnya,” puji Eldrey.


Sekretaris Roma pun terdiam, ia merasa ucapan gadis itu merupakan sindiran untuk para bawahan presdir Betrand mengingat posisi mereka yang luar biasa.


“Kami akan berusaha keras melacak mereka nona,” ucap sekretaris Roma. Tampak kesungguhan terpancar di wajahnya, mengingat ia merupakan tangan kanan presdir Betrand yang punya andil besar dalam keluarga itu.


Eldrey tak menjawabnya, tapi ekspresinya jelas memperlihatkan kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia pun memutar bola matanya menyapu sudut pandang di depannya berkali-kali. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.


“Nona? Ada apa?!” tanya sekretaris Roma yang penasaran.


“Apakah ayahku tahu tentang ini?”


“Ya! Saya sudah memberi tahunya,” ucap


sekretaris Roma.

__ADS_1


Eldrey pun tak membalas ucapannya, ia memilih diam daripada bertanya, karena ia tak ingin mendengar jawaban yang tak diharapkan. Mengingat presdir Betrand lebih fokus pada bisnisnya daripada menghubungi putrinya untuk menanyakan keadaannya.


Hanya kasih sayang berupa materilah yang bisa ia berikan pada putrinya. Waktu ataupun perlakuan istimewa takkan bisa didapatkan Eldrey, karena ia sadar mengharapkan hal seperti itu sangatlah sia-sia.


Semua sudah sia-sia sejak presdir Betrand membulatkan hatinya untuk mengirimkan putri kecilnya ke rumah sakit jiwa demi kebaikan dirinya. Masa lalu Eldrey benar-benar menyedihkan untuk diingat kembali olehnya.


Menutup hati dan bertindak sesukanya, hanya itu yang bisa dilakukan Eldrey untuk melindungi dirinya.


Hanya itu yang tersisa, hanya itulah yang tersisa di dirinya. Hanya nurani yang terbakar serta kumpulan masa lalu yang membuat kepribadiannya jadi mengerikanlah yang menyelimutinya saat ini.


Gadis itu masih dalam kondisi yang stabil, tapi saat ia meledak, tak jelas tindakan keji apalagi yang akan dilakukannya pada orang-orang sekelilingnya. Mereka hanya bisa waspada, bersikap normal selama gadis itu masih bisa mengendalikan dirinya.


Di tempat lain, seorang wanita sedang merapikan toko rotinya sambil dibantu putra tersayangnya.


“Bu, kapan-kapan kita libur ya bu, sudah lama kita gak pergi bersama,” ajak Evan pada bu Anna.


“Boleh, besok saja bagaimana?”


“Baiklah, kalau begitu aku akan menghubungi Alice kalau kita besok tutup,” sahut Dean.


“Mmm .... Bagaimana jika kita ajak dia ikut bersama kita?” lirih bu Anna.


“Boleh bu, ide yang bagus, lagi pula ini pertama kalinya kita jalan-jalan bersama dengannya,” tukas Evan sumringah.


“Mmm, baik bu,” Evan pun pergi ke dapur untuk membersihkan bagian di sana.


Pandangannya pun terhenti saat menatap kue-kue sisa yang tak terjual. Tapi pandangan itu pun terdiam karena terpaku pada croissant yang dingin di depannya.


Ia menatap croissant itu dengan pandangan yang tak jelas artinya, seolah-olah ada sesuatu yang membebani dirinya.


“Aku merindukanmu,” gumam Evan sambil menyentuh croissant itu. Ia menunduk, seolah-olah membenamkan dirinya dalam ingatan yang sendu, membuat mata jernihnya mulai berkaca-kaca. Dilapisi air mata yang mulai berusaha untuk jatuh dari sarangnya.


Wajah anak kecil pun menghiasi ingatannya, mencoba merasuk untuk menghantuinya.


Tapi kenapa rasanya sesakit ini?


Tak terasa sebuah aliran air mata pun membasahi pipinya, perasaan dari masa lalunya benar-benar menggenggam dirinya. Seolah-olah berusaha membentuk bayangan masa lalu yang sudah ia coba tuk lupakan.


“Kakak!”

__ADS_1


Satu panggilan itu terlintas di benak Evan.


“Kakak!”


“Kenapa?! Kenapa harus kakak? Kenapa bukan aku? Kenapa?!”


Kata-kata itu mulai menghantuinya lagi.


“Kenapa?! Apa kakak sudah tidak menyayangiku? Apa kakak sudah membenciku?!”


Teriakan anak kecil itu menggema di ingatannya, seolah-olah meruntuhkan ketenangan yang sudah memudar di diri Evan.


“Evan? Kamu sudah selesai nak?” tiba-tiba bu Anna pun memasuki dapur untuk menemui putranya. Ia kaget, kaget dengan pemandangan yang tak terduga.


Kristal bening yang mengalir di pipi Evan pun membuat wanita itu berlari menghampiri putranya dan memegangnya, “sayang! Ada apa?! Kamu kenapa nangis?!” tanya bu Anna cemas.


Evan tak menjawabnya kecuali membalas wanita itu dengan gerakan tangannya yang mencoba mengusap kasar pipinya. Ia melakukan itu dengan harapan agar air matanya berhenti mengalir.


“Kamu kenapa sayang?! Ada apa?! Katakan pada ibu nak!” pinta bu Anna memohon.


Tapi mendadak ia terdiam, ia terdiam saat menyadari croissant buatan tangannya ada di dekat putranya.


Roti yang meninggalkan kisah, untuk dirinya, untuk Evan dan untuk mereka yang sudah tak bisa ditemuinya.


Sosok mereka yang membayangi dirinya namun tak bisa muncul di dekatnya. Jarak yang terlalu besar di antara mereka pun meninggalkan lubang di hati masing-masing.


Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini?


Itulah ucapan yang pernah terlintas dari bibir seseorang yang sempat menjadi belahan wanita itu.


Sosok yang sangat ia cintai namun tak bisa bersama. Lubang besar yang menganga di antara mereka pun menjadi awal perpisahan semuanya.


Tak ada yang mau mengalah, emosi sudah terlanjur membakar semuanya.


Sekarang yang tersisa hanyalah penyesalan, tapi itu takkan membuat semuanya membaik.


Tidak untuk bu Anna, tidak untuk Evan dan tidak juga untuk mereka.


Bisakah anaknya yang terluka dengan permasalahan keluarga terbebas dari sesaknya kehidupan mereka?

__ADS_1


Bisakah mereka tumbuh normal tanpa adanya sosok penting yang mereka butuhkan namun memudar posisinya?


Bu Anna benar-benar menyesali keputusannya, keputusan di mana ia meninggalkan mereka yang berharga, untuk sesuatu yang ia kira adalah kebaikan bagi mereka yang ia tinggalkan.


__ADS_2