
“Kau! Mau apa lagi kau! Lepaskan kami, aku bilang lepas!” bentak Alice padanya. “T-tidak, jangan Eldrey. Aku mohon jangan dia! Jangan tusuk dia! Aku mohon jangan!” pintanya dengan suara memekakan telinga. Namun, itu seakan tak berpengaruh apa-apa dan menembus pendengaran sang pemilik kuasa.
“Tenang saja. Karena kau juga akan bernasib sama dengannya,” ucapnya dengan senyum penuh kepuasan. “Lihat aku Dempster. Karena aku malaikat maut— agh!” pekiknya tiba-tiba. Tanpa aba-aba Eldrey meludahi wajahnya. “Brengsek! Dasar kepar— aagh!”
Tanpa mulutnya bersuara, tendangan langsung dilayangkan putri Dempster ke area tulang kering musuhnya.
“Sakit! Dasar brengsek!”
Tapi, selesai Naomi mengatakan itu tendangan selanjutnya justru dilayangkan putri Dempster tepat mengenai dadanya. Membuat gadis lengah itu jatuh terlentang sambil mengerang kesakitan.
Tanpa melirihkan kata, Eldrey segera melompat dan mencengkeram erat talinya. Memaksakan tubuh naik lalu menggigit simpul-simpul yang mengikatnya.
Susah dan menyakitkan, tentu saja. Sampai akhirnya Naomi yang menyadari itu bangkit kembali dan menyerangnya.
“Jangan pikir aku akan membiarkannya!” entah kenapa serangannya terlihat seperti memeluk putri Dempster yang mencoba bebas.
Tanpa ampun, Eldrey yang dihiasi bibir robek itu lalu menggigit leher Naomi dengan buasnya.
Sontak saja pekikan mirip lolongan keras bersahutan di dalam sana. Begitu kesakitan. Naomi ketakutan dan memukul-mukul punggung Eldrey yang tidak melepaskannya. Sampai akhirnya, dengan paniknya ia tarik tubuhnya untuk bebas dari jangkauan putri Dempster di depannya.
Mengerikan.
Naomi terkesiap. Tangannya yang spontan menyentuh lehernya, memuntahkan teriakan panik dari mulutnya. Tersadar, jika lehernya terluka dan mengalirkan darah dari sana.
Berbanding terbalik dengan Eldrey. Ia pun meludahkan kulit gadis di depannya. Jejak buas di mana dirinya tanpa ampun menggigitnya. Seringai lebar tercetak jelas di bibir robeknya, pertanda kalau ia tanpa ampun akan melakukan apa saja.
“Dasar gila!” emosi Naomi lalu berlari mengambil balok yang tak jauh di mata. Dengan cepat diburunya Putri Dempster karena ulahnya barusan.
Tapi, sepertinya ia lupa. Kalau menyerang gadis itu dari depan merupakan sebuah kesalahan fatal.
Tiba-tiba sambil melompat dan mencengkeram erat tali, Eldrey pun menaikkan kedua kakinya dan menangkap leher Naomi. Menguncinya, menguasai keseimbangan lalu menyentak tubuh sang gadis sehingga jatuh tersungkur dari hadapannya.
Bahkan dengan kelihaiannya itu, kakinya mampu mencapai besi penahan tali. Mengaitkannya, duduk di atas sana dan menggigit simpul yang akan membebaskannya.
Sekarang, neraka musuh benar-benar memihak dirinya.
“E-Eldrey!” Lily menatap tak percaya jika sepupunya membebaskan diri akhirnya.
Bahkan Alice tak mampu lagi bersuara. Tontonan yang disajikan di depan mata membungkam dirinya. Itu semua bukanlah film di televisinya, melainkan kejadian nyata dengan hidup sebagai taruhannya.
“K-kau—” Naomi yang mencoba bangkit menatap tak percaya.
__ADS_1
Eldrey yang mendekatinya, menatap pisau diinjakan kakinya.
“Bukankah aku sudah menusukmu?! Bagaimana bisa?!” teriaknya.
“Jawabannya mudah saja. Karena aku bergerak dengan seluruh tenagaku yang tersisa. Tapi kau, memang harus kuhabisi sebelum aku mati.”
Tersentak. Tiba-tiba Eldrey lari ke arahnya dan langsung melompat sambil mengaitkan paha pada leher lawannya. Jatuh hampir bersamaan, namun kendali ada di tangannya. Naomi yang meronta, leher dan tangannya terkunci oleh musuhnya.
Serasa oksigen mulai melemah ke kepala gadis yang menantangnya, akhirnya putri Dempster pun mematahkan siku tangan kanan Naomi.
Begitu dahsyat erangannya. Keras berkumandang dari Naomi yang berteriak kesakitan. Ia menangis meronta, dan memegang sikunya dengan histeris. Eldrey pun menindihnya, lalu kakinya digunakan untuk menekan leher lawannya.
Gadis yang sebelumnya ingin menghajarnya, sekarang seperti hewan sekarat dengan leher yang akan digoroknya. Lalu lalangnya aliran darah seolah terhenti, mata memerah, rintihan terbata-bata. Gerakan melemah dan Naomi yang kesakitan menatap tak percaya.
Kalau dirinya akan mati di tangan Eldrey sebagai dewa pencabut nyawanya.
“Awas!” teriak Lily dan Alice bersamaan. Sontak saja Eldrey menghindar sambil menjatuhkan tubuhnya ke samping korbannya.
“Kau!” geram pria asing itu.
“D-dia!” Alice mengingatnya. Sosoknya adalah orang yang bersama dengan Paul dan Naomi saat menculik mereka di toko roti.
“Hah!” helaan kasar napas Eldrey. Tak disangka, luka di perutnya menghantam sakit ke tubuhnya. Membisikkan rasa tersiksa untuk menjalar ke seluruh raganya.
“Kau!”
Terdiam beberapa detik. Sampai akhirnya di waktu selanjutnya, pria yang kaget itu mengerang karena tembakan Eldrey ke arah dadanya justru meleset menggores lehernya. Sangat menyakitkan, ia menggeram menatap tajam pada sosok yang menahan siksa.
Tanpa berlama-lama Eldrey melakukan tembakan kedua. Mengenai tepat paha pria itu, namun sayang karena sosok tersebut masih mampu berjalan dan mencekik lehernya.
“Berani-beraninya kau menembakku!” hardiknya lalu menepis kasar pistol Eldrey sehingga terlepas dari tangan.
Bahkan cengkeraman keras di leher putri Dempster, mampu membuat tubuh gadis itu terangkat dan kakinya tak bertumpu lagi ke pijakan.
“Bagaimana bisa semua menjadi seperti ini?!” tanya pria itu pada Eldrey yang menendang-nendang kasar udara.
“Brengsek! Lepaskan dia!” bentak Lily akhirnya. Tapi pria itu hanya menyoroti sosok-sosok yang menghardiknya. Teriakan mereka itu tak lebih dari angin lalu baginya.
Sampai akhirnya, gerakan tangan lemah Eldrey mencoba menggapai wajahnya.
“Darah? Kau terluka?” tanya pria itu menatap jari-jari putri Dempster yang berlumuran cairan merah pekat dan menetes ke bawah. Darah tersebut berasal dari luka di perutnya.
__ADS_1
Di antara suara serak dan putus-putus karena cekikan yang memeluk nyawanya, gadis itu pun mengibarkan senyumnya.
“Apa yang lucu?” pria itu mendekatkan wajahnya.
Tapi, mungkin dewa kematian belum memihak gadis di hadapannya. Tangan Eldrey yang masih mencoba menggapainya, mencipratkan darah di jari sehingga mengenai matanya.
“Brengsek!” murkanya dan melepaskan cekikan pada Eldrey yang jatuh tak berdaya. Ia pun menggosok-gosok kasar kelopak matanya akibat sensasi pedih yang dirasa. “Dasar brengsek!”
Tendangan pun dihantamkan pada perut putri Dempster sehingga gadis itu terdorong tak jauh darinya.
“Berani-beraninya kau melakukan ini padaku?!” tak terlihat sensasi sakit pada jejak tembakan di pahanya, walaupun ia tertatih saat mendekati Eldrey yang tak bergerak. “Apa ini?! Kau sudah mati?!” ia pun menggunakan kakinya untuk menendang-nendang perut sang gadis yang bermandikan darah.
Menyedihkan. Tangisan keras beriringan dari bibir Alice dan Lily yang menyaksikan. Bahkan jika mereka mencoba membebaskan diri seperti yang Eldrey lakukan, nyatanya keduanya tetap tak bisa apa-apa.
Cuma mampu meraung keras. Menangisi keadaan masing-masingnya ataupun sosok yang hampir meregang nyawa.
Eldrey pun melihat itu semua.
“S-sakit,” akhirnya Naomi bersuara.
“Bangun juga kau. Kenapa pemuda itu mati?”
Tapi, bukan jawaban yang di dapatkan justru seringai sebagai balasan. Naomi, walaupun bersusah payah untuk bangkit dari posisinya, tapi ia sangat puas menyaksikan kondisi Eldrey di pandangannya.
Entah sekarat atau mati, tapi gadis itu jelas tak bergerak di matanya.
“A-apakah dia mati?” tanyanya menatap senang.
“Ya. Kupikir begitu,” pria itu pun menggunakan kakinya untuk menendang pelan perut Eldrey agar terlentang.
Dan akhirnya, tawa puas Naomi berkumandang bersamaan dengan tangis dua tawanannya yang masih terikat. Benar-benar tak menyangka, kalau Eldrey telah meregang nyawa namun bukan di tangannya.
“Lho? Kenapa di tangannya ada—”
Hening berkumandang.
Tembakan tak terduga telah dilepaskan. Memekik keras di sepanjang ruangan. Dan perlahan, berganti dengan suara tubuh yang jatuh membentur lantai. Menghempaskan angin tak seberapa kasar, agar debu di sekitar terbang mengudara di penglihatan.
Pria yang tadinya menyiksa putri Dempster, sekarang tergeletak tak berdaya dengan aliran darah merembes keluar di area lehernya.
Perlahan namun pasti, sosok di sebelahnya menggerakkan tubuh tertidurnya. Menyamping, agar bisa menatap gadis yang masih syok memperhatikannya. Senyum tipis tersungging dari bibirnya. Dan akhirnya, dengan tangan gemetar tembakan selanjutnya ia arahkan tepat ke dada kanan Sierra Naomi Campbell.
__ADS_1
Benar-benar tak disangka, dan sangat mengejutkan sosok yang mencium kematian di tangannya. Eldrey Brendania Dempster, menyerang musuhnya sampai akhir hayat mereka.