FORGIVE ME

FORGIVE ME
Pengintaian Eldrey


__ADS_3

Tapi sesampainya di penginapan, tak ada siapa-siapa.


“Kau bilang Alice dan Dean mencariku. Mana mereka?”


“Aku bohong.”


“Apa!”


“Aku bohong, Nona Dempster,” ucapnya dengan santainya.


Eldrey pun menyipitkan mata melihatnya. “Bohong? Kau membohongiku?” tanyanya dengan suara menekan.


“Iya,” jawabnya sambil mengacak pelan rambut Eldrey.


Terlihat napas memburu serta tatapan tak bersahabat dari gadis itu.


“Brengsek. Berani-beraninya kau menipuku? Aku bahkan belum memakan jajanan apa pun gara-garamu.”


Kevin pun terdiam mendengar kemurkaan putri Dempster. Perlahan di dekatinya gadis itu dan ditatap lekat olehnya.


“Kamu marah?” tanyanya sambil mencoba menyentuh bahu.


Sontak saja ditepis kasar dan gadis itu berlalu dari sana. Sepertinya Eldrey memang benar-benar kesal atas tindakannya.


Tapi Kevin hanya tersenyum saja dan terus mengikuti langkahnya. Bagaimanapun juga setidaknya mereka bisa berduaan sekarang. Memang itulah yang diinginkannya.


Eldrey berhenti di sebuah stan dan membeli zeppole, sejenis roti goreng dari Italia dengan custard sebagai isiannya. Tentunya Kevin berbaik hati membayarnya.


Bahkan dia hanya diam saja memperhatikan putri Dempster makan sendirian tanpa menawarinya.


“Apa kamu mau ice cream?” tanya Kevin tiba-tiba karena mereka kebetulan melewati stan jajanan itu.


“Mm.”


“Rasa apa?”


“Terserah,” jawab Eldrey lalu memilih duduk di salah satu bangku yang tersedia.


“Baiklah. Kamu tunggu di sini ya. Aku beli dulu.” Tapi baru beberapa langkah Kevin menoleh lagi. “Jangan ke mana-mana, oke?” senyum tipis pun tercipta di bibirnya.


Putri Dempster hanya diam memperhatikan. Sambil mulut tetap mengunyah jajanan di tangan. Matanya menyapu pandangan pada keramaian.


Sepertinya, ice cream yang ditawarkan Kevin takkan datang dalam waktu dekat karena antreannya lumayan ramai.


Tapi Eldrey terdiam. Saat sorot matanya lagi-lagi menangkap rupa tak asing di pasar malam.


Bill, pamannya sendiri.


Dengan seorang gadis muda, mungkin sebaya Fiona kakak Ramses jika diperhatikan, berdandan layaknya wanita penggoda dari pada perempuan baik-baik saja.


Saling tertawa dan merangkul dengan tak tahu malunya.


Eldrey tersenyum menyaksikannya. Dan tanpa keraguan mengikuti mereka. Sampai akhirnya saat Kevin berhasil membeli ice cream yang diinginkan ekspresinya langsung berubah.


Agak panik karena putri Dempster tak berada di tempat seharusnya.

__ADS_1


“Maaf, apa kalian lihat gadis yang tadi duduk di sini ke mana?” tanyanya pada sepasang kekasih yang sibuk bermesraan.


“Ah, gadis tadi? Jika aku tidak salah dia jalan ke arah sana,” tunjuk sang cewek yang tangannya masih menyuapi kekasihnya.


Kevin tiba-tiba tersenyum dan membuat dada sang gadis berdesir tanpa aba-aba.


“Terima kasih. Kalau begitu ini untuk kalian,” sahutnya tanpa keraguan sambil menyodorkan bawaan di tangan pada mereka berdua.


Tentunya sepasang kekasih itu agak bingung namun tetap menerimanya. Lagi pula jajanan gratis tak ada salahnya untuk tidak ditolak bukan?


Tapi di satu sisi, Kevin pun mulai mendingin ekspresinya. Jujur saja ia memang sudah memperkirakan Eldrey akan menghilang tanpa kata. Namun ia tak menyangka kalau itu benar-benar kejadian.


“Baiklah, Eldrey. Bagaimana caraku untuk menghukummu?” ucapnya. Dan sosoknya memilih menaiki tangga menuju lokasi stan di atas jembatan.


Ini merupakan pilihan terbaik untuk mencari keberadaan gadis itu dari ketinggian. Tapi yang menyebalkan karena rupanya ada beberapa orang mengenakan baju kaos berwarna putih di pandangan.


Sampai akhirnya pada sosok keenam, barulah ia yakin kalau itu putri Dempster. Terus berjalan menuju wahana permainan. Lumayan jaraknya dan tanpa keraguan Kevin terburu-buru mengejarnya.


Agar tidak kehilangan jejaknya lagi secara sia-sia.


Sementara putri Dempster terus mengekori pamannya. Entah apa yang ia inginkan tapi seringai tipis di bibirnya menyiratkan rencana. Kalau dirinya mungkin akan melakukan sesuatu yang tak terduga.


Sampai langkahnya terus mengabaikan pintu masuk wahana permainan. Sekarang, arahnya ke sebuah Hotel berbintang dan terhenti di dekat beberapa mobil yang terparkir di jalanan.


Memilih mengintai di balik pepohonan. Memperhatikan dengan lekat empat orang termasuk Bill dan perempuan yang tadi bersamanya.


Apa pun yang mereka katakan, tapi Eldrey bisa mendengarnya. Karena jarak mereka tidak berjauhan. Sampai raut mukanya mendingin dan perlahan memekarkan seringai lebar di bibirnya.


“Menarik,” gumamnya tiba-tiba. Dan dua pria asing di depan mata meninggalkan pamannya serta perempuan seksi itu di sana.


“Aku harap, kau tidak akan mengecewakanku.”


Eldrey yang menyaksikan itu dari balik pohon tak bisa menyembunyikan senyumannya. Dan memilih berlalu dari sana.


“Apa sudah selesai berkeliarannya?” tiba-tiba sosok Kevin menghadangnya. Posisi mereka tepat di dekat pintu masuk wahana permainan.


“Kevin.” Putra Kendal merasa aneh melihat senyuman di bibir gadis itu. “Seingatku kamu membeli ice cream. Mana?”


“Setelah menghilang, bisa-bisanya kamu menanyakan itu dengan tidak tahu malunya?”


Ekspresi jengkel pemuda itu hanya ditanggapi santai oleh putri Dempster. Entah kenapa, sejak melihat penampakan pamannya barusan moodnya menjadi lebih baik. Dan juga agak bersahabat.


“Ayo, aku akan mentraktirmu,” ajaknya sambil menarik lengan Kevin tanpa keraguan.


Dua hari kemudian, merupakan janji kencan antara dirinya dan putra bungsu Kendal. Tentunya, Eldrey menyetujuinya tanpa keraguan mengingat suasana hatinya yang sedang senang.


Dia mengucir rambutnya. Senada dengan Kevin, keduanya sama-sama mengenakan kaos putih berpasangan dengan jeans hitam. Bedanya Eldrey bertipe hot pants, sementara kerah bajunya agak kedodoran sehingga memamerkan bahu putih mulusnya. Dan Kevin di balut jacket di luarnya.


“Wah, kita memang jodoh Eldrey. Bahkan warna pakaian kita sama,” kekehnya sambil mencubit pipi gadis itu.


Eldrey hanya membuang muka, menatap malas kepadanya.


“Ke mana?”


“Kencan.”

__ADS_1


“Iya ke mana?” tekan Eldrey saat mobil pemuda itu keluar dari kediamannya.


“Kamu maunya ke mana?”


“Pulang.”


“Ayolah. Kamu sudah setuju berkencan denganku, jadi jangan memasang wajah cemberut begitu.”


Putri Dempster memilih melirik pemandangan di sampingnya, rasanya malas meladeni laki-laki di sebelahnya.


Walau tak saling bicara, Kevin benar-benar puas dengan keadaan mereka. Di mana kencan sore ini sangat menyenangkan untuknya.


“Tempat ini.”


“Apa kamu tidak suka?” tanyanya setelah mobil terparkir. Eldrey hanya meliriknya. “Ada balapan. Kupikir tidak akan buruk bagi kita untuk menontonnya. Ayo.”


Walau tidak mengatakan apa-apa, Eldrey tetap turun dari mobil. Melirik ramainya kendaraan di parkiran tempat balapan sebelumnya.


Ya, lokasi sirkuit balapan liar di kawasan tersebut. Perlahan putri Dempster menatap ke bawah, di mana tangannya tiba-tiba digenggam putra Kendal. Tampaknya sang pemuda benar-benar menikmati kencan mereka.


“Hei!” sapa seseorang saat keduanya memasuki area kursi penonton. “Kau balapan?”


Kevin menggeleng. Lalu mengangkat genggaman tangannya dan Eldrey untuk dipamerkan.


“Sialan!” kekeh sosok itu kepadanya.


“Dia temanku, ayo duduk di dekatnya,” ajak sang pemuda pada Eldrey.


“Wah? Pacarmu?” tanya orang yang tadi menyapa.


Kevin hanya tersenyum. Dan mempersilakan Eldrey duduk di antara mereka. Tiba-tiba ia lepaskan jacketnya dan ditaruh ke paha putri Dempster untuk menutupinya. Kedipan sekilas pun dibalas tatapan aneh sang gadis muda.


“Sial! Kau membuatku iri saja,” keluh orang itu lalu mengulurkan tangan pada putri Dempster.


“Dominic, namamu siapa manis?” ucapnya memperkenalkan diri.


“Eldrey,” singkat padat namun membalas jabat tangan.


Dominic tersenyum padanya dan beralih memandang Kevin. “Kau beruntung, Vin. Pacarmu luar biasa,” pujinya yang dibalas tawa putra Kendal.


Beberapa saat kemudian, tampak sejumlah mobil memasuki arena. Menuju garis start untuk memulai pertempuran kecepatan.


“Benar juga, apa kamu haus? Kalau iya kucarikan minum dulu.”


Eldrey tidak meresponsnya. Kecuali melirik sekilas dan memandang kembali ke depan. Untung saja Kevin sudah paham dengan sikapnya, dan menyentuh bahu Dominic di sebelah gadis itu.


“Aku pergi sebentar, tolong jaga dia.”


“Oke!” senyuman dihiasi tatanan gigi rapi dipamerkan sosok itu. “Sepertinya kamu memang pendiam ya,” kalimat yang muncul beberapa saat kemudian mengalihkan atensi Eldrey. “Benar-benar berlawanan dengan Kevin. Apa kamu tidak nyaman duduk di sampingku?”


Tapi bukannya balasan, keduanya dikejutkan oleh kemunculan orang asing yang tiba-tiba merangkul putri Dempster.


“Apa aku mengganggu pembicaraan kalian? Calon tunanganku.”


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2