
Kevin baru saja pulang. Saat ia memasuki kamarnya, Dean juga mengikutinya.
“Vin, pinjamkan aku parfummu ya. Parfumku habis.”
“Pinjam? Itu, di atas meja,” tunjuknya dengan dagu.
Sang kakak pun berlalu menuju meja di depan cermin besar. Di pilihnya, ada begitu banyak stok parfum serta segala keperluan laki-laki.
Sepertinya, Kevin cukup memperhatikan penampilan jika dilihat dari keberagaman kebutuhannya.
“Bukannya Kakak cuma pinjam?”
Dean yang sibuk menyemproti dirinya pun menoleh. “Ya aku memang pinjam.”
“Itu namanya minta. Kalau pinjam bawa botolnya saja dan pajang.”
“Hah?”
Seketika kening putra pertama Kendal dibuat berkerut oleh lelucon adiknya. Dan Kevin dia cuma tertawa.
“Lagi pula Kakak mau ke mana? Rapi sekali.”
“Aku ada janji.”
“Dengan Kak Alice?” Hanya anggukkan sekilas yang dibalaskan. “Sepertinya, tamparan Papa tidak membekas lagi.” Dean pun menyipitkan mata, menatap adiknya yang berekspresi santai. “Kenapa melihatku seperti itu? Aku kan cuma bicara apa adanya.”
Sebuah helaan napas pun tersembur dari bibir dia yang ditanya.
“Kamu belum pernah jatuh cinta, makanya kamu tidak tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti ini oleh Papa.”
“Siapa bilang aku tidak pernah? Buktinya saja aku pernah menyukai Kak Alice.”
Spontan saja raut muka masam terpampang di rupa Dean. Tapi, sang adik hanya tersenyum senang.
“Jangan marah, itu kan dulu. Aku juga sadar kalau menyukai gadis yang sama denganmu sangat menyebalkan. Sekarang aku sudah ganti pilihan,” lanjutnya tenang.
“Siapa?”
“Eldrey.”
“Apa! Siapa!” suara Dean yang kaget pun naik dua oktaf.
“Telingamu bermasalah Kak? Aku bilang Eldrey.”
Rasanya, Dean baru saja mendengarkan kalimat di luar prediksinya. Apa yang baru saja dikatakan adiknya? Batinnya masih tak percaya.
“Kamu, kamu menyukai Eldrey?” Tapi Kevin cuma mengangkat alis sekilas sebagai balasan. “Kamu serius?”
“Mm.”
__ADS_1
Entah kenapa Dean malah mengedarkan pandangan dengan jengah. “Jangan Eldrey, Kevin. Kamu tahu dia seperti apa kan?”
“Cantik dan barbar?”
“Keluarganya!”
“Kenapa dengan keluarganya? Mereka tidak terlihat seperti kanibal.”
“Ayolah, Vin. Bisakah kamu berhenti bercanda? Dia putri Dempster, kamu tahu apa artinya itu. Keluarganya bukan sosok yang bisa di dekati olehmu. Jika kamu benar-benar menyukainya, lebih baik hentikan sekarang sebelum semua menjadi sia-sia.”
“Apa ini? Kakak tidak mendukungku?”
“Aku tidak mendukungmu karena tidak mau kamu sakit hati nantinya, Vin. Dempster pasti akan mencarikan laki-laki lain untuk bisa membahagiakannya.”
“Lalu?”
Napas Dean serasa tercekat akan tanggapan datar sang adik. Apa perkataannya barusan kurang jelas? Pemuda di hadapannya hanya bersantai sambil bersandar di bibir jendela dan meminum minuman kalengnya.
“Apa kamu tidak mengerti maksudku?”
Kevin tertawa pelan. “Bagaimana mungkin aku tidak mengerti? Jika dia bisa berbahagia dengan laki-laki lain, lalu denganku kenapa tidak? Bukankah aku juga termasuk laki-laki lain itu?”
“Kamu—”
“Jangan samakan aku denganmu, Kak. Kapalku masih berlayar. Selama dia belum menikah, aku akan terus mendekatinya. Lagi pula Eldrey berbeda dengan Kak Alice, jadi Papa pasti akan mendukungku sepenuhnya.”
Sungguh Dean tak menyangka kalau putra kedua Kendal akan mengatakan itu. Sepanjang dirinya mengenal sang adik, sosoknya hanya terlihat sebagai pemuda santai yang menonton drama apa pun di tepian.
“Terserah padamu saja,” Dean pun menaruh kembali botol parfum itu ke meja.
“Terima kasih, Kak.” Sosok yang diajak bicara pun menoleh. “Terima kasih karena sudah lahir sebagai anak pertama. Karena jika aku yang di posisimu, kupastikan akan kawin lari dengan pujaan hatiku.”
Batin sang pendengar pun langsung tersentak karenanya. Tak menyangka akan mendengar pernyataan seperti itu. Tak tahu kenapa rasanya kesal malah menyelimuti hati Dean. Atau mungkin apa yang dikatakan adiknya ada benarnya.
Sebagai putra pertama, Dean dituntut untuk melakukan apa pun keinginan ayahnya. Salah satu contohnya bertunangan sebagai jalan memuluskan bisnis keluarga.
Nyatanya, sang adik diperlakukan sangat berbeda darinya. Kalimat Kevin barusan jelas menyadarkan sosoknya akan perbedaan besar dalam kehidupan mereka berdua.
Tangan pun terkepal erat dalam langkah Dean yang meninggalkan kamar adiknya.
“Sayang, hati-hati. Ini masih panas,” begitulah ucapan Amelia pada sang putri. Lily tampak sedang mencicipi makanan buatannya.
Di dalam sebuah rumah sederhana, di mana ada nenek dan kakek dari pihak ibu, membuat kediaman itu cukup hidup karenanya.
Terlebih, suami-istri yang sudah dilempar dari tahta kekayaan sangat senang sebab bisa makan bersama dengan putri dan cucunya.
“Maaf.” Tiba-tiba suasana berubah. “Maaf karena Ayah, kamu jadi harus hidup seperti ini.”
“Kenapa Ayah minta maaf? Roda akan selalu berputar. Sekarang mungkin kita yang di bawah, tapi suatu saat nanti bisa saja Gates yang ada di dalam tanah.”
__ADS_1
Kalimat Nyonya Amelia merasuk ke dalam jiwa masing-masing dan melukiskan pemikiran berbeda.
“Lily, apa kata ayahmu setelah tahu kamu ke sini?” tanya neneknya.
“Ayah tidak merespons apa-apa. Menjawab panggilanku saja tidak. Mungkin, aku sudah tak berarti lagi baginya.”
“Karena dia memang serupa dengan ibunya,” geram Amelia. “Tega-teganya dia menyeretku seperti itu! Seolah pernikahan kami selama ini hanya mainan. Aku, benar-benar menyesal pernah menjadi bagian keluarga itu!” sambil mengepalkan tangan dan muka mulai memerah.
“Amelia.”
“Jangan menatapku seperti itu, Bu. Aku tidak pernah menyalahkan kalian. Karena nyatanya, aku juga dibutakan oleh harta sialan keluarga mereka,” sahutnya dengan ekspresi kecewa.
Jujur, Lily benar-benar merasa iba melihat keadaan ibunya. Sosoknya yang dulu dibangga-banggakan sebagai menantu terbaik, nyatanya sekarang direndahkan begitu saja.
Hanya karena kemiskinan orang tua yang bangkrut dalam usahanya.
“Aku takut.” Amelia dan kedua orang tuanya pun menatap Lily. “Aku takut jika suatu saat nanti aku mendapatkan suami dan mertua yang seperti itu.”
Bagai hujaman kejam turun ke hati. Para pendengarnya, merasa tertohok akan kalimat sang gadis muda.
Perlahan namun pasti, Amelia pun menggenggam tangan putrinya.
“Dengar Sayang, apa pun yang terjadi, ibu takkan biarkan kamu mengalami nasib yang sama seperti ibu. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran bagi kita, kalau hidup bukan hanya berdasarkan pada harta.”
“Ibu.”
“Kamu memang masih muda, tapi suatu saat nanti kamu akan mengalami apa yang Ibu rasakan. Menikahlah dengan orang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, Sayang. Sehingga akhirnya, dia akan melakukan apa pun untuk membahagiakanmu. Dan jujur Ibu benar-benar iri pada Anna.”
Lily terkesiap. Tak menyangka kalau kalimat seperti itu akan tersembur dari bibir ibunya.
“Bibi Anna?”
“Wanita miskin itu,” sela ayah Amelia.
“Dia memang miskin, Ayah. Tapi Betrand, melakukan apa pun untuk bisa bersamanya. Melepaskan status dan jabatannya di Gates, sampai akhirnya ia bisa berada di titik ini.”
“Tapi nyatanya bibi dan paman sudah bercerai.”
“Dan bukankah sebentar lagi mereka akan menikah kembali?” jawabnya pada sang putri.
Lily terdiam. Merasa tersadar akan keadaannya. Sudut hatinya mulai berkata betapa beruntungnya sang sepupu yang terluka.
Tanpa harus terikat dengan Gates, Eldrey Brendania Dempster bisa merasakan kekayaan dari hasil jerih payah serta keringat ayahnya.
Benar-benar membuat iri. Andai dirinya yang berada di posisi putri Dempster, bukankah itu akan sangat menyenangkan?
__ADS_1