FORGIVE ME

FORGIVE ME
Gejolak di dada


__ADS_3

“Rey! Kamu kenapa?” Ramses menggenggam tangannya.


Eldrey menyadari kalau dirinya belum makan, apalagi keringat dingin sudah menemaninya. “Rams, apakah kamu punya roti?” tanya Eldrey dengan tatapan datarnya.


Ia pun tersadar dengan kata kakaknya, kalau gadis itu belum makan. “Benar juga, kakakku sudah membuatkan makanan untukmu.”


“Aku hanya ingin makan roti,” gigih Eldrey.


“Baiklah, tunggu sebentar!” Ramses pun menurutinya. Mengambil roti yang ada di atas meja dan menyerahkannya.


Eldrey memakannya dengan pelan. Begitu pula Ramses yang memperhatikannya ditemani pandangan tak fokus. “Apa yang terjadi?”


“Apa maksudmu?”


“Aku merasa kalau kamu sedang ada masalah.”


“Itu hanya perasaanmu,” gadis itu menghentikan makannya. Pintu pun terbuka dengan suara wanita yang sudah tak asing.


“Aku pulang!” tukas Fiona. Ia melirik makanan yang masih belum dimakan. “Hei! Bukankah sudah kukatakan berikan ini padanya?!” teriak Fiona karena masakannya belum dimakan.


“Bisakah bertanya dulu sebelum marah?” gerutu Ramses.


“Maafkan aku kakak, tapi aku sedang tidak bisa memakan makanan yang berat,” lirih Eldrey.


“Eh, I-iya, gak apa-apa, santai saja.” Ia pun mendekat dan duduk di sofa. “Hah, melelahkan sekali.”


“Apanya yang lelah? Bukankah kakak seharusnya senang karena bisa bertemu pujaan hati?”


“Iiiish! Kamu kalau gak tahu apa-apa lebih baik diam saja. Oh ya, mana yang kamu beli tadi?”


“Itu di sana,”  tunjuk Ramses ke sudut di mana belanjaan yang ia beli berada. Kakaknya mengambil bungkusan itu dan menaruhnya di atas meja tamu yang diiringi tatapan Eldrey dan Ramses.


“Baiklah, karena Stella masih belum pulang, kita saja yang berpesta!” soraknya kegirangan. Ia pun mengeluarkan isi bungkusan berupa cemilan-cemilan mengundang selera tapi tak begitu menyehatkan.

__ADS_1


“Ayo Rey! Makanlah!” Ia juga mengambil beberapa minuman kaleng di dalam kulkas. Ramses mengambil salah satu cemilan dan membuka bungkusannya, menyodorkan pada Eldrey apakah ia ingin memakannya. Mereka menikmati itu semua sambil ditemani film hantu yang mengejutkan jantung pemirsa.


Adegan di mana banyak pemain bunuh diri karena diteror mengundang teriakan Fiona. Ia gugup ketakutan, namun juga ketagihan melihat setiap adegannya. Berbeda dengan Ramses yang cukup serius meresapi tontonannya.


Sementara Eldrey, gadis itu hanya memperlihatkan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. Ekspresi di mana ia juga pernah menonton film sejenis ini di bioskop bersama Ramses. Tak ada takut, kecuali ekspresi datar pada setiap adegan yang cukup memacu jantung para penonton.


Waktu yang semakin larut melewati tengah malam melelapkan Fiona dan Ramses. Lain halnya dengan Eldrey yang matanya tak mau mengantuk. Ia tak bisa tidur, tatapan kosong saat menatap layar tv teralihkan begitu mendengar Fiona mengigau. Gadis itu bangun dari duduknya, berjalan menuju balkon apartemen yang dingin.


Tatapan ke langit yang ia lontarkan seperti terkesan sedang menghibur diri. Eldrey menghela napas pelan, bersandar ke dinding lalu menjatuhkan dirinya perlahan. Menekuk lututnya untuk menjadi penopang wajah cantiknya.


Rasa dingin dan berat mulai menyusup ke tubuh Ramses, membuat dirinya pun terbangun di sela-sela dengkuran pelan kakaknya. Pandangannya memburuk, saat menyadari kaki kakaknya juga menempel di atas perutnya. Ia menggeser kaki itu lalu mencoba bangun dari sana. Ia ketiduran di apartemen, dan untung saja orang tuanya tahu tentang itu.


Tapi ia tersentak kaget saat tahu kalau sosok Eldrey tak ada di sana, membuatnya menoleh ke sekeliling dan menyadari pintu balkon yang sedikit terbuka. Dengan cepat ia berlari ke sana dan menggeser pintu itu.


“Eldrey? Eldrey?!” pekiknya kaget. Ia segera menghampiri gadis yang duduk bersandar ke dinding menatap pemandangan di depan. Pagar besi pun menjadi saksi entah sudah berapa lama Eldrey berada di balkon yang luas itu.


“Rey! Sedang apa kamu di sini?” tanya Ramses memegang lengannya. Baju kaos berlengan pendek pun membuat Ramses bisa merasakan, seberapa dingin tubuh gadis itu lewat sentuhannya.


“Rey! Rey! Kamu kedinginan!”


“Tapi kamu kedinginan!” Ramses tampak cemas.


“Tak masalah!”


“Rey! Kamu kenapa sih aneh begini?!” tanya Ramses yang masih kalut. Tak ada jawaban yang ia dapatkan hanya memperkeruh suasana hatinya.


“Ayo kita masuk,” ajak Eldrey berdiri. Keseimbangannya buyar akibat duduk kedinginan dalam posisi yang terlalu lama. Hampir saja ia jatuh jika tak dipegang oleh Ramses.


“Rey!” Tanpa ragu ia langsung menggendong Eldrey, dibaringkannya gadis itu di sofa. Dengan terburu-buru ia masuk ke kamar terdekat dan mengambil selimut untuk menyelimuti tubuh Eldrey yang kedinginan.


Gadis itu hanya menatapnya, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan dingin yang terasa tak mampu mengusik dirinya, perlahan-lahan membuat matanya sayu, entah mengantuk atau tidak Eldrey memilih menutup matanya.


Ramses benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana. Dirinya sangat heran dengan sikap Eldrey yang seperti itu, ingin ia tanyakan kenapa, namun Ramses mengurungkan niatnya. Mungkin saja Eldrey sedang ada masalah dan juga, dia tak begitu dekat untuk bisa dengan lancang bertanya padanya.

__ADS_1


Dengan pelan dielusnya rambut gadis itu, rambut halus yang belum disisir. Rambut yang jatuh ke wajahnya di pinggirkan, membuat Ramses bisa merasakan sentuhan dinginnya wajah Eldrey.


“Deg!”


Jantungnya terasa aneh, spontan ia langsung membuang muka saat merasakan sesuatu dari wajah cantik sang putri tidur. Ramses menghela napas pelan dengan melirik kembali wajah Eldrey. Cantik dan tenang, wajah pucat dan bibir merah.


Sesuatu bergejolak di dada Ramses, dengan cepat ia beranjak dari sana, mengambil air putih untuk diminumnya. Suatu kesalahan besar menatap wajah polosnya, andai ia seseorang yang br*ngs*k entah apa yang akan dilakukan Ramses pada gadis yang terbaring tidur itu.


Gadis tanpa pertahanan, memang suatu kesalahan besar jika membiarkan Eldrey tidur dengan wajah dan kondisi begitu. Bahkan jika dirinya menolak, namun hati kecil Ramses mengakui, kalau ia memang tergoda dengan Eldrey yang seperti itu.


Suara hentakan pelan dari jam yang mencoba mengarahkan waktu, mulai dilirik Fiona yang akhirnya terbangun juga. Dengan mulut yang menguap besar ia menoleh ke sekeliling. Tampak olehnya Ramses terbaring di dekat kakinya, begitu pula Eldrey yang tertidur di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya.


Dengan langkah tak kentara Fiona bangun menuju kamar mandi. Melakukan aktivitas pagi yang sudah seharusnya. Saat keluar dari kamar mandi, tampak sosok Eldrey yang duduk menatapnya. Selimut ditubuhnya sudah berpindah menyelimuti Ramses.


“Kamu sudah bangun?” pertanyaan itu dibalas dengan anggukan oleh Eldrey.


“Kamu mau sarapan apa?”


Eldrey menggeleng, “maafkan aku kak, apa boleh aku pinjam baju? Aku mau pulang.”


“Begitu? Baiklah, tunggu sebentar ya,” Fiona pergi ke kamar Stella dan mengambil pakaian untuk Eldrey dan dirinya. Ya, dirinya bisa memilih apa saja, karena Stella bukan orang yang pelit untuk itu. Bahkan banyak baju yang masih belum pernah dipakai Stella karena ia sibuk memakai setelan kerja dan baju tidur.


Fiona menyodorkan setelan santai untuk Eldrey. Sementara Eldrey mandi, Fiona menyiapkan sarapan berupa sandwich resep tangannya sendiri. Ramses terbangun dari kebisingan yang diciptakan kakaknya.


“Kakak?”


“Kamu sudah bangun?”


“Mmm, mana Eldrey?”


“Lagi mandi.”


“Oh,” Ramses mengangguk-angguk pelan sambil memeriksa ponselnya. Beberapa pesan dari Erin membuatnya kaget, pesan mengajaknya bertemu. Isinya permintaan Erin yang benar-benar berharap bisa bertemu dengannya tanpa penolakan. Membuat Ramses heran dengan apa yang sedang terjadi pada salah satu temannya itu.

__ADS_1


 


__ADS_2