
Raut wajah presdir Betrand langsung berubah. “Kau cukup lancang rupanya.”
Henry terbungkam, tapi sedikit pun rasa gugup tak lagi memeluk dirinya. Sosok di depan mata, benar-benar tak berperasaan menurutnya.
“Jangan dekati lagi putriku.”
Henry tersentak. Rasanya kalimat itu tak bisa ia terima.
“Kenapa?! Aku temannya!”
“Lalu? Aku punya hak melarang siapa pun menemuinya. Keberadaanmu hanya akan memperparah kondisi putriku.”
“Apa benar begitu?” Presdir Betrand tak menjawab. “Padahal dia membutuhkan seseorang di sampingnya,” lanjut Henry.
“Aku lebih tahu kondisi putriku. Dia tidak butuh teman. Tidak untuk saat seperti ini.”
Tangan Henry terkepal erat. Pertama kalinya, ia bertemu dengan pria seperti itu. Seseorang yang tak bisa dilukiskan sebagai sosok ayah menurutnya.
“Apa anda tahu? Bunga kesukaannya.”
Presdir Betrand hanya menatap dingin.
“Ini pertama kalinya, aku mendengar seorang ayah dan anak mengatakan hal yang sama. Aku bertanya-tanya, apa tak ada yang tahu bunga apa yang disukainya.”
“Apa yang ingin kau katakan?” tekan presdir Betrand.
“Aku penasaran makanan apa yang disukainya.”
“Bahkan bila kau membawakan segudang croissant, aku tetap takkan mengizinkanmu menemui putriku lagi.”
Henry terdiam. Wajahnya tertunduk sedih dan kecewa. Perlahan ia mengumbar senyum pahit.
“Terima kasih sudah mengizinkanku bertemu dengan Eldrey,” sambil menunduk hormat. “Semoga anda cepat sembuh Tuan,” ucapnya sebelum berbalik. “Benar juga, aku baru saja mengetahuinya tadi. Kalau Eldrey, ternyata menyukai ratatouille,” diiringi senyum kecut olehnya.
Sekarang, Henry benar-benar pergi dari sana. Di perjalanan keluar, dirinya pun berpapasan dengan dokter Arlene. Wanita itu hanya mengangguk dan tak terlalu mengacuhkannya.
Henry menoleh, menatap rumah besar itu. “Maafkan aku Eldrey,” gumamnya masuk ke dalam mobil dan mengendarainya.
Di sebuah ruang keluarga. Tampak seorang pria duduk terdiam di kursi rodanya. Rondolf pun datang menghampiri untuk melaporkan sesuatu.
“Tuan, dokter Arlene sudah datang.”
Presdir Betrand hanya melirik sekilas. “Rondolf.”
“Ya Tuan?”
“Menurutmu, bunga apa yang disukai Eldrey?”
Rondolf mengernyitkan dahi bingung. “Mawar? Anda sering membawakannya.”
Presdir Betrand terdiam. Rasanya jawaban itu menusuk batinnya. “Apa putriku menyukai ratatouille?”
“Entahlah. Setahu saya Nona tidak pilih-pilih makanan. Jika anda penasaran apa makanan kesukaannya, dia sangat menyukai croissant buatan-” kalimat tak lagi dilanjutkan. Sementara presdir Betrand seakan masih menanti kalimat sambungan.
“Antar aku ke kamar,” hanya itu perintah yang ia lontarkan.
Mungkin, ini memang hukuman. Rasanya begitu menyayat, kenyataan di balik diamnya presdir Betrand, ia menatap kosong keluar jendela. Tak terasa, air matanya turun perlahan.
Ketenangan dan keangkuhan yang selalu melekat indah di tubuhnya, dirundung penyesalan.
Tak ada isak, cuma tetesan kristal bening mengalir polos di pipi. Miris, sesibuk-sibuknya orang tua, tapi setidaknya mereka akan tahu apa yang disukai buah hatinya.
Pertama kalinya presdir Betrand merasa sangat bersalah pada putrinya. Dirinya tak bisa berkata-kata, tak tahu apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Ingatan-ingatan yang ia berikan pada Eldrey menyeruak ke permukaan. Kenyataan kalau dirinya tak mengenal putrinya dengan baik.
Menyedihkan, di balik kekayaan besar itu, ternyata ada beberapa hal yang tak bisa ia beli. Sesuatu yang sepele, namun sangat disukai putrinya. Dan ironis, karena bunga dan makanan kesukaan gadis itu, justru diketahui oleh orang asing dalam keluarganya.
Ia tak tahu apa pun tentang putrinya. Kecuali bakat, sakit dan masa lalu anaknya. Kuasa mengerikan miliknya, seakan sirna di hadapkan pada kondisi keluarga mereka.
Kekayaan yang dikumpulkan selama ini, ternyata tak mampu mengukir kebahagiaan di dalam keluarganya.
“Bagaimana?” tanya Charlie.
“Hanya pingsan. Jangan lupa minumkan obat penenang begitu ia sadar.”
“Apa tak masalah?”
“Apanya?” tanya dokter Arlene.
“Obat tidur tak terlalu berpengaruh padanya.”
“Mungkin toleransi obatnya bermasalah. Terlalu sering memakannya, membuat tubuhnya mulai kebal. Lebih baik dikurangi, agar dia tidak overdosis.”
Charlie hanya diam menanggapi. Sang dokter pun kembali melanjutkan. “Ini tak seburuk yang sebelumnya. Tapi psikoterapi mungkin akan cukup membantunya.”
“Katakan pada bosmu.”
Dokter Arlene tertegun saat menatap sebuket bunga biru terletak begitu saja di lantai. “Kenapa bunganya dibiarkan begitu di lantai?”
Charlie tak menjawab. Ia memilih pergi untuk mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
“Itu, bunga itu diberikan teman Nona,” sambung Emily.
“Teman? Apa mungkin pemuda yang di depan tadi?”
“Benar.”
Dokter Arlene terdiam sejenak. “Forget Me Not? Apa dia tahu arti bunga yang diberikannya?” sahutnya lalu menaruhnya di atas nakas.
“Nona menyukainya.”
“Pemuda itu?!”
“Bukan, bunganya.”
“Benarkah?!” tanggap dokter Arlene. Hampir saja ia salah paham dengan kalimat Emily.
“Bagus juga jika Nona punya teman di sisinya.”
__ADS_1
“Ya. Anda benar,” Emily lalu menyentuh lehernya yang sempat dicekik Eldrey.
Di kediaman Henry, tampak pemuda itu terdiam di kamarnya sambil sibuk memainkan ponsel.
“Ini,” ia tertegun membacanya. Sebuah berita dan fakta dari keluarga Dempster yang membuatnya penasaran.
Betrand Gates Dempster, putra kedua dari Alex Damius Gates. Sosoknya dan juga ayahnya, merupakan pebisnis handal di era masing-masing. Sekarang, semua bisnis Gates dijalankan oleh Bill Laynard Smith, putra pertama sekaligus kakak Betrand.
“Mereka monster,” gumam Henry membaca lanjutan faktanya.
Tapi, ada yang membuat Henry sedikit bingung. Tidak adanya berita tentang putri presdir Betrand, kecuali dirinya mempunyai dua anak dan sudah bercerai dengan mantan istri yang tak disebutkan namanya.
“Sepertinya tak ada yang mampu membuat berita tentang keluarga mereka.”
Akan tetapi, di fakta lain tertulis kalau keluarga Dempster memiliki bisnis investasi, real estate dan properti.
Perusahaan mereka mempunyai banyak cabang, dengan dua CEO yang memimpinnya. Roma Alberto dan Daniel Bonapart.
“Kenapa tak ada berita tentang anak-anaknya?” Henry masih sibuk mencari-cari berita lainnya.
Sampai akhirnya ia menemukan satu berita yang memuat masa lalu presdir Betrand.
Betrand Gates Dempster, pebisnis jenius yang gagal dalam rumah tangganya. Pernikahan tak direstui, berujung pada perceraian. Terlebih adanya fakta orang ketiga dalam keluarganya, membuat publik yakin kalau artis senior Jennifer Day Scargirl, memang mengandung anaknya sehingga tak pernah lagi muncul di industri hiburan.
Publik makin gempar dengan adanya foto presdir Betrand bersama beberapa wanita keluar dari club malam. Rumor kalau dirinya juga terlibat dalam bisnis obat terlarang, ikut tercatat di sana. Walau cuma berita beberapa tahun yang lalu, benar atau tidaknya hanya itu satu-satunya yang membahas keburukan presdir Betrand.
“Keluarga yang hancur ya,” Henry lalu menaruh ponselnya di sofa. Pikirannya kembali mengingat sosok presdir Betrand dan Eldrey. Begitu mirip, namun juga berbeda.
Keangkuhan dan tekanan berbicara mereka sama. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
“Apa yang harus kulakukan? Aku tak ingin berhenti menemuinya,” Henry menatap langit-langit kamar dengan pandangan lesu.
*******
Sudah beberapa hari ini, Dean menginap di apartemen pribadi milik nyonya Julia. Segala macam fasilitas Dean, ditarik tuan Kendal akibat ulahnya yang menolak pertunangan terang-terangan di depan keluarga Diana lalu pergi meninggalkan mereka.
Setidaknya, nyonya Julia masih berusaha yang terbaik untuk putranya walau suaminya tak peduli lagi.
“Kevin mana Ma?”
“Dia kuliah. Mungkin adikmu cuma kesal dengan keributan yang sering terjadi. Tolong kamu maklumi Sayang,” ucap nyonya Julia mengelus lembut pipi putranya.
“Mm.”
“Mama pulang dulu. Kalau ada apa-apa kamu hubungi Mama ya.”
“Ya.”
Nyonya Julia pun memeluk putranya sebelum pergi.
Di kampus, saat istirahat, tampak sosok Alice menghampiri Kevin yang sedang makan di kantin.
Pemuda itu menoleh saat menyadari suara siapa itu.
“Wah, hai kak Alice?” goda Steven yang juga makan bersama Kevin.
“Hai,” sapa Alice agak canggung.
Kevin terdiam. Ingatan tentang pembicaraan Dean dan Alice sebelumnya malah bersorak di ingatan.
“Ada apa Kak?” potong Kevin.
“Itu, apa kita bisa bicara? Berdua saja?”
“Mm,” Kevin berdiri meninggalkan Steven dan Henry yang menyoroti mereka.
“Bukankah Kevin terlihat dingin?”
“Entahlah. Dia selalu begitu.”
“Tidak, dia selalu bermulut manis di depan kak Alice,” jelas Steven.
“Kau terlalu memperhatikannya.”
Steven memasang tampang malas. “Aku cuma sering melihat wajah jeleknya,” dengusnya.
“Jadi, apa yang ingin Kakak bicarakan?” tanya Kevin.
“Itu,” Alice tampak ragu-ragu.
“Kak Dean?”
“Ah,” Alice agak kaget karena Kevin tahu apa yang ingin ia katakan. “Benar. Sudah beberapa hari ini ia tak bisa dihubungi atau masuk kuliah. Apa Dean baik-baik saja?”
Kevin hanya diam menatapnya.
“Vin?”
“Apa kalian pacaran?”
“Hah! Apa yang kamu-”
“Iya?” Alice tak lagi menjawab. Dirinya mulai gugup. “Apa Kakak tahu kalau kak Dean membatalkan pertunangannya?”
“Apa!”
“Apa Kakak tahu kalau Kak Dean berpacaran dengan perempuan bernama Erin?”
“Itu-”
“Temanmu?” ucap Kevin tanpa memberinya jeda menjawab.
Rasanya Alice semakin gugup karena dihujani pertanyaan seperti itu.
__ADS_1
“Jika ada kesempatan, apa aku tak bisa melakukan hal yang sama?”
“A-apa maksudmu?” Alice panik dan tak paham.
“Apa Kakak akan melirikku jika aku yang berusaha untukmu?”
“Kevin. Apa maksud-” kalimat tak lagi dilanjutkan. Kevin tiba-tiba menyentuh bibirnya.
“Kupikir aku terlalu menahan diri.”
“Apa yang kalian lakukan?!” timpal seseorang tiba-tiba.
Tanpa melepas sentuhan, Kevin melirik orang yang muncul tiba-tiba di samping mereka.
Ramses menarik tangan Kevin yang menyentuh bibir Alice. “Kau, apa yang kau lakukan?” tanya Ramses.
Alice benar-benar terdiam seribu bahasa. Pertama kalinya, Kevin sang bocah santai justru bersikap tak karuan yang mendebarkan jantungnya.
Kevin hanya menghela napas pelan. “Sang ksatria tak berkuda sudah datang,” sahutnya mengalihkan pandangan. “Kalau begitu aku pergi dulu,” sambil tersenyum hangat pada keduanya.
“Kevin! Vin!” panggil Ramses namun tak diacuhkan lagi. “Dia, apa dia sadar apa yang baru saja dilakukannya?”
Alice masih tak bersuara. Beberapa detik kemudian, “maaf Rams, kupikir aku masih ada urusan yang harus dikerjakan,” Alice pun lari dari sana ke tempat yang berbeda.
“Liz! Kamu mau ke mana?!” teriak Ramses. “Cih! Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?!” gerutu Ramses. Ia melirik kedua arah di mana Alice dan Kevin pergi berseberangan. “Bocah keparat itu juga tak terlihat. Apa dia tidak kuliah?” omelnya melangkah ke tempat lain.
Sepulang kuliah, Steven lagi-lagi mengganggu Henry dengan bergelayutan padanya.
“Aku sudah siapkan kencan untuk kita. Kau harus datang! Jangan kabur lagi!”
“Ah, aku tidak mau! Kau saja yang pergi!” tolak Henry mendorongnya.
“Kenapa? Seharusnya ini hal yang tepat untuk mengobati patah hatimu!”
“Aku tidak patah hati!”
“Bukankah kau menangis kemarin saat bercerita padaku?! Padahal aku sudah membantumu bodoh!”
“Kau sama sekali tidak membantuku! Seharusnya kau menyemangatiku agar terus berjuang. Dasar playboy laknat!”
“Siapa yang kau panggil playboy?!”
“Tentu saja kau!”
“Berisik!” hardik Kevin membungkam mulut mereka berdua. “Hah!” Kevin menghela napas kasar. “Aku duluan.”
“Kenapa dia marah begitu?”
“Mungkin sedang pms,” balas Henry.
“Kau benar. Sudah pasti begitu.”
“Aku juga mau balik duluan.”
“Tunggu! Bagaimana dengan rencana kencan kita?”
“Sorry bro. Aku harus mengejar cintaku. Mari kita akhiri kisah ini.”
“Sialan! Jangan membuatnya terdengar menjijikan begitu!”
“Berisik!” Henry lalu pergi meninggalkannya saat sudah sampai di parkiran.
“Oh tuhan. Kenapa tak ada satu pun temanku yang berguna?” Steven mengacak-acak kasar rambutnya.
Kediaman Dempster, selalu menjadi tempat yang menakjubkan jika dijelajahi seluruh ruangannya.
Akan tetapi, salah satu tempat mulai terasa berat auranya karena tekanan dari ayah dan anak yang tak berniat menghidupkan suasana.
Halaman besar mereka, dengan pemandangan indah dan juga gazebo di pinggiran dekat bangunan utama kanan menjadi saksi dari perbincangan keduanya.
“Bagaimana keadaanmu?”
Tak ada jawaban.
“Ayah berpikir untuk mengajakmu jalan-jalan.”
“Dengan kondisi seperti itu? Ayah tak berniat untuk melindungiku seperti gadis miskin itu jika ada penembakan lagikan? Lebih baik fokus saja pada penyembuhanmu.”
Tatapan mata mereka saling beradu. “Apa ada yang kamu inginkan?”
“Aku hanya ingin tidur dengan tenang.”
“Begitu?” rasanya sulit berbicara baik-baik dengan putrinya. Ketenangan mengalir sejenak, sebelum pembicaraan kembali dilanjutkan.
“Aku berniat mengundang Anna dan Evan makan malam bersama.”
Seketika raut wajah Eldrey berubah masam. Senyuman pun tersungging secara perlahan.
“Ayo kita perbaiki semuanya,” tambah presdir Betrand.
“Perbaiki apa?”
“Aku sudah memikirkannya. Aku ingin kita semua kembali bersama lagi.”
“Terserah. Kaulah kepala keluarganya tuan Betrand,” Eldrey berdiri dari tempat duduknya.
Pria itu hanya menatap diam pada punggung putri yang meninggalkannya. Dirinya sudah jauh lebih baik, dan sekarang dalam proses pemulihan.
Begitu pula dengan Eldrey. Walau tak menjalani psikoterapi, tapi pengaruh obat penenang cukup membantu keadaan gadis itu.
Dirinya mulai terkendali. Terlebih, presdir Betrand berharap kalau langkah besar yang ia ambil akan benar-benar membantu kesembuhan putrinya.
Dirinya tak ingin lagi, mengirim atau mengurung putrinya. Sedikit banyaknya, ucapan Henry sudah menusuk ke dalam nurani dan kesadarannya.
Sekarang dirinya hanya berharap, waktu yang tak bisa dibayar di masa lalu, bisa tergantikan di masa sekarang walau harus menapaki jalanan terjal demi kebaikan keluarganya.
__ADS_1