
“Kau—”
“Apa kamu merindukanku?” putra Jackson tampak menggodanya.
Dominic yang menyaksikan itu pun menyipitkan mata. “Calon tunangan?”
“Apa dia temanmu?” tanya Samuel pada gadis di sampingnya.
“Lepaskan tanganmu,” suruh Eldrey sambil menepis sentuhan yang merangkulnya.
“Kamu dingin sekali. Bagaimana cara menjelaskannya padamu agar kamu paham? Gates menyetujui hubungan kita.”
“Ayahku sudah menolak keluargamu,” tekan Eldrey.
“Tuan Betrand berhutang budi pada orang tuaku.”
“Tagih padanya.”
“Lewat dirimu?” seringai pun tercetak sempurna di bibir pemuda itu.
“Kau gila.”
Eldrey pun bangkit tiba-tiba namun terduduk kembali karena Samuel menariknya.
“Hei!” sela Dominic yang membuat mereka menjadi tontonan sekitar.
Jujur saja, tak tahu kenapa tapi Eldrey tak suka menjadi bahan pandangan sekarang.
“Lepas.”
Tapi cuma senyum remeh yang dipancarkan Samuel padanya bahkan sampai mengeratkan genggaman di lengan putri Dempster.
“Hei, lepaskan dia!” pinta Dominic dengan posisi tubuh jelas menghadap ke arah putra Jackson.
“Aku tak ada urusan denganmu, Bung,” balasan itu berhasil mengundang raut muka masam Eldrey dan juga Dominic.
Tapi tiba-tiba sentakan kasar pun memisahkan genggaman tangan Samuel. Eldrey menoleh ke belakang mendapati Kevin memandang tenang pada putra Jackson di sampingnya.
“Kau.”
“Ayo, Eldrey. Kita pergi,” ajak putra Cesar.
Tapi rentangan tangan Samuel membuat gadis itu tertahan.
“Bagaimana kalau kau balapan denganku? Kevin Daniello Cesar.”
Sontak saja hal itu mengundang sorakan orang-orang sekitar. Bukannya merasa terganggu karena drama mereka membuyarkan tontonan pada balapan, tapi setiap pasang mata di sekeliling justru terhibur melihatnya.
Kevin menggeleng dengan muka jengahnya. “Ayo Eldrey,” ajaknya kembali dan memegang lengan gadis itu.
Tapi, sepertinya Samuel memang benar-benar berniat berurusan dengannya. Karena dia juga melakukan hal serupa pada lengan Eldrey yang digenggam Kevin.
“Ayo balapan denganku.”
“Malas.”
“Apa kau takut kalah?” Kevin perlahan menyipitkan matanya. “Karena kau tak ingin kehilangan pacar taruhanmu.” Mendadak suasana menjadi tegang. “Tak perlu menatapku seperti itu. Kau hanya perlu menang bukan?”
“Kau,” Eldrey menyelanya. “Apa kau menjadikanku taruhan?”
Samuel pun tersenyum tipis. “Tidak. Mana mungkin aku menjadikanmu taruhan? Jika dia kalah, dia tak bisa lagi berkeliaran di dekatmu. Hanya itu,” ucapnya dengan santainya dan menimbulkan sorakan dari orang-orang yang tak lain merupakan teman-temannya di pantai sebelumnya.
Dan teriakan provokasi pun berkumandang agar Kevin menerima tawarannya.
Eldrey pun mendecih karenanya. “Terserahlah. Aku balik,” ia pun menyentak sentuhan di lengannya.
Tapi Samuel yang berada tepat di hadapannya memegang bahu kanan Eldrey dan membisikkan sesuatu padanya.
“Jangan kasar, kau semakin seksi dan menggoda, Sayang.”
Kevin pun langsung mendorong putra Jackson agar menjauh dari gadis yang dibawanya.
“Woah! Santai, Bung!” kekeh Samuel berhasil memantik emosinya serta menjadikan mereka hiburan di kursi penonton.
Tapi raut berbeda terlukis jelas di wajah Eldrey. Dia mulai menatap angkuh orang itu. “Kalau begitu, bagaimana jika balapan saja denganku?”
“Eldrey!” bentak Kevin yang terkejut mendengarnya.
Samuel yang juga merasakan hal serupa menatap aneh sambil suasana dihiasi sorakan dari sekitarnya.
Perlahan seringai pun tercipta di bibirnya. “Taruhannya?”
Sayang, tak ada jawaban dari Eldrey. Karena tangannya sudah terlanjur ditarik Kevin tanpa aba-aba. Mereka pergi dari sana dan menimbulkan sorakan untuk sekelilingnya.
Tapi, pemuda itu tak peduli dan terus berlalu menuju parkiran. Membukakan pintu untuk Eldrey tanpa menyuarakan apa-apa.
“Selanjutnya ke mana?” tanya putri Dempster dengan polosnya.
“Apa yang dia bisikan?”
Butuh beberapa waktu bagi Eldrey untuk menjawabnya. Walau dia tampak santai menyebutkannya, tapi Kevin jelas-jelas memancarkan ekspresi yang berbeda. Di mana rahangnya menegas memendam amarah di sana.
Kalimat yang begitu kurang ajar menurutnya.
“Sayang sekali. Aku tidak jadi balapan dengannya.”
Sosok yang duduk di kursi kemudi pun melirik jengkel ke arahnya. “Jangan coba-coba.”
“Tak ada urusannya denganmu.”
“Dia pasti akan meminta taruhan yang aneh padamu. Jadi jangan pernah balapan dengannya.”
Eldrey pun tersenyum simpul. “Sepertinya kau meremehkan kemampuan mengemudiku.”
“Aku tidak meremehkanmu Eldrey. Tapi bisa saja dia curang nantinya.”
“Aku bahkan tidak berencana memakai cara yang bersih untuknya.”
Namun malah decihan yang terlontar dari mulut Kevin. Dihampirinya Eldrey, lalu memasangkan seat belt untuknya.
Gadis itu hanya diam memperhatikan tingkah sosok di sampingnya.
__ADS_1
Entah kenapa, hari ini sepertinya merupakan saat-saat tersial bagi Kevin. Bahkan di Cafe yang dituju mereka, sosok asing di mata Eldrey dengan lancang memeluk pemuda tersebut di keramaian.
Tentunya menimbulkan sorakan bagi teman-teman perempuan yang bernama Candice itu.
Dia adalah sosok yang memeluk adik Dean tempo hari saat memenangkan balapan.
“Jangan begini,” tegur Kevin padanya.
“Lho, kenapa?”
“Jangan banyak tanya. Oh ya, Rey. Kita makan di tempat lain saja ya.”
“Dia siapa?” cegat Candice saat Kevin hendak pergi dari sana.
Decihan bahkan terlontar dari pemuda itu, menimbulkan dahi berkerut untuk dia yang bertanya.
“Eldrey,” jawabnya singkat. “Oh ya, ini sepupuku Candice,” sahutnya pada putri Dempster yang hanya diam saja.
“Pacarmu?”
Tampak keraguan di wajah putra Cesar. Jujur saja, setelah Eldrey memutuskannya, dia bahkan tak tahu hubungan mereka sekarang seperti apa. Walau jelas-jelas ia memang menginginkan sosok di sebelahnya.
“Hei, Kevin. Kenapa kamu diam saja? Apa dia pacarmu?” Candice kembali mengulangi pertanyaannya. Bahkan terlihat jelas tampang tak suka dari rupanya saat menatap putri Dempster.
Dan muka miring yang dipamerkan gadis itu semakin menjengkelkan sepupu Kevin.
“Aku lapar. Aku akan ke meja sana,” lirih Eldrey memilih pergi meninggalkan mereka.
Tentunya Kevin mengikutinya, tapi lagi-lagi dia dicegat sepupunya.
“Kamu mau ke mana? Makan di sini saja.”
“Terus membiarkannya sendirian? Jangan gila, Candice. Dia gadis yang aku suka.”
Napas sang pendengar pun tercekat dibuatnya. Bahkan tiga temannya yang juga duduk bersama saling berbagi pandangan gosip.
“Dia?”
“Sudah ya, aku pergi.”
“Kevin!”
“Apa lagi?”
“Terus aku bagaimana?!”
“Tidak ada hubungannya denganku.”
“Apa maksudmu berkata seperti itu? Kamu tidak boleh berpacaran ya Vin! Aku takkan pernah mengizinkanmu!”
“Jangan aneh-aneh Candice. Kamu juga carilah pasangan untukmu. Jangan menempeliku lagi. Oke,” tangannya pun mengacak rambut gadis itu.
Tentunya menimbulkan geram sang sepupu yang ditinggalkan.
“Sial!” umpatnya.
“Dice,” panggil teman wanita itu. “Kamu kenapa tidak cari pacar saja sih? Kevin itu kan sepupumu.”
“Walaupun begitu dia tetap sepupumu.”
“Terus apa salahnya?! Aku tak peduli dan dia harus tetap bersamaku tetap menjadi milikku!” tegasnya penuh keyakinan.
“Apa kamu merasa terganggu dengannya?” tanya Kevin tiba-tiba karena Eldrey terus memandangi sepupunya.
Tapi, hanya senyum tipis yang dipamerkan olehnya. Sampai ponselnya berdering dan mengganggu fokusnya.
Terlihat ekspresi aneh dari wajahnya. “Halo.”
“Sayang, bagaimana kabarmu?”
“Baik.”
“Syukurlah. Nenek senang mendengarnya. Oh ya, Sayang. Kamu sekarang di mana?”
“Cafe.”
“Di Cafe mana? Apa kita bisa bertemu?”
“Aku dengan temanku.”
“Kalau begitu kita bertemu sebentar ya? Ada yang mau nenek bicarakan denganmu.”
“Tak bisakah lewat telepon saja?”
“Ini penting, Nak. Nenek mohon, ayo kita bertemu sebentar ya? Nenek akan suruh orang untuk menjemputmu.”
“Tidak perlu. Katakan saja di mana tempatnya.”
Sebuah senyuman pun terlukis di bibir Nyonya Camila. Ia pun menyebutkan lokasi pertemuan mereka.
“Siapa?” tanya Kevin setelah Eldrey selesai menelepon.
“Nenekku. Aku pergi, kau habiskan saja makanannya,” ucapnya sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ke atas meja.
“Hei! Aku akan mengantarmu,” sela Kevin mengambil uang itu dan memberikannya lagi pada Eldrey. “Biar aku yang bayar.”
“Terserahlah,” jawab putri Dempster memilih jalan duluan. Padahal dia belum memakan apa pun walau pelayan sudah mengantarkan sajian ke mejanya.
“Kevin!” panggil Candice menyadari kalau sepupunya akan pergi. Sontak saja ia berlari untuk menghampirinya. “Kamu mau ke mana?”
“Pergi. Balik ke mejamu.”
“Tidak mau! Aku ikut!”
“Aku ada urusan Candice! Jangan keras kepala!”
“Pokoknya aku ikut! Titik!”
“Agh! Cewek keras kepala!” kesalnya.
Sementara Eldrey jelas-jelas menyaksikan perdebatan dua orang itu di pintu masuk Cafe. Dia yang sudah menunggu di parkiran pun merasa kesal melihatnya.
__ADS_1
Terlalu buang-buang waktu, sampai akhirnya sosoknya pergi dan memanggil taxi yang kebetulan lewat di depan mata. Tentunya tanpa sepengetahuan Kevin yang masih berdebat dengan sepupunya.
Sementara di Restoran salah satu Hotel berbintang di dekat taman kota, terlihat Nyonya Camila turun dari mobilnya. Dia agak tersenyum simpul pada sosok pemuda yang juga hadir bersama Ibunya.
Siapa lagi kalau bukan Nyonya rumah Jackson dan putranya.
“Dia pasti datang kan?” tanya wanita yang berdandan agak formal itu.
“Tentu saja, cucuku takkan ingkar janji.”
Dan beberapa menit kemudian, sosok yang ditunggu benar-benar datang ke sana. Tentunya Eldrey menatap aneh pada sekelilingnya. Di mana Restoran besar itu hanya dihuni oleh tiga orang di area tengahnya.
Kemungkinan besar mereka mungkin membooking sepenuhnya.
“Eldrey, akhirnya kamu datang juga. Ayo duduk,” ajak Nyonya Camila.
Tentunya gadis itu menurutinya, bahkan jika penglihatannya tenang tak menyiratkan keramahan.
Samuel yang tersenyum di seberang pun memainkan mata pada pelayan di sana.
“Ada apa menyuruhku ke sini?”
“Ayolah. Jangan terburu-buru begitu. Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku sangat lapar karena tadi ada tontonan menarik di arena balap liar,” Samuel menyela pertanyaan Eldrey dengan santainya.
Tiga wanita yang duduk bersamanya tampak memasang raut wajah berbeda.
“Kamu ikutan balap liar, Nak?” tanya Nyonya Jackson dengan nada tak suka.
“Mana mungkin Ibu? Aku hanya menontonnya.”
Sajian pun datang memenuhi meja mereka. Eldrey hanya diam memperhatikan semuanya.
“Apa yang ingin kita bicarakan?” tanya Eldrey pada Nyonya Camila.
“Ini tentang perjodohanmu, Sayang.”
Jawaban wanita tua itu langsung membuat gadis itu menghela napas keras. Diraihnya minuman di depannya, diteguk sampai habis dan ditaruh cukup kasar.
“Eldrey!” kaget Neneknya dengan ulah cucunya itu.
Samuel yang melihatnya pun tersenyum miring padanya.
“Eldrey, dengar Nak. Keluarga Gates dan keluarga Jackson berencana menjodohkanmu dengan Samuel.”
“Lalu?”
“Maaf semuanya,” sang pemuda menyela pembicaraan mereka. “Nyonya, apa anda tidak keberatan jika aku berbicara berdua saja dengan cucumu?”
Lagi, tiga wanita di meja tersebut memandangnya dengan cara berbeda.
“Aku mohon, ada yang ingin kubicarakan berdua saja dengan Eldrey. Ibu dan anda tidak keberatan kan?”
“Baiklah,” setuju Nyonya Jackson. Dia pun bangkit dari duduknya, begitu pula dengan Nyonya Camila.
Tiba-tiba wanita tua itu mendekati cucunya dan membisikkan sesuatu padanya.
“Dengar, Sayang. Gates sudah menyetujui perjodohanmu dengannya. Karena itu, akrablah dan kamu akan tahu kalau Samuel pantas menjadi tunanganmu nantinya.”
Selesai mengatakan itu, dirinya dan Nyonya Jackson pun meninggalkan Eldrey dan Samuel berduaan di sana.
Walau mereka dijarakkan oleh panjangnya meja, tapi itu tak menolak kenyataan kalau Eldrey malas duduk bersamanya.
“Silakan dimakan—”
“Apa yang ingin kau bicarakan?” potong Eldrey.
Samuel malah melirik arlojinya. Tak tahu kenapa dia masih saja mengukir senyum di bibirnya. “Apa seburuk itu bertunangan denganku?”
“Ya. Karena aku tidak menyukaimu.”
Mendengarnya sontak saja membuat putra Jackson tertawa.
“Kenapa? Apa kau suka pacar taruhanmu itu?”
Eldrey hanya mengedarkan pandangan jengah. “Dempster sudah menolak keluargamu. Sekalipun kalian menjilat Gates, itu tak ada hubungannya denganku. Silakan bertunangan dengan wanita tua tadi, karena dia yang menyetujui permintaanmu.”
Ekspresi Samuel langsung berubah. Sorot matanya menekan, berlawanan dengan putri Dempster. Tapi gadis itu mulai merasakan keanehan di dirinya.
Di mana keringat perlahan menyeruak di pelipis dan sensasi tak biasa menyelimuti seluruh fisiknya.
Tanpa aba-aba area mahkota sang wanita berkedut yang membuat putri Dempster terdiam dengan rupa mengejutkannya.
“Ada apa? Apa ada yang mengganggu kakimu? Nona.”
Pertanyaan Samuel membuat atensi gadis itu yang tertunduk sekarang menatap masam kepadanya.
“Kau.”
Seringai tipis pun tercetak sempurna dari putra Jackson yang mulai berdiri di posisinya.
__ADS_1