
“Mau apa kau? Otakmu di mana?! Aku kan suruh buka pintunya, brengsek!”
Nyatanya Kevin tidak menurutinya dan mengeratkan pelukan pada gadis di rangkulan. “Tidak bisakah kita tetap seperti ini walau sebentar saja?”
Eldrey tak habis pikir. Apa mau laki-laki ini sebenarnya? Tak bisakah dirinya tak diganggu? Ia lelah berhadapan dengan lawan jenisnya.
“Posisi ini tidak nyaman,” gadis itu berujar tanpa berpikir terlebih dahulu.
Kevin hanya tersenyum. Percayalah, andai dia kurang ajar pasti sudah diterkamnya gadis ini. Laki-laki normal mana yang takkan tergoda? Terlebih putri Dempster sepertinya tak begitu memikirkan dandanannya.
Crop top yang terpampang nyata. Belahan pasti terlihat jika sang pemuda menurunkan pandangan ke dada.
Aroma parfum yang menguar dari tubuhnya. Tak salah jika para serigala tadi malam sibuk menguliti kemolekannya, andai Eldrey lebih peka mungkin sosoknya akan menampar fantasi liar mereka.
Dan lengan Kevin yang bersentuhan dengan area dadanya tak dipermasalahkan olehnya. Entah secara sadar atau tidak, sudut hatinya mungkin percaya jika laki-laki ini takkan menyakitinya.
Atau baginya itu adalah sebuah rangkulan normal di matanya.
“Apa yang lucu?” Eldrey menatap lekat sang pemuda.
Sebuah senyuman miris pun tercipta di bibir Kevin Daniello Cesar, di mana ia tersadar kalau gadis yang diperlakukan seperti ini tidak berdebar.
Lengannya memang sengaja di posisi itu untuk memastikan detakan jantung sosok di pangkuan, tapi mereka berlawanan.
Sepertinya memang hanya dirinya yang tenggelam perasaan.
Kepalanya mulai tertunduk menyentuh cerukan leher putri Dempster.
“Apa yang harus kulakukan?” gumamnya tak jelas.
Tapi Eldrey bisa mendengarnya. Parahnya ia menatap dari jarak sangat dekat.
“Melakukan apa?”
Kevin mengangkat kepalanya. Ia tersentak saat mendapati wajah putri Dempster beberapa senti dari rupanya.
“Apa aku tipemu?”
Dahi berkerut alis bertaut terpatri di visual cantik itu. Entah Eldrey sedang mencari jawaban tapi ia memang tak ragu memperhatikan.
“Apa aku tampan?”
Lihatlah. Entah pertanyaan random apa yang dilontarkan Kevin. Eldrey menyapu pandangannya ke setiap sudut rupa sang pemuda.
Tanpa keraguan tangannya terulur mengusap rambut putra Tuan Kendal.
Bagai tersentrum sebenarnya. Tapi Kevin mencoba menormalkan dirinya.
Sekarang Eldrey tersadar, kalau laki-laki ini punya bibir yang agak bervolume, matanya tak begitu besar, tapi tampak tajam jika tenang, sehingga keduanya menjadi daya tarik di sana. Garis rahang tegas, alis rapi, hidungnya proporsional. Satu tindikan di telinga kiri, istilah badboy pantas untuknya andai sosoknya tidak tersenyum.
Dia cocok jadi model mengingat tingginya lebih dari 180 cm.
__ADS_1
“Kau tampan. Tuan Kendal pasti bangga, putranya punya wajah yang tak bosan dilihat.”
Tak bisa dibayangkan. Apa Eldrey benar-benar serius mengatakan itu? Apa dia sadar kalau yang barusan pujian luar biasa dari mulutnya?
Bahkan tangannya masih bergerak memperbaiki dandanan rambut Kevin yang acak-acakan. “Bekas luka?” sorot matanya terhenti melihat jejak yang sudah samar di pinggiran dahi.
“Ah, itu bekas luka saat aku kecelakaan dulu.”
“Kecelakaan?”
“Ya. Kecelakaan motor.”
“Jika rambutmu dibeginikan, akan jadi lebih menarik. Kamu cocok berkacamata, apa kamu tidak minat jadi model?”
Sekarang potongan comma hair yang dihadiahkan tangan Eldrey untuknya, tak bisa dilihatnya.
Tapi satu hal yang pasti, perbincangan mereka normal dan itu menyenangkan. Bahkan posisi seperti ini sangat dinikmatinya, layaknya sepasang kekasih yang sedang bermesraan.
Tapi Eldrey mungkin menganggap datar semuanya.
“Jika aku jadi model, nanti aku tidak punya waktu untuk mengganggumu.”
Putri Dempster tersenyum. Perlahan mengalihkan pandangan dan mencoba beranjak dari sana. Tapi Kevin masih menahannya.
“Kau mungkin akan patah tulang jika aku terus duduk di pangkuanmu.”
Hanya saja raut wajah laki-laki itu kembali seperti sebelumnya. Mengabaikannya dan agak mendingin. Tak tahu kenapa, Eldrey agak terusik namun tak ragu menyaksikannya.
“Kamu berdebar Kevin. Kamu benar-benar menyukaiku?”
Detakan di jantung Kevin memang tidak normal saat berhadapan dengannya.
“Setelah merasakannya, apa kamu masih tak percaya?”
“Jangan suka padaku, Kevin.”
“Kenapa?”
Gadis itu agak terkejut karena nadanya setingkat lebih keras. “Pacaran lah dengan gadis yang lebih pantas.”
“Lalu menikah denganmu.”
Tak habis pikir, dan suasana ini mulai terasa tak nyaman. Lambat laun mungkin akan berdampak aneh pada putri Dempster.
Tampak kerisihan dari posisinya, sepertinya ia ingin beranjak dari pangkuan putra Cesar.
Tapi Kevin lebih parah dari Dean. Ia takkan membiarkan perasaannya menggantung begitu saja. Lebih baik menuntaskan pembicaraan mereka walau keduanya harus terkurung di dalam mobil untuk waktu yang lama.
Dan tangannya masih bertahan di pinggang Eldrey juga lengannya.
“Kenapa diam saja? Aku takkan melepaskanmu sampai kita selesai bicara.”
__ADS_1
Eldrey yang tak lagi menatapnya, memilih memandang ke tempat yang tadi di dudukinya.
“Tolong jangan menyukaiku. Carilah wanita lain. Berpacaran dengannya dan menikahlah dengannya. Jangan libatkan aku dengan perasaanmu.”
“Apa hakmu mengaturku?”
“Lakukan lah Kevin. Itu lebih baik untukmu.”
“Tapi sayangnya aku menyukaimu.”
“Aku bilang jangan menyukaiku, bocah brengsek!” marahnya akhirnya sambil memukul dada pemuda itu.
Sekarang terlihat sosoknya, wajahnya yang memerah dan tampak frustrasi. Dia gemetaran di depan pemuda itu. Napasnya tak beraturan menunjukkan kebenarannya, kalau Eldrey mulai takut pada putra Cesar.
Begitu takut kalau Kevin berhasil menyentuh dasar hatinya yang beku.
Dan Kevin malah tersenyum remeh melihatnya. “Ada apa Eldrey? Kamu baik-baik saja?”
Gadis itu menggeleng. “Jangan temui aku lagi.”
“Kenapa?”
“Lepaskan tanganmu.”
“Apa kamu takut berbalik menyukaiku?” Tapi tangannya meraih kepala putri Dempster untuk bersandar padanya.
Eldrey yang tanpa perlawanan menuruti dirinya. Mungkin ia masih syok karena ditekan seperti itu.
Napasnya yang masih belum beraturan di dengar dengan tenang oleh Kevin. Dia diperlakukan lembut, pertanda kalau sosok itu berusaha menenangkannya.
Mengingat gadis yang disudutkan olehnya masih gemetaran fisiknya.
“Jangan menyukaiku,” gumam pelan putri Dempster. Kevin hanya mengeratkan rangkulannya. “Jangan dekati aku lagi.”
Putra Cesar semakin tahu kalau dirinya berdampak besar pada Eldrey. Dirinya berbahaya untuk gadis yang tak ingin membuka hatinya.
Pertanda kalau ada harapan baginya dalam meruntuhkan dinding yang dibangun sang gadis dalam balutan trauma.
Sekarang deru napasnya lebih tenang. Cukup lama mereka seperti itu. Dan setelah Kevin sadari, ternyata putri Dempster tertidur di rangkulan. Secercah kristal bening terselip di sudut mata.
Mungkin sosok itu hampir menangis karena ulahnya. Sehingga senyuman tipis pun tersungging di bibir sang pemuda.
“Bagaimana mungkin aku tidak mendekatimu? Nyatanya jantungku terus berdegup kencang saat melihatmu. Sayangnya aku keras kepala Eldrey. Aku, akan terus mengganggumu, sampai aku benar-benar tidak ada harapan untuk mendapatkanmu.”
Gadis yang sekarang sudah tertidur tenang di samping pengemudi dipasangi seat belt olehnya. Kevin bahkan menutupi tubuh Eldrey dengan sweaternya.
Ia tatap lekat sosok itu dan menyentuh bibirnya dengan maksud menciumnya.
Ini kedua kalinya putra Cesar melakukan itu pada putri Dempster dalam keadaan sang gadis tidak sadar.
Andai Eldrey tahu, entah akan seperti apa responsnya. Mengingat cuma laki-laki itu yang berani padanya dalam kondisi ia sadar ataupun tidak.
__ADS_1