FORGIVE ME

FORGIVE ME
Tamparan tak terduga


__ADS_3

Alice sibuk bermain-main bersama Dean di tepi pantai sambil tertawa-tawa. Cukup lama mereka bermain sampai akhirnya keduanya merasa lelah.


“Bagaimana jika kita pergi ke tempat wisata yang lain?” tanya Dean.


“Mmm .... Baiklah, aku sudah cukup puas di sini, ayo pergi,” ajak Alice.


Mereka berdua lalu menapaki pasir pantai itu sambil menyunggingkan senyum bahagia di bibir masing-masing.


Saat sudah sampai di depan mobil yang terparkir, “aku mau beli minum dulu, kamu tunggu saja di mobil,” ucap Dean sambil menyentuh kepala Alice yang tersenyum padanya.


“Iya,” lalu Alice pun masuk ke dalam mobil.


Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, menghilangkan sepi menunggu Dean sambil bermain ponsel.


Gadis itu terdiam saat menatap layar ponselnya yang penuh panggilan serta pesan masuk dari Ramses. “Kenapa dia menghubungiku sampai seperti ini?!” gumam Alice cemas.


Ia pun mulai membuka pesan Ramses yang membuat hatinya gugup, berbagai macam pikiran membayang di batinnya. “Semoga ini tak ada hubungannya dengan kencanku bersama Dean. Aku mohon, semoga kami tidak ketahuan,” ucapnya pelan penuh harap.


Tapi isi pesan itu tak sesuai bayangannya.


“Eldrey?!” pekiknya kaget saat melihat isi pesan tersebut.


Ia langsung membuka pintu mobil dan menoleh ke sekelilingnya untuk mencari sosok Dean.


Tampak sosok Dean dari jauh sedang berjalan mendekatinya, “Dean!” panggil Alice.


Ia pun buru-buru menghampiri gadis itu, “ada apa? Kenapa kamu gak menunggu di dalam mobil?” tanyanya.


“Ayo kita ke rumah sakit, Rey dirawat sekarang!” pintanya tiba-tiba.


“Dirawat? Kenapa bisa?!”


“Dia tertusuk! Aku gak tahu lagi, Rams kasih tahu aku kalau Eldrey dirawat di rumah sakit Mavo Anos sekarang,” jelasnya.


“Tunggu! Apa karena itu dia tidak menemuiku malam tadi?!” sahut Alice cemas.


“Pokoknya ayo kita ke rumah sakit dulu!”


“Iya!”


Mereka berdua pun akhirnya pergi menuju rumah sakit Mavo Anos untuk memastikan kondisi Eldrey. Sepanjang perjalanan, Alice tampak gelisah, terpampang jelas raut muka bersalah di wajahnya.


“Bagaimana ini? Ini semua salahku!” ucap Alice dengan sedikit terisak-isak.


“Jangan menyalahkan dirimu, kita bahkan belum tahu apakah dia memang tertusuk saat akan menemuimu atau tidak, jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri,” sambung Dean menenangkannya.

__ADS_1


“Mmm ....” Alice pun mengusap pipinya untuk menghapus air mata yang mulai mengalir.


Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah sakit. Alice langsung berjalan cepat menuju lokasi kamar Eldrey yang sudah diberitahukan Ramses lewat pesannya.


“Mau apa?!” tanya penjaga kamar Eldrey.


“A-aku mau menjenguk Rey!” tukas Alice yang agak kaget melihat keberadaan dua orang penjaga di depan kamar Eldrey.


“Tolong izinkan kami masuk,” pinta Dean sambil menatap tajam penjaga itu. Penjaga yang melihat tatapan Dean itu pun berubah ekspresi wajahnya.


“Tidak bisa! Nona sedang istirahat! Lebih baik kalian pergi!” bentak salah satu penjaga itu.


“Aku mohon, biarkan kami melihatnya walau sebentar saja,” Alice memohon-mohon pada penjaga itu dengan wajah iba.


“Maaf nona, tapi kami tak bisa biarkan siapa pun masuk lagi sekarang! Sudah cukup laki-laki itu saja yang datang hari ini!” tegas penjaga tersebut.


“Laki-laki itu?” gumam Dean.


“Ramses, pasti dia,” sahut Alice sambil menatap penjaga itu dengan pandangan kecewa. Ia benar-benar ingin menemui Eldrey untuk memastikan kondisinya, bagaimanapun juga ia merasa bersalah karena tak mengetahui apa yang terjadi pada Eldrey sejak semalam.


Perlahan-lahan kristal bening pun menetes membasahi pipinya, ia lalu berjalan menjauh dari kamar Eldrey setelah merasa sia-sia tak bisa bertemu dengan sahabatnya itu.


“Bagaimana ini? Aku sangat ingin bertemu dengan Rey, ini semua salahku! Semuanya salahku!” umpat Alice.


“Dia pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku, aku mohon jangan salahkan dirimu lagi, ini bukan salahmu,” selesai mengatakan itu, Dean pun memeluk Alice untuk menenangkannya.


Alice tak menjawab perkataannya, rasa sedih, bersalah dan kecewa bercampur aduk sekarang. Ia benar-benar merasa tak berguna sebagai seorang sahabat.


Bagaimana bisa ia sibuk berkencan bahagia sementara sahabatnya sedang terbaring di rumah sakit? Perlahan, pelukan Dean pun berubah menjadi obat yang menyelimuti keadaannya.


Sehingga, gadis itu pun menangis dalam dekapan laki-laki itu sambil membalas pelukannya.


“Dean?!” panggil seseorang yang tak asing suaranya.


Dean pun menoleh ke sumber suara tersebut, ia tersentak kaget dan melepaskan pelukannya dari Alice.


Alice juga menoleh ke arah sumber suara itu, tatapan sayunya karena menangis pun berubah menjadi tatapan kaget, gugup dan takut saat melihat orang tersebut.


“Sedang apa kau di sini?!” tanya orang tersebut dengan suara menekan yang berat. Ia tak hanya sendiri, tapi juga ada beberapa orang lain sedang bersamanya.


“Papa! Aku di sini ....” Dean pun terdiam saat tatapan pria itu berubah menjadi dingin saat melihatnya.


“Dean? Kamu di sini juga?” tukas tuan Adam yang merupakan papa Diana.


Tak hanya papanya serta tuan Adam, tapi ada juga beberapa orang lain yang sedang bersama mereka, diperkirakan kalau mereka itu adalah rekan bisnis papanya.

__ADS_1


“Aku di sini karena temanku dirawat di sini paman,” jelas Dean agak gugup menatapnya.


“Begitu?” balas tuan Adam sambil menatap Dean penuh selidik.


Sementara tuan Kendal menatap tajam ke arah keduanya, Alice yang tidak tatap pun hanya bisa menunduk takut dan gugup karena berhadapan dengan mereka.


“Tuan-tuan, silakan duluan saja, ada yang mau saya bicarakan terlebih dahulu dengan putra saya,” jelas tuan Kendal pada rekan bisnis yang bersamanya.


“Baiklah,” jawab tuan Adam sambil dianggukkan oleh yang lainnya. Mereka pun pergi meninggalkan tuan Kendal, Dean dan Alice di sana.


Sekarang hanya tersisa mereka bertiga ....


“Plaakkkk!!!”


“Dean!” pekik Alice kaget.


Tak disangka tuan Kendal langsung menampar Dean. Hal itu pun membuat Dean meringis kesakitan menyentuh pipinya yang memar sambil menatap jengkel pada papanya.


“Berani-beraninya kau berpelukan di tempat umum seperti ini!” bentak tuan Kendal.


“Apa kau tak tahu apa yang sudah kau lakukan?! Kau kira apa yang akan dipikirkan tuan Adam saat melihat calon tunangan putrinya berpelukan dengan wanita lain?!” tambahnya emosi.


“Memang apa yang akan dipikirkannya? Aku tak pantas untuk putrinya! Karena aku memang tak menyukainya!” bantah Dean.


Tuan Kendal yang semakin geram dengan ucapan putranya sekali lagi mengangkat tangannya untuk memukulnya.


“Paman! Aku mohon paman, jangan pukul Dean lagi!” ucap Alice sambil melindungi Dean.


“Plaakkkk!”


Mata Dean pun terbelalak saat melihat gadis itu ditampar dengan keras di hadapannya.


“Papa! Apa yang papa lakukan?!” pekik Dean kaget sambil memegang lengan Alice.


“Berani-beraninya gadis hina sepertimu menentangku?! Orang rendahan sepertimu bahkan tak pantas muncul di hadapanku!” hardik tuan Kendal.


“Papa!” teriak Dean sambil menatap tajam padanya.


“Dasar anak kurang ajar! Beraninya kau berteriak padaku cuma gara-gara gadis rendahan ini?!”


Dean tak menjawabnya ....


“Aku sudah biarkan kau berteman dengannya, tapi kau benar-benar perempuan tak tahu malu! Apa kau bermimpi untuk bisa masuk ke dalam keluargaku?! Sampai mati takkan kubiarkan lagi kau mendekati putraku!”


Alice dan Dean pun kaget mendengar perkataan tuan Kendal, terlebih lagi Alice. Tanpa disadari air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya, rasa sakit di pipinya tak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya saat mendengar ucapan tuan Kendal padanya.

__ADS_1


__ADS_2