FORGIVE ME

FORGIVE ME
Gumaman dua sosok di balik pintu


__ADS_3

Terbungkam, kecuali suara air mancur mengalir jatuh ke permukaan sebagai penghias suasana.


“Kenapa kalian tidak menjawabku?” suara Eldrey benar-benar serak saat ini.


Tetapi, isak tangis yang saling sahut-menyahut dari sosok masih punya nurani menemani gadis itu.


Dirinya perlahan mengukir senyum, mulai menyembur tawa pelan dengan tangan memegang kepala lalu menyisir rambut ke belakang.


Dirinya pun tiba-tiba terdiam. “Tak berguna,” lirihnya pergi meninggalkan mereka.


“Eldrey!” pekik Alice memanggil namanya. Walau sosok itu berhenti sebentar, tapi torehan senyum miris di bibirnya menahan mereka yang ingin menghentikannya.


Dan langkah gadis itu benar-benar berlalu untuk lenyap dari pemandangan pinggiran kolam renang kebanggaan keluarga Dempster.


Membisu, mereka semua terdiam di posisi itu.


“Tak ingin menyusulnya?” sela Charlie menatap laki-laki yang berdiri bersamanya. Melihat pemandangan tadi dari lantai dua, mendengar cerita Eldrey lewat rekaman panggilan salah satu pelayan di sana.


Sorot keduanya yang saling bertemu mengukir rasa dan tanya masing-masingnya.


Pemuda itu terdiam. Menggenggam erat sebuket bunga biru di tangan yang selalu ia bawa.


“Jika kalian tak melepaskan tangannya, maka dia takkan pernah seperti itu.”


Charlie tersenyum. “Bahkan jika kami menggenggam tangannya, dia akan tetap begitu.”


Lirikan mata Henry kian menajam padanya.


“Karena di saat dia tersiksa, bukan kamilah sosok yang diharapkannya. Bahkan walau kebersamaan menyelimutinya, fisik dan mentalnya sudah terlanjur terluka. Dan keluarga yang diharapkannya sudah tidak ada. Dia bernyawa namun tak ada perasaan di dirinya. Nona kami hanya tersisa raga dengan hati mati di badannya,” tambah Charlie sambil menyentuh ponsel dan mematikan panggilan yang tersambung dengan pelayannya.


“Kalimat yang indah,” Henry menatap dengan pandangan kecewa.


Charlie tersenyum. “Temuilah dia. Di saat hancur, seseorang membutuhkan sosok positif bahkan jika hanya berdiri tanpa suara. Dan menurutku, bocah tengik seperti kau pantas melakukannya,” sambil memainkan ponselnya.


Henry tak menyangka kalau pria itu akan berkata begitu padanya. Dan ya, sesuai kalimatnya, sang pemuda seketika lari dari sana menuju jembatan penghubung rumah utama dengan rumah kiri di mana kamar Eldrey berada.


Sambil masih menggenggam sebuket Forget Me Not yang berserakan helaian bunganya, terbang mengudara menghampiri langit-langit kolam renang.


Beberapa orang terkesiap menyadari guguran bunga biru tanpa diketahui siapa penyebabnya.


Begitu indah dan dramatis keadaannya.


“Eldrey!” suara ketukan pintu mengiringi panggilan nama itu. Tak ada suara, tak ada jawaban kecuali hening sebagai penantian untuk Henry yang menunggu.


“Eldrey,” gumam Henry bersandar ke pintu masuk yang terkunci.


“Kamu di sini?” sebuah suara tiba-tiba menyahut dari balik penghalang itu.


“Eldrey? Apakah kamu mau membuka pintunya?” tanya Henry.


Diam, gadis itu tak lagi menanggapinya.


“Eldrey?” panggil pemuda itu lagi.


Masih sama, sunyi menyambutnya dari bibir gadis yang duduk di balik dinding kayu jalur masuk kamar.


Henry pun akhirnya menjatuhkan diri dan bersandar ke pintu yang ingin dilewatinya. Sama-sama diam, menatap kosong ke depan dengan detik-detik berlalu tenang.

__ADS_1


Ironis, keduanya bersandar ke pintu yang menjadi pembatas untuk menyatukan raga masing-masingnya.


“Eldrey.”


“Kenapa kamu di sini?” tanya gadis yang disebut namanya.


“Aku ingin menemuimu.”


“Aku tak ingin bertemu.”


Henry menatap bunga biru dengan menjulurkan kedua kakinya agar terasa lebih baik.


“Maafkan aku.”


Tak ada lagi jawaban setelah itu. Membuat perasaan Henry campur aduk karenanya.


“Maafkan aku,” ulangnya lagi.


“Aku benci itu,” jawab Eldrey mengedarkan pandangannya ke atas.


Henry tersenyum. “Apa kamu lapar?”


“Ya.”


“Apa kamu mau makan sesuatu?”


Tanpa terasa, kehampaan yang tadi memeluknya mulai kehilangan rasa sepi. Eldrey pun memiringkan kepalanya tersenyum tipis.


“Tidak.”


“Kenapa?”


Mendengar itu, tentu saja memunculkan rasa kasihan Henry. Sekarang, rasa sukanya kian campur aduk dengan simpati. Entah kenapa, bayang-bayang harus merangkul sosok di balik pintu menguasainya sampai senyum kecut merekah di bibirnya.


“Eldrey.”


“Ya?”


“Maafkan aku karena tidak sengaja mendengar semua itu. Aku ....”


“Semua itu?” Eldrey pun menunduk. “Ah,” ia pun tertawa pelan dengan mengundang pilu Henry.


Sang pemuda menoleh ke belakang. Walau pandangan terhalang, rasanya ia bisa membayangkan seperti apa ekspresi gadis di balik pintu.


“Eldrey.”


“Aku benci mereka.”


Henry tertegun. “Mereka memang salah.”


“Aku ingin menyiksa mereka.”


“Mereka memang pantas untuk itu.”


Sang perempuan muda, menutupi mata dengan punggung tangan kanannya. Dirinya kembali tertawa pelan, entah apa yang ia rasakan.


“Aku ingin membunuh mereka.”

__ADS_1


Dan sekarang, untuk itu tak ada jawaban lagi dari Henry. Apa yang bisa ia katakan? Kalimatnya sangat menyakitkan dan mengundang tragedi.


Eldrey pun kembali melanjutkan ucapannya. “Apa yang harus kulakukan? Tanganku tak bisa berhenti gemetar, dan pikiranku berbisik lagi agar aku menghabisi mereka.”


“Eldrey,” Henry tersentak kaget mendengarnya.


Gadis itu tersenyum miris. Menatap pisau yang sejak tadi tersimpan di sakunya.


“Apa yang salah denganku? Aku ingin melakukannya, tapi seolah-olah ada yang menahanku untuk tidak mendekati mereka,” gumam Eldrey dengan putus asanya.


“Eldrey.”


Dan mata pisau itu, ia sentuh lembut untuk memastikan ketajamannya. “Aku sangat ingin menggores kulit mereka dan menyentuh darahnya.”


Percayalah, siapa pun yang mendengar akan langsung tahu kalau dia memang bermasalah kepribadiannya. Terlebih seraknya suara gadis itu, benar-benar mewakilkan perasaannya yang sesungguhnya.


“Eldrey. Aku mohon tolong buka pintunya,” pinta Henry. Cengkeraman pada buket bunga di tangan semakin erat genggamannya. “Aku mohon Eldrey.”


Tatapan mata sayu milik gadis rupawan, mengukir seringai tipis di bibirnya.


“Mereka berbisik padaku agar aku melakukannya,” lirih tak jelas Eldrey.


Akan tetapi, di balik untaian kata yang ironis itu, tangannya telah menggenggam erat mata pisau yang dipegang. Perlahan namun pasti, mengalirkan darah di celah-celah tertentu dan bisa terlihat jelas di permukaan.


Tak ada erangan, tidak pula rintihan kecuali sengatan pedih akibat luka sayatan. Di balik fokus sakitnya, panggilan Henry seakan tak terdengar lagi di telinga.


Eldrey tertawa pelan akan sensasi yang ia rasakan.


“Eldrey, aku mohon Eldrey buka pintunya!” ketuk Henry dengan keras. Seakan putus asa telah menyelimuti sikap sang pemuda agar gadis itu tak bertindak di luar batas kewajaran.


Sementara Kevin, dirinya menatap dari kejauhan. Sosok Henry sang teman yang juga di sana dengan wajah tak terlukiskan.


Dua pemuda dengan simpati yang sama namun alunan rasa berbeda. Di mana salah satunya, menuangkan suka yang jelas di mata agar sosok dalam angan menoleh sedikit saja padanya.


Henry jelas berjuang keras untuk berada di sisi Eldrey. Melirihkan permohonan untuk diterima sosok yang terluka di balik pintu.


Dan kegigihan pun mulai terbayarkan. Irama kunci, mulai melepaskan pengikat agar pembatas ruang yang bisa dilewati mengizinkan Henry untuk melaluinya.


Sedikit terbuka, celah kecil dengan separuh wajah Eldrey terlihat menatap ke arahnya.


“Eldrey.”


Tak ada jawaban, kecuali goresan tenang di rupa cantik sang gadis yang tak jelas jalan pikirannya.


“Aku sudah membuka pintu.”


Henry tersenyum tiba-tiba mendengar jawabannya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke sana dengan mata tak lepas dari orang yang dikasihinya.


Sampai akhirnya, rasa senang itu sirna begitu saja. Suara pintu yang tertutup menjadi irama dari keterkejutannya menyadari tetesan darah di lantai.


“Ini!” Henry menatap tak percaya lalu menggenggam erat lengan Eldrey sambil menjatuhkan buket bunga biru itu. “Apa yang sudah terjadi?!”


Jawaban yang tak di dapatkan akhirnya ditemukan Henry dari cairah merah berjatuhan di tangan kiri Eldrey. Lagi, tangan kiri itu lagi.


“Kamu!” Henry tak bisa berkata-kata. Dirinya pun panik mencari sumber pengobatan untuk tangan tersayat itu namun Eldrey menahannya.


“Ini hanya luka kecil. Kenapa kamu sepanik itu?”

__ADS_1


Sang pemuda menggigit bibir bawahnya. Dan ia pun meraih kepala Eldrey untuk bersandar ke dadanya.


 


__ADS_2