FORGIVE ME

FORGIVE ME
Mayat yang berguna


__ADS_3

“Uuugh!” erang Eldrey tiba-tiba, ia merasakan sakit menjalar ke seluruh tubuhnya akibat pembersihan yang dilakukan dokter Arlene dan asistennya.


Sekalipun bekas tusukan di perutnya sudah diobati, tapi luka yang lain memang menyakitkan. Kevin pun terdiam melihat dokter Arlene mengeluarkan serpihan-serpihan pecahan kaca di kakinya.


“Bagaimana bisa dia bergerak dalam keadaan seperti itu?!” batin Kevin.


Tak lama setelah itu, Charlie dan beberapa bawahan dokter Arlene pun memasuki ruangan tersebut sambil mengangkat mayat yang dibunuh Eldrey.


Tak terlihat bawahan Charlie yang tadi bersamanya. Eldrey yang menyadari kedatangan Charlie pun langsung bersuara, “bagaimana dengan keadaan di rumah sakit?” tanyanya.


“Sudah ditangani Roma,” balas Charlie sambil memeriksa kondisi mayat tersebut.


“Bagaimana dengan mayat mereka?” lirih Eldrey.


“Sudah dipindahkan ke tempat biasa,” ucap Charlie sambil membuka kelopak mata mayat itu.


“Siapa yang menghancurkan matanya?” gumam Charlie kecewa.


“Aku! Apa kau punya masalah dengan itu?” tekan Eldrey jengkel.


“Kita kehilangan salah satu aset yang berharga,” jawab Charlie datar. Kevin dan Ayumi pun bergidik ngeri mendengar pembahasan kedua orang itu, seolah-olah mereka membicarakan hal yang normal.


Berbeda dengan dokter Arlene yang tetap fokus mengobati kaki Eldrey. Ia pun memotong pembicaraan mereka berdua, “nona Eldrey, anda harus beristirahat dengan benar dan pastikan selama penyembuhan nona tidak mencoba berjalan atau apa pun itu yang bisa membahayakan luka-luka anda, saya harap anda benar-benar mengikuti saran saya kali ini,” tegas dokter itu.


Eldrey yang mendengarnya pun tersenyum, “yah .... Tenang saja, selama kerja pengawal itu becus aku akan beristirahat dengan benar,” tukasnya sambil tertawa pelan.


“Dokter Arlene, jika anda sudah selesai dengan nona bisa bantu aku dengan ini?” tanya Charlie tiba-tiba.


Dokter Arlene pun meninggalkan Eldrey dan pergi ke ruangan sebelah tempat Charlie berada, ia menatap mayat yang terbaring itu dan menyentuh pergelangan tangannya,


“Ayumi, tolong ajak pemuda itu untuk beristirahat di atas,” perintah dokter Arlene.


“Baik nyonya,” Ayumi pun mengangguk pada Eldrey dan mengajak Kevin untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Kevin merasa aneh karena sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan orang-orang ini sehingga ia harus pergi dari sana.


“Pergilah, nanti aku akan menyusulmu,” ucap Eldrey pada Kevin yang menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya. Kevin pun mengangguk dan mengikuti langkah Ayumi keluar dari ruangan tersebut menuju lantai atas.


Sementara dokter Arlene menyiapkan beberapa peralatan untuk melanjutkan tugasnya.


“Siapa bocah itu?” sahut Charlie jengkel.


“Putra Kendal!” balas Eldrey singkat.


“Apa! Bagaimana bisa kau terlibat dengannya?!” teriak Charlie menatap dinding yang membatasi dirinya dan Eldrey.


“Mau bagaimana lagi, dia sendiri yang menyelamatkanku di rumah sakit, kalau bukan karenanya mungkin saja nasibku lebih jelek dari ini,” ucap Eldrey santai.

__ADS_1


“Bagus sekali, tak hanya terlibat dengan rumah sakit yang akan jatuh ke tangan ayahnya, tapi kita juga terlibat dengan putranya yang mengendus masalah ini, apa perlu kita habisi dia?” gerutu Charlie.


“Heh! Masih belum jatuh bukan? Ini tidak seperti kalian yang tak bisa menanganinya,” Eldrey pun mengangkat tangannya yang terluka itu.


“Benar, hal seperti ini bukanlah masalah yang sulit ditangani, tapi setidaknya kita masih kesusahan karena itu,” jelas Charlie.


Eldrey pun penasaran dengan perkataan Charlie itu, “ada apa?”


“Tak ada cctv yang berfungsi, sepertinya mereka sudah merencanakannya dengan matang.”


“Bagaimana dengan identitasnya?”


“Tak ada,” jawab Charlie yang membungkam Eldrey. Eldrey pun terdiam mengingat kembali adegan yang membayanginya.


Penyerangan secara terbuka dengan identitas musuh yang masih rahasia, serta tak adanya jejak rekaman cctv dari rumah sakit tampaknya semua sudah diatur sedemikian rupa untuk membunuhnya, setidaknya itulah yang sekarang sedang dipikirkannya.


“Mereka bukan sekedar pembunuh bayaran,” pungkas Eldrey pelan.


“Tentu saja bukan, pembunuh bayaran macam apa yang melakukan aksi di tempat umum seperti itu?!” oceh Charlie kesal.


Eldrey pun tertawa, hal itu membuat Charlie dan dokter Arlene yang mendengarnya jadi terdiam heran dan sama-sama memandang ke arah dinding pembatas antara mereka.


“Ada apa?” tanya Charlie penasaran.


“Ini menarik,” balas gadis itu sambil mengepalkan tangannya yang terluka itu.


“Apanya?” laki-laki itu merasa aneh dengan ocehan gadis muda yang tak normal itu.


Charlie pun terdiam, ia lalu berjalan mendekati ruangan di mana Eldrey sedang terbaring sekarang, “begitu? Jadi apa kau tahu siapa orangnya?”


“Tidak, tapi kita akan mengetahuinya, cepat atau lambat,” balas Eldrey dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. “Baiklah, aku lelah, kita akan bahas ini saat semuanya sudah berkumpul, Charlie bisakah kau bawa aku ke kamar? Aku ingin bertemu dengan Kevin,” pinta Eldrey.


“Kevin? Bocah itu?”


“Mmm,” angguk Eldrey.


“Baiklah!” Charlie pun menggendong Eldrey secara hati-hati, “Arlene! Akan kupanggilkan bawahanmu untuk menemanimu,” sambung Charlie yang dibalas dengan anggukkan oleh dokter tersebut.


Di perjalanan menuju lantai atas, “putra Kendal, sama dengan bocah yang kita temui di supermarket?”


“Iya, dia adiknya,” jawab Eldrey. Ia pun melanjutkan, “ini menyusahkan mengingat latar belakangnya, jika dia tak bisa tutup mulut habisi saja bocah itu,” jelas Eldrey dingin.


“Ayolah! Tadi aku juga berpikir seperti itu tapi tak kau acuhkan, sekarang kau mau mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu? Mungkin saja bocah itu bisa kita gunakan,” bujuk Charlie agar Eldrey luluh dengan perkataannya. “Lagi pula kita butuh cadangan segar mengingat ada banyak mayat hari ini, jadi tak perlu buru-buru.”


Eldrey hanya diam menanggapinya dan akhirnya mereka pun sampai di lantai atas di mana Kevin kemungkinan berada di dalamnya.


Di waktu yang sama, tampak dokter Arlene sibuk melakukan pembedahan di bantu oleh tiga bawahannya yang sudah datang menemaninya.

__ADS_1


Mereka berempat sibuk membedah mayat yang dibunuh Eldrey dan akan memindahkannya ke tempat penyimpanan organ. Anehnya mereka melakukan pembedahan di ruangan yang berbeda dengan sebelumnya, sebuah ruang operasi dengan fasilitas lengkap dan tenang.


Di kamar tempat Kevin berada tampak Eldrey dan Charlie sedang bersamanya.


“Ada apa?” tanya Kevin tiba-tiba.


“Jadi apa yang harus kita lakukan padamu?” balas Charlie dingin. Mendengar kalimat itu Kevin merasa ada yang tidak beres dengan posisinya sekarang, seolah-olah akan terjadi sesuatu padanya.


“Apa maksudmu?” Kevin memandang mereka berdua dengan pandangan waspada.


“Kevin,” panggil Eldrey tiba-tiba. “Kenapa kau bisa berada di rumah sakit?” tanya gadis itu berbasa-basi.


“Aku ada jadwal kontrol dan kebetulan aku melihatmu diserang karena itulah aku menemuimu,” jelas Kevin.


Charlie pun menatapnya lekat, “berarti kau tak ada hubungannya dengan penyerangan nona?”


“Tentu saja tidak! Aku membantunya! Lagi pula kenapa kalian berpikir yang aneh-aneh begitu?!” Kevin merasa kesal dengan pertanyaan keduanya.


“Baiklah jika memang tidak ada hubungannya denganmu, kalau begitu sudah saatnya kau mati,” ucap Charlie terkekeh karena sudah puas mempermainkannya Kevin.


“Apa!” pekik Kevin kaget, ia pun menatap Eldrey dengan pandangan seolah tak percaya dengan apa saja yang baru ia dengar.


Tapi gadis itu hanya tenang menatapnya, bahkan ekspresinya seolah-olah seperti sedang tidak membahas sesuatu yang aneh sekarang.


“Kalian bercanda?!” sambung Kevin waspada.


“Tidak,” tegas Charlie singkat, ia pun mencoba menyentuh wajah Kevin yang spontan membuat anak itu langsung menghindar waspada pada tangan pria itu.


Charlie pun terkekeh melihat respon Kevin itu, “refleksnya cepat, sepertinya kau lumayan juga bocah berandal,” lirih Charlie tersenyum sinis.


“Hah ....” hela napas Eldrey pelan, “dia sudah terlihat seperti kucing penakut, ayo kita hentikan lelucon ini,” sahut Eldrey tiba-tiba yang membuat Kevin kaget dan bingung dengan maksudnya. “Charlie, bisakah kau siapkan kebutuhanku? Aku ingin makan di bawah,” Eldrey pun menoleh padanya.


“Baiklah, kau tunggu di sini,” Charlie pun meninggalkan mereka berdua, sementara Kevin menatap kepergian pria itu tanpa berkedip.


“Duduklah, kau pasti lelah berdiri seperti itu,” ajak Eldrey yang beristirahat di sofa kamar itu. Ia memandang Kevin yang menatapnya penuh waspada.


“Ada apa? Aku sedang seperti ini, apa yang kau bayangkan?” tambah Eldrey yang memahami maksud ekspresi Kevin itu.


Kevin pun berjalan mendekatinya dan berdiri tepat di hadapannya, “apa maksud kalian dengan menghabisiku?”


Eldrey pun memalingkan wajahnya seolah enggan menjawab pertanyaan Kevin tersebut.


“Kalian serius ingin menghabisiku karena tahu rahasiamu?” tekan Kevin sekali lagi.


Eldrey pun menatap Kevin lewat sudut matanya, “rahasia? Rahasia apa yang kau bicarakan?”


“Kamu yang sudah membunuh orang.”

__ADS_1


Eldrey pun tersenyum dan memalingkan wajahnya menatap Kevin dengan benar, “apa itu? Itu bukanlah rahasia, lagi pula aku sudah melakukannya di rumah sakit,” ledek Eldrey tertawa.


“Tenang saja, tadi itu hanyalah basa-basi Charlie agar bisa akrab denganmu, kau tak perlu cemas, kami tidak akan membunuhmu, lagi pula kami bukan orang yang seperti itu,” sambung Eldrey sambil menyentuh dan menggenggam tangan kiri Kevin dengan tangannya yang di perban itu.


__ADS_2