
Rasanya menyakitkan bagi Evan, saat sang adik yang bertahun-tahun tak ia temui, membangkitkan dan mengukir luka lewat kata-kata. Dirinya begitu keras kepala, angkuh, dan tak berperasaan.
Tak ada kesedihan terpancar di wajahnya. Kecuali kebencian di rupa cantiknya. Eldrey membenci orang yang bahagia di sekelilingnya. Karena dia tak lagi mendapatkan itu di dalam hidupnya, dirinya juga ingin orang lain tersiksa dan merasakan apa yang ia rasakan.
Salahkah ia berharap seperti itu? Di saat tak ada yang mencoba mengerti perasaannya.
Salahkah ia bersikap seperti itu? Di saat tak ada satu pun yang merangkul sosoknya dalam keterpurukan. Di mana sang ayah yang terakhir berdiri di sisinya, melepaskan pegangan Eldrey dan larut dalam kepedihan akibat berpisah dari istri dan anak laki-laki yang ia cintai.
Tubuh Evan bergetar akan sosok yang menyalahkan dirinya dan juga ibunya.
Di luar sisi kamar, suara yang memanggil mereka dengan pilu tak diacuhkan keduanya. Tatapan Evan dan Eldrey saling bertemu, namun mengaduk perasaan masing-masing.
Sang gadis berpaling, menatap ke tempat berbeda, enggan menanggapi uraian air mata sang kakak seakan mencoba meluluhkan perasaannya yang hancur.
Perasaannya yang polos, sudah hancur berkeping-keping dan sulit disatukan lagi. Mungkin gadis itu, memerlukan sosok yang bisa melindungi serpihan hatinya, agar tak memudar tanpa sisa di dalam hidupnya.
“Keluar,” perintah Eldrey. Gadis itu pun berbalik tak ingin lagi melihat wajah itu.
Akan tetapi, sosok yang diusir berlari cepat ke arahnya dan merangkul sang gadis dari belakang, membisikkan kesedihan seakan ia masih berusaha.
“Aku mohon, jangan seperti ini. Bagaimanapun aku kakakmu. Kita ini saudara, aku mohon padamu ayo kita kembali bersama lagi, menghabiskan hari-hari dengan ibu seperti dulu,” lirihnya terisak.
Eldrey tertegun. Pelukan dari badan gemetar begitu hangat di punggungnya. Sosok sang kakak yang mungkin hati kecilnya rindukan, berbisik tak ingin ini berakhir.
Namun, pikiran egoisnya perlahan menentang kalau pemuda itu tak boleh mengusik perasaannya. Jangan biarkan dia bahagia walau hanya sedetik saja. Itulah logika yang bermain di pikiran Eldrey.
Seketika gadis itu menyikut perut Evan di belakangnya secara kasar yang membuat rangkulan terlepas.
“Aagh!” erang Evan kesakitan sambil menyentuh perutnya. Ia tak menyangka, adiknya akan bertindak kasar seperti itu.
Suara pintu yang dibuka dengan kunci cadangan pun menghiasi keadaan, sambil diiringi langkah kaki terburu-buru para tamu tak diundang ke kamar Eldrey.
Gadis itu memandang sinis dengan sosok menjengkelkan di depan mata.
“Evan! Evan! Kamu kenapa Nak!” bu Anna terpekik melihat Evan mengusap perutnya sambil meringis kesakitan dan beruraian air mata.
“Sudah cukup, keluar!” teriak Eldrey akhirnya. Mereka kaget mendengar suara lantang penuh emosi itu. “Aku muak mendengar ocehanmu! Aku muak dengan tangisanmu! Pergi dari sini! Pergi dari kamarku, pergi!”
Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan pistol dari dalam jaketnya. “Aku bilang pergi!” teriak Eldrey sekali lagi sambil menembakkan peluru ke lampu gantung kristal besar namun memiliki hiasan berbentuk spiral di dalam kamar.
“Kyaa!” suara jerit takut dan panik bu Anna beserta bibi Arda memecah keadaan. Lampu itu jatuh dan pecah berserakan di tengah-tengah mereka.
“Pergi!” bentak Eldrey akhirnya.
Suasana begitu mencekam, dengan pandangan yang masih tak teralihkan dari gadis muda itu. Dengan bujukan yang hanya memakai sorot mata, bu Anna serta Evan menyetujui permintaan Charlie dan Rondolf untuk meninggalkan Eldrey dalam keadaan begitu. Walau mereka harus terisak keras akan apa yang terjadi.
Sekarang, suasana begitu hening di dalam kamar Eldrey yang berantakan dengan pecahan kaca lampu gantung di lantainya. Dirinya masih berdiri, menatap dingin pemandangan di hadapannya.
Walau pecahan itu tak melukainya, tapi keadaan barusan merusak suasana hatinya.
“Sialan!” teriak Eldrey sambil melempar pistol ke arah pintu. Bahkan dirinya mengobrak-abrik sekelilingnya, sampai saat terakhir sebuah kursi kayu santai pun ia lempar ke arah meja rias membuat cerminnya pecah tercerai-berai.
Begitu berantakan. Perasaan campur aduk itu ia saluran ke sekelilingnya. Perlahan, gadis itu terduduk sambil bersandar ke ranjang. Menatap keadaan kamar yang seperti kapal pecah.
Entah disadari atau tidak, dirinya tersenyum. Ia menyisir rambut coklatnya ke belakang, menyiratkan ekspresi aneh sambil menyemburkan tawa pelan. Menit-menit selanjutnya, tawa itu mengeras memecah malam. Melukiskan keadaan gadis itu di mana hanya hatinya sendiri yang tahu.
Akan tetapi, di balik pintu seseorang menanti dalam diam mendengar tawa Eldrey. Menatap pelik rokok di tangan lalu menghisapnya.
Dialah Charlie, tangan kiri presdir Betrand yang terdiam untuk menemani gadis itu di luar kamar. Berharap, jika malam menyakitkan ini, bisa menenangkan gadis itu walau hanya sebentar saja.
Esok harinya Eldrey terbangun dari tidurnya. Ia memandang sekeliling ranjang yang berantakan. Di balik gemuruh perasaan yang memudar, dirinya bangkit dengan sikap tak peduli ke kamar mandi.
Menenggelamkan diri di bawah guyuran air shower yang hendak mendinginkan kepala. Ditatapnya rupanya, begitu mengenaskan jika dilihat mata normal.
Seperti tak ada kehidupan di matanya, namun raut kesombongan seakan enggan meninggalkan wajahnya.
Beberapa saat kemudian.
Bunyi langkah kaki santai mendekat ke ruang makan. Beberapa sosok tertegun menatap siapa yang datang. Tampak keraguan di wajah mereka untuk menyapa gadis berwajah dingin itu.
Namun, salah satu dari mereka akhirnya bersuara karena tak ada pilihan.
“Nona. Tuan, ingin bertemu dengan anda,” jelas Charlie tiba-tiba.
Tanpa jawaban Eldrey tak melirik padanya. Namun langkah kaki jelas diarahkan ke kamar di mana sosok sang kepala keluarga tertidur di dalamnya.
Ia buka pintu, sambil melangkah masuk. Matanya menyapu raga sang ayah yang ditempeli serta ditanami alat-alat untuk menunjang hidupnya.
Suara detakan alat penanda hidupnya bersahutan di keheningan kamar. Perlahan, kelopak mata yang terpejam membuka untuk melihat terangnya suasana di balik tidurnya.
Dia terlihat menyedihkan, “Eldrey,” gumamnya pelan.
“Ayah sudah sadar? Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
Presdir Betrand terdiam sejenak. Rasa sakit dari peluru yang dikeluarkan dari sarangnya cukup mengganggu mulutnya untuk berbicara.
“Kemarin ...” kalimat tak dilanjutkan. Kecuali sorot matanya sekarang yang berbicara. Eldrey cukup peka, jika presdir Betrand pasti tahu apa yang terjadi, mengingat ia sudah sadar walau terbaring tak berdaya saat ini.
“Mereka sempat datang. Jadi, apa sekarang Ayah merindukannya? Kalau iya aku akan perintahkan Charlie untuk menjemput mereka ke sini.”
Tak ada balasan suara. Lirikan tajam khas pria itu menusuk kedalaman mata Eldrey. Gadis itu kembali berbicara, dengan sikap seperti tak terjadi apa-apa.
“Aku memang memakai pistol, tapi tak mungkin kumainkan pada mereka. Aku tak segila itu untuk melukai ibu dan kakakku. Lagi pula aku juga tak sudi ke rumah sakit jiwa lagi. Jadi Ayah tenang saja. Jika kau merindukannya, aku akan melakukan yang terbaik untukmu, bukankah itu karena aku anakmu?”
Selesai mengatakannya, Eldrey pun berpaling pergi dari sana. Tak menanti kemungkinan jawaban yang akan dilontarkan sang ayah untuknya.
Langkahnya mengambil tas yang ada di kursi ruang makan. Tak sarapan, memilih berlalu tanpa kata.
“Nona, anda mau ke mana?”
“Kuliah.”
Charlie terdiam sejenak mendengar jawabannya. “Kalau begitu, apa boleh kuantar?”
“Baiklah.”
Perjalanan mereka hanya dihiasi diam keduanya. Eldrey fokus menatap jalanan sambil memainkan ponsel, memutar dengan jari jempol dan telunjuknya.
Sementara Charlie sibuk menyorot jalanan dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalamnya.
“Charlie, nanti ajaklah Anna dan Evan untuk menemui Betrand.”
Kalimat itu spontan membuat Charlie tersedak. “Apa maksudnya itu?”
“Sepertinya bosmu merindukannya.”
Charlie memandang aneh dengan kalimat tak masuk akal Eldrey. Mempertemukan mereka dalam keadaan presdir Betrand sudah sadar jelas bukan hal yang baik. Bagaimanapun, bu Anna hanya ingin melihat mantan suaminya dalam keadaan pria itu tak sadarkan diri.
Jadi, sekarang apa yang direncanakan gadis ini? Charlie benar-benar tak habis pikir.
Eldrey turun dari mobil begitu sampai di depan gerbang kampus, “lakukan apa yang kukatakan. Mungkin kamu akan mendapat tontonan menarik. Katakan itu hadiah dariku, sehingga kau takkan disalahkan Betrand karena berbuat lancang seperti itu.”
Selesai mengatakannya, ia pergi begitu saja. Helaan napas Charlie jelas menyiratkan keengganan. Terlebih ia memiliki pekerjaan menumpuk mengingat presdir Betrand terbaring dan hiatus dalam aktivitasnya.
Urusan barang dagang yang harus diekspor juga menuntut Charlie untuk tak berleha-leha. Terlebih, barang-barang itu berisi organ murni yang harus diselundupkan bagaimanapun caranya.
Lebih parahnya lagi, para kolektor organ menuntut organ milik tokoh terkenal tanpa alasan yang jelas. Membuat Charlie semakin jengkel dengan bisnis internasional yang ikut melibatkan aparat negara untuk menikmati uangnya.
Benar-benar menyebalkan.
“Kak Evan!” panggil Alice sambil menahan tangannya.
“Alice?”
“Kak, kakak baik-baik saja? Mata kakak ....”
Evan terdiam. Beberapa saat kemudian, “aku baik-baik saja, ada apa?”
“Itu, Eldrey ....”
“Dia sudah pulang,” jelas Evan.
“Benarkah?” Alice tampak lega mendengarnya. “Bagaimana keadaannya? Aku menghubunginya, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi.”
“Maaf Alice, sepertinya Eldrey butuh waktu. Karena itu biarkan dia sendiri dulu. Kakak pergi dulu ya karena ada kelas,” pamit Evan.
Alice terdiam tak menanggapi. Bagaimanapun, dirinya merasa aneh dengan sikap Evan yang tak seperti biasanya. Seakan memberi jarak untuk tak bertanya lebih lanjut lagi. Mungkin, masalah keluarga mereka memang rumit, dan ia hanya orang luar.
Akan tetapi, Alice benar-benar merindukan Eldrey. Sahabat tempatnya bercerita dan berbagi tawa, dirinya sangat ingin bertemu dengan gadis angkuh itu dan memeluknya untuk meminta maaf.
Ia benar-benar merindukan Eldrey Brendania Dempster.
Di satu sisi, hiruk-pikuk suasana kampus tak mengganggu pandangan Eldrey yang selalu ke depan. Mungkin menyedihkan, tapi ia sama sekali tidak mempunyai teman. Kelebihannya hanyalah dirinya tak pernah memikirkan itu. Ia tak peduli jika tidak ada seseorang di sampingnya untuk berbagi canda tawa.
Dan di balik langkahnya, ternyata sepasang mata sudah menanti sejak tadi kedatangannya.
“Eldrey!” panggil lelaki itu tiba-tiba. Dengan senyum bahagia ia turun dari mobil lalu berlari menghampirinya.
“Henry? Kamu di sini?”
“I-iya. Itu, maaf aku datang tiba-tiba. Tapi, a-apa boleh aku mengajakmu makan siang? Atau kalau tidak mengantarmu pulang?” tanyanya dengan muka memerah.
Eldrey diam menatapnya. Sementara Henry yang gugup sibuk memainkan kakinya, menggesek aspal dengan mata tak fokus pada sosok di depannya.
“Baiklah.”
“Eh! Benarkah?”
__ADS_1
“Ya.”
Spontan senyum merekah di bibir Henry. Ia mempersilakan Eldrey memasuki mobilnya di seberang jalan.
“Mau makan di mana?”
“Terserah.”
“Ah, apa kamu suka makan ramen?”
“Ramen?” Eldrey meliriknya.
“I-iya. Ada kedai ramen yang enak, aku dan teman-temanku sering makan di sana.”
“Baiklah.”
Walau cuma jawaban singkat, tapi Henry senang dengan keberadaan Eldrey yang tak menolaknya. Dirinya berpikir mungkin saja Eldrey mau membuka hati untuknya.
Akan tetapi kenyataannya, di mata Eldrey Henry seperti hewan peliharaan. Bersikap manja hendak meminta makan. Ia tak begitu peduli, namun menarik juga menghabiskan hari bersama bocah itu. Mungkin, dirinya hanya sedang bosan karena tidak ada teman.
Ichirakumidori, tempat di mana keduanya berhenti. Henry pun memesankan ramen spesial dan memilih spot terindah di lantai dua. Dengan latar belakang pemandangan kolam dan bangunan museum kuno di ujung jalan.
“A-apa kamu pernah ke sini?” tanya Henry.
“Pernah.”
“Dengan siapa?”
“Aku tak ingat,” jelas Eldrey membuat Henry terdiam.
“I-itu,” Ia tampak ragu-ragu. Terlebih sorot mata Eldrey masih menyorotinya.
Tak lama kemudian, pesanan ramen spesial Henry datang dengan pendampingnya yaitu katsu, gyoza dan ocha sebagai minumannya. Cita rasa aroma kuah ramen menguar di antara mereka.
“Silakan dicicipi Eldrey,” Henry menyodorkan katsu dan gyoza ke dekat gadis itu.
Akan tetapi, kenikmatan itu seakan sirna tiba-tiba.
“Henry?!” sebuah suara lantang mengganggu fokus makan dan pandangan sehingga mengagetkan keduanya.
Mereka berpaling, menatap dua tubuh manusia yang melangkah mendekat. Wajah bahagia Henry langsung pudar saat di hadapkan dengan kedatangan dua teman sialan ke mejanya.
“Kamu juga makan di sini? Pantas aku tak melihatmu sejak tadi,” sosok yang bicara menyunggingkan senyum nakal.
Henry tak bisa berkata-kata, dirinya benar-benar jengkel luar biasa.
“Mmm? Siapa ini? Pacarmu?”
“Bukan!” sergah Henry sambil melirik Eldrey, takutnya gadis itu tak nyaman dengan kedatangannya.
“Kalau begitu kenapa kita tidak makan bersama saja? Bukankah itu lebih menyenangkan?” oceh pemuda itu lagi sambil duduk di samping Henry dengan lancang tanpa mendengar persetujuan. “Oh ya, aku Steven. Siapa namamu?” ia menyodorkan tangan.
“Eldrey,” jawaban singkat sambil membalas tangan terulur di depannya.
Steven terkesiap. “Jadi kamu yang namanya Eldrey?”
Gadis itu hanya mengangguk pelan. Sementara sesosok pemuda masih berdiri enggan duduk menatap pemandangan di depannya.
“Oh ya, Kevin, kau tidak duduk? Bukannya kalian saling kenal?” tanya Steven tiba-tiba. Kevin yang tak menanggapi, melirik dua pasang sorot mata dengan ekspresi berbeda. Ia akhirnya duduk di samping Eldrey.
Lain halnya Henry, dirinya merasa tidak nyaman. Takut seandainya Eldrey terganggu dengan kedatangan dua pemuda tak diharapkan itu.
Suasana makan seakan pahit di mata Henry yang mengharapkan suasana romantis.
“Tak kusangka akhirnya bisa bertemu. Aku selalu penasaran dengan gadis yang berhasil membuat Henry seperti ini,” tukas Steven memulai pembicaraan.
“Seperti ini?” Eldrey memiringkan wajahnya.
“Iya, itu, aduh!” pekik Steven tiba-tiba. Henry mencubit perutnya sebagai tanda agar tak melontarkan kalimat aneh.
“Ada apa?”
“Tidak, tidak ada apa-apa,” jawab Henry pada Eldrey. Sementara Kevin, ia sibuk memainkan ponselnya karena tak ingin terlibat dalam keadaan ini.
“Oh ya, kudengar Kevin mengenalmu. Tapi kenapa kalian terlihat seperti orang asing?” sela Steven tanpa menyaring kata-katanya.
Eldrey dan Kevin saling berbagi pandangan. “Itu karena-”
“Eldrey?!”
Panggilan tersebut, membuat sang gadis tak melanjutkan ucapannya sambil menampilkan ekspresi masam di wajah cantiknya.
Dua wanita muda, mengukir senyum di wajah sambil menghampiri meja mereka.
__ADS_1