FORGIVE ME

FORGIVE ME
Alice dan Dean


__ADS_3

Alice, gadis itu sibuk memainkan ponselnya, terlihat raut gusar terpampang jelas di wajahnya.


“Hah ....” hela napasnya pelan.


“Rey, kenapa kamu gak angkat panggilanku?” gumamnya pelan.


Ia pun bangun dari tidurnya sambil menatap cermin, cukup lama ia memandang cermin sampai akhirnya senyum tipis mulai tersungging di bibirnya.


Ia mengenang kembali kisah kasihnya malam tadi bersama Dean. Walau hanya kebetulan dan cuma sebentar, tapi setidaknya itu sudah cukup baginya untuk melepaskan rindu pada laki-laki tersebut.


Tiba-tiba ponselnya pun berdering ....


“Dean?”


Ia lalu mengangkat panggilan tersebut, “halo Yan? Ada apa?” tanyanya.


“Mmm .... Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak?”


“Kamu cuma mau menanyakan itu?” tanya Alice dengan nada agak kecewa.


“Tidak, aku merindukanmu,” tukas Dean singkat yang menimbulkan senyum merona di bibir Alice.


“Hhahaha .... Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Padahal malam tadi kita baru saja bertemu.”


“Aku memang merindukanmu ....” jelas Dean mengulangi perkataannya.


“Mmm ... Iya-iya, aku tahu ....” Alice pun tertawa.


“Kenapa kamu tertawa? Apa kamu tidak merindukan aku?” tanya Dean penuh selidik.


“Aku tertawa karena aku tidak hanya merindukanmu, tapi aku juga sangat-sangat mencintaimu,” sahut Alice penuh makna.


Dean yang mendengar pernyataan Alice pun tersenyum sumringah, sambil memandangi foto gadis tersebut yang terpampang di dinding kamarnya. “Apakah hari ini kamu ada waktu?”


“Hari ini?”


“Iya,” pungkas Dean.


“Ada, memang kenapa?”


“Ayo kita jalan,” ajak Dean.


“Jalan? Hari ini?” Alice agak kaget mendengarnya.


“Iya, berdua saja,” pinta Dean.


Alice pun terdiam sejenak mendengar permintaan Dean, berjalan berduaan saja dengannya? Itu adalah sesuatu yang sangat diharapkannya, tapi di satu sisi ia juga takut seandainya hubungannya bersama Dean akan ketahuan oleh teman-temannya.


“Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak mau?”

__ADS_1


“Bukan begitu, aku hanya takut, aku hanya takut jika kita ketahuan saja,” jelas Alice terbata-bata.


“Percayalah padaku, kita akan baik-baik saja, aku mohon.”


“Mmm .... Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi,” ucap Alice menyetujuinya.


“Terima kasih sayang,” gumam Dean yang membuat Alice tersipu malu mendengarnya.


“Iya,” Alice pun memutuskan langsung panggilan itu. Ia memegang wajahnya sambil tersenyum-senyum sendiri, di satu sisi ia benar-benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Masalah tentang Eldrey yang tak bisa dihubunginya pun terlupakan karena kebahagiaan sedang menyelimutinya.


Jadi, akankah kencan mereka hari ini berjalan dengan baik?


Ramses mengendarai mobilnya menuju rumah sakit sendirian saja, tampak dalam mobil tersebut ada sebuket bunga tulip biru serta sekeranjang buah-buahan.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, ia pun akhirnya sampai di rumah sakit Mavo Anos tempat Eldrey dirawat.


Ia pun turun dari mobil sambil menenteng buket bunga dan buah tersebut. Tetapi, saat sudah sampai di dekat pintu kamar Eldrey, tampak dua orang penjaga sedang bersiaga di depan kamar itu.


Dua penjaga dan wajahnya tampak berbeda dengan bodyguard Eldrey yang dilihatnya semalam. Penjaga itu pun menatap Ramses dengan tatapan penuh curiga, seolah sedang menyapu bersih setiap inci tubuhnya dari atas ke bawah.


“Siapa kau?” tanya salah satu penjaga tersebut.


“Aku Ramses, temannya Eldrey,” sahut Ramses memperkenalkan diri.


“Tapi aku temannya, aku ingin melihat keadaannya, tolong biarkan aku menemuinya,” pinta Ramses dengan ekspresi memohon.


Kedua penjaga itu saling berbagi pandangan, “maaf tuan tapi kami tak bisa mengizinkannya,” tegas salah satu penjaga.


“Hah!” hela napasnya kasar. “Kalau begitu tolong berikan ini pada Eldrey dan katakan padanya kalau ini dari Ramses yang ingin menemuinya!” balas Ramses dengan nada menekan pada kata terakhir.


“Baik tuan,” salah satu penjaga pun menerima buket bunga dan buah dari Ramses tersebut. Tapi saat pintu terbuka dan penjaga itu masuk ke dalam, Ramses langsung ikutan menerobos masuk yang membuat penjaga tersebut emosi.


“Hei kau!” bentak salah satu penjaga di depan pintu yang juga ikutan masuk sambil menarik tangan Ramses.


“Ada apa?!” tanya Eldrey tiba-tiba yang menatap heran dengan kegaduhan di ruangannya.


“Maaf nona, orang ini menerobos masuk ingin melihat anda,” jelas salah satu penjaga.


“Ya sudah, biarkan saja,” tukas Eldrey sambil menatap malas mereka.


Kedua penjaga itu saling menatap lalu memberi kode-kode mata yang hanya bisa dipahami mereka, “baiklah nona, tapi jika ada apa-apa tolong langsung panggil kami nona.”


“Mmm ....” jawab Eldrey singkat.


Kedua penjaga itu pun langsung keluar kamar setelah salah satunya meletakkan bawaan Ramses di meja nakas. Ramses memutar bola matanya, menatap lekat gerakan penjaga itu seolah-olah sedang mengawasi mereka.


“Apa yang kau lihat?” tanya Eldrey memudarkan pandangannya.

__ADS_1


“Tampang dan keberadaan mereka menyulitkan orang-orang yang akan mengunjungimu,” pungkas Ramses sambil duduk di kursi.


“Begitu?” balas Eldrey bernada datar.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Seperti yang kau lihat,” jawab Eldrey tanpa ekspresi.


Ramses pun terdiam menatap wajah gadis itu, lalu beralih ke bekas luka yang tertutup baju Eldrey tersebut.


“Tadi malam, kenapa kamu ada di sana?” tanya Ramses tiba-tiba, ia menatap Eldrey dengan pandangan yang tak jelas artinya.


“Aku menghindari bodyguard, makanya aku ada di sana,” jelas Eldrey jujur.


“Begitu? Tapi kak Roma mengatakan padaku, kalau tadi malam seharusnya kamu bertemu dengan Alice bukan?” tanyanya penuh selidik.


“Iya, tapi karena dia bersama Dean aku tak jadi bertemu dengannya,” tukas Eldrey.


“Hanya itu?”


“Hanya itu? Apa maksudmu? Bukankah kau sendiri yang harus dipertanyakan? Kenapa kau bisa bersama dengan penyerang Alice?” ledek Eldrey.


“Karena aku melihat Alice diserang.”


“Hee .... Begitu? Lalu? Kau tak menolongnya? Sepertinya aku sudah tahu ke mana alur ceritanya, jadi kau juga berada di sana saat Alice diserang,” pungkas Eldrey sambil tersenyum tipis.


“Jadi kau menyerang berandalan itu karena tak terima perlakuan mereka? Menurutku kau salah tempat sebagai pahlawan, seharusnya kau membantu Alice sebelum Dean datang,” tambah Eldrey.


“Aku tak butuh ocehanmu, seharusnya kamu pikirkan saja dirimu sendiri, jika tak menolongku tentu saja kamu takkan terbaring di sini,” sahut Ramses menatap malas gadis di depannya itu.


“Apa-apaan itu? Apa itu yang harus kau ucapkan pada orang yang sudah menolongmu?”


“Maaf, aku tak bermaksud begitu ....” Ia pun terdiam sejenak, “maafkan aku Rey, maaf dan terima kasih karena sudah menyelamatkanku,” lirih Ramses sambil menunduk di hadapan Eldrey.


Gadis itu tak menjawabnya, ia hanya menatap Ramses yang juga berbalik menatapnya.


“Oh ya, apa Alice tahu kondisimu?” tanya Ramses tiba-tiba. Ia sedikit kelabakan menatap wajah Eldrey yang tenang itu.


“Tidak.”


“Kenapa? Kamu tidak memberitahunya? Kalau begitu biar aku yang memberitahunya,” Ramses lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Alice.


Cukup lama ia menghubungi gadis itu, tapi masih tak ada jawaban. “Apa Alice sedang sibuk?” gumamnya.


Sementara Eldrey, gadis itu hanya menatap diam Ramses, namun raut wajahnya datar tak memperlihatkan ekspresi apa pun dan tak jelas pula apa yang dipikirkannya.


Di lain tempat di sebuah pantai yang cerah, tampak pasangan yang sedang melepas kasih di pinggiran.


Mereka tertawa sambil sesekali berpelukan. Gadis yang sedang tertawa bahagia itu tak sadar jika ada panggilan Ramses masuk ke ponselnya, itu karena tasnya di tinggal begitu saja dalam mobil Dean.

__ADS_1


__ADS_2