
Dan seperti perkataan presdir Betrand. Ia benar-benar mengundang nyonya Anna dan Evan untuk makan malam bersama.
Semua tak semudah yang dibayangkan, terlebih bibi Arda, dokter Arlene dan Reynald cukup kesulitan membujuk ibu dan anak itu untuk menyetujuinya.
Seandainya dokter Arlene dan bibi Arda tak memberi tahukan kondisi Eldrey yang sebenarnya, mungkin Evan sudah menutup pintu rumah dan meminta mereka pergi secara hormat.
Kenyataan, tangisan ibu dan anak itu pecah saat mengetahui kalau keadaan Eldrey tidak baik-baik saja.
Rasa bersalah menyeruak ke permukaan, tak bisa dibendung, tak peduli seberapa sesak keduanya menyalahkan masa lalu.
Sekarang, cuma masa depan yang bisa diharapkan untuk meluluhkan putri berhati batu.
Bahkan jika darah yang harus dibayarkan, tapi demi sang anak, tampaknya presdir Betrand dan nyonya Anna mungkin saja akan sejalan pemikirannya kali ini. Semoga.
Hidangan indah mulai terhampar cantik di ruang makan. Dihiasi bunga magnolia dan Forget Me Not sebagai pemanis di tengahnya. Bunga yang disukai nyonya Anna dan juga Eldrey.
Pelayan sibuk bersiap-siap, seakan menyambut tamu istimewa yang tak ada duanya.
Berbeda dengan Eldrey. Gadis itu baru saja meminum obat penenang yang disodorkan dokter Arlene. Walau sang putri bermulut tajam, ia cukup ahli membujuknya.
Sekarang, gadis itu tampak tenang-tenang saja.
“Nona?”
“Mm.”
“Seandainya, Nona sudah menyelesaikan kuliah, apa yang ingin anda lakukan?”
“Aku ingin tidur dengan tenang.”
Dokter Arlene terdiam. Mungkin itu memang kalimat jujur darinya.
“Oh ya, bunga ini masih ada di sini,” dokter Arlene menyentuh bunga biru pemberian Henry beberapa hari yang lalu. Siapa yang mengira jika bunga itu masih belum dibuang. “Sepertinya anda sangat menyukainya.”
Eldrey terdiam. Lalu berbalik menatapnya sambil bersandar ke meja rias.
“Bunga di tepian. Setidaknya bunga kecil itu mengingatkanku, kalau ada yang harus kulakukan sebelum aku mati.”
“Apa itu?”
Cukup lama Eldrey akan menjawabnya.
“Kau akan tahu, saat sudah melihat arah dari pisauku,” Eldrey berbalik dan pergi ke kamar mandi.
Dokter Arlene hanya menatap kosong sosok gadis yang tak terlihat lagi. “Semoga, ini semua akan berhasil. Aku harap, kau bisa melupakan rasa sakit dari masa lalumu Nona,” gumamnya melepas sentuhan dari bunga biru itu lalu meninggalkan kamar.
Waktunya sudah tiba. Makan malam yang dinanti beberapa orang. Benar-benar pemandangan langka, presdir Betrand sendiri yang membuka pintu untuk dua sosok berwajah kaget itu.
Tubuh Evan seketika bergetar, keringat dingin mulai turun, langkah terasa berat, saat sosok pria yang merupakan ayah kandungnya menyapa dengan suara dingin andalannya.
“Bagaimana keadaanmu?”
Evan tak kunjung menjawabnya. Bertahun-tahun, ia cuma memandang pria itu dari kejauhan. Begitu pula presdir Betrand. Hanya mengawasi putra dan mantan istrinya tanpa mendekat sama sekali.
Kecanggungan jelas terasa, terlebih Evan masih tak bisa melupakan ekspresi terakhir presdir Betrand mengusir dirinya dan juga ibunya. Sungguh berat beban di otaknya saat ini.
“Terima kasih sudah mengundang kami,” sahut nyonya Anna menggantikan Evan yang gugup itu.
Presdir Betrand hanya tersenyum tipis. Bohong jika sudut hatinya tidak senang melihat dua sosok dirindukan berdiri tepat di depan mata. Tapi, tentu saja kesombongan dan keangkuhan masih berdiri tegak di badannya.
Dia, pria yang ahli mengubur kerinduan di hati dan tertutup wajah dingin layaknya besi.
“Masuklah,” ajaknya.
Bu Anna meraih tangan Evan. Dirinya tahu kalau putranya canggung dengan ayahnya itu. Mengingat saat presdir Betrand terluka, Evan sama sekali tak melihatnya kecuali menemani bu Anna dan berdiri di luar kamar.
Mereka tiba-tiba tersentak, saat melihat sosok Eldrey duduk tenang sambil memainkan garpu di tangan.
Rambut panjang dicepol, kemeja hitam polos dan jeans boyfriend, serta anting simpel yang menggantung panjang di telinga mewakilkan dandanannya.
Sorot matanya tak begitu bersahabat jika dilihat dari lirikannya.
“Silakan duduk Nyonya,” Rondolf menggeser kursi untuknya.
“Terima kasih.”
Evan masih terdiam, melihat dua sosok di depan mata. Entah kenapa rasanya ia tak tahu sedang melakukan apa di sana.
“Duduklah Nak,” ucap presdir Betrand.
Evan tersentak, ia lalu menggeser kursi dan duduk di dekat Bu Anna. Sedikit pun wajahnya tak lagi terangkat saat di hadapkan dengan ayah dan putrinya yang berekspresi sama itu.
“Ini, kamu masih menyukainya kan?” presdir Betrand lalu menyodorkan sepiring besar ikan bakar ke arah Evan. Pemuda itu tertegun dengan makanan di depan mata.
Sekilas melirik, rasanya aneh kalau pria itu mengetahui makanan apa yang disukainya.
Bahkan, sang kepala keluarga juga menyodorkan ratatouille di hadapan Eldrey. Sepertinya, dirinya sangat berusaha keras di depan mereka.
Sang gadis melirik sinis ayahnya. Tapi tetap tak bersuara, kecuali makan dengan lahap.
Percayalah, mata orang-orang di sana dominan pada Eldrey yang sibuk makan. Mungkin ini pertama kalinya melihat dia selahap itu. Rasanya, bu Anna sangat senang bisa memandang sosok putri kecil yang tak lagi bersamanya.
“Ada yang aneh?” tanya Eldrey memudarkan pandangan mereka.
“Makanlah yang banyak,” lirih presdir Betrand padanya.
Rondolf memainkan mata, sebagai tanda agar semua pelayan meninggalkan keluarga inti itu untuk makan dengan tenang.
__ADS_1
Tak ada suara, kecuali lantunan sendok dan piring di masing-masingnya.
“Apa makanannya tak enak Anna?” tanya presdir Betrand mengagetkan wanita itu.
“Makanannya enak,” jawabnya canggung. Dirinya yang sesekali melirik Eldrey, tak lagi mampu mengangkat wajah karena pertanyaan presdir Betrand.
Waktu berlalu dengan sedikitnya suara sampai makan malam selesai. Presdir Betrand, mengajak mereka untuk berkumpul di ruang keluarga karena ada yang ingin ia bicarakan.
Sejenak ia masih membisu, terlihat memikirkan apa yang ingin disampaikan. Eldrey hanya menatap dingin sosok pria berkemeja merah itu. Terasa elegan rupanya, dengan luka tembak yang tak lagi tampak.
“Aku tak yakin harus memulainya dari mana. Aku juga tidak yakin apakah ini keputusan yang tepat. Tapi aku, ingin memperbaiki lagi semuanya.
Nyonya Anna dan Evan benar-benar kaget dibuatnya. Kalimat yang takkan disangka, lolos tenang di bibir pria angkuh itu.
“Memperbaiki semuanya?” tanya bu Anna.
“Aku ingin kita semua bersama-sama lagi.”
Rasanya sungguh mengejutkan. Kata-kata yang takkan lagi diharapkan untuk di dengar, menari dalam keadaan.
Hanya Eldrey yang berekspresi dingin menanggapi situasi itu.
“Aku tahu kalau ini takkan mudah. Mengingat semua yang sudah terjadi, tapi kuharap kita semua sama-sama memikirkannya.”
Jantung Evan bergemuruh. Entahlah, rasanya sesak. Tak pernah terbayangkan, itu adalah mimpinya saat masih kecil. Berharap perpisahan orang tuanya hanya sementara. Tapi, semakin banyak waktu berlalu sepertinya itu cuma angan layaknya debu.
Sekarang, dirinya mendengar suara hatinya terdahulu. Namun rasa takut justru merangkulnya.
Berbisik untuk tak setuju, karena mungkin saja angan menuju kenyataan itu, akan berubah tak bersisa untuk disapu angin selanjutnya.
“Terserah. Kaulah kepala keluarganya, tuan Betrand,” ucap Eldrey tiba-tiba. Gadis itu lalu berdiri meninggalkan mereka, tanpa sedikit pun melirik kedua tamu yang sedarah dengannya.
Ketiganya terdiam, mendengar jawaban Eldrey. Rasanya seakan tanda persetujuan dari gadis itu, walau rautnya menampilkan ketidak tertarikan.
Bu Anna tiba-tiba berdiri. “Tolong biarkan aku bicara dengannya berdua saja. Aku mohon,” pintanya pada presdir Betrand.
“Emily!” panggil pria itu.
“Temani nyonya Anna menemui Eldrey.”
“Tidak. Biarkan aku sendiri saja.”
“Pergilah bersamanya, atau tidak sama sekali.”
“Dia putriku! Tolong jangan batasi kebebasanku Betrand,” ujarnya membungkam presdir Betrand. Tanpa jawaban, bu Anna segera menuju ke tempat Eldrey. Di mana gadis itu sedang di perjalanan menuju kamarnya.
Saat ia sudah di dalam kamarnya, pintu tiba-tiba diketuk. Tentu saja Nona itu membukanya tanpa firasat apa pun.
Dirinya diam, begitu pula sosok gugup di hadapannya. “Ada yang bisa kubantu? Nyonya Raelianna.”
“Eldrey. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu.”
“Masuklah,” Eldrey membuka pintu lebih lebar.
Cukup lama keheningan menyelimuti keduanya. Sampai di detik-detik tertentu bu Anna akhirnya bersuara.
“Ibu, sangat senang karena kita bisa makan malam bersama. Ibu benar-benar senang,” ucapnya dengan nada mulai sendu.
“Ibu tak tahu harus bicara apa. Cuma, ibu benar-benar tak bisa menghentikan perasaan senang ini.”
Masih tak ada jawaban. Hanya sorot mata sebagai perwakilan dari Eldrey.
“Mendengar perkataan ayahmu, ibu benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Rasanya semua ingatan kalau kita akan bersama lagi terbayang sepenuhnya di kepala ibu. Sungguh, ibu benar-benar senang akan itu,” ucapnya terisak-isak.
Air matanya mengalir deras di balik suara bergetarnya. Rasanya kalimat-kalimat tersebut masih belum mewakilkan semua.
“Apa boleh seperti ini? A-apa kamu juga akan bahagia jika ibu masuk kembali dalam kehidupanmu?” tanyanya menatap putrinya.
Rasanya, raganya sangat ingin menyentuh gadis itu dan memeluknya. Tapi suaranya yang tak kunjung terdengar, hanya membuat bu Anna meluapkan perasaan sendiri sambil mengharapkan jawaban.
Eldrey cuma memandang tenang ibunya. Tak terlihat sedikit celah yang mengetuk hati melihat kesedihan ibunya. Sampai akhirnya, ia mengeluarkan suara dingin itu.
“Jadi, jawaban apa yang anda harapkan?” Eldrey balik bertanya.
“I-itu,” bu Anna mulai gemetaran. Efek samping menangis dan gugup terlalu lama.
“Seperti yang kukatakan. Semua keputusan ada di tangan tuan Betrand.”
Bu Anna perlahan menutup mulut yang masih mendengarkan isak tangis itu.
Eldrey kembali melanjutkan. “Semua ada di tangan kalian. Jadi jangan berharap jawaban apa pun dariku. Sekalipun rumah ini merentangkan tangan untukmu, tapi tanganku takkan terbuka menyambutmu.”
Gadis itu lalu tertawa pelan. “Mungkin ini tak terlalu buruk. Aku juga penasaran seperti apa ekspresi tua bangka itu melihat menantu menjijikannya kembali ke pangkuan putranya.”
Menyakitkan. Sungguh menyakitkan bagi bu Anna mendengar kalimat putrinya. Tapi bagaimanapun, ia masih sanggup menahannya.
“Semua ada padamu. Kau bisa kembali, tapi jawabanku masih tetap sama. Sekarang silakan keluar.” Eldrey pun membukakan pintu kamarnya.
“Perbaiki wajahmu. Aku lelah berurusan dengan putra labilmu,” tekan Eldrey.
Dengan perasaan yang kembali disayat-sayat ucapan putrinya, bu Anna perlahan melangkah keluar.
“Aku menantikan jawabanmu. Tenang saja, di saat selanjutnya takkan seperti neraka bagimu,” seringai Eldrey lalu menutup pintu kamarnya.
Dengan mengusap kasar pipi, bu Anna lalu pergi ke kamar mandi yang masih ia ingat letaknya. Membasuh wajah agar jejak telah menangis tak lagi terlihat.
Akhirnya, dirinya kembali ke ruang keluarga di mana kecanggungan antara mantan suami dan putranya terlihat jelas.
__ADS_1
Tatapan presdir Betrand dan Evan menyambut kedatangan bu Anna.
“Kalau begitu, kami berdua pulang dulu,” tukas bu Anna yang menimbulkan kaget keduanya.
“Apa terjadi sesuatu?” tanya presdir Betrand.
“Betrand, bisakah besok kita bicara berdua saja? Kupikir, ada hal-hal yang harus kita selesaikan.”
“Baiklah. Aku akan menghubungimu. Reynald, antarkan nyonya Anna dan Evan pulang sekarang,” perintahnya pada supir yang muncul entah dari mana.
“Baik Tuan. Silakan Nyonya, Tuan Muda.”
“Tuan?” sapa Rondolf saat melihat presdir Betrand bersandar lelah ke sofa setelah kepergian bu Anna dan Evan. “Apa ada yang anda butuhkan?”
“Bagaimana dengan Eldrey?”
“Nona istirahat di kamarnya.”
“Begitu?” pria itu menatap langit-langit.
“Tuan?”
“Tinggalkan aku sendiri Rondolf.”
“Baik Tuan.”
Sekitar pukul 22.47 malam, presdir Betrand pun mendatangi kamar Eldrey. Sepertinya, rasa sakit akibat luka tembak mungkin tak mengganggunya lagi mengingat dirinya yang banyak jalan itu.
“Ayah?” sapa Eldrey menyadari kedatangan pria tersebut. Tampak gadis itu sedang menonton sambil bersandar di tepi ranjangnya.
“Kamu masih belum tidur?”
“Mataku belum mengantuk.”
Keduanya sama-sama mengarahkan mata ke layar televisi.
“Eldrey.” Gadis itu hanya melirik sekilas lewat sudut matanya. “Apa kamu menyetujui keputusan ayah?”
“Seperti yang kukatakan. Segala keputusan ada di tanganmu.”
“Kamu tidak menentangnya?”
“Aku tak tahu apa yang ingin Ayah lakukan. Entah dirimu memang mengharapkan wanita itu dan anaknya di sisimu, itu bukan urusanku. Selama aku bisa tidur dengan tenang, aku tak peduli dengan itu.”
Kalimatnya begitu jelas menekankan takkan ada sambutan hangat dari keputusan presdir Betrand. Walau begitu ia juga tak menolaknya, seakan apa pun keputusan ayahnya akan dia terima.
“Beristirahatlah. Jangan tidur terlalu malam,” sambil sesaat menyentuh lembut pipi putrinya sebelum pergi.
Eldrey menengadah. Walau sejujurnya ia tak menyetujui keputusan itu, dirinya memilih enggan berkomentar.
Bayang-bayang beberapa hari sebelumnya berputar di ingatan. Saat dirinya terbangun dari tidur, dengan sosok presdir Betrand terlelap di sofa sambil tangan masih dipasangi infus menyambutnya.
Entah kenapa, presdir Betrand tidur di kamar Eldrey dalam keadaan seperti itu. Rasanya benar-benar mengganggu dan memicu tanda tanya.
Apakah keadaan tersebut perhatian darinya? Entahlah. Gadis itu tak tahu dan tak ingin tahu. Dia biarkan kenyataan tersebut tenggelam dalam malam, sambil menatap tenang rupa ayahnya yang tertidur seperti orang kelelahan.
Benar-benar mengganggu penglihatan dan nurani bekunya.
Esoknya, Eldrey masih belum masuk kuliah. Entah sudah berapa lama ia libur. Begitu pula Lily dan Naomi. Tapi, pihak kampus memaklumi kondisi Eldrey.
Di kediaman itu sarapan pagi terasa sepi. Terlebih ketidak hadiran Charlie yang keluar negeri, atau sekretaris Roma harus berangkat lebih pagi demi pekerjaan menumpuk yang menanti.
“Eldrey, apa kamu mau pergi bersama ayah hari ini?”
“Ke mana?”
“Kamu akan mengetahuinya nanti.”
“Baiklah.”
“Kita akan berangkat sekitar siang nanti.”
__ADS_1