
Malam harinya, Henry pun terpaksa mengantar Eldrey pulang walau ia tak rela. Dirinya masih ingin Eldrey tinggal di rumahnya. Segala macam rencana pendekatan sudah dirancang, agar bisa mendapatkan hati sang pujaan hati dari pandangan pertama.
“Eldrey, itu ... jika kamu sudah kembali, apa kita bisa bertemu lagi?”
Eldrey terdiam meresapi kalimatnya. “Tentu saja,” jawabnya datar.
“Benarkah?”
“Ya.”
Senyum kebahagiaan langsung merekah di bibir Henry. Setidaknya gadis itu masih mau bertemu dengannnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya membicarakan seputar kehidupan sekolah masa lalu masing-masing. Di mana Henry lebih banyak bertanya dan dijawab singkat Eldrey seadanya.
“Di sini. Berhenti saja di sini.”
“Ah, baiklah.” Henry lalu menghentikan laju mobilnya. “Rumahnya yang mana?” batinnya.
“Terima kasih sudah mengantar dan membiarkanku menginap di rumahmu.”
“Iya, tak masalah. Aku juga senang bisa membantumu,” ucap Henry senang. “Eldrey!” panggilnya saat gadis itu turun.
“Ya?”
“Jika ada apa-apa hubungi saja aku.”
“Baik,” angguk Eldrey sekilas lalu pergi menjauh.
Ponsel Henry yang diberikan untuknya, masih tersimpan baik di saku gadis itu. Tampaknya Eldrey cukup menghargai pemberian Henry, walau pemuda tersebut memaksa dengan susah payah agar Eldrey mau menerima ponselnya.
Gadis itu melewati sebuah gerbang dengan sorot mata Henry yang masih mengikutinya. “I-ini rumahnya?” gumam Henry melongo. Matanya tak berkedip, melihat bangunan yang terdiri dari tiga rumah berbeda di depannya. “Orang kaya?” Henry masih tak percaya dengan pandangannya.
Eldrey tetap melangkah santai, memasuki rumah yang tak jelas bagaimana hiruk-pikuk suasana di dalamnya.
“Nona?!” pekik Emily kaget melihat kedatangannya.
Mereka yang ada di ruang tamu, menatap kaget pada gadis bertampang polos dengan sekelilingnya itu.
“Nona?” panggil Charlie dengan ekspresi jengkel sekaligus geram.
Akan tetapi, sepasang mata basah yang meneteskan kristal bening di pipi, menyambut gadis itu dengan gumaman suara sedih.
“E-Eldrey?” ia terisak-isak lalu berjalan cepat ke arahnya.
Eldrey langsung mengangkat salah satu tangannya dan mengarahkan pada wanita itu agar menghentikan langkah.
“Bukankah kau sudah bercerai dengan ayahku? Kenapa masih di sini?”
Wanita itu terkesiap. Perlahan, kalimat perempuan yang merupakan darah dagingnya menggetarkan tubuh bu Anna. Ia tak bisa berkata-kata, dirinya benar-benar terguncang.
__ADS_1
“Kenapa tidak mati saja?”
Bu Anna tersentak, matanya tak bisa teralihkan begitu mendengar ucapan bagai tusukan pisau di hatinya. Seolah-olah langit langsung runtuh begitu kalimat itu masuk ke telinga.
“Ibu! Ibu!” Evan merangkul bu Anna yang mulai bernapas tak beraturan.
“Drama apa lagi ini?”
Spontan Evan langsung mengangkat wajahnya menatap gadis yang bersuara. Sekarang, dirinya benar-benar tak bisa menghentikan perasaan bercampur aduk dengan emosi yang tersirat jelas di sana.
Eldrey hanya menatap santai guratan murka dari pemuda itu. Ia benar-benar tak peduli dengan kondisi menyedihkan yang menimpa bu Anna.
“Heh!” Eldrey memainkan mata sekilas lalu beranjak pergi.
“Eldrey!” teriak Evan menghentikan langkah gadis itu. Dengan sorot mata tajam mulai basah, ia menatap gadis yang merupakan salah satu malaikat kecil ibunya.
Eldrey tersenyum, lalu beranjak pergi dari sana menuju kamarnya. “Ibu,” gumam Evan merangkul bu Anna yang mencoba mengatur pernapasannya. “Aku titip ibuku,” pintanya dengan ekspresi dingin pada bibi Arda yang juga ikut menangis diam membantu ibunya.
Pemuda itu segera berlari mengejar perempuan yang sudah menyakiti perasaan bu Anna.
“Eldrey!” teriak Evan.
Charlie yang mengikuti Eldrey kaget melihat kedatangan pemuda itu. “Kau!” Charlie langsung mencegat Evan yang hendak menyentuh Eldrey.
“Tenangkan dirimu Tuan Muda!” Charlie menahannya.
“Ibu selalu menangis! Dia menangis karena dirimu dan juga ayah! Tahu apa kamu tentang penderitaannya?! Kamu pikir hanya kamu yang terluka?! Kita semua juga terluka! Apa yang kamu tahu tentang ibu?! Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?!”
“Apa kamu tidak punya hati?! Bahkan kamu tega hampir menabraknya waktu itu! Di mana letak hati nuranimu?! Kamu hampir membunuh ibu! Kamu hampir saja membunuh ibu kandungmu! Ibu yang sudah melahirkanmu!” teriak Evan tak henti-hentinya.
Perlahan, suara langkah kaki dan tangisan mendekat ke sana. Ia memanggil nama anak-anaknya yang sekarang terlibat keadaan mencekam itu.
“Evan! Nak! Sudah hentikan Nak, ini bukan salah Eldrey. Ini salah ibu, ini salah ibu. Ini semua salah ibu hingga semuanya jadi begini,” bu Anna merangkul Evan dan menyentuh dada pemuda itu untuk menenangkannya sambil menangis.
Tatapannya benar-benar sendu, tanpa memikirkan rasa sakit atas ucapan putrinya, ia tetap menuruti hati untuk menenangkan mereka. Dirinya tak ingin Evan membenci adiknya yang sudah menyakitinya dengan kata-kata itu.
Susah payah Evan menahan diri atas perlakuan Eldrey pada bu Anna. Dirinya hanya ingin menyentuh gadis itu dari dekat untuk menyadarkannya. Tapi guratan emosi yang ia tampilkan tampak seperti ingin menyerang nona muda itu.
“Kenapa? Padahal ibu sangat menyayangimu, kenapa kamu seperti ini?” Evan jatuh terduduk beruraian air mata. “Padahal aku juga menyayangimu.”
Eldrey masih tak bersuara. “Apa kita tidak bisa seperti dulu?” Sekarang, Evan memandangnya dengan kesedihan penuh harap.
“Entahlah.”
Kata singkat itu keluar dari bibir Eldrey begitu saja. Ia lalu mengalihkan pandangan, pada pintu ruang kerja presdir Betrand yang ada di sampingnya.
“Tak peduli apa yang kalian ucapkan. Aku, tetap tidak menyukai kalian. Bahkan sedikit pun kebahagiaan tak terlintas di otakku saat melihat kalian. Tapi kenapa? Aku hanya bersikap sesuai pikiran. Pikiranku berharap kalian tersiksa,” sahut Eldrey sambil menyapu pandangan pada ibu dan pemuda itu.
__ADS_1
“Beri tahu aku, apa yang salah dengan itu?”
Suara Eldrey menari di keheningan. Mereka yang mendengar terbungkam, kecuali hanya tatapan bekerja di sana. Sorot mata kaget dan tak percaya, terlebih dari wajah bu Anna dan Evan bahkan membuat tangisan lolos begitu saja.
Eldrey masih menatap keduanya. “Bahkan jika hatiku sadar kalian siapa, pikiranku masih tak ingin menerimanya. Walau aku bertanya pada diriku sendiri, jawabannya masih tidak bisa kutemukan.”
“Mungkin, lebih baik kita tidak berhubungan. Karena antara hati dan pikiran, tindakanku takkan sejalan. Aku tak bisa, menghentikan hasratku untuk menyiksa kalian,” perlahan Eldrey mendekat. Jaraknya hanya tiga langkah di depan ibu dan kakaknya.
Ia mengulurkan tangannya, “aku ingin menyentuh kalian,” ucap Eldrey sambil mengepalkan kembali tangan itu. Mengangkat dan menatap eratnya, sampai jejak kuku tertinggal di telapak tangan.
“Tapi pikiranku menolaknya. Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu, aku memang tak ingin melihat kalian bahagia. Tidak denganku, tidak juga dengan ayahku, atau tidak dengan siapa pun. Aku hanya ingin kalian merasakan apa yang kurasakan,” lirih Eldrey memiringkan kepala dan menjatuhkan tangan terkepal itu.
“Pergilah, sebelum aku berubah pikiran. Karena aku tak tahu, apa yang akan kulakukan selanjutnya agar kalian tersiksa,” jelas Eldrey panjang lebar lalu berbalik pergi meninggalkan mereka.
Tangisan benar-benar menyeruak di sana. Bu Anna tak menyangka, anaknya akan melontarkan kalimat yang mengoyak hatinya. Benar-benar merobek jiwa, ia sangat terluka dan tak bisa berkata-kata. Wajah cantik dari ibu kandung Eldrey ditatap tajam Evan.
Pemuda itu bangkit, spontan lari mengejar Eldrey.
“Evan!”
“Tuan muda!”
“Kau!” Eldrey menatap tajam Evan yang mengunci pintu kamarnya. Sekarang, hanya ada mereka berdua di sana.
Evan terdiam di dekat pintu, lambat laun membuka mulut mengatakan apa pun yang ia inginkan. “Apa ini yang kamu inginkan?”
Eldrey masih berekspresi tak mengerti. “Apa kamu benar-benar ingin semuanya seperti ini? Padahal jika kamu mau, kita bisa kembali seperti dulu lagi!” teriak Evan.
Sementara di luar kamar, bu Anna sibuk menggedor-gedor pintu kamar Eldrey agar dibuka. Ia cemas jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada kedua anaknya.
Lain halnya dengan para bawahan Betrand. Mereka lebih khawatir jika Eldrey bertindak kurang ajar pada kakak kandungnya.
“Kembali seperti dulu ya.” Eldrey menyunggingkan senyum tipis. “Kalau begitu, kenapa kalian meninggalkanku? Padahal dulu aku sudah bersujud agar kau dan wanita itu tidak pergi. Tapi kalian tetap tak peduli. Dan sekarang?”
Evan masih belum menjawabnya. “Setelah apa yang terjadi, kalian muncul lagi di sini. Kenapa tidak kembali saja ke sarang barumu itu? Atau mungkin, karena kalian tak sanggup lagi hidup dalam kemiskinan,” sarkas Eldrey padanya.
Tangan Evan makin terkepal erat. Dirinya benar-benar kesal dengan kalimat Eldrey. Tapi sudut hatinya tahu, kalau gadis itu memang tak bisa disalahkan sepenuhnya.
“Kenapa harus seperti ini? Kenapa? Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi,” di balik suaranya, mata Evan kembali berkaca-kaca.
Eldrey mendecih. “Kalau begitu tidurlah, semoga saja kau memimpikan masa lalumu. Tapi jangan bahas lagi itu di depanku. Kau membuatku muak Evan, aku membencimu! Sampai kapan pun aku membencimu!”
__ADS_1