
Dua hari.
Dua hari gadis itu menghilang. Jejak terakhirnya ada di tengah kota dalam keadaan jalanan pagi namun langit bernuansa malam.
Rudan terpaksa harus bekerja keras demi melacak putri Dempster lewat rekaman CCTV. Karena nyatanya, gadis itu masih dalam keadaan terluka jadi tak bisa dibiarkan berhari-hari.
Para bawahan pun juga sudah dikirimkan ke lokasi wisata yang pernah menjadi tempat pelariannya. Namun hasilnya tetap sia-sia.
Tebakan Charlie benar, gadis itu tidak bodoh mencoba bersembunyi di tempat yang sama untuk kedua kalinya.
Walaupun begitu, banyak juga pengawal yang dikerahkan. Tapi, dia tetap saja tak bisa ditemukan. Bahkan setelah memasuki hari ketiga, nihil masih saja menjadi jawaban.
Jadi, ada di manakah gadis itu?
Langit malam datang untuk merentangkan tangan. Di sebuah rumah yang tak bisa dikatakan bagus, terlihat tiga orang manusia sedang rebahan di dalamnya. Seolah berlindung, sekaligus beristirahat sebagaimana mestinya.
Plafon bobroknya berhiaskan sarang laba-laba. Pinggiran jendela agak berdebu walau sudah sering dibersihkan.
Aroma pembakaran dari luar rumah tercium ke dalam ruangan. Nyatanya, kawasan kota kumuh itu memang begitu pesonanya.
“Besok, kita makan apa ya?” seorang gadis muda bersuara. Usianya masih 14 tahun, tapi wajahnya sedikit lebih tua dari umur yang seharusnya. Rambutnya pendek sebahu, dan bajunya terlalu menyedihkan untuk digunakan, namun hanya itu yang ia pajangkan di badan.
“Bagaimana kalau makan mie instan saja? Sudah lama kan kita tidak mencobanya.”
Gadis itu pun menoleh pada anak laki-laki sebayanya. “Tapi, Kakak masih tidak bisa makan mie kan? Perut Kak El masih luka. Iya kan Kak?” adunya pada perempuan yang tidur di tengah.
Tapi, sosok yang diajak berbicara tak bersuara. Matanya hanya fokus ke depan, ke langit-langit kamar di pandangan.
“Kak, apa ada yang sakit? Habisnya Kakak diam saja,” anak laki-laki itu bangkit dan memperhatikan sosok yang dia panggil kakak.
“Aku ingin tidur,” balas gadis itu mengabaikannya lalu menutup mata. Dan anak kembar di kedua sisinya, hanya bisa memperhatikan dengan lekat wajah cantiknya.
Pagi datang. Sekarang, aroma sampah di belakang rumah yang berkumandang. Kediaman ini berada di pinggiran, menjadi bagian dari tepian perkotaan.
Walau tak disebutkan dalam kehidupan di daratan pertelevisian ataupun pemerintahan, rakyat bagian pertengahan tahu kalau kawasan kumuh ini hanya lokasi buangan.
Buangan dari sisa-sisa limbah kota untuk dienyahkan.
Dan mereka dengan setelan rapi yang berjanji akan memerdekaan seluruh penduduk di pinggiran, mulai lupa akan sumpah yang diucapkan. Sampai akhirnya penghuni di tepian ini tak juga mendapatkan perubahan.
Merekalah orang-orang buangan.
“Pagi! Aku sudah jual besi-besi yang kukumpulkan,” sahut anak laki-laki itu tiba-tiba begitu pintu terbuka.
“Dapat berapa?!” kembarannya terlihat semringah.
“Lumayan. Sudah kubelikan telur dan beras. Ayo masak,” ajaknya. “Ah, karena Kakak masih terluka, Kakak menonton kami memasak saja. Oke?” sambil mengacungkan jempol pada gadis yang lebih dewasa darinya.
__ADS_1
Tapi, lagi-lagi sosok itu pelit akan tanggapan. Dan si kembar sudah memaklumi akan kebiasaannya.
Aroma dari telur yang digoreng pun menguar sepanjang ruangan. Seperti unggun di dalam rumah, tentu saja asap pembakaran menyelimuti mereka yang ada di sekelilingnya.
Jujur saja, kediaman ini terlalu menyedihkan untuk si gadis pendiam.
Lantainya masih beralaskan tanah. Hanya sedikit yang ditutupi dengan kayu, walau itu cuma digunakan sebagai tempat peristirahatan dan juga tidur.
Tapi, sang penonton tak menyebutkan apa-apa. Walau otaknya berbicara kalau kediaman ini bahkan tak pantas menjadi hunian hewan peliharaannya, nyatanya ia sedang menghabiskan hari di dalamnya.
Memulihkan diri di rumah menyedihkan ini sebagaimana mestinya.
“Kak El, ayo makan! Nasinya sudah matang,” ajak anak kembar yang perempuan. Disodorkannya, hasil masakannya dan juga saudaranya.
“Bagaimana? Enak bukan? Hasil masakanku memang selalu luar biasa lho,” yang laki-laki membanggakan dirinya.
Entahlah. Tak ada jawaban. Gadis dengan kulit berlian sekarang berkumpul di antara bebatuan. Bebatuan yang lebih mirip kerikil jika disebutkan.
“Kak El, kenapa diam saja? Apa mungkin ini tidak enak?” anak laki-laki itu kembali berbicara. Sampai akhirnya gadis yang ditanya mengeluarkan satu kata namun terasa sangat bermakna.
“Enak.”
Hanya itu.
Sesimpel itu. Singkat padat namun sangat berkesan. Untuk gadis yang pelit akan pujian, pernyataannya seperti nilai tambahan dalam kehidupan.
Kehidupan dari dua bocah miskin yang sudah merawatnya.
Anak laki-laki itu pun menoleh pada kembarannya. Lalu berganti melirik gadis di sampingnya.
“Aku ditusuk.”
“D-ditusuk?” sosok yang bertanya terkesiap. “Ditusuk pakai pisau maksudnya?”
“Ya.”
“Dan Kakak baik-baik saja?”
“Apa aku harus mati?” Eldrey pun menghentikan makannya.
“Ma-maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk menyinggung Kakak. Hanya saja aku cuma penasaran.”
“Aku sudah diobati, karena itu aku baik-baik saja.”
“Begitu ya.”
Sorot mata tenang Eldrey pun terarah pada gadis muda di depannya. Terlihat sedang makan dengan lahap, tapi ekspresinya melukiskan keadaan. Sebuah gambaran menyedihkan jika diartikan oleh mata yang memandang.
__ADS_1
“Jika ditusuk sebanyak lima belas kali, apa ada harapan sembuh juga kalau diobati?”
Pertanyaan konyolnya agak menggelitik pendengaran putri Dempster.
“Kenapa? Ingin coba?” tanya Eldrey tanpa basa-basi.
Tapi, gadis yang bertanya menggeleng. “Kakak Lisa sudah mencobanya, tapi dia malah mati.”
Entahlah. Eldrey yang memamerkan tatapan tenang justru berkerut dahinya sekarang. “Lisa?”
“Iya. Dia kakak kandung kami.”
Putri Dempster pun tersenyum tipis. “Dan ditusuk lima belas kali?”
“Iya, karena itu dia sudah mati,” jawab polos Lea.
Dan tuan putri dari keluarga kaya yang mendengar itu semua hanya memiringkan wajahnya. “Kalian yang menusuknya?”
“Tidak, bukan kami! Itu orang-orang sialan yang berdasi! Kak Lisa meminta bantuan untuk kehidupan di kawasan ini, tapi mereka dengan tega melakukan hal keji! Kak Lisa dihukum mati karena kesalahan yang tak pernah dilakukannya,” jelas Leon kepadanya.
Eldrey pun kian memasang tampang keruh sebagai ekspresinya. “Aku tidak mengerti. Dihukum mati? Memangnya kesalahan apa yang dilakukan kakakmu pada orang-orang berdasi itu?”
“Kak Lisa memarahi mereka. Menyebut mereka keparat dan brengsek berkedok manusia. Akhirnya Kak Lisa ditampar dan disiksa olehnya.”
“Apa?”
“Kak Lisa diperkosa dan ditusuk di hadapan kami semua.”
Sebenarnya apa yang baru saja di dengar putri Dempster? Dongeng kah? Atau kisah orang miskin? Dirinya kurang memahaminya.
“Dan kalian diam saja?”
Tapi, tiba-tiba air mata Lea menetes. Ia terisak dan Eldrey tak paham kenapa semua terjadi begitu saja.
“Waktu itu, usia kami masih 7 tahun. Kami tidak tahu kalau Kak Lisa sedang dianiaya. Yang kami tahu dia hanya teriak-teriak dan menangis. Saat kami sudah berusia 10 tahun, barulah kami tahu kalau Kak Lisa itu diperkosa. Dia dinodai oleh mereka yang rencananya akan membantu kami. Dia dihancurkan tepat di hadapan kami. Dia dibunuh tanpa ampun tepat di depan mata kami.”
Dan Leon pun juga ikutan menangis. ‘Padahal hanya Kak Lisa kakak kami. Hanya dia keluarga kami. Tapi, orang-orang berdasi itu dengan tega membunuhnya di hadapan kami. Andai aku dan Lea tahu kalau waktu itu dia akan mati, pasti kami akan membantu sebisa kami. Nyatanya, kami hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Apa salah kami? Kenapa orang-orang berdasi itu tega melakukan hal keji itu kepada kami? Kami hanya ingin hidup tenang dan makan enak. Bukankah orang-orang itu berjanji akan membantu kami?”
Eldrey pun terdiam.
“Apa orang-orang di bagian kota memang seperti itu? Melihat perempuan sebagai budak untuk diperkosanya. Jika aku terlambat sedikit saja, mungkin Lea juga akan bernasib sama seperti Kak Lisa belum lama ini. A-aku takut tinggal di sini. Kawasan kumuh dengan kejahatan tingkat tinggi. Apakah memang tidak ada keadilan untuk orang-orang seperti kami?”
__ADS_1